
Hani pun belajar dengan Adit. Selama belajar mengajar berlangsung muka Hani semakin lama semakin terlihat lesu, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam. Saat itu juga Beni dan Ratih masuk.
Adit langsung menyapa Ratih dan Beni sekilas. Sedangkan Hani masih dengan konsentrasinya menatap buku kimia sambil menopang dagunya. Melihat itu Ratih merasa senang. Di mata Ratih ini adalah pemandangan indah terlebih ada Adit yang memperhatikan Hani dengan seksama.
“Pa, serasi ya?” Bisik Ratih sambil berjalan ke dalam bersama Beni.
“Gak! Masih SMA.” Jawab Beni ketus.
Ratih pun hanya tersenyum melihat respon suaminya itu. Dia tau, jika masih belum merelakan anak gadisnya untuk pacaran.
Kembali ke ruang tamu.
Semakin lama, Hani semakin lesu bahkan terlihat dia sangat mengantuk. Melihat itu Adit menyuruhnya untuk istirahat sebentar. Dia menyuruh Hani masuk dulu, untuk sekedar cuci muka atau tiduran di dalam dulu. Sedangkan Adit mengoreksi pekerjaannya.
Di ruang makan.
Hani duduk di meja makan bersama Beni dan Ratih. Namun, dia tidak mengambil piring untuk makan hanya minum sambil mengkedip kedipkan matanya.
“Kok Adit gak di ajak makan Han?” Tanya Ratih.
“Oh...” Jawab Hani.
Kemudian, dia beranjak ke ruang tamu untuk mengajak Adit untuk makan malam. Hani berjalan dengan sedikit sempoyongan karena menahan kantuk yang berat. Dia benar-benar tidak bisa fokus.
Sampai di ruang tamu, dia meminta Adit untuk masuk makan malam. Tapi, dia malah duduk kembali di lantai dan meletakkan kepalanya di meja ruang tamu. Tidak lama kemudian, Hani tertidur.
“Han, nih udah selesai. Kamu salah sepuluh loh.” Ucap Adit.
Satu menit tidak ada jawaban dari Hani.
“Han, ayo kita bahas.” Ucap Adit lagi.
Tidak ada jawaban lagi. Dia menyentuh lengan Hani yang di gunakan bantal tidur dengan telunjuknya. Tetapi, tidak ada pergerakan. Akhirnya dia bangun dan melihat sisi lain. Ternyata Hani tertidur pulas.
Dengan sigap Adit mengeluarkan ponselnya untuk memotret Hani yang tidur. Dia ingin menunjukkan wajah Hani kepada Tony dan Tina. Ini adalah kesempatan emas bagi Adit. Dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Cekrek!
Dua foto pun di ambil dan langsung dia kirimkan ke Tony dengan pesan di bawah fotonya yang berbunyi ‘mangsa yang tertidur’.
Merasa sedikit bebas, Adit merenggangkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya yang tegang itu. Dia benar-benar lelah karena hari ini dia seharian duduk tegap. Selama di kampus, dia duduk berjam jam di perpustakaan untuk memperbaiki skripsinya karena Adit adalah tipe orang yang tidak suka menunda pekerjaan.
“Pulang kali ya.” Ucapnya.
Kemudian, dia beranjak ke dalam mencari keberadaan Ratih dan Beni. Dia juga memperhatikan setiap detil ruangan rumah itu. Namun, masih dengan rasa sopan dia tidak masuk lebih dalam. Akhirnya dia kembali dan berjalan keluar mencari satpam untuk meminta pertolongan di panggilkan Beni atau Ratih. Dia ingin berpamitan pulang karena Hani tidur.
__ADS_1
Pak Rian pun langsung mencarikan keberadaan Beni. Dan Adit membersihkan beberapa buku di meja. Tidak lama kemudian Beni datang dan langsung mempersilahkan Adit pulang. Dia juga menjelaskan bahwa kebiasaan Hani memang tidur lebih awal karena dia juga tidak ada kegiatan.
Setelah Adit pulang. Beni mengemas buku-buku Hani, lalu memperhatikan anak gadisnya itu. Dia terlihat seperti anak kecil. Beni sangat merindukan momen dimana dia menatap anak gadisnya yang tertidur pulas. Terakhir dia melihatnya saat Hani berusia sembilan tahun. Setelah itu Hani di ajari untuk tidur sendiri.
“Anakku sudah besar.” Ucapnya.
Lalu, dia mencoba membangunkan Hani agar Hani pindah ke kamarnya. Dan Hani pun bangun, dengan ekspresi linglung berjalan ke kamarnya. Sampai kamar, dia langsung menjatuhkan diri ke ranjangnya yang empuk itu.
