
Malam hari di rumah Hani.
Ratih dan Beni sudah pulang ke rumah. Bahkan sekarang, mereka sedang duduk bersantai di ruang keluarga bersama Hani menonton film animasi bersama. Tidak lupa, mereka juga menyiapkan beberapa camilan dan minuman bersoda sebagai pelengkapnya.
Malam ini serasa sempurna, membuat Hani bingung bagaimana cara memulai percakapan serius ini. Hani sampai tidak fokus menonton film animasi itu. Dia sibuk memikirkan waktu yang tepat untuk menanyakan pertanyaan serius ini.
Satu jam sudah berlalu, film animasi yang mereka tonton juga sudah selesai. Beni dan Ratih masih sibuk membahas bagaimana lucunya film yang mereka tonton tadi. Sedangkan Hani mulai membunyikan suaranya perlahan.
“Emm... mama.” Ucap Hani lirih namun terdengar.
“Iya? Kenapa kok suaranya kecil banget?” Tanya Ratih.
“Hani mau tanya ma.”
Ekspresi Ratih yang tadinya santai berubah menjadi serius karena melihat Hani yang juga serius. Yang terbesit di pikiran Ratih saat ini adalah mengenai bingkisan dari Mia. Dia berpikir, pasti Hani akan menanyakan kenapa bingkisan itu di bongkar? Padahal sebenarnya Hani sama sekali tidak tau bingkisan itu dimana sekaran.
“Iya?”
“Kenapa sih kok kalian mukanya tegang gitu?” Tanya Beni penasaran.
“Tau ni pa, Hani wajahnya gitu ya mama ikut serius.”
Hani hanya bisa tersenyum canggung. Entah kenapa untuk bertanya kepada orang tuanya tentang ingatannya yang hilang begitu sulit. Apa karena ingatan yang Hani ingat di awal ketika dia merasa terancam. Jadi membuat Hani sedikit takut menanyakan itu. Namun Hani tidak goyah. Dia memberanikan diri untuk bertanya secepatnya.
“Hehe... gimana ya ma, pa? Aku mau tanya aja sih. Tentang sekolah ku dulu kayak gimana?” Ucap Hani.
__ADS_1
Seketika raut wajah Ratih dan Beni berubah menjadi tegang. Mereka tidak menyangka Hani akan mulai membahas itu. Perasaan Beni dan Ratih sama sama bercampur antara senang dan sedih. Mereka senang jika Hani bisa mulai mengingat masa lalunya. Tapi, mereka juga sedih mengingat bagaimana keadaan Hani di masa lalunya yang terintimidasi.
“Yang kamu ingat gimana Han?” Tanya Beni terbata-bata.
Hani semakin semangat dan berani melihat respon Beni.
“Hmm... gimana ya? Aku bingung jelasinnya pa.”
Ratih dan Beni semakin di buat penasaran dengan apa yang di ingat Hani. Jika memang ingat, sampai mana Hani bisa mengingat semua kenangan buruk itu. Dan apakah itu berdampak dengan psikologis Hani saat ini?
Hani mulai menceritakan beberapa mimpi yang aneh menurutnya. Mimpi yang sangat terasa nyata bahkan, dia juga menjelaskan bahwa dia merasa benar-benar mengalami apa yang ada di mimpinya itu.
Hani mulai menceritakan tentang mimpi aneh saat bertemu dengan anak aneh yang meninggal gantung diri tepat di atas kepalanya. Kemudian, dia juga menjelaskan bahwa di memimpikan anak yang bernama Della. Tanpa ragu, Hani menjelaskan mimpinya tadi siang. Mimpi yang memperlihatkan bahwa Hani sedang di perlakukan tidak baik di sekolahnya.
Tiba-tiba air mata Ratih mengalir begitu saja. Dia yakin bahwa Hani mulai mengingat masa lalunya yang mengerikan itu. Ratih langsung memeluk anak semata wayangnya itu erat sekali. Kemarin, dia menangis tersedu ketika Hani hilang ingatan. Tapi sekarang, dia menangis lebih histeris karena membayangkan bagaimana perasaan anaknya ketika dia ingat masa lalunya yang begitu berat untuk anak berusia enam belas tahun.
“Aku... aku gak tau ma. Cuman, rasanya kayak dejavu gitu ma. Apa benar itu ingatanku? Terus kenapa mereka membenciku ma? Terutama anak yang bernama Della itu?” Tanya Hani beruntun.
