Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Gagal


__ADS_3

Hani dan Jaelani langsung menuju rumah Della terlebih dahulu. Jadwalnya sangat padat siang ini. Begitu sampai depan gerbang rumah Della. Mereka bengong sesaat. Mereka samar-samar merasa ada sesuatu yang aneh di rumah itu.


“Kok sepi ya?” Ucap Hani.


“Iya.”


Tiba-tiba gerbang terbuka. Terlihat sosok pria yang tidak asing di mata keduanya. Ternyata, pria itu penjaga rumah ini sekaligus tukang kebun di rumah ini. Pemilik rumah ini masih memperkerjakan orang yang sama.


“Mas Jaelani? Ada apa mas?” Tanya pria itu.


“Anu pak, mau ketemu mamanya Della. Ini teman saya habis hilang ingatan. Pas udah inget. Dia pengen mengunjungi mamanya Della.” Jelas Jaelani.


Pria itu melirik sekilas ke Hani. Kemudian, matanya membesar sesaat. Tapi, kemudian dia mengkedip-kedipkannya sangat cepat. Aneh? Pria itu terlihat gelagapan setelah melihat Hani. Dengan gugup pria itu mencoba menjelaskan.


“Bapak sama ibu pergi ke luar negri mas. Mereka mau  menenangkan diri sejenak setelah kehilangan anak mereka satu-satunya.” Jelas pria itu dengan suara bergetar.


Dong dong dong dong!


Tiba-tiba terdengar suara gerbang di pukuli. Sontak semua melihat ke arah gerbang itu. Setelah mendengar itu, pria itu semakin terlihat aneh. Dia seperti ketakutan. Kemudian, dia berpamitan masuk karena ada pekerjaan yang menunggu.


Pria itu terlihat sangat tergesa-gesa masuk dan menutup gerbang. Hani dan Jaelani merasa jika pria itu ketakutan. Tapi kenapa takut? Apa yang menyeramkan? Aneh, sangat aneh.


“Eh tau gak Han. Kayaknya orang itu kayak kamu deh. Punya sixt sense. Dulu, kamu pas kesurupan. Aku suruh kibasin daun kelor di wajah kamu tau. Dia juga pernah ngapain kamu gitu, terus kamu lemas.” Jelas Jaelani.


Hani hanya mengangguk-angguk paham. Tapi, dia merasa masih belum puas. Seperti ada ketertarikan lebih pada rumah ini. Sesekali Hani berjinjit mencoba melihat rumah di balik gerbang itu. Dan Jaelani hanya bisa menunggu perintah selanjutnya dari Hani.


“Kiki, gimana nih?” Lirihnya.


Tidak ada jawaban dari Kiki. Hani semakin di buat kikuk sendiri. Tapi, dia tetap mencoba tenang. Kali saja ada petunjuk lain. Tapi, nyatanya tidak ada sama sekali. Rumah ini sangat tertutup.


“Gimana Han?”


“Ya udah, kapan-kapan kesini lagi. Tanya kapan mereka pulangnya.” Ucap Hani.


“Oke. Jadi ke makam?”


Hani mengangguk semangat.


“Tapi, beli bunga dulu.”


“Iya.”


Mereka pun berlalu meninggalkan rumah Della dan menuju makam Della dan Viola. Setelah itu, ke lembaga les privat untuk mencari informasi Adit.


***


Di dalam rumah Della.


“Pak.”

__ADS_1


Pria tadi berlari kecil mencari keberadaan tuannya yang bernama Stevan. Tetapi, dia malah bertemu dengan Eka. Istri Stevan sekaligus bunda yang merawat Kiki.


“Ada apa pak?”


“Ba-bapak dimana bu?”


“Kan belum pulang masih kerja. Ada apa emang?” Tanya Eka.


Pria itu ragu dan ketakutan bersamaan. Ternyata pria tadi melihat jelas sosok Kiki dengan mukanya yang pucat dan datar berdiri di samping Hani. Awalnya Kiki terlihat biasa, namun tiba-tiba dia menampakkan wajahnya yang mengerikan membuat pria itu membelalak.


Kiki menampakkan diri sama persis ketika pria itu hendak meletakkan tubuh Kiki di suatu tempat. Dia tidak menyangka Kiki menjadi arwah gentayangan dan datang ke mari. Entah apakah ini kebetulan? Atau takdir?


“Oh saya lupa bu. Permisi.” Ucap pria itu.


“Tadi ada siapa pak? Tadi saya sempat lihat kayaknya ada tamu?” Tanya Eka.


“Engak bu, orang minta sumbangan.” Jelas pri itu.


Eka hanya mengangguk paham. Dan kembali berjalan menuju kamarnya. Dia sangat mempercayai pria itu. Dan tidak curiga atau mempunyai firasat aneh sama sekali terhadap tingkah laku pria itu yang terlihat ragu tadi.


“Wah gawat kalau sampai ibu tau. Bisa kumat nih stressnya. Baru aja sembuh setelah kehilangan non Della. Tambah bertubi-tubi nih udah kehilangan non Della di hantui arwah anak kecil yang dulu pernah di sayang-sayang.” Gumam pria itu.


***


Hani dan Jaelani sudah berada di makam.


Mereka sudah berjongkok di makam Della sambil menabur bunga di makam  itu. Tidak lupa, mereka mendoakan Della dalam hati.


Jaelani menatap iba Hani. Dia juga terenyuh dengan kelembutan hati Hani. Mengingat gara-gara tingkah Della dulu. Teman-temannya berpikir bahwa Hani yang menyebabkan Della seperti itu hanya karena duduk di tempat Nana yang sudah meninggal.


“Udah yuk Han.”


Jaelani berusaha membuat Hani tidak berlalut dalam kesedihan. Dia juga mengingatkan bahwa dia ijin keluar untuk menjenguk Adit (yang menyebalkan bagi Jaelani). Dia harus melaksanakan itu. Meski di bagian terkahir dari rencana ini. Dan juga, rencana yang membuat Jaelani cemburu.


“Iya yuk.”


Hani beranjak pergi ke luar makam. Sebelum benar-benar keluar Hani sempat berhenti dan menoleh ke makam Della. Masih ada rasa yang mengganjal di dalam hati Hani. Tapi, dia juga harus mengikhlaskan.


Hani merasa sedih karena baru tau dari Kiki. Ternyata, dia juga akan menjadi korban di tumbalkan oleh papanya sendiri. Mengetahui itu dari Kiki membuatnya tidak percaya, namun juga tidak terlalu percaya. Tapi, jika itu benar. Pasti sangat menyedihkan jika mamanya tau fakta itu.


“Ayok.”


Jaelani mengandeng tangan Hani dengan lembut. Mengiringnya keluar dari makam. Jaelani sangat khawatir jika akan terjadi apa-apa kepada Hani. Mengingat dia tau jika Hani memiliki sixt sense.


Selanjutnya ke makam Violla dan ke tempat lembaga belajar Adit. Hani melakukan hal sama saat berada di makam Violla, menabur bunga dan mendokan Violla. Tidak lupa Jaelani yang selalu membuat kesan terburu-buru untuk keluar dari pemakaman karena takut terjadi apa-apa.


Terisia rencana terakhir. Sebelum itu, dia berhenti dulu di pinggir jalan. Membeli es buah dan meminumnya di tempat. Saat beristirahat di sana, Hani mencari keberadaan Kiki. Tapi, Kiki tak kunjung menampakkan diri. Diman Kiki sekarang?


“Gak kerasa udah sore aja.” Ucap Jaelani.

__ADS_1


Seketika Hani melihat jam tangannya dan benar. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kenapa waktu berjalan sangat singkat. Hani buru-buru menghabiskan sisa jus buahnya. Dia harus bergegas ke lembaga belajar itu. Berdasarkan informasi dari internet lembaga itu akan tutup pada pukul empat sore.


“Ayo Jae, kita berangkat. Perjalanan ke sana butuh tiga puluh menit. Iya kalau gak macet.” Ucap Hani.


Jaelani membuang muka. Tercetak jelas ekspresi masamnya. Dia menyesal telah mengatakan bahwa sore sudah tiba. Andai dia tidak bilang. Mungkin dia tidak akan menuju tempat itu dan tidak jadi menemui Adit.


“Oke.”


Jaelani menjawab sambil tersenyum palsu. Senyum yang sangat di paksakan. Hani tidak sempat memperhatikan senyum Jaelani. Bahkan ketika Jaelani menjawab dia sudah berdiri dan siap untuk berjalan menuju penjual untuk untuk membayar minumannya.


“Semangat banget sih, kangen banget ya.” Ucap Jaelani sinis.


Setelah mendengar itu Hani baru memperhatikan ekspresi Jaelani. Bagi Hani ekspresi itu terlihat lucu dan menggemaskan. Ingin sekali rasa mencubit pipi Jaelani. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk gemas manja.


“Ayo.”


Hani langsung bergegas membayar dan Jaelani meyiapkan motornya dengan malas.


Dalam perjalanan, Hani terus terusan meminta Jaelani ngebut. Tapi, Jaelani tetap berjalan dengan kecepatan sedang. Selain ingin mengulur waktu, Jaelani juga memikirkan keselamatan Hani. Dia juga tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan jika dia kebut-kebutan di jalan.


“Sabar Han. Hih... Adit resek.” Ucap Jaelani semakin dengan nada semakin lirih.


Akhirnya, mereka sampai. Beruntung tempat ini belum di tutup. Tanpa memikirkan Jaelani, Hani langsung masuk begitu saja.


“Han, namanya Adit siapa?”


“Eh, hilang? Udah kayak hantu aja.”


“Duh jadi merinding.”


Jaelani buru-buru masuk. Mencari Hani di dalam. Begitu sampai di kantor. Jaelani semakin terpana. Hani sudah duduk manis di depan meja kantor. Terlihat seorang wanita sedang mencari sesuatu di komputernya.


“Ada yang bisa di bantu mas?” Tanya Wanita itu ketika menyadari kehadiran Jaelani.


“Oh gak, cuman nyusul teman saya.”


Wanita itu mempersilahkan Jaelani untuk duduk dan kembali mencari datanya. Tidak lama kemudian, wanita itu menjelaskan sesuatu.


“Iya mbak, mas Aditnya sedang sakit di rumah sakit. Sudah dua minggu gak masuk. Menurut surat dokter yang saya terima. Mas Adit berada di rumah sakit XX mbak.”


“Oh gitu ya, ya sudah kalau begitu. Oh iya, di kamar mana ya mbak kalau boleh tau?”


“Maaf, saya belum menjenguk mas Adit. Yang saya tahu mas Adit di rawat di ruang VVIP dengan penjagaan ketat mbak.”


“Kenapa begitu? Apa sakitnya parah?”


“Wah, saya gak tau mbak. Tapi kata teman-teman mas Adit masih lemah dan lebih banyak tidur mbak.”


Hani menganguk paham. Dia semakin penasaran dengan keadaan Adit. Setelah mendapat informasi. Hani berpamitan dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Sedangakan Jaelani masih setia dengan wajah cemberutnya. Dia masih belum ihklas menemui Adit.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca ~


__ADS_2