Bruk!
“Hahh....”
Hani melepas napas panjang dan berguling guling mencari posisi ternyaman.
Clang!
Tiba-tiba ada mainan terjatuh. Suaranya sangat kencang hingga membangunkan Hani yang hampir terlelap kembali itu.
“Apa tuh?”
Hani masih menyesuaikan diri, antara alam mimpi dan kenyataan. Dia menarik napasnya dalam-dalam agar dirinya tenang.
Bruk!
Tiba-tiba rak mainan jatuh sehingga beberapa mainan terjatuh ke lantai. Hani lupa jika ini adalah saatnya Kiki bermain. Dia menjatuhkan kepalanya ke bantal dengan kasar karena kesal, sekarang dia tidak mengantuk lagi.
Hani sengaja tidak menjawab. Dia masih malas untuk melihat hal-hal tidak logis itu.
Sret!
Mainan boneka barbie bergeser. Hani hanya meliriknya, kini dia semakin sudah biasa dengan fenomena itu meski masih tersisa rasa takut. Hani mencoba tidur kembali dengan membalikkan badannya.
“Kak! Ayo main!”
Ajakan itu di sertai angin kencang berhembus entah dari mana padahal jendela dan pintu tertutup rapat.
“Argh!!!” Geram Hani.
“Kamu maunya apa sih? Kemarin ganggu aku dalam mimpi, sekarang kamu terbangin buku-buku aku. Aku capek.” Keluh Hani.
Seketika angin mereda. Bukanya lega, Hani malah takut karena tiba-tiba angin itu berhenti. Dia takut si Kiki marah.
“Belikan aku mainan baru ya.” Ucap Kiki.
“Kalau aku beliin baru kamu gak ganggu aku kan?” Jawab Hani antusias.
__ADS_1
“Hmm...”
“Oke.”
Hani menjawab tanpa berpikir panjang. Yang terpenting dia bisa tidur dengan nyenyak setiap malam. Dia juga mengatakan bahwa berencana keluar besok untuk beli mainan karena pagi hari dia tidak ada les privat, dia mengisi waktu luang untuk jalan-jalan.
Kemudian, tidak ada jawaban. Suasana kembali normal. Hani pun mencoba tidur kembali. Tetapi, tidak semudah itu. Meski Hani bisa tidur. Dia kembali bermimpi aneh.
Hani bermimpi sedang bermain dengan anak kecil yang wajahnya tidak terlihat jelas. Dia bermimpi anak kecil itu bermain bola bekel. Anehnya Hani merasa sudah mengenal anak itu. Hingga akhirnya ada seorang perempuan paruh baya menghampiri mereka.
“Hallo.” Ucap perempuan paruh baya itu.
“Saya mau bagi-bagi mainan gratis nih.” Lanjutnya.
Hani hanya menatap wanita itu sambil mengingat-ingat, karena dia yakin pernah melihat wanita itu. Wajahnya sangat tidak asing. Dia memperhatikan wanita itu sangat serius hingga tidak terasa wanita itu akan pergi bersama anak kecil yang diajaknya bermain bekel itu.
“Eh? Kalian mau kemana?” Ucap Hani.
“Ayo ikut bunda.” Ucap wanita paruh baya itu.
Seketika Hani ingat. Wanita itu adalah wanita yang datang di mimpi sebelumnya. Wanita yang datang membawa makanan dan memeluk Hani di rumahnya yang rusuh itu.
“Ayo, bunda punya banyak mainan di rumah bunda.”
Setelah mengucapkan itu, perempuan paruh baya itu perlahan menjauh dan menghilang bersama dengan anak kecil yang tidak jelas wajahnya itu. Kini Hani melihat punggung keduanya. Hani melihat jelas anak kecil itu berambut pendek dengan baju sederhana yang terlihat bersih dan rapih.
“Anakku!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan membuat Hani terkejut dan terbangun.
“Haahhh!”
Hani menghirup napas sedalam dalamnya. Kini dia bangun dengan pandangan blur dan sedikit pusing. Lalu, dia mengatur napas dan mencoba menenangkan dirinya kembali. Setelah sadar dia masih ada di kamarnya dia sangat bersyukur.
“Mimpi itu?”
Grek!!
Suara gerbang di buka. Seketika Hani menatap jam dindingnya. Ternyata ini sudah pagi. Waktu menunjukkan pukul setengah enam tepat.
“Hah...” Hani mendengus kesal.
__ADS_1