
Hani datang ke lapangan sekolah, tempat yang terasa pernah dia kunjungi. Hani menggunakan seragam olahraga yang berbeda dari lainnya. Anehnya, semua menatapnya tajam. Dia terus berjalan menuju barisan terpendek di lapangan. Tetapi semakin dekat – semakin beberapa siswi menjauhi Hani. Bagaikan minyak yang di tetesi air.
“Minggir – minggir nanti kena sial.” Bisik seorang siswi.
“Pindah yuk!” Seru yang lain.
Dan berbagai ucapan yang sungguh menyakitkan perasaan Hani. Dia berhenti melihat siswi di sana yang semakin menjauh, saat melihat dia mendekat. Hani merasa dadanya sangat sesak, ingin sekali rasanya menangis tapi dia malu menangis di sini.
Kemudian, ada seorang guru perempuan yang wajahnya tersamarkan karena silau dari cahaya matahari. Guru itu membantu Hani untuk mendapatkan barisan. Tapi sama saja semua siswi menolak kehadirannya. Kemudian, guru itu mendatangi Hani dan menarik tangannya untuk ke depan.
Saat itu Hani tidak memperhatikan wajah guru itu. Dia masih fokus kepada tatapan siswa siswi di sana. Dia menatap satu persatu wajah mereka. Rasanya wajah mereka sangat tidak asing bagi Hani.
Saat Hani berhenti tiba-tiba tempatnya sudah berubah. Hani berada di suatu tempat. Lagi-lagi tempat yang asing tapi terasa pernah di kunjungi. Hani ternyata berada di rumah sakit. Dia melihat Ratih yang sedang berbaring di sana. Ratih hanya berbaring saja, dia masih sadarkan diri.
“Mama?” Gumam Hani.
Kemudian, Hani melihat sekitar dia berdiri. Dia melihat seluruh ruangan itu dan matanya berhenti di meja kaca dekat sofa untuk para penunggu. Dia terkejut karena dia melihat tasnya di sana serta ponsel dengan foto dirinya sendiri di sana.
“Itu aku? Hah?” Ucap Hani sambil tertawa heran.
Lalu mata Hani bergerak kembali ke samping ponselnya. Dia melihat ada buku kecil yang terbuka. Samar-samar dia melihat ada tulisan di sana. Hani mendekat dan membaca tulisannya.
“Pembunuh?” Ucap Hani ketakutan.
Kemudian dia langsung ingat jika dia pernah mencurigai Della sebagai pembunuh. Hani ingat betul itu, tapi dia masih tidak ingat yang di bunuh? Lalu, siapa Tony itu? Tiba-tiba Della ada di dekatnya dan mendorong Hani terjatuh sampai membentur lantai.
“PERGI!” teriak Della.
“Kamu pembunuh!” Ucap Hani tanpa ragu.
__ADS_1
“Aaaaaa” Della berteriak hingga membuat telinga Hani sakit.
Hani menutup telinganya sambil berusaha duduk dengan kepala tertunduk. Tidak lama kemudian suara itu menghilang. Hani perlahan membuka telinganya dan mendongak ke atas. Kemudian, di sana dia melihat wajah siswa siswi mengelilinginya.
“Pembawa sial!”
“Gara-gara kamu Della kayak gitu.”
“Jangan deketin dia.”
“Huuu pergi kamu.”
Ucapan itu terngiang-ngiang di telinga Hani. Tatapan benci mereka semakin terlihat tajam. Hani ingin berteriak tapi suaranya tidak keluar. Hani masih berusaha berteriak sambil berpikir kenapa semua ini terjadi kepadanya? Apa salahnya? Kenapa semua memusuhinya? Dan kenapa Della begitu membencinya? Hani hanay bisa menangis ketakutan.
Tiba-tiba Hani bisa berteriak dan siswa siswi di sana semua menghilang dan Hani berada di rumahnya. Dia berada di kamarnya dia berdiri tepat di depan kaca.
Tiba – tiba ada percikan cairan merah di depan kaca. Hani terkejut hingga dia mundur beberapa langkah. Matanya kini melotot karena ternyata percikan itu membentuk sebuah huruf satu persatu.
“D... E... L...L...A.” Eja Hani.
Hani ingat betul bahwa dia pernah mengucapkan kalimat itu. Yah benar Hani memang ingat kala itu, dia harus segera ke rumah sakit untuk merawat orang tuanya yang koma. Dia mampir pulang karena harus mandi terlebih dahulu. Sayangnya dia tidak mengingat Nana sama sekali. Karena Hani hanya terlalu fokus ke Della.
“Aku sedang dalam kasus pembunuhan? Mama kenapa aku sampai ke kasus ini?” Ucapnya gemetar dan menangis.
“Maa.. Maaa... Mama.”
***
“Hani! Hani bangun nak.” Ucap Ratih panik.
Ratih berkali-kali membangunkan Hani. Dia khawatir karena air mata tidak berhenti menetes melewati pelilpisnya. Hani menangis dalam keadaan tertidur. Ratih buru-buru keluar kamar memanggil Beni.
Dia berteriak sekencang-kencangnya hingga membuat Beni berlarian menuju Ratih. Bahkan budhe Inem yang masih sibuk di dapur juga ikut berlari menuju ke sumber suara karena Ratih terdengar sangat panik.
__ADS_1
“Kenapa ma?” Tanya Beni yang sudah berdiri di depan Ratih.
“Itu.” Ucap Ratih sambil menunjuk Hani.
Ternyata Hani sudah bangun dari tidurnya. Kini dia terlihat bengong sambil menatap lurus kedepan. Ratih dan Beni langsung menghampirinya. Mereka berusaha memanggil Hani agar Hani segera sadar. Hani tidak boleh terlalu banyak melamun.
“Mama....” Ucap Hani bergetar.
Ratih langsung memeluk Hani erat. Dia mengelus punggung Hani dan mengecup ujung kepalanya. Dia berusaha keras untuk menenangkan anak semata wayangnya itu. Beni pun ikut menepuk nepuk pundak Hani berharap itu bisa menenangkan Hani.
“Mama sama papa sehat kan sekarang? Gak perlu ke rumah sakit kan?” Ucap Hani.
Ratih dan Beni saling menatap tidak percaya dengan ucapan Hani.
“Kenapa kamu bilang gitu?” Tanya Beni.
“Aku ingat, mama sama papa pernah di bawa koma karena kecelakaan.” Ucap Hani sesenggukan.
Ratih semakin memeluk erat anaknya itu. Akhirnya Hani mengingat kejadian di masa lalunya. Antara senang dan sedih bercampur jadi satu. Ratih hanya takut jika Hani merasa terbebani akan masa lalunya. Terlebih dia dengar Hani tidak punya teman saat mereka di rawat di rumah sakit.
Hani mengurus kedua orang tuanya sendiri tanpa hiburan dari temannya kecuali Jaelani. Membayangkannya saja sudah membuat Ratih merasakan sesak tidak karuan. Ratih dan Hani menangis dalam pelukan. Beni hanya bisa tersenyum getir ketika Hani mengingat masa lalunya. Karena Beni baru tau jika Hani ternyata di jauhi selama di sekolah dulu.
Beni hanya berpikir jika selama ini, Mia hanya kesal saja kepada Hani karena membawa anak laki-lakinya masuk ke dalam kasus pembunuhan. Tapi, dia tidak menyangka ucapan “pembawa sial” yang keluar dari mulut Mia karena Hani itu berasal dari perlakuan teman-teman Hani kepada Hani yang dikucilkan selama di sekolah.
“Maafin papa gak bisa lindungi kamu.” Batin Beni.
Hani hanya mengingat sebagian saja dari masa lalunya. Dia mengingat ketika bahwa Beni dan Ratih pernah di rawat karena kecelakaan, kemudian dia juga mengingat masa di mana dia di jauhi teman-temannya dan juga dituduh pembawa sial dan yang paling dia ingat ketika dia mencurigai Della sebagai pembunuh.
Hani masih belum mengingat Nana, Tony dan Tina sama sekali. Bahkan kenangan bersama Jaelani pun Hani belum ingat sepenuhnya. Itu karen Hani hanya berusaha mengingat tentang siapa Della saja.
“Sampai mana ingatan kak Hani ya? Hihihi... aku ingin segera mempengaruhi kak Hani untuk membawaku ke rumah Stevan agar aku bisa balas dendam kepadanya.” Ucap Kiki di iringi senyum mengerikan khasnya.
(FYI : Hani mulai mengingat masa lalunya yang di episode 19, 25 dan 49 di season Misteri Kuteks Merah)
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca.~
~Mampir juga ya cerita lainnya di profilku.~