
Budhe Inem tersenyum. Dia merasa beruntung sekali bekerja di lingkungan yang baik seperti ini. Kemudian, dia kembali bekerja. Sekarang waktunya untuk mencuci baju sambil membersihkan halaman belakang.
Sedangkan Hani mulai bersiap belajar. Dia berjalan ke ruang tamu dengan menggendong tas punggungnya sambil membawa nampah yang sudah di siapkan oleh budhe Inem. Dia meletakan semuanya di meja. Sambil menunggu, Hani membuka ponselnya dan membuka media sosialnya.
Hani memperhatikan satu persatu foto di layar ponselnya. Hingga sampai di foto seseorang yang tampan menggunakan seragam basket sambil membawa bola basket dan tersenyum manis ke arah kamera hingga terlihat lesung pipitnya.
“Jaelani ganteng juga ya.” Ucapnya tidak sadar.
Karena penasaran, Hani membuka profil Jaelani. Dia melihat satu persatu postingan di akun itu. Dia mengamati setiap foto sambil tersenyum tidak jelas. Karena masih belum puas, Hani juga melihat foto yang di tandai di ke akun Jaelani. Tiba-tiba matanya membelalak.
“Huh? Dia udah punya pacar toh?” Ucapnya.
Hani langsung merasa sedih. Dia benar-benar merasa seperti sesuatu miliknya sudah di ambil oleh orang lain. Wajah yang tadinya ceria berubah jadi masam. Kini, dia baru sadar bahwa sebenarnya Hani memendam perasaan kepada Jaelani. Rasa sakitnya sangat tidak tertahankan.
Tok tok
“Permisi.”
Suara Adit sukses membuat Hani tersadar dari lamunannya. Dia mematikan layar ponselnya dan menyimpannya di meja. Kemudian, dia menatap Adit dengan wajah masamnya dan mengeluarkan buku dari tasnya.
Adit yang di tatap seperti itu merasa bersalah. Dia melihat ke jam tangannya. Dia memang terlambat tapi tidak sampai lima menit. Dia pikir Hani adalah tipe anak yang disiplin tepat waktu. Akhirnya dia duduk dengan pelan-pelan.
“Sudah siap?” Tanya Adit.
Hani hanya mengangguk tanpa melihat wajah Adit.
“Oke... sebelum belajar, mari berdoa terlebih dahulu.” Lanjutnya.
Akhirnya mereka belajar dengan suasana canggung. Hani yang masih cemburu dengan Adit yang merasa bersalah karena terlambat. Mereka sama-sama memasang wajah masam. Karena suasana canggung dan sepi itu. Mereka bisa mendengar suara jam berdetik hingga suara pensil terjatuh.
Reflek mereka mencari sumber suara. Anehnya, pensil itu terjatuh jauh dari jangkauan Hani dan Adit. Sedangkan mereka juga tidak melakukan pergerakan heboh yang mampu membuat meja bergetar. Seketika itu juga Adit merinding seperti biasa. Sedangkan Hani teringat sesuatu.
“Ah lupa.” Pikirnya.
Hani buru-buru menyobek kertas dan berlari kecil menuju pojok ruang tamu tanpa menghiraukan Adit di sana. Dan Adit hanya menatap Hani heran. Setelah Hani kembali, Adit pun bertanya.
“Kamu ngapain?”
Hani kelabakan, bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan Adit. Saking paniknya, dia melupakan Adit yang sudah ada bersamanya.
__ADS_1
“Anu... kadang itu ada cicak yang pup di situ. Jadi biar bersihinya gampang.” Ucap Hani asal.
Adit hanya tersenyum dengan jawaban aneh Hani. Kemudian, di ikuti Hani yang juga tersenyum dengan canggungnya.
***
Di sekolah SMA Negri 18.
Jaelani sedang melakukan kegiatan rutin Jumat bersih. Sekolah ini selalu mengadakan agenda itu pada jam pertama. Selama itu, setiap siswa siswi di wajibkan membersihkan lingkungan sekitar kelasnya masing-masing.
Jaelani sedang sibuk membersihkan kaca dengan kain. Dia naik meja dengan menggunakan kaus kaki saja. Karena postur tubuhnya yang tinggi membuat Jaelani tidak kesulitan untuk menggapai kaca jendela yang tertinggi.
Sebenarnya, Jaelani bisa mengatur keseimbangan tubuhnya tapi, Anggi tetap ngotot memegangi meja yang di injak Jaelani. Karena Anggi begitu keras kepala, akhirnya Jaelani membiarkannya.
“Baru lihat Anggi bisa bucin.” Ucap Ilham.
“Iya.” Ucap Nila setuju.
