Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 51


__ADS_3

“Mau di bantu biar kakinya gak berat mas?”


“Emang bisa?” Tanya Hani penasaran.


Jaelani masih mencoba menerima percakapan ini. Karena Jaelani takut. Dia terlalu memikirkan hal yang ekstream seperti yang terjadi beberapa saat lalu, saat Jaelani mengantar Hani ke rumah Della.


“Nanti ada angin ribut gak pak?”


Hani langsung melongo. Dia tidak menyangka Jaelani mengatakan itu. Dia langsung berpikir, jika ternyata Jaelani juga memiliki kelebihan semacam itu. Sama dengannya. Mengingat kemarin, Hani juga di terpa angin kencang saat membahas Kiki bersama pak Yanto.


“Kamu....” Ucapan Hani terpotong.


“Gak, aku gak punya kelebihan itu. Aku cuma pernah mengalami hal seperti itu sama kamu waktu ke rumah Della dulu. Itu aja aku udah ketakutan setengah mati. Masak iya aku bakalan mengalami hal semacam itu lagi.” Jelas Jaelani yang seolah bisa membaca pikiran Hani hanya dengan sorot matanya.


“Della?”


Hani berpikir keras siapa nama itu? Tapi, dia merasa tidak asing dengan nama itu. Dia mencoba mengingat. Apakah mempunyai teman bernama Della? Saat Hani berpikir, pak Yanto mengambil alih pembicaraan. Dia menjelaskan kepada Jaelani jika itu tidak akan membuat angin ribut.


“Beneran ya pak?” Tanya Jaelani ragu.


Pak Yanto hanya mengangguk dan tersenyum. Akhirnya Jaelani setuju. Karena memang kakinya terasa berat dan perih sekarang. Tiba-tiba pak Yanto meletakkan tangannya tidak jauh dari area kaki kiri Jaelani. Hani yang tadi sibuk berpikir menghentikan aktifitasnya sejenak untuk memperhatikan pak Yanto.


Jaelani terkejut, karena semakin lama kaki Jaelani terasa hangat saat tangan pak Yanto naik turun di sekitar kaki Jaelani yang sakit itu. Dia merasakan sensasi aneh. Malam itu cukup dingin, tapi hanya kaki yang hampir di sentuh pak Yanto saja terasa hangat. Tidak lama rasa hangat itu hilang di barengi rasa beratnya.


“Sudah mas.” Ucap pak Yanto.


Hani dan Jaelani menatap pak Yanto tidak percaya. Kemudian, Jaelani berusaha untuk menggerakkan kakinya. Dan sekarang, kakinya hanya terasa perih saja tidak berat.


“Ini pasti karena mas Jaelani menendang sesuatu ya? Seperti kayak semacam sajen gitu.” Jelas pak Yanto.


Jaelani langsung teringat kejadian tadi siang. Waktu itu, tiba-tiba motor Jaelani macet saat berada di perempatan yang sepi. Di perempatan itu juga terdapat kembang tujuh rupa di letakkan di tengah-tengah perempatan itu.

__ADS_1


Jaelani begitu kesal karena motornya macet di tempat sepi. Dia dengan sengaja menendang bungkusan kembang itu hingga bunganya berceceran. Dia akhirnya menuntun motornya untuk menepi.


Anehnya, saat motor itu menepi dia kembali menyala dengan sendirinya. Jaelani langsung merasa merinding, jadi dia langsung mengendari motornya. Namun, dengan kecepatan sedang karena sepanjang perjalanan jantung terasa berdebar terus terusan.


“Iya pak. Kok bapak tau?” Ucap Jaelani.


“Yah, yang ikut mas itu tuh jin menyerupai manusia yang meninggal di situ. Setiap satu bulan sekali keluarganya memberikan kembang tujuh rupa di perempatan itu. Nah, jadi kayak di beri makan gitu. Makanya dia marah. Tempelin kamu biar mendapatkan hal serupa. Beruntung mas Cuma kecelakaan kecil.”


“Emang meninggalnya kenapa?” Tanya Jaelani penasaran.


“Ya kecelakaan, tabrakan antar motor korban yang di tabrak langsung tewas di tempat dengan kaki tertimpa motor, hingga melepuh karena kena panasnya mesin motor.” Jelas Hani.


Pak Yanto heran dari mana Hani tau semua itu. Jaelani juga penasaran. Maka mereka berdua menatap Hani tajam dari atas hingga ke bawah. Memastikan Hani dalam keadaan sadar.


