Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 21


__ADS_3

Suter Sari menceritakan kejadian yang dia alami. Saat suster Sari bercerita juga Hani mulai membaik. Dia juga sudah tidak merasakan sakit dan sedih yang berkepanjangan. Tetapi telinganya masih mendengar rintihan orang sakit.


“Andai saya bisa membantu nenek itu. Pasti saya tidak akan merasa bersalah seperti ini. Tetapi, berkat mbak Hani. Arwah nenek itu bisa menyampaikan terima kasih ke saya.” Jelas suter Sari.


“Eh? Gimana caranya?” Tanya pak Rian antusias.


“Ya tadi kayak ada yang ngomong di telingaku gitu waktu aku meluk Hani tadi.”


Hani, Jaelani dan pak Rian tercengang sekaligus merinding mendengar itu. Mereka tidak menyangka bahwa ternyata ada hal yang seperti itu. Namun bagi Jaelani, ini adalah kedua kalinya dia mendengar dan melihat kejadian yang tidak bisa di jelaskan dengan logika.


Setelah Hani merasa baikan suster Sari ijin untuk pulang. Karena dia memang merasa sudah sangat lelah. Jaelani pun juga ijin untuk kembali ke kamar rawat inap. Bagi Jaelani ini sudah terlalu lama meninggalkan orang tuanya di sana. Pak Rian dan Hani menyetujuinya.


Mereka pun beranjak pergi. Pak Rian menawarkan suster Sari tumpangan. Hani pun senang sekali bisa tau tempat kos suster Sari. Jadi dia bisa main ke kosnya jika ingin bertemu. Hani juga mulai merasa risih saat berdiam lama-lama di rumah sakit.


“Duluan semuanya.” Ucap Jaelani.


Semua mengangguk kecuali Hani. Dia malah bersiap memakai masker. Jaelani merasa keheranan dengan tingkah temannya itu. Dia sempat tersenyum melihat Hani.


“Perasaan tadi gak pakai masker deh mbak?” Tanya pak Rian.


“Iya pak, aku mau ikut Jaelani. Makanya pakai masker, biar gak ketauan hehe.”


Seketika Jaelani dan pak Rian melotot bersamaan. Mereka sama-sama tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Hani. Ternyata selain keras kepala, Hani adalah anak yang nekat juga.


“Ngapain?” Tanya Jaelani.


“Ya kan aku kesini mau jenguk papa kamu. Masak iya aku Cuma ketemu kamu aja? Tenang deh Jae. Nanti aku Cuma ngintip dari depan doang gak masuk. Kalau di tanya bilang aja aku orang lewat. Gampang kan. Ayo! Pak tunggu di parkiran ya.”


Hani sudah mengandeng tangan Jaelani. Pak Rian ingin mencegahnya. Namun, dia tidak bisa karena dia sudah sepakat untuk membiarkan Hani melakukan apa pun di rumah sakit. Selain itu, pak Rian juga sudah memakan banyak salad buah yang di suguhkan Hani. Terpaksa pak Rian menuruti perkataan Hani. Lain kali pak Rian akan lebih hati-hati dalam membuat kesepakatan dengan Hani.


“Sebenarnya ada apa sih di antara Hani dan keluarga pasien Deden?” Pikir suster Sari.

__ADS_1


***


Dalam perjalan Hani sudah melepas gandengannya dengan Jaelani. Mereka berjalan tanpa percakpan. Dalam benak Jaelani. Dia ingin sekali berlama-lama dengan Hani, jadi dia berjalan sangat lambat. Selama itu, Jaelani memperhatikan Hani dari samping terlihat Hani berjalan sambil melamun.


“Woy! Jangan melamun, Nanti kesambet.” Ucap Jaelani memecah keheningan.


“Hehe... gak, aku Cuma berpikir. Andai aja aku gak hilang ingatan. Pasti aku tau kamu, dan permasalahan apa yang membuat orang tuamu marah sama aku. Kalau gini kan aku jadi penasaran terus apa salah ku?”


“Di dunia ini gak ada yang pasti Han.” Ucap Jaelani datar.


Mendengar nada bicara Jaelani yang berubah membuat Hani menoleh ke lawan bicaranya itu. Tubuh Hani yang lebih pendek dari Jaelani membuatnya kesulitan melihat ekspresi Jaelani. Karena yang terlihat hanya dagunya. Merasa bersalah Hani pun kembali diam. Tapi dia penasaran kenapa Jaelani berbicara seperti itu.


“Masak? Dua tambah dua aja udah pasti empat.” Ucap Hani.


“Hah... iya iya.” Ucap Jaelani semakin datar.


Karena merasa tidak mendapat jawaban yang di inginkan maka Hani menghentikan langkah Jaelani dengan menarik tangannya. Reflek Jaelani menoleh dan menatap Hani. Dengan begini baru Hani tau bagaimana ekspresinya. Ternyata wajah Jaelani terlihat sangat sendu. Hani mencoba mencari bangku yang kosong. Setelah menemukannya dia menarik lengan Jaelani kuat mengajaknya duduk di bangku itu.


