
Di rumah Hani.
Hani mencoba menenangkan Azzhara sambil menunggu petugas derek menderek mobil Azzahra untuk di bawa ke bengkel. Ratih juga mencoba menenangkan Azzahra dengan membawa beberapa camilan untuk Azzahra.
“Sudah ya dek, sekarang kan papanya di bawa ke rumah sakit. Adik tenang dulu ya.” Ucap Ratih.
Azzahra hanya menunduk sambil menahan rasa malu, khawatir dan sungkan yang bercampur jadi satu. Meski mamanya jahat kepada Hani. Keluarga Hani masih baik kepada mereka. Hani semakin memeluk erat Azzahra karena dia pikir, Azzahra sangat tertekan. Pelukan hangat Hani membuat Azzahra meneteskan air matanya.
“Tenang ya kak, habis ini kita susul mereka yah.” Ucap Hani.
Ratih memandang anaknya dengan sedih. Dia berpikir, bagaimana keadaan Hani dulu saat kedua orang tuanya berada di rumah sakit? Siapa yang memeluk dia? Siapa yang menghibur dia? Belum lagi, bagaimana cara Hani mengatasi masalahnya hingga berujung dengan bebrapa kematian dari teman-temannya.
Ratih hanya mendengar cerita dari pak Rian, pak Herdi dan budhe Inem saja tentang betapa kuat dan tegarnya Hani menghadapi semuanya. Dia juga teringat ketika Beni menceritakan bahwa Jaelani selalu menemani Hani di saat susah itu.
“Hah... anak ku, mama bangga sama rasa empatimu yang tinggi.” Pikir Ratih.
“Permisi, mbak tukang derek bengkelnya sudah datang.” Ucap pak Rian.
Azzahra langsung mendongak, dengan sopan dia berdiri dan keluar menemui tukang derek itu. Di susul Hani dan Ratih di belakangnya.
Azzahra sedang bernegosiasi dengan tukang derek itu. Mereka berbicara cukup lama. Entah apa yang di bahas, tapi kelihatanya itu sangat serius. Hingga terlihat Azzahra berkali-kali menghela napas panjang. Kemudian, mobil pun mulai di derek. Dan Azzahra menghampiri Hani.
“Emm... saya permisi dulu ya tante. Mau susul mama.” Ucap Azzahra.
“Loh, sebentar ya. Pak Rian siapin mobilnya dulu. Kita kesana sama-sama.” Ucap Ratih.
“Gak usah tante, saya ke sana sendiri saja. Naik ojol.”
__ADS_1
Ratih menggeleng-gelenggkan kepalanya. Dia menolak jika Azzahra pergi sendirian. Kemudian, Ratih meminta pak Rian menyiapkan mobil untuk mereka. Hani hanya tersenyum melihat Azzahra. Dia juga menyakinkan Azzahra agar ikut dia dan mamanya saja.
“Saya itu khawatir kamu kenapa kenapa nak. Kami temani ya.” Ucap Ratih.
“Saya gak mau ngerepotin tante sama Hani.”
“Oh enggak. Kita gak repot kok ya Han.”
Hani mengangguk senang melihat mamanya seperti ini. Dia juga masih meyakinkan Azzahra untuk pergi bersamanya. Dan akhirnya Azzahra tidak menolaknya. Dan mereka pun pergi ke rumah sakit bersama.
Selama perjalanan. Ratih duduk di depan, sedangkan Hani dan Azzahra duduk di belakang. Mereka saling berpelukan menghangatkan satu sama lain. Meski terbesit rasa takut bagi Hani karena akan bertemu dengan Mia. Tapi, dia masih merasa aman karena ada mamanya yang menemani.
“Hah... Hani, maafin mama ya. Waktu mama dan papa di rumah sakit. Pasti kamu sendirian. Gak ada yang peluk.” Ucap Ratih keceplosan.
Hani hanya menatap mamanya bingung. Dia tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh mamanya. Sedangkan Azzahra merasa tidak enak karena ucapan Ratih. Reflek Azzahra mengendurkan pelukannya. Tapi, Hani malah memeluknya lebih erat dan tersenyum.
“E-eh... en-engak kok tante. Tante gak salah.” Ucap Azzahra.