“Tau dari Kiki.” Jelas Hani dengan muka polosnya.


Jaelani hanya menghela napas panjang mendengarnya. Dia merasa sudah terjebak di percakapan tidak masuk akal. Ingin rasanya segera kabur dari sini. Kemudian, dia ingat jika harus mengambil obat untuk papanya.


“Emmm... udah jam segini nih. Aku duluan ya. Mau ambil obat papa. Keburu tutup.”


“Duluan Han.”


Hani membalas dengan senyum dan lambaian tangan. Hanya begitu saja sudah membuat jantung Jaelani berdebar tidak karuan. Wajahnya sekarang sumringah dan sejenak lupa dengan percakapan tadi. Lalu, dia melajukan motornya.


“Duluan pak Yanto, dan terima kasih pak tadi. Kaki saja jadi gak berat.”


“Iya mas, hati-hati di jalan.”


Jaelani langsung meluncur ke rumah sakit. Dan pak Yanto menutup gerbangnya. Dia pikir, Hani sudah kembali ke dalam. Namun, ternyata dia masih setia duduk di bangku kayu panjang itu.


“Mbak Hani gak masuk?” Ucap pak Yanto sambil menghampirinya.

__ADS_1


Hani hanya menggeleng. Kemudian, dia malah membuka topik pembicaraan. Hani ingin menanyakan beberapa hal aneh yang terjadi padanya belakangan ini.


“Pak Yanto. Mau tanya dong.”


“Boleh.”


“Akhir-akhir ini aku tuh merasa aneh gitu. Kayak tadi, pas Jaelani ke teras kan aku sentuh tuh kakinya. Eh tiba-tiba tanganku merasa dingin. Terus tadi siang pas ngantar Jaelani. Aku tuh merasa aneh gitu. Kayak merasa ada sesuatu di kaki Jaelani, samar-samar aku juga merasa sakit dan berdebar gitu kayak habis mengalami kecelakaan gitu rasanya.” Jelas Hani.


Pak Yanto mengkerutkan keningnya. Dia mulai berpikir, apakah Hani benar-benar sudah menyadari kelebihannya atau belum? Tapi, jika sudah tidak mungkin Hani menanyakan hal ini. Kemudian, pak Yanto pun bertanya. Apakah Hani pernah mengalami hal serupa dan Hani menjelaskan kejadian di rumah sakit. Seketika pak Yanto mendapat pencerahan.


“Nah, mbak kayaknya nih. Kayaknya loh ya, mbak Hani tuh punya kelebihan bisa merasakan perasaan masa lalu. Nah, memang biasanya kalau awal-awal hal semacam itu tuh datang tiba-tiba gak bisa di prediksi. Kalau mbak mau mengendalikan ya belajar.” Jelas pak Yanto.


Seketika Hani merinding. Dia saja ingin menutup kelebihan itu karena baginya ini sangat tidak nyaman. Terlebih di ganggu setiap hari sama sosok tidak terlihat saja sudah membuatnya kelelahan. Hani langsung menggeleng cepat.


“Gak mau! Aku maunya di tutup aja.” Tegas Hani.


Sret...


Tiba-tiba kursi yang di duduki Hani dan pak Yanto bergerak. Hani dan pak Yanto hampir terjungkal karena gerakan dadakan itu. Mata pak Yanto langsung menuju ke belakang Hani. Matanya menatap tajam seolah telah menatap sesuatu.


“Ke-kenapa ini pak?” Ucap Hani gemetaran.


Pak Yanto tidak menjawab. Dia hanya bergeming dan terus menatap belakang Hani dengan tajam. Hani ketakutan melihat tingkah pak Yanto yang aneh. Dia pun memanggil pak Rian untuk mencari bantuan.


“Ada apa mbak?”


“Itu... pak Yanto.”


“Aduh... kenapa lagi ini. Kesambet kali ya?”


Hani reflek memukul lengan pak Rian. Karena dia takut jika pak Yanto benar-benar kesurupan. Sedangakan pak Rian hanya menyengir dan mengusap lengannya yang sakit.

__ADS_1


“Mbak, kita perlu mediasi sama budhe Inem juga.” Ucap pak Yanto tiba-tiba


~Terima kasih, like, Fav, dukungannya dan masih stay disini 😊 see you next episode~


__ADS_2