
Jaelani lemas begitu membaca pesan yang terkirim. Ternyata dia mendapat pesan dari Gio, yang mengabarkan bahwa papanya meninggal dunia. Hancur sudah kesempatan Jaelani untuk melanjutkan kuliah. Jika papa Gio meninggal, siapa yang akan membiayainya kuliah?
“Hancur, semua hancur.” Ucap Jaelani sedih.
Ekspresi Ilham berubah dari yang meremehkan Jaelani menjadi panik karena Jaelani tiba-tiba seperti marah, tapi juga sedih. Dia melihat Jaelani mengepal tangannya dan meninjukan tangannya ke lantai. Ilham berusaha menahan itu, namun dia kalah kuat dari Jaelani. Ilham malah terhempas ke belakang.
“Kenapa sih tuh anak?” Ucap Ilham.
Tidak lama, Jaelani bangkit dan berniat segera berlari kembali ke sekolah untuk mengambil motornya. Dia yang ada di pikirannya saat ini harus segera menemui Gio dan mencari tau apa penyebab papa Gio meninggal, serta harus menanyakan bagaimana kesepakatan antara Jaelani dan papa Gio.
Sedangkan Ilham terkejut melihat Jaelani tiba-tiba berdiri dan tergesa-gesa keluar. Akhirnya dia berusaha menarik Jaelani agar tidak tergesa-gesa. Tetapi lagi-lagi tangannya di tepis oleh Jaelani. Terlihat ekspresi mengerikan di wajah Jaelani, membuat nyali Ilham menciut dan mengurungkan niatnya. Dan Jaelani langsung melesat kembali ke sekolah.
“Ada apa sih sebenarnya? Apa terjadi sesuatu sama keluarga Jaelani? Atau terjadi sesuatu sama Hani? Ah besok lah tanya.” Gumam Ilham.
***
Setelah melalui perjalanan yang singkat Jaelani sampai di rumah Galih. Ada banyak motor, mobil yang terparkir di halaman rumah. Orang-orang tetangga Galih juga datang dan pergi silih berganti. Emosi Jaelani yang tadi menggebu-gebu ingin menanyakan kejelasan kesepakatan dia dan papa Galih menjadi sirna begitu saja.
“Huh....”
Jaelani menghembuskan napas panjang dan perlahan emosinya mulai stabil. Akhirnya Jaelani bisa berpikir secara jernih. Dia membatalkan niatnya untuk mencari kejelasan tentang kesepakatan antara dia dan papa Galih. Mungkin dia akan menanyakan nanti ketika semua sudah mulai terasa normal. Dengan berat hati Jaelani masuk ke rumah untuk ziarah.
__ADS_1
Sampai di dalam, Jaelani melihat hanya ada Gio dan beberapa sepupu dan saudara lainnya. Jaelani berjalan mendekat ke arah Gio sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan Galih. Hingga dia berada di depan Gio, Jaelani tetap tidak menemukan Galih.
“Bang, turut berduka ya bang.” Ucap Jaelani.
Gio tadi nya tidak menyadari keberadaan Jaelani karena pikirannya kosong. Begitu mendengar suara Jaelani dia tersadarkan. Dia menatap Jaelani dan meraih tangan Jaelani dan menggenggam erat tangan Jaelani.
“Kenapa nih?” Gumam Jaelani.
Tiba-tiba Gio bangkit dari duduknya dan mengajak Jaelani berjalan ke belakang. Dia mencari tempat yang sepi untuk berbicara empat mata bersama Jaelani. Sampai di sana, Gio meminta Jaelani duduk dan mendengarkan semua ucapannya dengan baik-baik. Serta berharap Jaelani memahami situasi dan niat baik Gio.
“Jadi, hah...” Gio menarik napas panjang. Terlihat dia sangat belum siap berbicara.
“Emmm. Bang, gak usah di paksain bang. Kalau abang gak enak badan, istirahat aja.” Ucap Jaelani.
“Pertama-tama, kamu harus tau yang mencelakai papaku adalah Galih. Dia kehilangan kendali dan mendorong papaku jatuh hingga mengalami pendarahan hebat. Sekarang, Galih sudah berada di penjara karena begitu papa meninggal dia menyerahkan diri. Dia gak mau di hantui dengan perasaan bersalah.” Jelas Gio.
Mata Jaelani melotot mendengar itu. Dia tidak menyangka Galih akan melakukan itu kepada orang tuanya sendiri. Memang sih, Galih memiliki kekurangan dalam mengontrol emosi. Dan ini sudah korban ke dua setelah kasus pertama itu.
“Galih, jelasin ke aku kalau kamu punya perjanjian sama papa untuk imbalan kamu tutup mulut. Jujur aku kecewa Jae. Tapi, sudah lah. Toh Galih juga sudah mengakui semua baik perlakuannya kepada papa dan almh Nana. Dia di penjara atas dua kasus itu. Dan dia juga meminta kepadaku untuk melindungi mu. Dia sangat berterima kasih kepadamu telah menjaga rahasia sebesar ini. Dia ingin kamu melupakan semua agar kamu tidak kena masalah.”
Jaelani masih terdiam mendengarkan penjelasan Gio. Emosinya mulai tidak stabil kembali. Terdapat percikan api kemarahan, sempat terlintas di pikirannya untuk membenci Galih karena sudah membunuh orang yang akan membiayainya kuliah. Namun, begitu mendengarkan kembali penjelasan Gio dia mulai semakin meledak.
__ADS_1
“Sedangkan untuk perjanjian itu dengan papa. Aku gak bisa apa-apa, kamu harus mengikhlaskan semuanya karena tidak ada perjanjian hitam di atas putih. Serta aku, tidak di beri pesan atau semacamnya untuk mengurus itu. Tetapi, aku akan tetap membantumu untuk kuliah. Meski tidak sepenuhnya, bekerjalah di kafeku.” Jelas Gio.
“Enak banget bang bilang kayak gitu, perjanjian ya tetap perjanjian. Abang harus tanggung jawab bang!!! Abang gak bisa....” Ucap Jaelani terputus.
“Tuntut saja aku ke pengadilan. Dan pasti kamu akan kalah. Karena kamu tidak memiliki bukti kuat, hitam di atas putih ada? Rekaman suara? Video? CCTV? Ada?”
Jaelani kembali terdiam.
“Ingat Jae, jangan mencari uang dengan cara tidak baik. Karena kamu akan menuai yang hal yang tidak baik juga. Seperti kamu menanam benih yang kualitas rendah, maka kamu akan dua kemungkinan, mendapatkan buah yang rendah atau gagal, kualitas buahmu akan tetap rendah juga? Tapi, jika kamu menanam benih yang kualitas tinggi maka akan ada dua kemungkinan juga, mendapat buah kualitas tinggi atau gagal juga. Itu semua tergantung cara merawat dan cuaca. Hidup juga begitu, pasti ada peluag gagal dan berhasil tinggal memilih jalan mana yang di cari.”
“Bekerjalah di kafe ku. Aku akan membantu sebisaku untuk mengajimu agar cukup untuk kamu kuliah. Dengan begitu, kamu kuliah dengan uang yang benar.”
Emosi Jaelani pun meredam, dan membuatnya bisa berpikir jernih. Dia mencoba menelaah ucapan Gio sebaik mungkin. Dan benar, dia sadar yang di lakukan ini salah. Mungkin dengan begini, dia bisa kembali ke jalan yang benar. Baginya ucapan Gio ada benarnya. Jaelani pun menghirup napas dalam-dalam untuk mencoba menenangkan dirinya. Kemudian, dia memeluk Gio dan berterimakasih karena sudah menyadarkannya.
“Thanks bang. Thanks banget, udah nyadarin aku bang.” Ucap Jaelani.
“Jika kamu butuh bantuan dalam kuliah, katakan kepadaku.”
Sebenarnya bisa saja Gio membiayai kuliah Jaelani. Tetapi, Gio ingin Jaelani kembali ke jalan yang benar. Dia sangat senang Jaelani mau mendengarkannya. Jika Jaelani tidak mau mendengarkannya, dia memilih untuk memutuskan hubungan dengan Jaelani agar Jaelani tidak menempuh Jalan kotor ini.
Dan keputusan Jaelani sudah bulat. Dia akan bekerja di kafe Gio begitu dia siap. Bahkan jika dia harus bekerja dulu baru kuliah itu tidak masalah. Hitung-hitung Jaelani kini sudah seperti kepala keluarga menggantikan papanya yang sakit.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya. Jaga kesehatan ya teman-teman.~