Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 36


__ADS_3

Jaelani tersenyum karena membayangkan wajah Hani. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Hani nanti pulang sekolah. Dia sedang berpikir akan membawa apa untuk Hani nanti.


“Selamat pagi anak-anak.” Ucap ibu guru dan pelajaran pun di mulai


***


Kring... kring...


Bel istirahat berbunyi.


“Kantin, bro.” Tanya Ilham.


“Oke.”


Ilham dan Jaelani pun pergi ke kantin. Mereka tidak pergi berdua saja. Tetapi, mereka pergi bersama teman-teman lainnya juga. Mereka bergerombol menuju kantin dengan Jaelani dan Ilham berjalan di depan. Mereka berjalan layaknya geng motor.


Sampai di kantin mereka langsung memesan makanan masing-masing dan duduk di meja panjang dekat jendela di pojokan.


“Jae! Kapan jadian sama Anggi?” Tanya salah satu siswa.


“Ck...” Jaelani berdecak kesal.


“Aku gak pacaran sama dia. Siapa sih yang sebarin gosipnya?” Ucap Jaelani geram.


“Entah siapa yang sebarin. Yang pasti sekarang kamu jadi pusat perhatian emang gak kerasa apa sepanjang....” Ucapan Ilham terpotong.


“Jalan kenangan... kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan...” Beberapa siswa malah menyanyikan lagu dengan kompaknya hingga menjadi pusat perhatian.


Mereka bernyanyi tanpa memperdulikan siswa siswi yang kini memperhatikan mereka. Mereka bernyanyi layaknya sedang menonton konser. Ilham yang awalnya sebal, malah ikut bernyanyi.


“Berisik woy!” Teriak salah satu siswa yang tidak lain adalah ketua kelas mereka.


Mereka pun akhirnya terdiam. Karena ketua kelas mereka itu siswa berwibawa dan paling di segani di sekolah karena prestasinya memenangkan kejuaraan jujitsu tingkat provinsi pada saat kelas satu dulu. Padahal mereka hanya di teriaki oleh sang ketua kelas, mereka langsung menciut.


“Jadi Jae...” Lagi-lagi ucapan Ilham terpotong.


“Hai Jaelani.” Sapa Anggi.


“Hai Anggi.” Yang menjawab malah teman-teman Jaelani sambil tersenyum aneh.

__ADS_1


“Jadi kenapa Ham?” Tanya Jaelani.


“gak jadi!” Ilham yang kesal karena ucapannya terpotong dua kali.


Meskipun Ilham tidak berbicara, Jaelani juga sudah merasa bahwa dia mejadi pusat perhatian di sepanjang perjalanan ke kantin. Kini dia berpikir untuk bersikap masa bodo agar gosip itu tidak menyebar dan menghilang. Pikirnya dengan bersikap dingin, orang-orang akan menjauh dan melupakan gosip itu.


Gosip antara Jaelani dan Anggi menyebar begitu cepat karena beberapa alasan. Yang pertama, karena Anggi adalah siswi yang terkenal cantik dan cuek. Selain cantik itu dia terkenal anak yang sok jual mahal. Dia sudah menolak beberapa siswa. Padahal karena memang Anggi awalnya tidak tertarik dengan pacaran. Dia ingin pacaran setelah menikah. Namun, setelah kejadian kemarin saat Jaelani membantu Anggi. Dia jadi tertarik untuk berpacaran.


Yang kedua, Jaelani di anggap sebagai laki-laki pertama yang mampu menaklukkan siswi cantik yang terkenal cuek dan sok jual mahal itu. Bahkan Jaelani mampu merubah Anggi yang enggan menyapa seorang siswa karena takut jika si siswa merasa di beri harapan untuk dekat dengannya.


Tidak hanya di kalangan siswa siswi. Gosip itu juga menyebar di kalangan guru dan petugas sekolah lainnya.


***


Di rumah Hani.


Hani masih sibuk belajar dengan Adit. Sekarang, dia benar-benar sangat fokus hingga tidak menyadari bahwa beberapa pensil bergerak. Melihat itu Adit hanya bisa terdiam dalam ketakutan. Dia pura-pura tidak melihat dan fokus ke buku yang dia baca.


“Sudah selesai kak.” Ucap Hani.


Adit pun langsung menengok dan memeriksa buku yang di sodorkan Hani. Adit mengambilnya dengan tangan sedikit bergetar karena masih takut.


“Udah.”


“Kok tangganya bergetar. Aku ambilin minum air putih ya.” Ucap Hani langsung pergi ke dapur.