Ratih semakin tidak kuasa menahan air matanya. Otaknya otomatis mengingat kembali masa dimana saat Hani masih memakai seragam sekolah datang ke rumah sakit untuk menemuinya yang sudah sembuh dari koma, belum lagi ingatan ketika Beni masuk ke ruang ICU dan ingatan ketika Hani masuk ke rumah sakit lain dengan bersimbah darah di kepalanya.
Hani pun juga ikut menangis. Aneh, dia juga ikut merasa sedih. Entah karena dia merasa sedih karena di benci di masa lalu. Atau dia menangis karena Ratih menangis. Mereka pun menangis sepuasnya, menghabiskan sisa emosi masing-masing agar dada mereka tidak merasa sesak. Dan Beni hanya bisa mengelus kedua perempuan cantik yang menangis di hadapannya.
“Berarti benar? Aku dulu di benci? Ada apa? Kenapa aku di benci? Apakah ada hubungannya dengan anak yang bernama Della? Apa aku pernah mencelakainya?” Pikir Hani.
“Iya, Della begitu membencimu karena kamu mengambil sesuatu darinya.” Bisik Kiki dengan suara lain.
__ADS_1
Kiki memanfaatkan emosi dan pikiran Hani saat ini agar Hani semakin penasaran dengan ingatan masa lalunya. Dan Kiki akan menambahkan bumbu-bumbu pedas yang mampu membuat Hani menjadi alatnya untuk bertemu dengan papa Della. Kiki Hanya butuh menghantui papa Della yaitu Stevan agar dia mengatakan dimana jasad Kiki?
Hani langsung semakin penasaran. Dia tidak begitu memperdulikan dari mana asal suara itu. Dia pikir, suara itu berasal dari ingatan Hani sendiri. Dia semakin yakin dan semakin percaya bahwa ingatan masa lalunya harus di ingat. Agar perasaanya yang campur aduk ini bisa lega dan bebas.
Sedangkan Ratih masih belum bisa menjelaskan bagaimana keadaan Hani sebelum hilang ingatan. Dia harus mempersiapkan dirinya terlebih dahulu. Dia harus siap, kalau saja psikologis Hani terganggu akibat dari ingatan masa lalunya yang menyedihkan.
“Hah....” Ratih menghembuskan napas panjang.
Kemudian, dia melepaskan pelukannya dari Hani. Dan dia berjanji kepada Hani akan membantu Hani untuk mengingat masa lalunya. Namun, tidak sekarang. Dia meminta Hani untuk istirahat dulu. Dia akan menjelaskan semua yang dia tau kepada Hani ketika keadaan Hani di rasa cukup stabil.
Ratih menjelaskannya selembut mungkin agar Hani tidak gegabah dan bisa mempersiapkan dirinya. Tapi, maksud itu tidak tersampaikan. Hani malah semakin merasa bahwa ada sesuatu yang di tutupi Ratih darinya. Dia semakin ingin tau dan penasaran. Dia bertekat untuk segera mengingat masa lalu nya.
“Berhasil.” Ucap Kiki.
Dengan senyum kecewa Hani memilih untuk pergi tidur dengan alasan untuk menenangkan diri. Padahal dia berencana untuk menghubungi Jaelani di kamarnya. Dia ingin bertemu Jaelani besok bagaimana pun caranya. Bahkan jika harus mengunjungi Jaelani ke rumah sakit pun dia mau.
“Pokoknya aku harus ketemu sama Jaelani. Aku mau memastikan apakah itu ingatanku atau hanya sekedar mimpi? Lalu, siapa Della? Pasti Jaelani tau jika itu memang ingatanku. Karena jelas jelas aku melihat Jaelani di tempat yang sama bersamaku dan Della.” Gumamnya saat berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sedangkan di ruang keluarga, Ratih dan Beni hanya menatap kepergian anaknya. Beni ikut berpikir, bagaimana cara mengatasi situasi ini. Kemudian, terlintas sebuah ide.
“Ma, kayaknya kita harus minta budhe Inem bekerja lembur untuk beberapa hari. Kita harus memberikan pengamanan ekstra kepada Hani. Papa takut, ingatan Hani yang masih terpotong-potong membuatnya salah sangka akan hal lain.” Jelas Beni.
“Iya pa, mama setuju. Mulai Senin, budhe Inem harus tetap di sini sampai kita pulang.” Sahut Ratih khawatir.
Kiki tersenyum bahagia. Mungkin awalnya dia tadi menyerah. Tapi sekarang, dia semangat kembali untuk memanipulasi ingatan Hani agar tujuannya mudah tercapai. Dia tidak jadi menampakkan diri kepada ibunya yaitu budhe Inem. Dia memilih untuk menemukan dulu dimana jasadnya baru meberitahukannya kepada ibunya.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~