Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Drama kecemburuan


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi. Hani dan Jaelani langsung berangkat menuju rumah sakit XX. Selama perjalan, Jaelani masih dengan wajah cemberutnya. Bahkan saat berhenti beli buah pun, dia masih terlihat masam. Hingga sang penjual beberapa kali melirik Jaelani.


“Jae, enaknya beli buah apa?”


“Buah duren.”


“Ya kali orang sakit di kasih durian?”


“Buat jenguk orang sakit mbak? Kami ada yang berupa bingkisan langsung seperti ini. Buahnya lengkap juga.” Tawar si penjual.


Tanpa berpikir panjang Hani langsung menyetujuinya. Percuma juga meminta pendapat Jaelani. Mereka malah buang-buang waktu di penjual karena sifat Jaelani yang kenakan bagi Hani. Dia sudah lelah karena perjalanan panjang ini. Dia ingin segera pulang dan istirahat. Yang penting, dia sudah mencari rumah sakit tempat Adit di rawat.


“Ini mbak. Sekalian mau di beri ucapan juga?” Tawar si penjual.


“Gak bu, gini aja.”


Hani langsung membayar bingkisan itu. Dan Jaelani meninggalkan Hani begitu saja. Dia merasa malas sekali melihat bingkisan itu. Belum lagi nanti bertemu Adit di rumah sakit. Rasanya, ingin melewatkan rencana terakhir.


“Kuy gass.” Ucap Hani ternyata sudah naik di belakang.


“Heh? Kapan naiknya? Masak enteng banget.”


Plak.


Pukulan mendarat di bahu lebar Jaelani. Hani merasa sedikit kesal dengan ucapan Jaelani barusan. Dan Jaelani hanya meringis kesakitan dan mengusap bahunya yang panas akibat pukulan Hani, sambil melihat Hani melalui spion motornya.


Hani tetep kuat kayak dulu pertama ketemu di SMA Dahlia. Makan apa sih, batin Jaelani.


Mereka pun berangkat ke rumah sakit XX. Seharusnya, perjalanan ini hanya butuh waktu dua puluh menit. Namun, karena hari ini sabtu sore menjelang malam. Jalanan menjadi semakin ramai. Mereka pun tiba di rumah sakit setelah menempuh perjalanan tiga puluh lima menit lamanya.


Saat sampai di Hani buru-buru turun dan menuju tempat resepsionis. Tadi Jaelani yang meninggalkan Hani. Sekarang kebalikannya, karena Hani ingin balas dendam. Sedangkan Jaelani berjalan di belakang Hani dengan santainya. Sebenarnya langkah kaki Jaelani lebih lebar dari Hani. Jadi, mau Hani jalan cepat seperti apapun Jaelani masih bisa menyusul.


“Hah... bener-bener ini yang di namakan deket terasa jauh.” Keluh Jaelani karena merasa sangat lelah menyetir di tengah kemacetan.


Namun, ucapan itu di tanggapin berbeda oleh Hani. Ucapan itu membuat Hani kelabakan. Dia merasa malu sendiri mendengarnya, hingga membuatnya salah tingkah. Dia piki, Jaelani sedang menyindir dirinya karena meninggalkan Jaelani jauh di belakang. Beruntung, Hani menatap ke depan. Jadi Jaelani tidak bisa melihat wajah Hani yang sedikit memerah.


“Permisi mbak, mau tanya pasien bernama Aditya Wardana dimana ya kamarnya?”


“Mohon di tunggu.”


Hani ternyata sudah berdiri di depan meja resepsionis. Dia sama sekali tidak menoleh ke belakang. Dia tidak ingin terlihat tersipu malu di depan Jaelani. Tetapi, Jaelani ternyata berdiri di samping Hani dan sempat melirik wajah Hani.


“Segitu kangennya sampai wajahnya merah.” Sindir Jaelani.


“Hah?”


Jaelani tidak merespon. Dia enggan menatap wajah Hani. Jaelani pikir, Hani sedang malu karena akan bertemu dengan Adit. Andai saja Jaelani bisa membaca pikiran Hani. Pasti dia juga akan kelabakan sendiri.


Sedangkan Hani masih mencerna ucapan Jaelani ‘kangen’ siapa juga yang kangen? Dia lupa jika dia sendiri yang bilang kangen Adit kemarin. Hani yang penasaran dengan ucapan Jaelani langsung menatap intens laki-laki di sebelahnya itu.

__ADS_1


“Argh!”


Tiba-tiba Hani mendengar suara Kiki berteriak. Reflek Hani mencari keberadaan Kiki. Entah dimana Kiki sekarang. Yang jelas Hani merasa Kiki sedang ada di sekitarnya.


“Pasien atas nama Aditya Wardana berada di kamar. VVIP 456 di lantai empat ya mbak. Liftnya berada di ujung lorong ini.” Ucap penjaga resepsionis sambil menunjuk lorong di sebelah kanannya.


Hani masih belum merespon. Dia sibuk mencari keberadaan Kiki karena mendengar suara-suara aneh. Seperti Kiki yang sedang berteriak. Jaelani yang tadinya cuek, berubah menjadi ramah ke petugas reseposionis. Jaelani meminta perempuan itu mengulangi ucapannya.


“Baik, terima kasih.”


“Han, ayo. Katanya mau jenguk Adit.” Ucap Jaelani lembut.


Jaelani sudah paham kenapa Hani tiba-tiba bengong. Dulu, Jaelani pikir Hani hanya sedang melamun saat di sekolah ketika Hani tiba-tiba diam termenung. Namun, sekarang dia tau. Jika Hani termenung tandanya pasti dia sedang sibuk di dunianya sendiri. Sibuk dengan dunia itu. Dunia yang gak bisa di lihat banyak orang.


