
Dua hari berlalu.
Hari ini adalah hari pertama Hani mulai belajar privat. Hani sengaja memasang alarmnya lebih awal pagi ini. Dia sangat ingin mempersiapkan hari pertama ini sesempurna mungkin.
Seperti biasa di lantai tersebar banyak permainan. Dulu Hani selalu tidur di lantai karena dia tidak berani tidur di tempat tidurnya. Takut, jika Kiki marah seperti yang sudah sudah. Kali ini berbeda, Hani sudah lebih berani. Dia meminta Kiki untuk bermain sendiri.
Awalnya Hani memang takut karena beberapa barang terlihat melayang tepat di depan matanya. Tapi, dengan kegigihannya dia berpura-pura untuk tidak takut hingga tubuhnya terasa kesemutan semua. Bahkan keringat dingin juga bercucuran. Tetapi mulutnya berkomat-kamit membaca doa.
Beruntungnya rencananya berhasil. Barang-barang itu berjatuhan dengan sendirinya dan Hani bisa tidur meski merasa kedinginan padahal AC tidak di nyalakan.
“Seneng banget bisa belajar lagi.” Ucap Hani gembira sambil mengangkat kedua tangannya ke atas dan kebawah.
“Belajar? Apa itu?” Tanya Kiki mengejutkan Hani.
“Kenapa sih muncul selalu dadakan?” Pikirnya.
Mata Hani melihat ke sekeliling kamarnya. Entah kenapa semakin hari, Hani semakin peka. Seolah-olah dia memiliki radar tersendiri. Dia bisa merasakan dimana keberadaan sosok Kiki yang tidak kasat mata itu. Hani merasa Kiki berada di sampingnya persis. Lalu, dia menghadap ke arah itu seolah sedang menatap seseorang.
“Gimana ya jelasinnya? Pokoknya belajar ya belajar gitu.” Jelas Hani.
“Emmm... kamu nanti lihat sendiri aja lah.” Ucapnya lagi.
Tanpa menunggu jawaban dari Kiki. Hani turun dari tempat tidurnya. Dia meregangkan tubuh ke kanan dan ke kiri. Sekilas dia menatap alat lukisnya sebelum masuk ke kamar mandi.
“Kayaknya kita bakalan LDR deh kuas kuas ku.” Ucapnya.
Hani mengucapkan itu karena jadwal belajar privatnya mulai pukul tujuh pagi hingga dua belas siang seperti waktu belajar di sekolah. Hanya saja, dia di rumah belajar sendiri.
Tidak terasa waktu sudah pukul tujuh kurang lima belas menit. Hani masih sarapan dengan roti tawar yang di beri susu cair di atasnya dan secangkir susu kedelai yang hangat.
“Wih... anak mama udah sarapan aja.” Ucap Ratih yang berjalan hendak menuju lemari pendingin untuk ambil minum.
“Iya dong. Hani kan pengen menyambut hari ini dengan persiapan yang cukup biar semangat.” Jawab Hani.
“Hmmm... Oh ya, kayaknya guru les kamu ganteng deh Han. Sebentar lagi dia lulus kuliah. Anaknya rajin banget. Dia sekarang udah kerjain skripsi. Terget kuliahnya tiga tahun setengah.” Jelas Ratih.
__ADS_1
“Jadi dia sekarang semester berapa ma?” Tanya Hani penasaran.
Glek glek glek
Ratih meminum minuman jus dingin sisa kemarin. Ratih sengaja minum dengan lambat karena gemas sekali dengan ekspresi Hani yang penasaran itu. Dia ingin menggoda Hani dengan menunda lebih lama untuk menjawab pertanyaan anaknya itu.
“Maaaaa.” Keluh Hani yang tau jika mamanya sengaja minum lama-lama.
“Hehehe. Nanti kamu tanya sendiri.” Ucap Ratih.
Ratih sangat menyukai guru lesnya Hani itu. Selain tampan, laki-laki itu memiliki nilai plus di mata Ratih. Dimana laki-laki itu tidak bergantung ke orang tuanya. Dimana orang tuanya adalah rekan bisnis Beni. Laki-laki itu mirip dengan Hani yang selalu di tinggal sendiri di rumah karena orang tuanya sibuk dengan pekerjaan. Ratih berharap dengan kemiripan situasi itu laki-laki itu bisa memahami Hani dengan baik agar belajarnya lebih nyaman.