“Gak apa-apa. Aku yang harusnya tanya. Kamu kenapa?”


Melihat Hani yang khawatir membuat Jaelani tersenyum tanpa sadar. Dia senang bahwa Hani merasakan perubahan moodnya. Sedangkan Hani malah heran. Wajah yang tadinya sendu secepat hitungan detik berubah menjadi wajah yang meneduhkan baginya.


“Kenapa sih?” Kesal Hani.


“Hehehe... sebentar . Kita tadi bahas apa sih kok sampai kamu kayak gini?” Tanya Jaelani yang sudah kehilangan arah karena perhatian Hani.


“Hissss!! Tadi kamu bilang di dunia ini tuh gak ada yang pasti. Buktinya...” Ucap Hani terpotong.


“Ohh... Itu. Menurutku dalam kehidupan sehari-hari itu gak ada yang pasti. Misalnya nih... orang yang pandai banget dalam akademis. Nilainya bagus bagus kan dia. Tapi Apa pasti dia bisa jadi orang sukses?” Tanya Jaelani.


“Pastilah.” Jawab Hani yakin.

__ADS_1


“Ya belum tentu dong. Bisa aja, meski dia pandai di akademis. Tapi dia gak jago public speaking, dia hanya jago mengeluarkan idenya hanya berbentuk tulisan, tapi dia sulit dalam menjelaskan. Kemudian dia gak mau menggali skill public speakingnya. Apa dia ‘pasti’ bisa sukses hanya mengandalkan kelebihannya itu tanpa berusaha keras lagi?”


“Yak kan itu karena dia gak mau usaha maskimal. Ya jelas gak bisa.” Bantah Hani.


“Lagi, misalnya ada anak yang udah rajin banget belajar buat ujian nasional. Bahkan dia juga termasuk anak yang terpandai di sekolahnya. Eh pas ujian sekolah nilainya jeblok karena panggilan alam nih dianya. Mules misalnya? Padahal dia udah persiapin semua dari jauh-jauh hari. Eh pas di tengah-tengah ngerjain dia mules. Gimana coba mau konsentrasi?”


“Ya karena dia udah persiapan jauh-jauh hari harusnya dia juga mengatur pola makan dong.” Bantah Hani.


“Iya nih dia udah mengatur pola makannya. Tapi kita gak tau kalau sebelum dia makan ternyata makanannya di hinggapin lalat pas dia asik nguyah misalnya? Kalau kamu ngunyah makanan kamu bakan tetep mantau makananmu?” Serang Jaelani balik.


“E-engak sih.”


“Nah kan. Jadi benerkan kalau di dunia ini gak ada yang pasti meskipun kita sudah mempersiapkan semua dengan baik.” Ucap Jaelani bangga memenangkan perdebatan.


Hani berpikir sejenak. Apa hubungannya pelajar yang dia ceritakan dengannya? Sama sekali gak ada hubungannya. Hani menatap tajam Jaelani yang bersiap untuk berdiri.


“Apa lagi?” Tanya Jaelani.


“Contoh lainnya?” Pinta Hani agar dia bisa membandingkan dengan masalahanya.


“Oke. Kalau kamu gak hilang ingatan kamu yakin kan pasti tau apa kesalahanmu? Tapi menurutku enggak. Karena sampai kapanpun kamu gak akan pernah tau apa alasan orang membencimu. Karena kamu istimewa.”


Deg deg deg.


Jantung Hani maraton mendengar kata ‘istimewa’ yang keluar dari mulut Jaelani. Napasnya tidak karuan saat ini.


“Mungkin kamu hanya berpikir kenapa sih aku di panggil ‘pembawa sial’? andai aja aku ingat pasti aku tau alasannya. Tapi kamu gak pernah tau sebenarnya apa kesalahanmu hingga di panggil “pembawa sial” karena sebenarnya kamu tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Mereka memanggilmu begitu hanya karena kebetulan kamu kena imbas dari suatu kejadian.” Jelas Jaelani.


Seketika dia ingat kejadian dimana Hani di jauhi di kelasnya hanya karena masalah datang berturut-turut setelah dia masuk ke sekolahnya. Jaelani menatap Hani tatapan iba. Yang Jaelani tau hanya itu. Dia tidak tau jika sebenarnya ragu apakah benar Hani berurusan dengan arwah Nana dan dia memang memiliki kemapuan khusus? Itu karena dulu Hani tidak pernah mau menceritakannya kepada Jaelani.


Sedangkan Hani yang di tatap aneh seperti itu jadi malu. Karena Hani masih tidak bisa mengontrol detak jantungnya Hani malah berpikir kalau Jaelani sedang terpesona olehnya. Sehingga dia bangkit dan langsung meninggalkan Jaelani.

__ADS_1


__ADS_2