“Kemana?” Tanya Hani tersentak.


“Ke kamar Adit. Ayo, keburu malam.”


Hani menurut begitu saja. Dia mengikuti kemana pun Jaelani pergi. Matanya masih mengedarkan pandang ke segala penjuru arah. Dia seperti memiliki radar yang sedang mendeteksi dimana keberadaan Kiki.


Sampai di depan lift. Mereka menunggu sesaat dan kemudian masuk. Saat masuk, Hani dan Jaelani terkejut karena lampu berkedip-kedip cepat begitu pintu lift di tutup.


“Ada apa nih?” Jaelani panik.


Blup Blup Blup.


“Kenapa ke sini sih kak. Takut, banyak hantunya.” Ucap Kiki.


“Hlah, kamu sendiri juga Hantu.” Ucap Hani spontan.


Jaelani di buat semakin merinding dengan ucapan Hani. Reflek dia mundur beberapa saat. Menjauh dari Hani. Dia menatap Hani dari atas ke bawah memastikan kakinya masih menempel di besi kotak ini.


“Han...” Ucap Jaelani lirih.


“Sorry Jae, kamu takut ya. Hehe maaf. Reflek.”


“Ngobrol sama siapa tadi.”


“Ada deh.”


Hani sengaja menyembunyikan terlebih dahulu identitas Kiki. Dia juga tidak mengungkapkan misi yang di sepakati oleh Hani dan Kiki. Jujur, Hani merasa was-was jika Jaelani tau. Dia tidak ingin Jaelani malah mempersulit Hani karena Jaelani mengadu ke orang tua Hani. Pasti akan semakin sulit jika orangtuanya tau.


“Jangan gitu napa sih Han. Bikin takut aja.”


Ting.


Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di lantai empat. Jaelani tadi sudah meminta petunjuk kepada penjaga resepsionis. Jadi baginya, mudah mencari dimana kamarnya Adit berada. Hani hanya ikut saja kemanapun Jaelani pergi tanpa protes.


“Itu kamar Adit? Sakit apa sih? Lebay banget sampai di jaga bodyguard di luar. Kayak di film film aja. Emang dia anak presiden.” Gerutu Jaelani.

__ADS_1


Hani langsung mencari ruangan mana yang di maksud Jaelani berdasarkan apa yang di deskripsikan baru saja. Mata Hani membulat sempurna begitu menemukan ruangan yang di maksud. Benar, berlebihan hingga di jaga oleh orang-orang bertubuh besar dari luar ruangan.


“Bener itu kamarnya?” Tanya Hani ragu ketika mereka semakin mendekat.


“Bener kok nomor 456, nomor cantik.”


“Cantik apanya, nomor mengerikan di jaga ketat gitu. Kak Adit anak pejabat kah?”


Jaelani hanya berdehem sambil mengangkat bahunya.


Sampailah mereka di depan kamar VVIP 456. Hani dan Jaelani di tatap intens oleh dua orang bertubuh besar dengan baju serba hitam. Wajah keduanya terlihat galak, menyeramkan.


“Ada perlu apa?” Tanya salah satu pria.


“Mau jenguk kak Adit.” Jawab Hani.


“Siapa? Temen kuliah? Temen kerja di bimbel?” Tanya pria lain.


“Anak didiknya.” Jawab Jaelani sinis.


Tidak ada pertanyaan atau pun percakapan lainnya. Mereka di diam kan begitu saja. Namun, salah satu pria bertubuh besar masuk ke dalam dan langsung menutup pintu kamar itu.


Adit itu anak siapa sih? Berlebihan deh, batin Jaelani.


***


Di dalam ruangan VVIP 456.


Pria dari luar tadi langsung berbisik ke pria bertubuh besar dan kepala botak yang berjaga di ambang jalan menuju ruangan rawat inap utama. Kemudian, pria botak itu mengajak pria yang melapor kepadanya untuk masuk.


“Permisi pak bos, di luar ada anak didiknya mas Adit.” Ucap pria bertubuh besar dan berkepala botak.


“Hani? Sial?! Heh botak. Sini, berdiri di depan pintu kamar mandi.”


“Kalian semua yang berjaga di sini. Pastiin gak ada yang masuk kamar mandi. Nanti kalau tuh anak udah pulang kasih tau. Dan lagi, pastikan anak itu tidak berlama-lama di sini.” Perintah Tony.


Beberapa bodyguard yang di dalam di tambah sekretaris Tina mengangguk paham.


Tony bergegas masuk kamar mandi. Pria berbadan tinggi berkepala botak itu bergegas menempati posisinya. Sedangkan Tina melirik sekretarisnya. Sekretarisnya langsung paham jika memperbolehkan Hani masuk ke ruangan ini. Dia bergegas meminta orang yang masuk tadi, segera keluar dan mempersilahkan Hani dan Jaelani masuk.


Tidak lama kemudian, Hani berjalan masuk bersama Jaelani. Tina sedikit terkejut melihat kedua anak itu. Dia terkejut bukan karena takut, hanya terkejut karena tidak mengira mereka berdua masih berhubungan baik. Yang dia tau, Jaelani beberapa hari terakhir menjaga jarak dari Hani. Ini tanda bahwa Tina terlalu sibuk mengurus Adit hingga tidak mengecek laporan terbaru.


Tina benar-benar mengerahkan pasukan intel di sekeliling Hani hingga mengetahui semua gerak gerik Hani dan beberapa orang di sekitarnya. Tidak peduli berapa uang yang di keluarkan untuk itu.


“Siapa ya?” Tanya Tina ramah.


“Suara itu?” Pikir Hani dan Jaelani.


~ Terima kasih, sudah mampir baca. ~

__ADS_1


__ADS_2