Mereka pun saling melempar senyum dan suasana tegang dalam mobil itu mencari. Pak Rian juga ikut menghembuskan napas panjang. Karena dia juga ikut merasa tegang. Takut jika sewaktu waktu nyonyanya marah tidak terkendali. Karena memang Ratih sedikit pemarah.
“Ikut tegang kan.” Pikir pak Rian.
Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit. Hani, Ratih dan Azzahra langsung turun menuju IGD sedangkan pak Rian masih sibuk meparkirkan mobilnya. Pak Rian hanya mengeleng-geleng saja melihat tingkah mereka.
“Siapa yang sakit? Siapa yang panik?” Gumam pak Rian.
Hani, Ratih dan Azzahra sudah sampai di IGD di sana mereka melihat Mia sudah lemas dalam pelukan Jaelani. Beni juga terlihat membawakan segelas teh hangat untuk Mia. Azzahra langsung berlari kecil menghampiri mamanya. Dia ikut memeluk mamanya sambil menangis.
__ADS_1
Beni pun menjauh, dia mendekat ke keluarga kecilnya. Hani memeluk papanya erat. Dia tidak tega melihat keluarga Jaelani sepeti itu. Dan Ratih? Dia juga menatap iba keluarga itu. Masih dengan pemikiran yang sama membayangkan bagaimana keadaan Hani saat dia dan suaminya koma.
Mia mulai duduk tegak di bantu Jaelani dan Azzahra. Dia mengusap air mata anak-anaknya. Memandangi mereka satu persatu. Kemudian, Mia menatap keluarga Beni. Dia merasa malu dengan perbuatannya selama ini. Ingin sekali dia meminta maaf, tapi tenaganya sudah terkuras habis sekarang.
Mia kembali memandangi wajah anak-anaknya yang polos. Kini, pikiran negatif menyerangnya silih berganti. Bagaimana jika Deden meninggal? Apa yang bisa dia lakukan? Apabila Deden masih bisa hidup, Bisa kah dia bertahan hingga anaknya dewasa? Melihat mereka menikah dan bahagia?
Air mata kembali mengalir deras di pipi Mia. Dengan lemas dia mencoba memeluk kedua anaknya. Perasaan sedihnya sudah tidak bisa terbendung lagi. Bahkan Jaelani pun juga menangis begitu deras, dia tidak kuasa melihat dua wanita hebat menangis di hadapannya.
“Pa...” Ucap Hani kemudian dia memeluk papanya semakin erat menyembunyikan air matanya di dalam pelukan papanya.
Beni hanya bisa mengelus punggung anak perempuannnya itu. Sesekali dia mencium ujung kepala Hani. Berusaha membuat Hani juga tenang.
Tiba-tiba Azzahra dan Jaelani panik karena Mia hampir kehilangan kesadaran. Reflek Ratih datang menghampiri mereka. Dia membatu Azzahra memapah Mia dan menyandarkannya ke bangku. Beni juga berusaha menolong dengan memberikan teh hangat yang sudah dingin kepada Mia.
“Ini ma, minum dulu ya ma.” Ucap Azzahra sambil perlahan memberikan minuman itu.
Tidak lama kemudian.
Dokter yang menangani keluar dari IGD. Dengan sigap Jaelani datang menghampiri dokter itu. Dia mendengar dengan seksama penjelasan dari dokter itu. Dokter mengatakan bahwa keadaan Deden sudah membaik. Dia berhasil melewati masa kritisnya. Namun, dia haru di rawat untuk beberapa minggu karena kondisinya mungkin tidak bisa stabil. Dan dokter memberi tau agar Jaelani segera menyelesaikan administrasinya agar bisa segera di pindahkan.
“Ma, aku urus administrasinya dulu ya. Biar papa bisa segera di pindahkan.” Ucap Jaelani buru-buru.
“Aku aja. Kamu di sini sama mama.” Ucap Azzahra dan langsung mengambil tas mamanya.
Azzahra ingin Jaelani mendampingi mamanya. Selain dia kuat menopang mamanya. Azzahra juga ingin melepas kesedihannya dengan sedikit mencari udara segar ketika mengurus administrasinya. Dan Jaelani pun mematuhinya dan keluarga Beni masih menunggu hingga Deden mendapatkan ruang rawat inap.
“Kita tunggu dulu sampai mereka dapat kamar.” Ucap Beni berbisik kepada Ratih.
__ADS_1