Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 12


__ADS_3

“Mbak... mbak Inem... Mbak!!!” teriak pak Herdi heboh.


Budhe Inem sedang sibuk siap-siap untuk pulang karena sekarang budhe Inem pulang setiap sore dan datang  setiap pukul 05.30 pagi dan sudah siap dengan sayur mayur untuk di masak.


“Opo to Herdi ki kok heboh.” Kesal budhe Inem.


“Mbak tolong siapin air buat buat mbak Hani.” Ucap pak Herdi yang sudah menemukan budhe Inem di dapur sambil memberikan daun kelor yang dia petik dari halaman belakang tadi.


“Lagi?” Tanya budhe Inem panik.


Budhe Inem langsung meletakkan tasnya di meja makan kembali. Dia menyiapkan air dan mencuci daun kelor yang di berikan pak herdi. Kemudian, dia di memasukkan beberapa tangkai itu ke baskom yang di isi air.


“Ayo Her.”


Pak Herdi dan budhe Inem langsung berjalan cepat menuju kamar Hani. Pak Rian sudah pasti meletakkan Hani di dalam kamarnya. Di kamar Hani ada tempat khusus yang di beri perlak agar jika sewaktu-waktu Hani histeris lagi dan harus di ciprat air dan daun kelor tidak membasahi kasurnya.


“Mbak maaf ya mbak.” Ucap budhe Inem sambil meraup wajah Hani dengan air yang di beri daun kelor.


Sesekali dia juga mengibaskan setangkai daun kelor ke wajah Hani. Hani yang tadi tertidur jadi bangun. Meski begitu dia sudah biasa seperti ini. Dia hanya menatap semua orang satu persatu. Di sana juga ada suster cantik yang juga terlihat cemas.


“Gimana mbak?” Tanya budhe Inem.


Hani mengangguk lemas dan memaksakan senyumnya. Pelan-pelan dia bangun dari tidurnya dan ingin pindah ke kasurnya yang nyaman. Pak Herdi dan pak Rian pun membantu Hani. Sampai di kasur nyama nya budhe Inem menawarkan air kepada Hani. Namun ditolak. Dia memilih untuk melanjutkan tidurnya.


Pak Rian, pak Herdi, budhe Inem dan suster cantik meninggalkan Hani di kamar dengan pintu terbuka. Mereka berjalan menuju ruang tamu untuk menetralisir kepanikannya masing-masing.


Sampai di ruang tamu mereka mengatur napas masing-masing.


“Lohhh lupa ada tamu.” Ucap budhe Inem panik.


“Bentar ya mbak. Saya ambilkan air minum.”


“Gak usah repot-repot bu.” Ucap suster cantik.


Tetapi budhe Inem sudah melesat ke dapur. Dia juga menyiapkan minum untuk pak Herdi dan pak Rian juga. Dia tau semua pasti haus setelah menangani Hani. Lima belas menit kemudian budhe Inem kembali dengan nampan berisi empat gelas dengan air berwarna hijau dengan embun di luar gelas. Terlihat segar untuk melepas dahaga.


“Silahkan.” Ucap budhe Inem sambil menurunkan nampan.


Pak Herdi dan Pak Rian langsung mengambil minum yang terlihat menyegarkan itu dari nampan tanpa perlu di suguhkan. Budhe Inem hanya memasang wajah datar melihat kelakuan rekannya itu. Kemudian, dia memberikan segelas minuman untuk suster cantik.


“Rian i gak isin ta?” Gumam budhe Inem.


“Isi?” tanya pak Rian yang hampir meminum minuman segar itu.

__ADS_1


“Isin... malu.” Jelas budhe Inem.


Pak Herdi hanya menahan tawa mendengar ucapan budhe Inem. Untung dia juga belum sempat meminum minumannya. Jika sudah mungkin dia akan tersedak.


“Hehehe.” Tawa pak Rian canggung.


Mereka pun akhirnya meminum minuman segar itu dengan lahapnya. Sedangkan pak Rian meminumnya dengan pelan-pelan karena merasa malu.


“Mbak namanya siapa?” Tanya budhe Inem yang menahan penasaran dari tadi.


Budhe Inem tidak tau jika pak Rian memiliki kekasih seorang suster yang dia tau saat ini, suster itu adalah orang asing.


“Saya sari.” Ucap suster cantik.


“Ohhh..” Ucap pak Herdi dan budhe Inem bersamaan.


“Ini toh calonya Rian.” Ucap pak Herdi.


Suster Sari terkejut mendengar itu. Karena dia tidak tau jika pak Rian akan melamar sang pujaan hati. Sedangkan pak Rian juga tidak memberi tau pak Herdi jika dia belum memberi tau suster Sari.


Suster sari menatap pak Rian berharap mendapat jawaban. Sedangkan pak Rian hanya cengar-cengir tidak jelas bingung mau menjawab apa? Budhe Inem lebih merasa seperti orang asing di sana karena tidak tau apa-apa.


“Gak jadi surprise dah...” Kesal pak Rian dalam hati.


Hani sebenarnya tidak tidur. Dia hanya ingin di dalam kamarnya sendiri. Dia menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan apa yang terjadi tadi. Dia merasa aneh karena dia selalu lemas saat setelah mendengar suara-suara aneh dan dia bisa merasakan perubahan perasaaan yang tiba-tiba. Seperti rasa takut, sedih, marah bahkan sakit di bagian tertentu. Lebih aneh lagi dia tidak merasa apa-apa saat mendengar suara anak kecil itu. Anak kecil yang mengaku namanya Kiki.


“Aneh?!” Gumamnya.


“Kakak... ayo main... Kiki bosan.” Bisik Kiki.


Mendengar itu Hani langsung menutup kedua matanya serta menenggelamkan seluruh tubuhnya di bawah selimut. Dia sangat merasa terganggu dengan suara anak kecil itu.


“Ayo kak.” Bisik nya lagi.


Hani membalikkan tubuhnya menutup kepalanya dengan bantal. Bisikan itu masih terdengar di telinganya. Dia berusaha untuk mengabaikan bisikan itu. Namun, Lama kelamaan dada Hani jadi sesak. Dia tidak tahan tidur tengkurap. Akhirnya dia ingin kembali ke posisi semula. Tetapi, tiba-tiba tubuhnya terasa berat seperti ada sesuatu yang menghalangi.


“Duhh...” Rintih nya.


Hani melempar bantal yang menutupi kepalanya sembarangan. Dia berusaha untuk bangun, mendorong tubuhnya dengan menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuhannya. Tetapi semua usahanya tidak berhasil. Beban di punggungnya terlalu berat.


“Hah... hah... hah...”


Napas Hani terengah-engah. Dia mulai ketakutan dan panik. Apakah ini yang di namakan tindihan?

__ADS_1


“Ayo main kak, yah.” Bisik Kiki.


“Nanti aku turun deh.” Lanjutnya.


Tanpa berpikir panjang Hani langsung mengiyakan. Tidak lama kemudian, tubuh Hani kembali seperti semula. Dia langsung bangun dan duduk. Matanya memeriksa seluruh sudut di kamarnya. Napasnya masih terenggah-enggah.


Bruk!


Tiba-tiba ada satu buku jatuh. Mata Hani langsung menatap ke sana. Rasa takut dan paniknya semakin menjadi-jadi. Dia berniat untuk pergi dari kamarnya. Dia sudah mengambil ancang-ancang. Satu... dua... ti....


“Itu bu mbak Hani.”


Hani terkejut matanya melotot ke arah sumber suara. Ternyata yang berbicara adalah pak Rian yang sudah berdiri ambang pintu kamar Hani. Pak Rian sempat mundur karena kaget dengan respon Hani yang tiba-tiba melotot. Tetapi, dia memberanikan diri untuk menghampiri Hani.


“Hani kenapa nak?” Suara dari ponsel pak Rian.


Ternyata pak Rian sedang video call dengan Beni. Lalu, dia menunjukkan ponselnya kepada Hani serta merubah kameranya agar Hani bisa saling menatap dengan Beni melalui layar ponsel.


“Kenapa nak?”


“Gak kok pa... tadi Hani cuma kaget aja kok pa.” Jelas Hani di barengi dengan senyum.


“Udah sehat nak?”


Hani hanya mengangguk cepat. Mereka pun berbicara melalui panggilan video selama kurang lebih lima belas menit. Kemudian, Hani memberikan ponsel pak Rian kembali.


“Ini pak sudah.” Ucap Hani.


Pak Rian hanya tersenyum dan mengambil ponselnya. Setelah itu, dia harus pergi dari kamar Hani karena dia merasa sudah menggangu waktu istirahat Hani. Tetapi langkahnya terhenti karena Hani memanggilnya.


“Ada apa mbak?”


“Kenapa papa tau kalau aku tadi lemas?”


“Oh mungkin karena bapak pasang CCTV yang bisa terhubung langsung ke ponsel bapak.”


Hani hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tidak habis pikir jika orang tuanya sampai melakukan itu hanya untuk mengawasinya? Dia semakin takut serta penasaran sebenarnya apa yang terjadi sebelum dia hilang ingatan. Setelah menjelaskan, pak Rian berpamitan. Dia keluar tanpa menutup kamar Hani karena buru-buru menemui orang-orang di ruang tamu untuk mengadukan kejadian ‘di pelototi’ tadi.


Brak!!!


Tiba-tiba pintu kamar Hani terbanting.


~ Terima kasih, sudah mampir baca~

__ADS_1


__ADS_2