Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Ilham Kepo


__ADS_3

Di sekolah SMA 18.


Jam pelajaran pertama sudah berlangsung. Hari ini belajar matematika. Pelajaran yang tidak begitu di sukai oleh beberapa siswa/siswi. Karena, soal yang di terangkan selalu terlihat mudah. Namun, begitu mengerjakan sendiri belum tentu mendapatkan jawaban. Kadang malah ada jawaban tapi gak ada di pilihan, yang paling menyebalkan ketika jawabannya berbanding tipis dengan yang di pilihan ganda. Jawaban kita 78 , sedangkan yang ada di pilihan ganda 79 misalnya, itu sudah cukup membuat frustasi. Dan ini yang di alami Ilham sekarang.


“Addaaahh! Kenapa jawabannya gak ada yang 78 sih?” Kesalnya.


Kemudian, dia melirik jawaban Jaelani berharap bisa menemukan jawaban. Tetapi ternyata, Jaelani malah belum mengerjakan nomor itu. Ilham menatap heran teman sebangkunya itu.


“Apa nomor satu begitu susah hingga membuatnya belum selesai?” Pikirnya.


Ilham heran karena, soal nomor satu sama persis dengan soal contoh di papan tulis. Hanya saja beda angkanya saja. Dan itu tergolong mudah dan pasti semua siswa/siswi di kelas itu bisa mengerjakannya.


Ilham menyenggol lengan Jaelani keras hingga tulisan Jaelani tercoret.


BUM!


Jaelani langsung marah, meski tidak melontarkan kata-kata kasar, menggunakan kekerasan fisik atau semacamnya. Ilham masih bisa merasakan amarah yang mengerikan melalui tatapan matanya yang tajam. Di tambah lagi, lingkar matanya yang hitam seperti panda membuat Ilham menciut.


“Wah, kurang tidur ini anak? Apa orang tuanya masuk rumah sakit lagi?” Pikirnya.


Jika di perhatikan dengan teliti beberapa hari ini Jaelani memang tidak bersemangat. Dia sering menguap, melamun, bahkan marah dengan tatapan nya yang mengerikan itu. Bahkan lebih parahnya lagi, dia biasanya sangat bersemangat jika mengikuti pelajaran penjaskes. Tetapi kemarin, dia terlihat loyo.


Belum lagi, ke anehan yang terjadi antara si Anggi dan Jaelani yang terus-terusan menempel bagaikan dua kertas yang di tempel dengan double tip. Anggi setiap hari memberikan asupan vitamin berupa jus buah setiap jam istirahat pertama. Dan Jaelani? Menerimanya dengan lapang dada. Padahal biasanya dia menolak secara halus. Aneh kan? Itulah yang terjadi sekarang.

__ADS_1


“Oke oke santai.” Ucap Ilham akhirnya.


Dia tidak ingin ada pertengkaran di antaranya dan Jaelani. Dia sudah terlanjur penasaran, dengan apa yang terjadi. Sekarang dia masih sedang dalam proses menyelidiki. Terlebih, Jaelani aneh setelah kejadian mendadak dia pergi dari kosan Ilham tanpa berpamitan.


Tiba-tiba wajah Hani melintas di pikiran Ilham. Wuss melintas begitu saja seperti slide presentasi. Ilham tersenyum tipis, yang ada di otaknya hanya pikiran konyol mengenai Jaelani dan Hani. Saking lucunya dia tidak bisa menahan tawa.


Ilham tau jika Jaelani sangat menyukai Hani. Itu terlihat jelas, sejelas perasaan Anggi ke Jaelani. Ilham mulai berpikir, mungkin Hani memutuskan hubungan secara sepihak dan Jaelani belum bisa menerima keadaan itu. Mengingat Jaelani sudah termasuk cowok bucin (budak cinta). Mungkin Jaelani sudah berusaha, memohon untuk tidak berpisah dan berlutut seperti adegan di film romantis. Duh membayangkannya saja membuat Ilham kegelian.


“Pffttt.”


Saat menahan tawa, Ilham merasa ada sepasang mata menata tajam ke arahnya. Tatapan yang mengerikan, seperti sedang ujian nasional dan di awasi oleh guru Killer. Tatapan begitu terasa menusuk hingga ke jantung dan membuat bulu kuduk berdiri. Dan benar saja, Jaelani menatapnya tajam setajam paku. Benda yang runcing tajam ke bawah.


