Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 16


__ADS_3

Sresh!!!


Pak Rian membantu budhe Inem mencuci kubis, wortel, daun sereh, kacang panjang dan beberapa buah-buahan. Sedangkan budhe Inem sedang asik mengupas kentang. Hari ini budhe Inem ingin memasak sop kubis, wortel kentang untuk makan siang. Sedangkan untuk makan malam budhe Inem akan memasak tumis kacang panjang dan tempe bumbu kecap.


Di rumah Hani masakan itu hanya sekali makan. Untuk sarapan keluarga Hani terbiasa makan sejenis roti atau sandwich. Karena jika mereka makan nasi mereka pasti akan berebut toilet di setelah makan.


Beni hanya menyediakan dua kali dalam sehari untuk para pekerjanya yaitu untuk makan siang dan makan malam. Untuk sarapan mereka tidak di sediakan, namun di ganti uang konsumsi.


“Mbak In... masa sambil cerita gitu loh mbak?” Keluh pak Rian yang sudah sangat penasaran.


“Nanti bisa ke iris tangannya. Udah fokus. Nanti buah-buahannya di taruh kulkas kalau sudah kering. Kalau udah kumpasin bawang brambang (bawang merah).” Perintah budhe Inem.


“Kok aku malah di suruh masak sih?” Gumam pak Rian.


Sudah setengah jam di dapur. Ponsel pak Rian sudah berbunyi. Ada telepon masuk dari Beni. Dia langsung mengangkatnya.


“Iya pak.”


“Baik.”


Setelah menjawab pak Rian menutup teleponnya dan bergegas keluar. Budhe Inem yang masih sibuk memotong kentang tidak tau jika pak Rian sudah pergi.


“Yan... siapno merica.” Ucap budhe Inem.


“Ini budhe.” Jawab Ratih.


“Loh!”


Budhe Inem terkejut karena yang mengantar merica adalah Ratih. Dia mencari-cari keberadaan pak Rian dimana dengan matanya yang bergerak cepat.


“Ibu kok disini?”


“Iya... mau minta tolong. Budhe buatin sarapan buat saya sama bapak. Hari ini jus apa budhe?”


“Jus jambu bu.”


“Oke.”


“Maaf bu... ini masih jam enam loh bu.” Ucap budhe Inem sambil melirik jam dinding.


“Iya... saya harus berangkat jam tujuh nih budhe. Ada urusan mendadak. Titip Hani ya.” Pinta Ratih.


Budhe Inem pun mengangguk kikuk. Dia terkejut dengan perubahan mendadak ini. Biasanya keluarga Hani mulai sarapan setengah delapan. Kini maju satu jam setengah. Tetapi dia teringat jika hanya di minta membuat sarapan untuk Beni dan Ratih saja. Itu berarti Hani tetap sarapan jam setengah delapan.


Budhe Inem bersiap menyiapkan semuanya. Mulai dari blender, panggangan serta telur. Budhe Inem mulai memotong buah jambu dan di masukkan ke blender. Sambil menunggu dia membuat roti tawar panggang yang di lapisi dengan telur yang di campur dengan bawang merah. Setelah roti siap. Budhe Inem menyaring jus jambu itu dan di masukkan ke gelas tanpa memberi tambahan gula. Lalu, dia menyajikannya di meja makan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Beni dan Ratih sudah datang rapi dengan setelan baju senada berwarna abu-abu. Mereka duduk dan menikmati sarapanya sambil melirik jam dinding di sana. Mereka sarapan dengan meja yang masih penuh dengan berbagai rempah yang belum sempat budhe Inem bereskan.


“Maaf bu, pak belum sempet di beresin.” Ucap budhe Inem.


“Gak apa-apa budhe. Dari pada di taruh bawah lantai. Lagian wastafel juga masih penuh.” Ucap Ratih sambil menyantap sarapannya.


Budhe Inem mengangguk paham dan kembali ke aktifitasnya semula. Memotong kentang. Ratih dan Beni makan dengan lahapnya. Mereka seperti sedang di kejar waktu karena berkali-kali melirik jam dinding di dapur.


Kini budhe Inem sudah mengulek bumbu sopnya. Lagi-lagi saking asiknya dengan kegiatannya budhe Inem tidak menyadari jika Beni dan Ratih berpamitan. Budhe Inem memang tidak bisa di ganggu jika sedang fokus. Tetapi dia bisa multitasking.


“Budhe kami pergi dulu. Titip Hani.” Ucap Ratih yang sudah berdiri di belakang.


“Oh... ngeh bu.” Jawab budhe Inem.


“Budhe kalau Hani mengigau lagi. Tolong di temani ya. Takutnya dia tidur sambil berjalan.” Pinta Beni.


Budhe Inem mengangguk paham. Beni dan Ratih pun pergi meninggalkan dapur. Kemudian budhe Inem kembali memasak.


Di halaman rumah.


Pak Rian sudah siap berangkat meski belum mandi. Dia hanya cuci muka dan membasahi rambutnya, lalu menyemprotkan parfum sebanyak-banyaknya agar tidak terlihat kalau belum mandi.


