
Hani mulai menggambar sketsa Kiki dengan ingatan budhe Inem. Awalnya budhe Inem hampir menyerah karena Kiki sudah hilang beberapa tahun lalu. Pasti ada perubahan di wajahnya. Tapi, Hani meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Karena Hani yakin ini ada hubungannya dengan Kiki. Karena kesamaan cerita budhe dengan mimpinya.
Hani membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk menyelesaikan gambarannya. Saat Hani menunjukkan gambarnya ke budhe Inem, air mata budhe Inem kembali menetes. Gambaran Hani sangat mendekati ingatannya kepada anaknya yang hilang.
“Ini... ini kayak anak saya mbak. A-anak saya yang, hi-hilang.” Ucap budhe Inem terbata.
Hani kembali memeluk budhe Inem. Kali ini budhe Inem tidak kuasa menahan tangisnya. Dia menangis sejadi-jadinya di pelukan Hani. Saat memeluk budhe Inem, Hani merasakan perasaan aneh. Perasaan menyesal karena tidak patuh kepada orang tuanya. Perasaan menyesal telah meninggalkan rumah.
Seketika Hani melotot, dia pernah merasakan ini di rumah sakit. Kejadian dimana, dia merasa tangannya sakit seperti tertindas sesuatu. Dan ternyata itu adalah nenek nenek yang tertindas tangannya untuk menyelamatkan cucunya keluar dari kebakaran di rumah sakit.
Jantung Hani berdebar semakin kencang, semakin kesini semakin Hani bisa merasakan hal-hal di luar nalar. Ini cukup membuatnya merinding dan ketakutan dengan kelebihannya ini. Tetapi, ini tidak membuatnya menyerah. Hani semakin hati-hati dalam melaksanakan rencananya. Mengingat sekarang Hani semakin peka.
Beberapa menit kemudian budhe Inem sudah lega karena melepas semua emosinya. Dia juga meminta maaf kepada Hani karena membuat Hani jadi kesulitan menenangkan budhe Inem. Hani tersenyum, dia menjelaskan tidak masalah karena Hani senang bisa membantu budhe Inem.
Budhe Inem berterima kasih dan bersyukur memiliki majikan seperti Hani. Kemudian, dia meminta ijin untuk menyimpan lukisan dari Hani. Tentu saja, Hani membolehkannya tetapi sebelum itu dia mengambil foto lukisan itu dengan kamera ponselnya untuk di tunjukkan ke pak Yanto.
“Ini budhe, simpan aja.” Ucap Hani.
Dengan senang hati budhe Inem menerimanya. Tersita senyum yang lebar di wajah budhe Inem. Dia segera langsung menyimpannya dan membawanya ke dalam tasnya. Hani merasa sedikit lega karena sudah mendapat gambar itu.
“Semua akan segera selesai.” Pikirnya.
***
Sore menjelang malam Hani berjalan santai menuju pos satpam. Tanpa basa-basi dia langsung menanyakan keberadaan pak Yanto kepada pak Herdi. Seketika pak Herdi terkejut dan teringat bahwa kemarin dia ingin menegur pak Yanto untuk jaga jarak dengan Hani.
__ADS_1
“Belum datang mbak. Mending tunggu di dalam aja mbak. Jangan di luar, banyak nyamuk jam segini.” Ucap pak Herdi.
“Emm... Ya udah, nanti aku kesini lagi.” Ucap Hani.
Lagi pula, jika Hani menunggu di sini pasti nanti pak Herdi penasaran dengan apa yang di bicarakan dengan pak Yanto. Dia tidak ingin di halangi untuk menjalani misi ini. Dia yakin, jika pak Herdi tau pasti dia akan memberitahu orang tuanya. Di rumah ini semua orang berpihak kepada orang tua Hani kecuali pak Yanto.
Hani berjalan kembali masuk, saat berjalan tiba-tiba ada notifikasi masuk di ponselnya. Ada notifikasi dari akun media sosial Jaelani. Tertulis ‘Jae mengirim foto. Kunjungi....’ Hani yang penasaran langsung membuka tautan itu dan terkejutnya dia ternyata Jaelani mengupload fotonya bersama Galih dengan caption ‘Kamu tetap temanku’. Hani berhenti melangkah beberapa saat, teringat jelas dalam pikirannya dulu Galih mengabaikannya tanpa sebab.
“Gimana ya kabar Galih sekarang?” Ucapnya sambil melanjutkan perjalanan.
Hani masih belum tau jika pelaku pembunuhan Nana adalah Galih. Dia juga berpikir kasus itu sudah selesai dan hanya tau bahwa Tony menjadi buron karena kasus itu serta korupsi terhadap sekolah SMA Dahlia.
“Oh iya pak Tony masih jadi buron juga ya? Hii mengerikan.” Lanjutnya.
Selang beberapa menit kemudian Hani mendengar suara pintu gerbang terbuka. Reflek Hani menoleh dan ternyata mobil Beni datang di susul pak Yanto di belakangnya dengan motornya.
Hani tetap berbalik langkah menyambut orang tuanya dengan riang. Padahal alasan Hani riang karena pak Yanto datang. Tidak lama Beni dan Ratih keluar dari mobil. Hani menghampiri mereka dengan berlari kecil dan memeluk keduanya.
“Kamu kenapa sih Han?” Tanya Beni curiga.
“Mau apa ha?” Lanjutnya.
“Lah emang kalau aku gini Cuma ada maunya aja pa?!” Kesal Hani.
Mereka pun tertawa terbahak-bahak sambil masuk. Sedangkan di tempat lain. Pak Yanto menaruh motornya ke belakang dekat mes pak Rian. Setelah itu, dia berjalan menuju pos satpam. Sampai sana pak Yanto di kejutkan dengan ekspresi pak Herdi. Tidak hanya pak Yanto pak Rian juga terkejut dengan ekspresi pak Herdi.
__ADS_1
“Kenapa pak?” Tanya pak Yanto.
“Usia mu berapa sih Yan?” Tanya pak Herdi penasaran karena lupa.
“Dua puluh lima tahun pak.” Jelas pak Yanto.
Pak Rian semakin penasaran dengan pak Herdi yang terlihat seperti sedang menginterograsi pak Yanto. Dia memperhatikan keduanya dengan seksama. Kemudian, terlihat pak Herdi berjalan mendekat ke pak Yanto dan menepuk pundaknya.
“Memang masih muda sih. Tapi, mbak Hani jauh lebih muda dari kamu. Jangan di incer. Cari yang sepadan lah bro.” Ucap pak Herdi.
Pak Rian melotot mendengar kata itu terucap dari mulut pak Herdi. Ternyata pak Herdi bisa gaul juga dengan usianya saat ini. Pak Rian sangat heran dengan ucapan itu sampai bengong juga.
“Memang yang muda lebih aduhay, tapi yah jangan lah kalau mbak Hani.” Ucap pak Herdi sambil tersenyum.
Pak Yanto mengangguk paham. Dia juga ikut tersenyum mendengar nasehat dari pak Herdi. Kemudian, pak Herdi pamit pulang. Lalu dia menatap pak Rian yang masih bengong mematung melihat kepergian pak Herdi.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sekarang sudah gelap. Hani sudah berjalan menuju pos satpam menemui pak Yanto. Kebetulan pak Yanto sedang duduk di kursi panjang depan pos satpam. Hani menghampiri dengan sedikit berlari. Saat sudah berada di depan pak Yanto, Hani melongok ke dalam pos satpam memastikan bahwa tidak ada orang selain mereka berdua.
Hani langsung menunjukkan gambar dari ponselnya. Tanpa basa-basi Hani meminta pak Yanto mencocokan apakah gambar di ponselnya itu sama seperti anak kecil yang selalu mengikutinya beberapa waktu lalu? Ternyata itu benar, pak Yanto pun juga heran darimana Hani mendapat gambaran itu?
“Mbak Hani gak aneh-aneh kan?” Tanya pak Yanto khawatir.
“Binggo! Kalau benar berarti???”
Ekspresi Hani langsung berubah seketika.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca~