Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 59


__ADS_3

Hani hanya menatap kepergian Ilham dengan aneh, karena dia pikir udara di sini tidak sepanas itu. Tapi, Ilham terlihat sangat kepanasan hingga berkeringat. Setelah itu, Hani melihat bingkisan dari Jaelani. Dia tersenyum tipis melihatnya. Ada rasa senang karena Mia mulai mau berdamai dengannya.


“Emm.. Jae, ini aku foto yah? Mau aku kirim ke mama.” Ucap Hani.


“Gak usah minta ijin segala lah Han. Kan ini punyamu.” Jelas Jaelani.


Hani tersenyum lebar dan segera mengambil foto bingkisan itu. Kemudian, dia langsung mengirimkannya ke mamanya. Dan tidak di sangka Ratih langsung merespon pesan itu. Tetapi, responnya tidak begitu baik. Ratih meminta Hani agar bingkisan itu di taruh di pos satpam dulu. Hani hanya bisa menurut dan akan menaruhnya di pos satpam nanti setelah Jaelani pulang.


Jaelani masih menatap Hani dengan senang. Rasa rindunya sedang memuncak saat ini dan dia tidak mampu menyembunyikannya. Terlebih, tadi dia merasa seperti di ingatkan kejadian di bengkel bersama Hani saat menerima jus dari Anggi. Sekarang dia senyum senyum sendiri melihat Hani sambil mengingat kenangannya bersama Hani di bengkel motor waktu lalu.


Tidak lama kemudian, mata Hani dan Jaelani tidak sengaja saling menatap satu sama lain. Mereka pun bersamaan malu dan membuang muka. Wajahnya sama-sama mulai memerah dan mereka sama-sama menahan senyum.


Sret!


Tiba-tiba meja kaca di depan Hani dan Jaelani bergeser dan membuyarkan suasana berbunga-bunga itu. Itu adalah ulah Kiki yang muak melihat mereka berdua malu-malu kucing. Kiki merasa kegelian sendiri melihat mereka. Lalu, Kiki mendekat ke arah Jaelani dan membisikkan sesuatu.


“Itu kan MP3 kamu? Kenapa ya Hani membawanya?” Bisik Kiki.


Jaelani langsung tersadar dan memperhatikan MP3 di meja itu. Dia langsung teringat rekamannya waktu lalu. Dia penasaran apakah rekaman itu masih ada atau sudah di hapus oleh papa Hani? Karena Jaelani pikir papa Hani sedang menutupi masa lalu dia dan Hani. Padahal Beni hanya ingin Hani mengingatnya perlahan jika memang ingatan itu bisa kembali. Raut wajah Jaelani langsung berubah menjadi sedih.


“Hei... kalau penasaran tanya saja. Ini kesempatanmu.” Bisik Kiki lagi.


Lagi-lagi Jaelani seakan-akan terhipnotis oleh suara Kiki. Dia bahkan merasa suara Kiki adalah suara hatinya karena memang saat ini dia sangat penasaran dengan ingatan Hani. Dia masih berharap Hani bisa mengingat kembali semua kenangan bersamanya. Dengan perasaannya yang sedang menggebu Jaelani pun bertanya.


“Han, itu emm....” Ucap Jaelani bingung.

__ADS_1


Jaelani bingung dan ragu, takut jika MP3 yang di lihatnya bukanlah milikinya. Melainkan milik Hani sendiri. Jika itu milik Jaelani pun, dia juga ragu apakah rekamannya masih tersimpan di sana atau di hapus?


“Iya?” Tanya Hani penasaran.


“Udah! Tanya aja Jaelani. Kesempatan ini tidak akan terulang.” Bisik Kiki.


Karena bisikan Kiki. Jaelani pun akhirnya terdorong untuk bertanya. Dia seperti mendapat kekuatan berupa keberanian untuk bertanya kepada Hani.


“MP3 itu, bagus.”


Kiki mendengus kesal. Kenapa Jaelani malah berbicara seperti itu. Dengan susah payah membujuknya. Tapi, Jaelani malah berkata seperti itu. Kiki sudah kehilangan kesabaran. Dia sangat ingin Hani kembali ingat kejadian masa lalunya agar dia bisa segera balas dendam. Akhirnya Kiki menggunakan kekuatannya untuk memutar rekaman Jaelani di mp3 itu.


‘Hai Han, kamu jangan sedih ya. Aku akan selalu berusaha untuk membantumu. Hanya saja, jangan sampai anak-anak tau. Iya, aku pengecut. Aku hanya....’ Rekaman suara Jaelani terdengar sangat lirih karena mp3 dalam keadaan masih mode headset tapi dengan volume suara besar jadi terdengar meski samar.


Hani buru-buru mengambil mp3 itu dan mematikannya. Dia merasa gugup karena dia takut, jika Jaelani kabur dari rumahnya. Dia sudah tau pasti jika itu adalah ulah Kiki. Hani gugup dan panik. Sedangkan Jaelani mematung karena dia tidak percaya ternyata rekaman suaranya itu masih ada.


“Hah? Ah?” Ucap Hani kebingungan.


“Syukurlah kamu masih menyimpan mp3 itu tanpa menghapus isinya. Aku sangat bersyukur. Terima kasih ya Hani.” Jaelani sangat antusias.


Tanpa sadar Jaelani menceritakan kenangan sedih bersama Hani. Dia juga menjelaskan kenapa dia membuat rekaman itu. Jaelani menjelaskan kepada Hani bahwa itu lah satu satunya cara Jaelani untuk menyemangati Hani karena jika Jaelani mendekat ke Hani. Jaelani tidak akan memiliki kesempatan untuk membantu Hani karena otomatis Jaelani akan di jauhi juga.


“Dulu, aku sengaja begitu karena. Aku juga cari informasi dari temen-temen. Kalau aku gak berbaur sama mereka. Mungkin aku dulu gak bisa jenguk Galih dan juga Violla dan Della” Jelas Jaelani.


“Della?” Hani semakin penasaran dengan cerita Jaelani terlebih dia mengatakan nama itu.

__ADS_1


“Iya, Della. Teman kita dulu, yang pernah masuk rumah sakit jiwa itu dan akhirnya meninggal.” Jelas Jaelani.


Hani semakin penasaran. Dia meminta Jaelani menjelaskan detail tentang Della. Dan ternyata tidak Hani saja yang penasaran dengan Della. Kiki juga sangat penasaran dengan almh Della terlebih keluarganya.


Jaelani menjelaskan sedetail mungkin, dari awal perkenalan Hani dengan Della. Kejadian Della yang aneh di sekolah. Bahkan keadaan dimana Della kesurupan di rumahnya sendiri. Saat cerita terakhir, Hani merasa itu sama persis dengan mimpinya.


“Ceritakan lebih.” Gumam Kiki.


Tapi, ternyata Jaelani malah berhenti menceritakannya karena dia merasa ada perubahan dengan ekspresi Hani. Sekarang, Hani terlihat takut dan tegang. Jaelani buru-buru duduk di samping Hani dan mengelus kepala Hani pelan-pelan sembari mencoba menenangkan Hani meski jauh di lubuk hati Jaelani dia merasa panik karena perubahan ekspresi itu.


“Han, udah udah. Aku gak cerita lagi.” Ucap Jaelani lembut.


Sedangkan Hani merasa takut dan tegang karena dia merasa seperti sedang mengalami hal itu dalam ingatannya. Otaknya masih memproses ingatan itu dan indra perasaanya juga ikut aktif semua. Seakan dia merasakan kejadian itu sekarang. Dia juga merasa kesal kepada anak itu.


“Han, udah please.” Ucap Jaelani berubah menjadi panik.


Sedangkan Kiki dia terlihat kesal karena Jaelani tidak memberi informasi lebih kepadanya. Kiki tidak menginginkan Hani mengingat semua kenangannya. Yang dia butuhkan hanya, Hani mengingat masa lalunya dengan Della.


Kiki hanya ingin memanfaatkan rasa kesal Hani kepada Della yang telah membuatnya di benci oleh teman sekelasnya itu. Dia ingin memanfaatkan perasaan itu untuk balas dendam pribadi Kiki kepada ayah Della yang telah membunuh Kiki.


“Sebentar lagi, Hani harus ingat semuanya. Agar aku bisa menjadikannya perantara untuk belas dendam kepada Stevan yang telah membunuhku. Dan aku bisa menemui ibu untuk terakhir kalinya.” Ucap Kiki sambil menatap ke arah dalam.


 


 

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like dan komennya. See you next episode~


~ Selamat hari raya idul fitri bagi yang menjalankan. Maaf terlambat mengucapkan.~


__ADS_2