Nila dan Ilham memantau kedua sejoli itu dari seberang. Sambil membawa sapu dan kemoceng, mereka melihat sejoli itu seperti sedang berakting film romantis. Mereka tidak menyangka jika teman sebangkunya bisa seperti ini.
“Nil”
“Hmmm.”
“Iya.”
Setelah menjawab Nila melirik ke arah Ilham. Dalam benaknya terlintas pasti Ilham akan membandingkan dirinya dengan Jaelani. Namun, ternyata tidak.
“Sama kakel yang pernah nembak Anggi pas valentine, ganteng mana?” Tanya Ilham yang masih tidak mengalihkan pandang dari dua sejoli itu.
Nila merasa malu telah berprasangka buruk kepada Ilham. Dia berdehem dan sedang membayangkan wajah kakak kelas itu dengan wajah Jaelani. Dia berpikir cukup lama, hingga Ilham merasa di abaikan.
“Denger gak sih?” Ucap Ilham kesal.
“Denger!” Bentak Nila tidak kalah galak.
Ilham tersentak, tapi dia hanya mengalihkan pandang karena gengsi takut di kira lemah oleh Nila. Kemudian, Nila menjawab dengan sedikit ragu.
“Lebih ganteng kak Bian sih. Tapi, kalau attitude sih lebih ke Jaelani.” Jelas Nila.
__ADS_1
Ilham menyetujui pendapat Nila. Mereka tidak sadar mengangguk bersama.
Kring....
Bel berbunyi tanda jam pertama sudah berakhir. Ilham dan Nila mengembalikan alat kebersihan itu dan duduk di tempat masing-masing. Jaelani pun juga sudah selesai tepat bel berbunyi. Dia memakain sepatunya dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci tangan.
Setelah Jaelani kembali. Guru pelajaran seni dan budaya datang bersamaan dengannya. Jaelani mengangguk dengan sopan. Dan tidak sengaja tertangkap oleh mata Nila dan Anggi.
“Udah ganteng sopan santun. Idaman emang.” Ucap Nila.
Seketika Anggi melirik tajam kepada sumber suara. Nila terkejut dengan tatapan itu. Dia hanya mengeluarkan pendapatnya saja. Nila memang sering berbicara tanpa berpikir panjang seperti ucapannya kemarin.
“Heh... apaa sih Ngii, cuman bercanda.” Ucap Nila kaku.
Pelajaran pun di mulai. Kebetulan sudah memasuki bab baru. Bab kali ini tentang musik. Guru memberikan outline kegiatan apa saja yang akan di lakukan untuk memenuhi latihan bab ini.
“Oke, hari ini penjelasan saja. Minggu depan langsung praktek. Jika prakteknya sudah selesai, kita langsung ulangan harian bab seni terapan sampai seni musik.” Jelas pak guru.
“Yaahhhh....”
Semua mengeluh saat mendengar kata ulangan harian. Kelas ini begitu kompak mengeluh tentang ulangan.
“Tenang-tenang bapak belum selesai anak-anakku tercuans dan gans.”
“Hahahah.”
Semua siswa siswi tertawa dengan tingkah laku guru itu. Pelajaran seni budaya tidak pernah membosankan. Selain gurunya yang ekspresif pelajarannya juga menyenangkan. Dan juga untuk mendapatkan nilai sangat lah mudah. Asal berani berinovasi.
“Untuk prakteknya kelompok ya... kalian boleh memanfaatkan barang bekas apapun. Galon, botol bekas di isi pasir apapun itu. Kalian bebas berekspresi untuk menyajikan musik terbaik versi kalian. Kita praktek di ruang musik. Jadi minggu depan langsung ke sana oke gaiss.” Jelas pak guru.
“Siap pak!” Jawab siswa siswi kompak.
Mereka memulai pelajaran. Jaelani dan Ilham berpikir, mereka akan berkelompok dengan siapa? Jaelani ingin segera menemukan kelompok agar tidak satu kelompok dengan Anggi. Dia ingin satu kelompok dengan anak laki-laki saja. Dia sudah lelah di tempeli oleh Anggi.
“Udah dapet Jae.” Ucap Ilham semangat.
“Siapa aja?”
“Ya ini. Satu paket bangku depan dan belakang kita.” Jelasnya.
__ADS_1
“Good!”
Jaelani tersenyum gembira. Dia merasa lega bisa merasa tenang. Tanpa basa-basi, dia menulis nama kelompoknya. Dia akan langsung menyetorkannya ketika di minta nanti di akhir pelajaran. Karena hatinya gembira. Dia ingin bertemu Hani dan membawakan jajanan sekolah yang mungkin Hani rindukan.