
“Siapa ya?” Tanya Tina ramah.
Hani dan Jaelani sedikit tersentak mendengar suara itu. Mereka merasa tidak asing dengan suara itu. Reflek mereka memperhatikan Tina dengan wajah serius.
“Suara itu?” Pikir Hani dan Jaelani.
Hani berjalan perlahan melangkah ke depan Tina. Entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan takut dan enggan mendekat. Dia merasa ada yang menariknya dari belakang. Ternyata itu ulah Kiki.
Kiki tau ada yang tidak beres dengan wanita di depan Hani. Sehingga dia menarik sekuat-kuatnya tubuh Hani agar tidak mendekat ke wanita itu.
“Saya Hani, anak yang les sama kak Adit.” Ucap Hani tersenyum.
“Oh, iya. Kamu ya ternyata yang bernama Hani.” Jawab Tina dengan menekan nama di akhir.
Jaelani semakin merasa aneh dengan wanita di depannya. Selain merasa familiar dengan suaranya, dia juga merasa familir dengan cara berbicaranya.
“Maaf ya, Adit belum bisa ngajar lagi karena masih sakit. Tuh anaknya tidur mulu.” Ucap Tina.
“Oh iya, gak apa-apa tante. Kak Adit sakit apa ya?” Tanya Hani.
“Sakit diare kok. Bentar lagi sembuh.”
Jaelani memperhatikan Adit yang tertidur pulas. Dia mencela Adit dalam hati. Kenapa Adit bisa tidur pulas seperti itu? Dia sama sekali tidak bergeming, mendengar dua wanita mengoceh cukup keras. Aneh? Adit sudah tidak terlihat pucat? Apa dia minum obat tidur? Banyak pertanyaan muncul di benak Jaelani.
Hani masih berbincang-bincang santai dengan Tina. Sedangkan Jaelani masih sibuk mengamati keadaan sekitar. Dia terkejut ternyata ada wanita lain di ruangan ini. Wanita itu sedang duduk santai di sofa.
Buru-buru dia mengalihkan pandang karena bertatapan mata dengan wanita itu. Kemudian dia melihat Hani. Baru saja Jaelani menyadari cara berdiri Hani cukup lucu. Dia terlihat tidak seimbang, berkali-kali menyeimbangkan dirinya dengan langkah kecil ke depan dan belakang.
Apa dia sakit? Atau kelelahan?,batin Jaelani
Sedangkan di sisi lain yang tidak terlihat kasat mata. Kiki mati-matian menarik Hani agar tidak mendekat ke Tina. Tetapi, Hani tetap bebal ingin berdiri lebih dekat ke Tina. Jadilah dia tidak seimbang seperti sekarang.
“Han gak apa-apa?”
“Aku? Gak apa-apa kok?”
“Oh, beneran ya? Kamu kayak gak bisa berdiri tegak gitu.
Jaelani terlihat mengkhawatirkan Hani membuat Tina kegelian melihat dua sejoli di depannya. Tetapi, dia tidak bisa mengeluarkan ekspresinya. Dia harus menahan ekspresinya. Beberapa kali dia buang muka agar bisa mengurangi rasa gelinya saat ini.
“Sebaiknya kalian pulang saja. Maaf ya, bukan maksud mengusir. Tapi kayaknya Hani kelelahan. Lebih baik kalian pulang dan beristirahat di rumah.” Ucap Tina.
Jaelani sangat setuju dengan perkataan wanita entah siapa dia. Dia mengangguk-anggukan kepalanya cepat sambil menatap Hani tajam karena merasa sudah di dukung oleh wanita itu.
“Tapi, kan kita baru sampai tante.” Sanggah Hani.
__ADS_1
“Gak apa-apa, tante paham kok. Itu kasihan Jaelani khawatir tuh.”
Mampus keceplosan, batin Tina.
Seketika Hani dan Jaelani menatap wanita itu dengan ekspresi tidak percaya. Mereka merasa Jaelani tidak mengenalkan diri ketika dia datang hingga sampai detik ini. Namun, darimana wanita itu tau nama Jaelani?
“Tante? Tante kenal aku? Kita pernah ketemu kan? Pantes aja aku merasa familiar sama tante. Jangan-jangan tante itu....” Ucapan Jaelani terpotong.
Wanita lain berparas manis, berbadan tinggi semampai yang dari tadi duduk santai di sofa, sudah berdiri di belakang Jaelani serta menghentikan ucapan Jaelani. Dia menepuk pundak Jaelani pelan dan tersenyum kepadanya.
“Maaf, jam besuknya sudah habis.”
“Cepet banget.” Protes Jaelani.
“Maaf ya adik-adik. Adit butuh istirahat banyak.” Ucap wanita berparas manis itu yang tidak lain adalah sekretaris Tina.
Wanita berparas manis itu mengiring Jaelani dan Hani keluar perlahan. Hani menurut saja dengan peraturan rumah sakit ini. Tapi tidak dengan Jaelani. Matanya mengedarkan pandang mencari mana tau ada peraturan tertulis yang menempel di tembok.