“Silahkan pak, bu.” Ucap pak Rian.


“Ini saya mau pulang pak. Kemarin nginep di sini.”


“Kenapa?”


“Itu pak... saya kasihan aja sama pak Herdi sama pak Rian. Setelah kejadian kemarin kan jadi seperti harus terjaga semua.” Jawab pak Yanto dengan polosnya.


Dia masih belum tau jika hal seperti ini kerap terjadi. Baik pak Rian, pak Herdi dan budhe Inem sudah terbiasa dengan kejadian serba mendadak seperti kemarin. Sedangkan pak Beni bersyukur mendapatkan karyawan yang memiliki solidaritas tinggi.


“Oh gitu... iya, iya, iya. Silahkan pulang ya. Karena kalau jaga malam itu bikin tubuh remuk kalau gak fit.” Ucap Beni berlalu.


Pak Yanto hanya menundukkan kepalanya sambil tersenyum melihat tuan rumahnya yang ramah itu berangkat kerja. Pak Rian pun bergegas dan pak Herdi sudah siap di samping gerbang untuk membukanya.


“Keluarga ini baik. Tapi kenapa anaknya bermasalah?” Gumamnya.


Ucap pak Yanto berjalan menuju pak Herdi dan berpamitan untuk pulang. Pak Herdi mengangguk dan mempersilahkan dengan senyuman. Meski sebenarnya pak Herdi masih kesal karena dia pikir pak Rian sudah tau ceritanya dan tidak mau memberi taunya.


***


Di dalam kamar Hani.


Sebenarnya Hani sudah bangun. Dia terbiasa bangun pagi dari dulu. Namun, sekarang karena tidak ada kegiatan untuk sekolah menyibukkan diri dengan asik melukis di pagi hari sambil mendengarkan musik. Itu sudah menjadi rutinitasnya sekarang. Biasanya idenya akan keluar saat pagi hari karena otaknya masih fresh.

__ADS_1


Greekk


Hani mendengar dengan jelas suara gerbang di tutup karena kebetulan saat musiknya terjeda. Dia penasaran dan mengintip dari balkon kamarnya. Dia melihat pak Herdi sudah berjalan menuju pos sambil menguap. Kemudian matanya beralih ke halaman di mana biasanya ada mobil terparkir.


“Loh papa mama sudah berangkat?” Tanyanya.


Dia langsung turun untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar. Baru saja keluar dari kamar hidungnya mengendus seperti bumbu yang sedang di tumis. Baunya cukup menyengat membuatnya bersin bersin.


“Hacuuu.”


Hani berkali-kali bersin. Bukannya menjauh dari dapur di malah menuju dapur karena penasaran apa yang di masak budhe Inem. Sampai dapur terlihat dua kompor sudah terisi satu panci satunya wajan. Dan budhe sedang asik menumis bumbu di wajan.


“Budhe masak apa sih?” Gumamnya.


Dia semakin mendekat ke budhe Inem sambil menutup hidungnya. Setelah tau dia menghela napas panjang tetapi saat menghirup udara dia kembali bersin tepat di samping budhe Inem.


“Eh eh...” Budhe Inem terkejut karena tangannya hampir lepas dari wajan yang dia pegang.


“Maaf budhe. Hacuu...”


Budhe Inem mematikan kompornya dan menertawai dirinya sendiri yang dari tadi berusaha manahan napas sedangkan Hani malah berkali-kali bersin.


“Maaf mbak... saya lagi pengen sambel teri. Jadi saya tumis deh sambelnya. Gak tau kalau jadi sengak (berbau tajam) gini.”


“Budheee...” Keluh Hani.


Budhe Inem hanya menahan tawa.


“Oh iya budhe papa mama kok udah berangkat sih?” Tanyanya serius.


“Oh iya katanya ada urusan penting atau mendadak ya? Pokok itu lah mbak.”


Hani mengangguk paham. Kemudian dia melirik wajan yang berisi sambal teri kacang itu. Bibirnya seperti sudah kedutan ingin merasakannya. Namun, dia tau kalau budhe Inem adalah pecinta pedas. Otomatis sambal yang dia buat itu sangat pedas. Dia menunda keinginannya. Mungkin dia akan meminta ke mamanya untuk di buatkan itu.


“Ya udah budhe Hani mau mandi. Pengen sarapan gara-gara bau sambel itu.”


“Mbak Hani mau?”


“Engaaakkkkkk!!!” Teriak Hani sambil berlari ke kamarnya.


Budhe Inem tertawa melihat tingkah Hani. Dia senang akhirnya Hani kembali ceria. Namun, tiba-tiba dia merinding karena dia tiba-tiba mendengar suara anak kecil tertawa. Dia menoleh ke kanan, kiri bahkan berputar ke belakang.


“Ah salah krungu paleng (salah dengar kali) aku.” Gumam budhe Inem mencoba menepis pikirannya.


~ Terima kasih, sudah mampir baca~

__ADS_1


__ADS_2