Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 66


__ADS_3

Minggu pagi di rumah Hani.


Hani memang terbiasa bangun pukul setengah lima. Dia merasa gelisah ingin segera bertemu dengan Jaelani. Mereka akan bertemu nanti setengah enam. Hani akan meminta ijin orang tuanya untuk lari pagi. Meski biasanya Hani jarang mau berolahraga di pagi hari.


Hani tau, orang tuanya tidak akan mengijinkannya untuk pergi sendirian. Dia tau, pasti akan pergi bersama pak Rian. Tapi, itu semua tidak masalah. Toh pak Rian juga sudah mengenal Jaelani dan Jaelani tidak akan berbuat macam-macam kepadanya. Untuk sementara Hani menyampingkan perasaanya terlebih dahulu.


“Hah? Setengah enam masih lama ya?” Gumamnya.


Hani mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali dia melihat beberapa mainan yang berserakan akibat ulah Kiki pastinya. Biasanya Hani cukup kesal melihat tempat pojokan itu berantakan. Tapi, kali ini. Hani tidak terlalu memusingkannya. Kemudian, matanya melihat ke arah boneka panda besar yang masih di lantai.


Boneka itu tidak pindah sedikitpun. Bahkan masih saja tengkurap di sana. Timbul pertanyaan di benak Hani tentang Kiki. Apakah Kiki tidak suka boneka? Atau Kiki itu laki-laki? Karena nama Kiki itu bisa di pakai laki-laki dan perempuan.


Hani merasa sayang karena boneka barunya itu harus berada di lantai, dan tengkurap? Seperti boneka yang tidak di rawat saja. Padahal baru kemarin dia mendapatkannya. Hani berjalan ke arah boneka itu berniat ingin mengembalikan ke tempat asalnya.


“Boneka baru, tapi di sia-sia. Kacian.” Ucapnya sambil memungut boneka itu.


Lalu, Hani mengelus kepala boneka itu membersihkan sedikit debu yang menempel di sana. Setelah di rasa bersih, Hani mengangkat boneka itu sedikit jauh ke depan agar dia bisa melihat keseluruhan boneka panda itu. Untuk sesaat Hani tersenyum mengingat begitu romantisnya Adit memberikannya boneka karena prestasinya.


“Hihi lucunya.” Ucap Hani gemas kepada boneka pandanya.


Setelah puas membelai boneka itu. Hani ingin mengembalikan boneka itu pada tempatnya. Kali ini, dia menata tempatnya terlebih dahulu agar boneka itu muat di sana dan tidak jatuh-jatuh lagi. Hanya perlu beberapa menit. Boneka itu sudah duduk di tempat yang nyaman. Hani memperhatikan boneka itu dan mundur perlahan.


Krek!


“Aw!”


Tidak sengaja Hani menginjak salah satu mainan yang berserakan di lantai. Kaki Hani menginjak potongan lego di lantai. Dia merintih kesakitan karena rasa seperti ngilu dan tersetrum karena terkejut. Lalu, dia perlahan pergi dari ruang pojok itu sambil memperhatikan langkahnya agar kejadian tadi tidak terulang.


“Huuhh....” Hela napas panjang Hani setelah melewati ranjau mainan itu.


“Hihihihi.”


Tiba-tiba Hani mendengar suara anak kecil tertawa. Jelas itu adalah Kiki. Hani sudah mulai terbiasa, tapi tetap saja dia masih terkejut jika ada suara terdengar tiba-tiba. Sesaat Hani berpikir, sudah lama Kiki tidak mengganggu Hani.

__ADS_1


“Kenapa ketawa lucu?” Ucap Hani sambil mencoba mencari dimana keberadaan Kiki dengan perasaannya.


Wuss!


Tiba-tiba angin dingin berhembus melewati kaki Hani. Dia yakin pasti itu ulah Kiki. Dia juga sedikit merasakan kehadirannya di sana. Di dekat kaki kanannya. Karena, kaki kanannya terasa dingin dan sedikit kaku.


“Apa kabar?” Tanya Hani tiba-tiba.


“Baik, kakak gimana?” Tanya Kiki balik.


Hani menjawab, sambil berjalan menuju kasurnya yang empuk. Kemudian dia duduk di pinggir ranjangnya yang empuk. Ini pertama kalinya Hani tidak merasa gugup seperti sebelumnya. Apakah karena Hani sudah terbiasa atau karena Hani sedang merasa kesulitan karena maslah besar sehingga dia tidak mempermasalahkan hal kecil.


“Kak Hani, hati-hati sama boneka itu. Serem, kayaknya ada yang ngisi deh. Soalnya aku merasa kayak di awasi gitu.” Ucap Kiki.


Hani mengerutkan keningnya. Dia tidak tau boneka mana yang di maksud Kiki. Tapi, tidak butuh waktu lama Hani langsung paham boneka mana yang di maksud Kiki. Kemudian, dia menatap boneka itu. Boneka panda besar pemberian Adit.


“Itu mungkin karena kamu gak pernah lihat boneka segedhe itu. Jadi kamu takut deh. Padahal mah itu cuma boneka aja.” Jelas Hani.


Setelah itu tidak ada percakapan di antara Kiki dan Hani. Kiki sibuk bermain kembali, sedangkan Hani sibuk memikirkan bagaimana caranya memulai percakapan dengan Jaelani. Namun, tiba-tiba terlintas sesuatu dalam pikirannya.


“Lah? Aku nanti pakai apa?” Ucapnya terkejut.


Saking penasarannya dengan masa lalunya. Hani lupa harus memakai baju apa untuk olahraga nanti. Meskipun Hani mengenyampingkan perasaannya. Dia harus tetap tampil sebaik mungkin di depan Jaelani. Hani mulai panik memilah baju mana yang akan dia pilih untuk olahraga bersama Jaelani.


Hani sangat sibuk memilih hingga tidak terasa sudah pukul lima lebih lima belas menit. Alrm ponsel Hani berbunyi, tandanya dia harus menemui orang tuanya untuk meminta ijin joging. Dia sengaja meminta ijin di waktu yang mepet ini, berharap langsung di setujui karena sudah terlanjur ada janji.


Beruntung Hani sudah menemukan baju yang pas. Dia langsung mengambil ponselnya yang tadi dia cas. Lalu, mengambil tas selempangnya dan memasukkan dompet dan ponselnya di sana. Setelah selesai persiapan Hani langsung menuju kamar orang tuanya.


Sampai sana, Hani mengetuk pintunya perlahan. Hanya dua kali ketuk saja Hani sudah mendapat jawaban dari Ratih. Tidak lama kemudian, pintu terbuka terlihat Ratih sudah bangun dan rapi meski belum mandi.


“Ada apa Han?” Tanya Ratih.


“Aku mau joging sama Jaelani ma.” Jawab Hani tampa ragu.

__ADS_1


Beberapa detik Ratih membatu mendengar itu. Pikirannya tidak karuan. Terlebih kejadian tadi malam dimana Hani mulai mengingat masa lalunya. Ratih masih belum siap menerima keadaan itu. Dan Jaelani? Kenapa harus pergi bersama Jaelani? Pikiran Ratih semaki kacau.


“Boleh ya ma? Udah terlanjur buat janji soalnya. Benar lagi dia sampai kayaknya.” Ucap Hani memohon.


“Emmm...” Ratih kehabisan kata-kata.


“Ada apa?” Tanya Beni tiba-tiba.


Hani pun langsung meminta ijin ke Beni agar di bolehkan pergi. Dia memohon sepenuh hatinya. Memberikan tatapan setulus mungkin kepada Beni. Dan Beni pun akhirnya luluh. Dia memperbolehkan Hani pergi. Namun, tetap dengan syarat yaitu pergi bersama pak Rian. Hani sudah menduganya.


“Oke sama pak Rian. Jadi boleh yah?” Tanya Hani memastikan lagi.


“Iya boleh.” Ucap Beni yakin.


“Asikkk!” Seru Hani.


Hani langsung memeluk papanya erat, kemudian memeluk mamanya erat. Lalu, dia langsung pergi keluar sebelum Beni berubah pikiran. Hani berlari begitu kencang hingga membuat Ratih dan Beni terheran-heran.


“Yakin pa gak apa-apa? Sama Jaelani loh? Nanti, kalau Hani tanya macam-macam ke Jaelani gimana? Kalau Hani gak kuat gimana? Pa!” Ucap Ratih khawatir.


Beni hanya tersenyum saja melihat istrinya. Kemudian, dia mencoba menenangkan Ratih dan berkata.


“Mungkin ini sudah jalannya Hani mengingat semua. Kita gak bisa menyembunyikan ingatan Hani selamanya, semua yang terjadi sudah di atur sama tuhan. Kita hanya bisa memberikan dorongan dan  alternatif lain sebisa kita.” Jelas Beni.


Dada Ratih tiba-tiba sesak. Dia tidak kuasa menahan penyesalannya karena membuat Hani pontang-panting merawatnya dan Beni dulu. Belum lagi, dia tidak bisa mendampingi Hani ketika Hani di kucilkan di sekolah barunya karena alasan tidak masuk akal.


***


Di halaman depan rumah Hani.


“Pak Rian... Yuhuu... Pak....” Teriak Hani.


~ Terima kasih, sudah mampir baca, likenya~

__ADS_1


__ADS_2