
Azzahra sudah kembali dari urusannya di meja administrasi. Dan, tidak lama kemudian beberapa perawat mendorong brankar pasien dari ICU. Pasiennya adalah Deden. Azzahra dan Jaelani langsung memapah Mia untuk berdiri untuk menyusul perawat yang akan memindahkan Deden ke bangsal rawat inap. Seperti yang sudah sudah Azzahra memilih kamar VIP.
Beni, Hani dan Ratih pun mengikutinya dari belakang. Tidak di sangka sampai di ruang rawat inap ada suster Sari yang sedang berjaga. Hani menyapanya dengan senyuman dan di balas dengan suster Sari. Sedangkan Beni dan Ratih memandang keduanya heran.
“Oh, suster Sari.” Ucap Azzahra.
Suster Sari tersenyum sambil menata infus Deden. Kemudian, dia menoleh ke arah mereka semua. Dia memperhatikan satu persatu wajah mereka. Yang suster Sari tidak kenal hanya Ratih dan Beni. Lalu, matanya berhenti di Mia. Dengan sigap suster Sari menawarkan minum untuk Mia. Tapi, Mia menolaknya. Dia memilih untuk tidur di kasur lantai kecil di ruangan itu.
Kemudian, suster Sari berpamitan keluar meninggalkan ruangan. Hani sempat berbisik memanggil suster Sari dan menyemangatinya tidak lupa dia menampilkan senyumnya juga.
“Suster Sari semangat kerjanya.” Bisik Hani.
Suster Sari tersenyum lebar dan keluar besama suster lainnya. Kini, hanya tinggal keluarga Beni dan keluarga Deden di sana. Tanpa basa basi Beni langsung berpamitan pulang kepada mereka semua. Mereka berterima kasih sebanyak-banyaknya dan Mia juga. Namun, dia hanya bisa memandang Beni dan Ratih tanpa berkata-kata.
Beni dan Ratih sudah memahami apa yang ingin di ucapkan Mia. Dengan tulus, Ratih tersenyum kepada Mia. Rasa kesal dan benci mereda untuk sementara. Itu di karenakan dia juga ikut merasakan kesedihan Jaelani dan Azzahra alami.
“Saya sekeluarga pamit. Selamat malam.” Salam penutup Beni.
Jaelani dan Azzahra ikut mengantar keluarga kecil itu keluar. Mereka juga saling melambai hingga punggung mereka tidak terlihat. Jaelani dan Azzahra sangat bersyukur dan merasa hutang budi kepada keluarga itu.
Saat perjalanan menuju tempat parkir Beni bertanya kepada Hani siapa suster itu? Mereka membahas tentang suster Sari. Hani menceritakan banyak kisah tentangnya dan suster Sari. Bahkan sekarang Beni dan Ratih tau jika suster Sari itu calonnya pak Rian.
“Seharusnya kita sekali-kali ketemu suster Sari buat ngucapin terima kasih.” Ucap Beni.
“Tapi, kenapa suster Sari gak menangani papa ya waktu mama sudah sadar? Kenapa suster Sari menangani saat kita berdua koma?” Tanya Ratih.
“Itu karena suster Sari kayak semacam sebagai tenaga tambahan gitu loh ma. Jadi begitu mama sadar suster Sari menangani pasien lainnya.” Jelas Hani.
Ratih mengangguk paham. Dia berpikir, dunia ini sempit sekali. Seakan-akan dia tidak bisa jauh dari orang-orang itu saja. Mulai dari Jaelani sampai suster Sari.
Tidak terasa mereka sudah sampai di tempat parkir. Beni, Ratih dan Hani melupakan pak Rian yang tadi mengantar Ratih dan Hani. Kini mereka pulang naik satu mobil bersama Beni. Mereka bahkan lupa hingga mereka sampai di rumah dan memparkirkan mobil di garasi.
__ADS_1
“Pa... mobil kita satunya mana?” Tanya Ratih panik.
“Oh iya? Mana?” Ucap Beni ikut panik.
Mereka buru-buru keluar memastikan bahwa mobil mereka benar-benar tidak ada. Karena panik, mereka langsung berteriak memanggil pak Yanto dan pak Rian. Kemudian, Ratih baru tersadar ketika menyebut nama pak Rian.
“Iya pak? Ada apa?” Tanya pak Yanto yang sudah sampai di garasi.
“Mobil saya satunya dimana?” Teriak Beni yang panik.
“Kan, tadi di bawa mas, eh pak Rian buat nganter ibuk, mbak Hani sama temannya ke rumah sakit pak.” Ucap pak Yanto.
Beni langsung menatap istri dan anaknya yang menahan malu karena mereka sama-sama melupakan pak Rian yang mengantar mereka. Karena asik mengobrol mereka melupakan pak Rian begitu saja.
“Hah....” Beni bernapas lega.
Kemudian, dia meminta maaf kepada pak Yanto karena telah berprasangka buruk. Dan dia menyuruhnya kembali berjaga di pos satpam. Sambil menahan malunya karena telah berprasangka buruk. Beni mengeluarkan ponselnya di saku untuk menelepon pak Rian.
Ratih dan Hani juga menahan tawa karena kejadian lucu ini. Mereka tidak berhenti menutup mulutnya dengan tangannya ketika Beni mulai berbicara dengan pak Rian dan memintanya untuk segera pulang karena sudah larut malam. Setelah teleponnya di tutup Ratih, Beni dan Hani tertawa terbahak-bahak sambil masuk rumah.
Keesokan harinya.
Pagi itu keluarga Beni di kejutkan oleh bingkisan kecil berwarna hijau muda. Bingkisan itu di tujukan untuk Hani. Bingkisan itu datang ketika Beni dan Ratih akan berangkat kerja. Waktu itu jadwal satpam sudah di ganti oleh pak Herdi, maka yang membawa paket itu ke dalam adalah pak Herdi.
Saat pak Herdi sampai di teras rumah. Langkahnya di hentikan oleh Beni. Beni menatap bingkisan itu penuh dengan selidik. Dia tidak ingin ada barang asing masuk ke rumahnya terlebih barang yang di tujukan untuk Hani.
“Itu untuk siapa pak?” Tanya Beni.
“Untuk mbak Hani pak.” Jawab pak Herdi.
“Dari?” Tanya Ratih.
__ADS_1
“Mas Adit pak. Ini tadi, mas adit sendiri yang ngantar, Tapi gak mampir karena mau kuliah katanya.”
Ratih langsung tersenyum mendengar penjelasan pak Herdi. Dan Beni hanya mengangguk dan memanyunkan bibirnya. Beni dan Ratih memikirkan hal yang sama yaitu cinta monyet remaja. Kemudian, mereka mengijinkan pak Herdi masuk dan memberikan bingkisan itu langsung kepada Hani.
“Hani kayaknya masih asik di kamar. Hari ini kan gak ada les privat. Biasanya masih sibuk ngelukis di kamar, karena dia tadi gak ikut sarapan bareng.” Jelas Ratih.
Pak Herdi mengangguk dan langsung masuk mencari Hani. Sedangkan Beni dan Ratih mengobrol tentang kenangan masa lalu mereka ketika di masa PDKT.
Pak Herdi berjalan masuk langsung menuju kamar Hani sesuai arahan Ratih. Tetapi, saat naik tangga dia di panggil budhe Inem dari ruang tengah. Dia membawa kemoceng di tangannya sambil mengayun-ayunkan kemoceng itu ke tangan satunya. Budhe Inem menghampiri pak Herdi. Dia penasaran dengan apa yang di bawa.
“Mbak, ampun mbak. Jangan di pukul. Aku gak nakal mbak.” Ucap pak Herdi.
“Opo sih?” Tanya budhe Inem penasaran.
“Itu...” Ucap pak Herdi sambil menunjuk kemonceng di tangan budhe Inem.
Mereka tertawa bersama. Saling mengingat masa kecil mereka ketika di kampung. Tapi, bedanya dulu tidak menggunakan kemoceng tapi menggunakan bambu kecil yang sangat kokoh.
“Hadiah dari siapa?” Tanya budhe Inem sambil mengayunkan kemoceng ke bingkisan hijau di tangan pak Herdi.
“Dari mas Adit, buat mbak Hani. Haha.”
Pak Herdi dan budhe Inem tidak kuasa menahan tawa mereka. Pikiran mereka sekarang, sama seperti Beni dan Ratih. Berpikir bahwa Hani dan Adit sedang di masa Cinta Monyet ala remaja. Saking asiknya menahan tawa mereka tidak tau jika Hani sudah keluar dari kamarnya.
“Hayooo... pak Herdi sama budhe Inem.” Ucap Hani juga ikut menahan tawa.
Pak Herdi malah menatap Hani aneh. Antara tersenyum dan juga jail. Ekspresi itu sangat aneh hingga Hani mengkerutkan keningnya memikirkan apa maksud ekspresi aneh itu.
“Hayoo... mbak Hani pacaran.” Ucap pak Herdi.
Mata Hani seketika melotot tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Di tambah lagi, pak Herdi dan budhe Inem malah tertawa hingga wajah mereka memerah.
__ADS_1
“Ih? Pacaran?”
~ Terima kasih, sudah mampir baca~