“Mbak Inem!” Teriak pak Rian yang langsung menerobos masuk ke dapur.
“Eh eh....” Pak Rian tersentak karena ternyata di sana ada Ratih dan Hani.
Ratih dan Hani hanya menatap pak Rian dengan heran. Ternyata ada sisi lain pak Rian yang tidak mereka ketaui. Setau mereka pak Rian selalu bersikap tegas hinga membuatnya terlihat sangat gagah. Namun kali ini pak Rian terlihat seperti adik yang merengek ke kakaknya.
“Bu.. he he...” Pak Rian tertawa canggung.
Pak Rian tidak berhenti tertawa canggung untuk menutupi rasa malunya. Sedangkan budhe Inem menahan tawa dari tadi karena melihat pak Rian yang salah tingkah serta Ratih dan Hani yang tercengang itu.
“Iya iya pak. Pfftt... Ayo Han gurunya udah dateng tuh.” Ucap Ratih menahan diri.
Hani pun menurut dan juga masih bengong sedikit sampai dia lupa meminum sisa susu kedelai yang tingga satu per empat gelas itu.
Setelah Ratih dan Hani pergi menjauh hingga tidak terlihat budhe Inem baru tertawa sambil memukul lengan pak Rian. Sedangkan pak Rian hanya diam mematung saking malunya.
Sedangkan saat Ratih dan Hani dalam perjalan ke ruang tamu. Mereka membicarakan sikap pak Rian barusan. Mereka benar-benar tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Ini sungguh momen langka bagi mereka.
“Selamat pagi.” Ucap Ratih menyapa laki-laki berparas tampan yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
“Oh pagi bu.” Sahut laki-laki itu sambil berdiri dan menjabat tangan Ratih.
Lagi-lagi nilai plus laki-laki itu di depan Ratih bertambah lagi. Kini dia mulai ikhlas jika anaknya berpacaran dengan laki-laki di depannya itu.
__ADS_1
“Perkenalkan nama saya Adit.” Ucap laki-laki itu.
“Halo Adit. Saya Ratih. Ini anak saya Hani yang mau belajar privat.”
“Halo kak Adit.” Ucap Hani sambil menjabat tangan Adit.
Adit pun membalas sambil tersenyum. Ratih tersenyum menang meliha momen itu. Harapannya semakin melambung tinggi saat anaknya berjabat tangan dengan Adit. Di mata Ratih mereka adalah pasangan yang serasi.
“Saya permisi dulu ya. Silahkan belajarnya bisa di mulai.” Ucap Ratih sambil melirik jam di dinding.
“Rajin bener nih anak. Masih jam tujuh kurang sepuluh menit dia udah sampai?” Pikir Ratih.
Ratih meninggalkan ruangan sambil tersenyum berangan-angan jika Hani akan semakin dekat dengan Adit. Raut wajahnya begitu ceria saat itu.
“Mari kak.” Ucap Hani.
Adit mengangguk dan duduk di tempat yang di tunjuk Hani. Begitu pula Hani.
“Jadi... kita kenalan dulu ya. Kata orang kan gak kenal maka gak... akrab hehe.” Ucap Adit.
“Heheh... iya kakak.”
“Hani usianya berapa?”
“Enam belas tahun kakak.”
“Ooo... oke oke. Gak pengen tau usia kakak? Hehe...”
“Hmmm gimana ya kak...”
Mereka pun basa basi sebentar sebelum memulai belajar mengajarnya. Tidak butuh waktu lama mereka pun akrab. Saat sedang asik mengobrol tiba-tiba mata Adit melotot ke arah alat tulis Hani. Dia sempat bengong beberapa saat karena Adit melihat dengan jelas bahwa pensil Hani bergeser beberapa senti.
Adit mengedip-kedipkan matanya dan mengucek matanya memastikan lagi apakah yang dia benar itu benar atau tidak? Kemudian, dia menatap lagi dan tanpa berkedip pensil Hani. Hingga matanya mulai pedih pensilnya tidak bergerak lagi.
“Eh? Jadi kata om itu bener dong kalau Hani itu istimewa?” Pikir Adit.
__ADS_1
~Terima kasih untuk teman-teman yang masih stay di sini. Semoga kalian semakin betah ya~