Dia pernah juga menjaga orang sakit di rumah sakit. Meski jam jenguk di batasi. Tidak mungkin bisa secepat ini. Rasanya baru saja berdiri di ruangan ini kurang dari sepuluh menit. Eh sudah di usir keluar.
Akhirnya Jaelani dan Hani terlempar keluar. Mereka menatap penjaga di luar. Terlihat mereka menundukkan kepalanya. Sedangkan sekretaris tadi sudah masuk tanpa ada salam perpisahan.
Jaelani langsung menarik Hani keluar dengan sedikit kesal karena merasa di perlakukan kasar. Dia menggerutu sepanjang perjalanan keluar hingga berada di tempat parkir. Jaelani ternyata sangat cerewet jika sedang kesal. Hani menatap laki-laki di sebelahnya heran.
“Jae, kamu ternyata cerewet yah?”
“Eh Jae, Ada yang aneh gak sih?” Ucap Hani mengalihkan topik.
“Masak kak Adit anak pejabat? Sampai segitunya ya di jaga ketat. Bukannya di rumah sakit itu harusnya gak boleh ramai-ramai ya. Kan nanti bisa menggangu pasien lain. Lagi pula, masak dalam satu ruangan di isi beberapa orang. Walau itu kelas VVIP rasanya kok aneh ya.”
Hani dan Jaelani saling menatap untuk sesaat. Memikirkan alasan lain dari penjagaan ketat itu.
Krukkk!
Terdengar suara yang sangat nyaring. Suara itu pasti berasal dari salah satu dari mereka. Karena di tempat parkir ini sedang sepi. Hanya ada mereka berdua di sana.
Kruuukk
Suara itu terdengar kedua kalinya. Suara itu jadi terdengar nyaring dan memalukan bagi yang merasa membunyikannya secara tidak sengaja.
Hani dan Jaelani saling memandang lagi. Mereka saling menatap sambil menahan senyum. Hanya dengan senyum saja mereka sudah tau apa yang harus di lakukan selanjutnya. Entah suara itu berasal dari Hani atau Jaelani. Tidak penting mengetahui siapa pelakunya. Yang pasti harus segera mencari makanan.
“Bakso mau?” Tanya Hani.
“Boleh.”
__ADS_1
“Kuy gass.”
Hani dan Jaelani pun berangkat membeli bakso. Mereka tidak tau mau beli bakso dimana. Begitu bertemu penjual bakso dia akan berhenti dan makan di sana. Sesimple itu hubungan mereka.
***
Di kamar VVIP 456.
Tony sudah keluar dari ruangan yang cukup memuakkan jika lama-lama di sana. Dia menghirup napas sedalam-dalamnya. Berjalan menghampiri Tina yang duduk dengan wajah sedikit pucat karena tadi keceplosan.
“Apa Jaelani tau identitasku? Bodohnya aku, aku bodoh sekali. Kenapa aku selalu mengucapkan apa saja yang ada di pikiranku tanpa menyaringnya?” Ucap Tina bertubi-tubi.
Tony hanya menatap datar saudari kembarnya itu. Dia memaklumi sikap ceplas ceplos wanita itu. Untuk pertama kalinya dia merasa bersyukur. Dia bersyukur Tina keceplosan kali ini. Dengan begini, Tina akan lebih hati-hati dalam berbicara.
“Syukur deh. Sekarang jadi tau kan akibat dari keceplosan. Makanya di biasain ngomong di filter dulu.” Ucap Tony sinis.
Tina hanya mendengus kesal mendengar tanggapan saudara kembarnya. Kemudian beberapa saat dia tersadarkan, ada satu kata langka keluar dari mulutnya yang jahat itu. Dia tidak habis pikir, bisa terucap kata itu dari mulut Tony yang brandalan itu.
“Syukur? Bisa bersyukur ternyata hahaha.” Ledek Tina.
Tony memutar matanya malas. Dia tidak ingin menanggapi ejekan itu. Kemudian, matanya menatap Adit yang masih tertidur pulas itu.
“Adit hidupnya makan, tidur, makan, tidur mulu.”
“Kan nyuruh dokter yang kasih obat tidur kamu. Sebenarnya kenapa sih dia di kasih obat tidur terus? Dia kan udah sembuh.”
“Biarin dia jadi putra tidur sementara. Kita rubah rencana kita. Sekarang, aku gak fokus ke menyerang fisik Hani. Tapi, aku lebih tertarik menyerang mental Hani. Dia tidak akan tenang selama dia masih hidup. Bonus kalau dia bunuh diri. Jadi kita membunuh tanpa menyentuh.”
“Hah? Maksudnya?”
“Makanya jangan manjain Adit mulu. Gak tau berita kalau Hani udah ingat semua?”
“Iya? Terus rencanamu apa?”
“Rencananya. Aku mau menyerang mental Hani dengan mengembalikan ingatan dia saat kita sekap.”
“Bahaya dong!”
“Gak bahaya, kita punya kartu AS.”
“Apa?”
“Orang tua Hani. Kita kan tau semua akses bisnis orang tuanya.”
Tina dan Tony tertawa terbahak-bahak akan rencana sempurna ini. Sepertinya mereka tidak begitu membutuhkan Adit sekarang. Mereka bisa mengaturnya sendiri.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca. ~