
Waktu cepat berlalu. Tidak terasa sudah pukul setengah delapan tepat. Sarapan Hani sudah siap di meja makan dengan jus jambu. Hani datang dengan riangnya sambil mengibaskan rambutnya yang basah.
“Tuh kan... jalannya udah kayak ngajak orang berantem.” Gumam budhe Inem yang sibuk membersihkan wastafel.
“Budhe ayo sarapan.” Ucap Hani sambil memandang budhe Inem dengan tatapan mautnya.
Melihat itu budhe Inem tidak tega. Karena Hani terbiasa makan bersama. Akhirnya budhde Inem mengangguk dan segera membersihkan tangannya. Kemudian, dia mencuci kedua tangannya dan mengambil nasi serta sambal terasinya tadi yang sudah dia taruh makuk kecil.
“Ayo mbak maem bareng.” Ucap budhe Inem.
Dengan semangat Hani menyantap roti pandan bakar dengan telur dadar yang di beri mayonaise di atasnya. Hani sangat menyukai roti pandan di banding roti tawar. Mereka makan dengan diam.
Akhirnya mereka selesai. Hani menaruh piring dan gelasnya di wastafel di susul budhe Inem. Kemudian budhe Inem langsung mencuci piring di wastafel di temani Hani di sampingnya. Hani ingin membantu dengan menaruh kembali ke tempatnya. Sambil mencuci budhe Inem bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya kemarin.
“Mbak Hani, kemarin mimpi main petak umpet sama siapa sih? Kok kayaknya seru banget. Sampai mengigau gitu berhitung gitu.” Tanya budhe Inem.
“Mimpi?”
Hani kebingungan. Apakah yang dia alami kemarin hanyalah mimpi? Tetapi kenapa rasanya seperti sangat nyata? Apa sebenarnya yang terjadi kemarin?
“Masak sih budhe aku mengigau?”
“Iya... kenceng banget mbak.”
Hani tidak menjawab. Dia malah melamun memikirkan ucapan budhe Inem. Karena akal sehatnya tidak bisa menerimanya. Dia ingat jelas bahwa itu bukan mimpi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menyadarkan diri. Jangan-jangan sekarang malah dia yang sedang bermimpi. Dia berinisiatif mencubit lengannya sendiri.
“Awww.” Rintihannya.
“Kenapa mbak?” Tanya budhe Inem khawatir.
Hani hanya tersenyum dan menggeleng. Kemudian dia pergi begitu saja. Sedangkan budhe Inem kebingungan dengan perubahan Hani yang mendadak itu. Kini Hani kembali seperti yang dulu. Menjadi Hani yang murung.
“Hah....” Budhe Inem menghembuskan napas berat.
“Ternyata belum sembuh kayaknya.” Gumamnya.
Budhe Inem kembali ke aktifitasnya semula. Membersikan dapur lanjut membersihkan rumah serta cuci baju. Namun budhe Inem khawatir dengan sikap Hani yang tiba-tiba berubah itu. Akhirnya dia memutuskan untuk mengajak Hani berkebun saja.
Hani kembali ke kamarnya. Di sana dia merenungi ucapan budhe Inem. Apa yang sebenarnya terjadi. Dia ingat jelas kalau itu kenyataan bukanlah mimpi. Kepalanya mulai pusing karena terlalu berpikir keras.
“Kakak...” Ucap Kiki.
__ADS_1
Hani sempat terkejut. Tapi dia pura-pura biasa saja agar tidak di ganggu lebih dari ini. Menurut buku yang dia baca. Jika kita berani maka sesuatu tidak kasat mata itu juga tidak akan menganggu.
“Ayo kak main yuk.”
“Main apa?”
“Apa ya kak?”
Tok tok tok.
Ketukan pintu itu membuat Hani terkejut. Lagi-lagi dia melotot menatap pintu.
“Mbak Hani.”
Suara budhe Inem dari balik pintu. Hani merasa lega ternyata itu ulah manusia. Hani berjalan membuka pintu. Terlihat budhe Inem yang berdiri dengan khawatir di depannya. Hani mengkerutkan keningnya melihat ekspresi budhe Inem.
“Mbak kita ke belakang yuk. Berkebun.” Ucapnya.
“Ah... ini kesempatan agar aku bisa kabur dari Kiki itu.” Pikirnya.
“Yuk!” Ucap Hani semangat.
Dia menarik lembut lengan budhe Inem. Sedangkan budhe Inem lega karena yang ada di dalam pikirannya itu salah. Hani mungkin merasa kesepian hingga moodnya berubah-ubah seperti itu.
Di halaman belakang.
Pluk!
Kepala Hani terasa seperti ada yang melempar batu ke kepalanya. Dia mencari-cari siapa yang melemparinya batu. Ternyata itu adalah pak Rian. Hani bernapas lega lagi-lagi ini ulah manusia.
“Maaf mbak. Gak bermaksud hehe. Mau jailin eh kena kepala.” Ucap pak Rian sambil berjalan menuju Hani.
Sampai di depan Hani dia memberikan bungkusan kecil kepada Hani. Bungkusan berwarna unggu. Dia pun membukanya pelan-pelan. Ternyata isinya adalah permen dan coklat kesukaannya. Hani memang suka hal-hal yang manis.
“Wihh...”
Hani hendak mengambil coklat itu tapi di tahan oleh pak Rian. Dia mendongak heran. Pak Rian malah tersenyum kepadanya. Hani merinding melihat pak Rian tersenyum aneh seperti itu.
“Cuci tangan dulu mbak. Ini dari suster Sari buat mbak Hani.” Jelasnya.
“Oh itu arti senyumannya.” Ucap Hani sambil tersenyum tidak kalah anehnya dari senyum pak Rian tadi.
__ADS_1
Hani membawa kotak itu bersamanya. Kemudian dia menaruhnya di dekat batu hias dan mencuci tangannya di sana. Saat selesai, Hani ingin sekali segera menyantap coklat dari suster Sari itu. Tetapi ternyata kotaknya hilang. Dia langsung menoleh ke arah pak Rian. Dan pak Rian sudah tidak ada di tempat.
“Aku minta ya kak.” Ucap Kiki.
Lagi-lagi dia pura-pura tidak terkejut meskipun tadi bahunya sedikit terangkat. Dia mencoba mengatur napasnya agar tidak terlihat gugup.
“Emang gimana caranya?” Tanyanya.
“Aku akan mengambilnya sekarang. Setelah itu akan aku kembalikan.” Ucap Kiki.
Hani sempat tidak percaya dan tidak paham ucapannya itu. Namun dia tetap mensetujuinya. Tidak lama kemudian tidak ada respon atau hal lain. Hani merasa sebal karena coklatnya hilang.
Srek srek srek
Tiba-tiba Hani merasa ada berjalan di belakangnya. Reflek dia menoleh ke belakang. Ternyata dia adalah budhe Inem yang sudah lengkap dengan sapu lidi di tangannya.
“Budhe kok nyapu nya jam segini?”
“Kan masih jam delapan mbak. Kok jam segini. Eh mbak kotaknya mau jatuh tuh di atas batu hias.” Ucap budhe Inem.
Hani langsung menoleh dan menatap benar kotak itu sudah miring hampir jatuh. Terlihat kotak itu sedikit terbuka. Dia mendekati kotak itu dan mengangkat kotak itu dan tutupnya terbuka sedikit. Terlihat jelas isinya jadi berantakan. Meski begitu coklat itu masih di bungkus plastik jadi tidak menempel satu sama lain.
“Kok bisa sih disini? Tadi gak ada kan? Big nono.” Gumamnya sambil berjalan ke ruang tengah.
Saat berjalan Hani berpapasan dengan pak Rian yang terlihat seperti kebingungan. Ternyata pak Rian mencari budhe Inem. Hani pun memberi taunya kalau budhe Inem sekarang ada di halaman belakang. Lalu, Hani kembali melanjutkan langkahnya ke ruang tengah.
Di halaman belakang.
Pak Rian buru-buru menghampiri budhe Inem dan bersiap mendengarkan dongengnya. Di sangat penasaran. Akhirnya budhe Inem pun menceritakan percakapannya kemarin dengan Beni.
“Kemarin, bapak telepon sambil marah-marah. Aku pikir aku melakukan kesalahan. Tapi ternyata bapak marah karena aku ga tau kalau Hani pingsan karena aku yang terakhir keluar.”
Budhe Inem menarik napas sejenak.
“Kemarin sebelum aku pulang. Aku mendengar mbak Hani berhitung. Kayak lagi main petak umpet. Aku kan penasaran. Terus aku ke kamarnya. Aku ketok pintunya gak di jawab padahal dia masih berhitung. Akhirnya aku membuka pintunya. Terus aku lihat, mbak Hani lagi tidur ternyata. Eh mengigau kali dia.”
“Nah saat aku tinggal itu. Aku yakin kalau mbak Hani cuma mengigau. Tapi bapak bilang kalau Hani di temukan gak sadarkan diri di dekat meja belajar. Karena gak ada CCTV di kamar. Bapak memperkirakan kalau mbak Hani tidur sambil berjalan dan kesandung atu apa gitu kemarin lupa... terus pingsan. Makanya sekarang begitu aku dengar mbak Hani kayak ngmong gitu. Aku di suruh ngecek. Takutnya kayak kemari.” Jelas budhe Inem.
Pak Rian mengangguk paham. Setelah itu dia bergegas pergi tanpa pamit untuk menceritakan dongeng itu ke pak Herdi. Budhe Inem hanya menggeleng-geleng melihat pak Rian seperti reporter gosip. Kemudian budhe Inem kembali menyapu.
Ternyata Kiki ada di sana. Dia tersenyum mengerikan lagi. Senyum yang lebar hingga mulutnya terbuka sampai pipi. Kemarin Kiki memindahkan Hani ke dimensi lain. Yang terlihat Hani hanya tidur saja. Padahal dia sedang bermain dengan Kiki. Itulah alasan energi Hani cepat habis. Selain di serap oleh Kiki tenaganya cepat habis karena menyabrang ke dimensi lain.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca~