
Malam ini begitu panjang, Hani yang lelah bergegas untuk segera tidur. Dia mulai mengabaikan apa ucapan Kiki tadi. Sedikit demi sedikit dia mulai berani mengacuhkan Kiki. Walau tidak bisa di pungkiri jantungnya masih berdetak kencang tak karuan. Dan Kiki tidak bisa di bohongi. Dia bisa merasakan ketakutan Hani dan semakin meneror Hani sampai mencapai kesepakatan.
Hani berusaha keras mengabaikan Kiki. Dia menutup matanya rapat-rapat, namun tidak mempan. Dia berbalik ke kanan dan kiri sudah seperti menggoreng sosis dengan minyak yang sangat sedikit. Dan meski begitu pun, Hani juga tidak berhasil menghalau Kiki, hingga akhirnya.
“Iya. Pergi! Tapi sama Jaelani, karena dia yang tau rumah Della! Sekarang, biarkan aku tidur, aku baru saja keluar dari rumah sakit. Aku butuh istirahat.” Ucap Hani kesal.
Setelah Hani mengungkapkan kekesalannya. Suasana berubah menjadi hening menenangkan. Akhirnya, Hani bisa bernapas lega dan bersiap tidur. Tubuhnya yang lelah cepat mengantarnya masuk ke alam mimpi. Dia langsung terlelap tanpa bergerak sedikitpun. Bahkan dia tidak berpindah posisi hingga pagi tiba.
Tok tok tok.
Itu suara pintu kamar Hani di ketuk. Hani masih lelap dalam tidurnya.
Tok tok tok.
Suara itu semakin keras. Tetapi Hani masih saja tidak bangun.
Tok tok tok.
Ketiga kalinya pintu kamar Hani di ketuk, dan masih sama. Pintu itu akhirnya mulai terbuka sedikit demi sedikit, kemudian terlihat sosok wanita paruh baya mulai melangkah masuk. Wanita itu adalah Ratih. Dia ambang pintu dia berkacak pinggang sambil menggeleng pelan melihat anak gadisnya masih tertidur pulas.
“Wah, hampir jadi kebiasaan nih bangun siang gara-gara kebiasaan di rumah sakit minum obat tidur pas malam.” Gerutu Ratih.
“Kenapa Ma?” Ucap Beni tiba-tiba yang sudah berdiri di belakang Ratih.
“Ini pa, anak gadis jam segini masih pulas. Apa ini karena efek obatnya ya? Nanti jadi kebiasaan pa.” Keluh Ratih.
Beni hanya tersenyum tipis. Kemudian memijat pundak istrinya itu dan berkata lembut.
“Udah, mungkin dia masih butuh adaptasi kebiasaan. Nanti kalau sudah satu minggu kita ubah pelan-pelan. Biarin dulu masih belum pulih sepenuhnya dia. Udah gih bangunin.”
Ratih mendengus kesal. Tapi, dia juga tidak bisa melawan perkataan suaminya. Ratih berjalan masuk membangunkan Hani dan Beni turun untuk melakukan olahraga ringan sambil menyapa para pegawainya pak Rian dan pak Yanto.
***
Tiba lah waktu sarapan bersama. Pagi ini Hani sarapan dengan nasi goreng spesial buatan budhe Inem isi sosis dan udang. Bagi Hani ini adalah makanan ternikmat setelah hampir dua pekan makan makanan rumah sakit yang menurutnya hambar.
“Mantap budhe.” Ucap Hani dengan mulut yang masih penuh dengan nasi, tidak lupa dia mengacungkan kedua jempolnya ke budhe Inem.
__ADS_1
Budhe Inem hanya tersenyum bangga karena masakannya di puji oleh Hani. Bonus dengan wajah Hani yang ceria membuat budhe Inem sedikit lega. Budhe Inem sudah menganggap Hani seperti anaknya sendiri, karena memang dia sudah menghabiskan banyak waktu bersama Hani.
“Pelan-pelan Han. Gak ada yang minta.” Ucap Beni gemas sambil sedikit menarik piring Hani.
Dengan sigap Hani menariknya lebih keras, seakan dia tidak ingin berbagi makanan dengan siapapun di sana. Beni hanya bisa heran dan menatap anaknya yang lucu. Di sisi lain, Ratih juga memperhatikan Hani dengan senyumnya yang lebar. Sepertinya sudah lama sekali tidak melihat Hani seceria ini.
Tiba-tiba Hani teringat, aktifitas wajibnya sekarang adalah les privat. Saking sibuknya penasaran dengan ingatan masa lalunya membuat Hani lupa jika dia juga sedang les privat.
“Ma, aku lesnya mulai kapan ma? Aku sampai lupa kalau ada les privat.” Ucap Hani sambil menelan makanan di mulutnya.
“Oh iya, Adit masuk rumah sakit. Kayaknya belum pulang deh. Mama sama papa gak bisa jenguk juga karena gak tau dia di rumah sakit mana?” Ucap Ratih.
“Sakit apa ma?”
“Katanya sih diare. Mama juga taunya dari budhe Inem. Pas mama pulang dari rumah sakit, mau cuci baju kotor kamu. Budhe Inem bilang kalau ada orang ke sini. Bilang Adit gak bisa ngajar karena sedang masuk rumah sakit.” Jelas Ratih.
Hani hanya mengangguk paham dan tetap setia melahap nasi goreng spesial buatan budhe Inem.
“Kenapa kita gak tanya ke lembaga tempat kita ambil dia? Masak guru yang ngajar anak kita sakit kita gak jengukin?” Ucap Beni.
“Boleh tuh, aku aja ma. Sama Jaelani ya ma.”
Respon Ratih tidak terduga, dia tersenyum miring melihat anak perempuannya sangat antusias. Yah jelas yang ada di pikirannya Hani sudah mulai mengenal cinta. Terlebih, dia hanya punya teman laki-laki bernama Jaelani seorang. Adit? Entah di anggap teman atau sekedar guru les. Tapi yang pasti Jaelani pemuda yang terdekat dengan Hani saat ini.
“Emmm... gimana pa?” Tanya Ratih ke Beni dengan ekspresi aneh.
“Boleh. Tapi, laporan dulu sama papa. Suruh Jaelani jemput di rumah ya. Paling gak, pak Herdi, pak Rian, pak Yanto atau budhe Inem tau.” Ucap Beni santai.
Ratih semakin melongo dengan respon Beni. Dia tidak menyangka Beni melepas Hani begitu saja. Mengingat Beni cukup protektif ke Hani. Mungkin Jaelani sudah mendapatkan lampu hijau dari Beni? Atau malah sudah mendapat jalur tol?
“Oke!” Ucap Hani riang.
Ratih dan Beni saling menatap penuh arti. Mereka seperti sedang berkomunikasi dengan telepati. Ratih dengan matanya yang sedikit melotot dan Beni dengan matanya yang berkedip-kedip aneh sambil mengunyah makanan seperti orang bertanya ‘ada apa?’
“Hah...” Ratih menghela napas panjang.
Begitu selesai makan, seperti biasa Hani membawa piringnya, sekaligus miliki Beni dan Ratih ke wastafel. Mereka cuci tangan menggunakan sabun cair, membilasnya, dan mengelapnya dengan lap yang tergantung di dekat wastafel.
__ADS_1
“Mama sama papa berangkat dulu. Kamu boleh jalan-jalan sekitar komplek tapi sama budhe Inem, kalau mau jalan-jalan agak jauh sama pak Rian. Hari ini papa bawa mobil sendiri.” Jelas Beni.
“Siap grak! Kalau misal hari ini main sama Jaelani?” Tanya Hani.
Ratih langsung mencengkram lengan Beni sekuat tenaga. Hani yang berdiri di sisi berlawanan dengan Ratih tidak bisa melihat tangan Ratih mencengkram kuat tangan Beni. Hebatnya Beni tetap santai seperti tidak merasa kesakitan sama sekali.
“Em em... No! Gak boleh hari ini. Kalau besok, boleh. Soalnya besok papa sama mama pulang siang. Jadi Jaelani bisa ketemu papa dulu kalau mau keluar sama kamu.” Jelas Beni sambil mengusap ujung kepala Hani.
Hani langsung cemberut kesal. Andaikan orang tuanya tau betapa risihnya Hani sekarang, karena Kiki sudah merengek untuk bertemu dengan Jaelani sejak Hani mandi pagi ini. Kiki terus-terusan menarik baju Hani dan mengucapkan ingin segera bertemu Jaelani.
“Udah ya, bye.” Ucap Beni.
Hani tersenyum paksa karena kecewa. Meski begitu, dia tidak lupa untuk mencium tangan kedua orang tuanya. Dan yang tidak kalah penting, Hani harus mendapatkan pelukan hangat dari kedua orang tuanya. Perlahan punggung kedua orang tuanya menghilang dari pandangannya. Kemudian, dia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa-siapa. Bahkan, dia juga berjalan beberapa langkah ke kamar mandi di dapur untuk memastikan bahwa tempat ini aman.
“Tuh kan, dengerin. Aku masih belum boleh main sekarang sama Jaelani. Terus, aku juga belum chat Jaelani. Belum tentu dia mau.” Ucap Hani kesal.
Kiki tiba-tiba muncul di depan Hani dengan wajah pucat nya lagi. Kedatangannya selalu membuat jantung berdetak tak karuan. Maklum juga, Hani juga belum terbiasa dengan situasi sekarang.
“Iya deh.” Jawab Kiki pasrah.
Hani mengangguk menang. Dia melengos meninggalkan Kiki di sana dengan detak jantungnya yang masih berdetak tidak menentu hingga membuat tangannya dingin dan terasa seperti kesemutan saking cemas dan takutnya Hani. Tapi, dalam hatinya dia menguatkan diri untuk tidak takut dan menghadapinya. Dia harus menjadi yang di takuti oleh Kiki bukan orang takut kepada Kiki.
“Huh...”
Hani menghembuskan napas panjang. Dia mengatur napasnya sebaik mungkin agar dia bisa segera relax.
“Gak bisa gini, pokoknya aku harus segera mengusir Kiki. Harus segera ke rumah Della. Gak mau kayak dulu.” Gumamnya sambil mengatur napas dan berjalan menuju kamarnya.
Sambil berjalan menuju kamar, dia melirik jam dinding di ruang keluarga. Waktu menunjukkan pukul delapan. Otaknya secara otomatis langsung memikirkan keadaan Jaelani sekarang. Yah, pasti dia masih di sekolah.
“Ah, tetep aja kirim pesan. Pasti di baca kan? Walau pulang sekolah.” Ucapnya.
“Eh? Tapi kenapa Jaelani tiba-tiba ngilang gitu aja ya? Biasanya kan masih sempetin chat.”
Tiba-tiba terlintas di pikiran Hani ketika dia pernah melihat Jaelani memposting fotonya bersama Galih. Dengan sigap, Hani berlari kecil ke kamar untuk mengambil ponselnya dan memeriksa sosial media Jaelani.
“Oh ya, terakhir kan aku bahas Galih sama Jaelani. Habis itu dia menghilang gitu aja. Aku kok merasa ada yang ada yang aneh ya?” Batinnya.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~