“Ja-ngan.” Ucap Adit lemas.


Karena sebenarnya dia tidak ingin di tinggal sendirian di sini. Dia takut, jika tiba-tiba melihat penampakkan. Akhirnya dia mencoba menyibukkan dirinya dengan mengoreksi pekerjaan Hani. Tetapi, apalah daya rasa takutnya lebih mendominasi sehingga dia tidak bisa berpikir jernih saat ini.


Di dapur.


Hani mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin. Budhe Inem yang sibuk mengambil cucian dari mesin cuci di dekat dapur penasaran kenapa Hani mengambil minum. Padahal di tadi budhe Inem sudah menyiapkan jus buah satu teko kaca sedang.


“Mbak Hani kenapa?” Tanya budhe Inem dari jauh.


“Mau ambilin air putih buat kak Adit.”


Setelah menjawab Hani langsung kembali ke ruang tamu. Di sana dia melihat Adit yang fokus mengkoreksi pekerjaannya dengan ekspresi aneh. Hani pun menghampirinya dan memberikan minuman.

__ADS_1


“Ini kak.” Ucap Hani.


“Hah?” Adit terkejut karena keberadaan Hani yang tiba-tiba.


Adit pun langsung menerima dan meminum air itu dengan tergesa-gesa. Entah kenapa tenggorokannya jadi terasa kering. Setelah lega dia ingin meminta ijin untuk keluar sebentar untuk menghirup udara di luar. Hani pun mengijinkannya.


“Kak Adit kenapa ya?” Gumam Hani.


Kemudian, Hani teringat bahwa kemarin dia memberikan kertas, pensil dan peralatan tulis lainnya di pojok ruang tamu. Lalu, dia berlari kecil menghampiri tempat itu. Namun, sampai sana pojokan itu sudah bersih tidak ada pun.


“Budhe!” Ucapnya.


Dia berlari menemui budhe di dapur. Sesampainya di dapur ternyata budhe sudah tidak ada. Dia ingat saat itu budhe sedang mengambil pakaian dari mesin cuci. Itu berarti budhe Inem masih menjemur pakaian. Hani pun berlari kecil ke halaman belakang.


“Budhe!” Teriak Hani.


“Huhhh...” Hani menghela napas panjang sambil mengatur napasnya.


“Iya?” Jawab budhe sambil menaruh jemuran.


“Budhe tau gak? Itu... kertas... di pojok ruang tamu.” Ucap Hani tersengal-sengal.


“Oh itu. Sudah saya bersihin mbak. Alat tulisnya saya taruh di dekat TV ruang tengah.” Jelas budhe Inem.


“Oh iya itu coretan apa sih mbak? Kok kayak TK gambar benang kusut.” Tanya budhe Inem.


Mendengar itu Hani terkejut. Karena dia ingat persis saat Hani menaruh kertas di sana. Kertas itu masih bersih. Tapi, kenapa budhe bilang kertas itu sudah tercoret?


“Lantainya juga banyak coretan mbak. Untung bisa saya pel.” Ucap budhe Inem.


“Kertasnya sekarang di mana?” Tanya Hani penasaran.


Budhe Inem menjelaskan bahwa mungkin kertasnya sudah di angkut oleh petugas kebersihan keliling. Hani, sangat kecewa karena tidak bisa melihat kertas itu. Akhirnya dia memutuskan untuk menaruh lagi kertas di sana. Dia juga meminta budhe Inem untuk tidak membersihkan pojokan ruang tamu. Hani ingin melihat sendiri seperti apa kondisinya.


Setelah itu, Hani mencari alat tulisnya di dekat Tv dan menyobek kertas dari bukunya. Kemudian, dia menaruhnya di tempat tadi. Sambil bergumam sendiri agar Kiki tidak menggangunya belajar. Hani benar-benar merasa tidak nyaman ketika melihat Adit keluar dengan muka yang sedikit pucat. Dia pikir Adit telah melihat sesuatu hingga membuatnya ketakutan.


“Kamu belajar di sini aja ya. Jangan ganggu aku. Oke.” Gumam Hani yang sudah merasa bahwa Kiki ada di belakangnya.


Tetapi, ternyata dugaannya salah. Yang berada di belakangnya sekarang adalah Adit. Dia berdiri sambil mengamati apa yang di lakukan Hani.

__ADS_1


“Kamu ngapain?” Tanya Adit yang membuat Hani terkejut hingga hampir tersungkur.


__ADS_2