“Lah kan, pasti nih abis putus cinta sama Hani.” Ucapnya tegas.


***


Di sisi lain. Jaelani sebenarnya benar-benar malu bertemu Hani selain kejadian Galih mengaku dan masuk penjara. Terlebih, beberapa waktu dia merasa ingatan Hani mulai membaik, terakhir di rumah sakit dia tau Hani mulai mengingat Galih. Padahal dia tau dulu awal-awal dia tidak mengingat siapapun, jangankan Galih. Mengingat nama Jaelani, yang hampir setiap hari bersama saja tidak.


Beberapa hari Jaelani sengaja tidak menghubungi Hani. Demi mengalihkan pikirannya, dia menjadi siswa yang rajin di kelasnya. Tetapi, tidak serajin yang lain juga. Hanya naik dua tingkat saja karena pikirannya sedang tidak stabil sekarang.


Jaelani benar-benar bingung harus berbuat apa? Harus bagaimana menghadapi Hani? Dia merasa tidak pantas mendekati Hani karena ingat pengakuan palsunya di persidangan. Dia sudah menganggap dia adalah seorang penjahat. Bahkan saking pendeknya pikirannya. Dia menerima begitu saja pernyataan cinta Anggi beberapa waktu yang lalu hanya untuk sekedar pelampiasan saja. Hubungan yang dia jalani bersama Anggi sangat dingin dan tidak imbang karena hanya Anggi saja yang berjuang.


Kini, dia di buat sebal oleh Ilham, karena merasa di ejek ketika Ilham menahan tawa. Meski dia tidak tau Ilham menahan tawa untuk apa? Sebenarnya dia juga merasa bersalah karena mengirimkan foto Ilham begitu saja dan hampir membuat Ilham celaka. Benar-benar di posisi yang buruk seburuknya. Belum lagi, masalah keluarganya. Itu sebabnya beberapa hari Jaelani tidak bisa tidur karena stress.

__ADS_1


“Hah?!” Ucap Jaelani terpancing emosi karena Ilham mengucapkan nama Hani.


Jaelani tidak bisa marah karena rasa bersalah itu tadi. Dia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri.


“Bodoh, sial, gak setia kawan!” Batinnya.


Kemudian, Jaelani menghela napas panjang. Menenangkan diri, dengan memejamkan mata dan mengatur napas agar tenang. Tetapi, bukannya tenang malah wajah Hani melintas di sana.


Hani sudah seperti hantu yang melintas di pikiran Jaelani dan Ilham membuat kedua pria itu gelisah, namun beda persoalan.


Jaelani menggeleng cepat. Menyadarkan diri bahwa dia tidak boleh mendekati Hani sedikit pun. Dia mengingatkan diri bahwa dia adalah orang jahat. Meski dia tidak tau jika sebenarnya dulu, Hani sering meminta Jaelani menemaninya untuk mencari siapa pembunuh Nana. Hani juga belum membicarakan itu kepada Jaelani.


“Udah Jaelani, kamu gak pantes buat dia.” Batin Jaelani.


Dia kembali fokus mengerjakan soal matematika di hadapannya. Baginya soal itu sangatlah susah. Untuk menghitung perkalian saja sudah membuatnya pusing. Dia benar-benar tidak bisa fokus saat ini.


Lagi-lagi terlintas wajah Hani. Kali ini bukan di benak Jaelani tapi di kertas di hadapannya. Bayangan Hani sangat menghantui Jaelani. Mungkin dia sedang rindu? Atau malah hanya merasa bersalah? Pikiran Jaelani terlalu banyak sehingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Tapi, anehnya ada perasaan yang mengganjal. Seperti ada sesuatu besar datang menghampirinya. Dan sesuatu itu datang bersama Hani.


“Hani gak apa-apa kan?” Gumamnya.


Dan suara itu terdengar oleh Ilham. Ilham pun kegirangan karena dia pikir tebakannya benar bahwa Jaelani sedang galau masalah percintaan nya bersama Hani. Dia tersenyum sembunyi-sembunyi sambil memalingkan wajah. Dia tidak mau kena marah Jaelani.


“Kan Hani memang dalangnya. Bucin.” Batin Ilham.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~


__ADS_2