
Di kelas Jaelani.
Seperti biasa Jaelani menguap mengantuk. Dia terlihat sangat lemas, bahkan dia membolos upacara sekolah. Dia meminta ijin kepada petugas UKS dan di perbolehkan karena memang wajah Jaelani cukup memprihatinkan. Dia terlihat pucat, lemas, dan lesu.
“Kamu kenapa nak?” Tanya guru yang bertugas di UKS.
“Saya kurang tidur bu.”
“Kok bisa? Main PS sampai begadang kamu?”
“Engak kok bu. Saya jaga papa saya di rumah sakit.” Jelas Jaelani.
“Oh... terus gimana kabarnya sekarang?”
“Baik bu. Sekarang papa saya sudah di rumah. Baru kemarin boleh pulang.”
Guru itu mengangguk paham, kemudian dia mempersilahkan Jaelani untuk tidur kembali. Guru itu menyiapkan teh panas untuk Jaelani dan menaruhnya di meja dekat Jaelani tidur. Kemudian, guru menyuruh anak PMR yang sedang bertugas di sana untuk membangunkan Jaelani setelah upacara selesai dan juga meminum teh hangat yang sudah di buatkan tadi. Tidak lupa, guru itu mempersiapkan vitamin C untuk di berikan kepada Jaelani.
“Jangan lupa ini nanti di kasihkan anak yang tidur di pojokan itu ya.”
“Iya bu.” Jawab Anggi.
Anggi adalah salah satu anggota PMR. Minggu ini adalah waktunya dia bertugas. Setiap anggota PMR di tugaskan bergilir di UKS setiap dua minggu sekali. Anggi dan teman-temannya baru datang ke UKS karena mereka tadi masih sibuk membantu beberapa temanya yang bekerja di lapangan untuk siap siaga jika ada yang sakit.
“Siapa sih yang sakit? Padahal upacara baru aja di mulai.” Ucap salah satu siswa.
“Intip gih. Kali aja cewek cantik.” Timpal siswa lainnya.
Mereka berdua pun berangkat mengintip Jaelani. Sedangkan para siswi tidak tertarik sama sekali dengan siapa yang sedang sakit itu. Mereka semua sudah terbiasa jika ada ‘pasien’ sebelum upacara di mulai. Mereka berpikir bahwa ‘pasien’ itu sedang mengalami ‘desminore’ (desminore adalah kram saat menstruasi). Tidak lama kemudian, dua siswa yang mengintip tadi kembali dengan muka yang kecewa.
“Kenapa?” Tanya Anggi penasaran.
“Ternyata yang sakit sejenis sama yang ngintip.” Ucap salah satu siswa kecewa.
Mendengar itu gelak tawa pun terdengar nyaring. Para siswi tidak kuasa menahan tawanya karena temannya mendapatkan hasil yang sangat jauh dari ekspetasi. Tetapi, tidak lama mereka menurunkan volume suaranya karena mereka tidak boleh menggangu pasien yang sedang istirahat itu.
“Eh jangan ketawa dulu. Kalian tau gak?” Tanya siswa.
“Gak!” Jawab para siswi kompak.
“Gak usah di kasih tau biar mereka nyesel.” Sahut siswa lainnya.
“Kenapa, kenapa?” Tanya salah satu siswi yang sangat penasaran.
__ADS_1
Kedua siswa yang tadi sekarang sok jual mahal. Mereka mengalihkan pandang dan seolah-olah tuli tidak mendengar pertanyaan salah satu siswi itu. Karena geram di abaikan. Siswi itu mencubit salah satu lengan siswa yang sok jual mahal itu.
“Aw... sakit mblo.”
“di tanya kenapa kok?”
“Iya iya Mbloo... yang lagi sakit tuh. Anak baru di kelas Anggi. Anak baru yang katanya ganteng itu. Padahal lebih ganteng aku.” Jawab siswa itu dengan menekan kata ‘ganteng’ sambil mengusap-usap lengannya yang di cubit.
Anggi terkejut bahwa yang sakit itu adalah Jaelani. Secepat kilat Anggi menuju tempat Jaelani. Teman-temannya heran dengan tingkah Anggi yang mendadak itu. Mereka saling menatap satu sama lain, dan kemudian berbisik. Ternyata apa yang mereka pikirkan itu sama.
“Nah kan... akhirnya Anggi sold out haha.” Ucap salah satu siswi.
“Hah... aku yang di deketnya selama setaun kalah sama anak baru, yang baru masuk dua bulan. Gila emang.” Ucap salah satu siswa.
“Sabar bro. Masih ada kesempatan sebelum janur kuning melengkung.” Ucap siswa yang di cubit tadi.
“Kalau janur kuning sudah melengkung?” Tanya salah satu siswi
“Hancurin pelaminannya hahaha.”
Bug bug bug bug.
Anak laki-laki itu benar-benar sedang sial. Sudah di cubit, kemudian di pukul masal oleh para siswi akibat ucapannya yang ngawur itu.
Anggi mengintip dari balik tirai. Benar itu adalah Jaelani. Anggi terlihat khawatir melihat Jaelani yang tertidur pulas itu. Wajahnya terlihat pucat meski tidak sepucat tadi saat awal masuk. Anggi sangat ragu saat ini. Ingin sekali dia duduk di sebelah Jaelani tapi, jika dia melakukan itu. Mungkin dia akan di marahi teman-temannya jika tiba-tiba ada keadaan darurat dan Anggi tidak membantu.
“Hussstt... Anggi!” Panggil salah satu siswi.
“Udah masuk aja.” Sahut siswi lainnya.
Anggi merasa senang karena teman-temannya yang peka itu. Dia mengangguk cepat dan segera masuk dan duduk di dekat Jaelani tidur. Dia memandangi wajah Jaelani dengan seksama. Dia sangat kagum dengan Jaelani. Anggi memperhatikannya sambil senyum-senyum sendiri. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang.
***
“Upacara selesai, laporan selesai, barisan di bubarkan.”
“Bubar, Jalan!”
Upacara pun selesai. Salah satu siswa yang sedang berjaga di depan tadi mendatangi Anggi sambil membawa vitamin C yang di berikan guru tadi.
“Nih Ngii vitaminnya. Jangan lupa itu tehnya di suruh minum dulu.”
“Oke.”
__ADS_1
“Duluan ya...”
Setelah temannya pergi, Anggi pun membangunkan Jaelani. Tetapi cukup sulit, karena Jaelani tidur sangat lelap. Akhirnya Anggi menggoncankan tubuhnya lebih kencang dan berhasil. Jaelani merenggangkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya.
“E-eh!” Jaelani terkejut.
“Anggi.” Ucapnya sedikit linglung.
“Nih, Jae di minum dulu.” Ucap Anggi sambil memberikan teh yang sudah dingin itu ke Jaelani.
Jaelani pun mengambilnya dan meminumnya sedikit cepat. Dia malu, karena di bangunkan oleh teman sekelasnya. Awalnya dia hanya ingin merebahkan tubuhnya saja. Tetapi, ternyata Jaelani tertidur.
“Terima kasih.”
“Nih, vitaminnya di minum ya nanti pas istirahat.” Jelas Anggi.
“O-Oh... iya.”
Anggi masih dengan senyumnya dan juga mata yang berbinar. Bagi Anggi, saat ini Jaelani terlihat tampan sekali dengan rambutnya yang acak-acakan karena tidur tadi. Sedangkan Jaelani malu dilihat seperti itu oleh Anggi.
“Ayo ke kelas.”
“Oke.”
Mereka pun kembali ke kelas bersama. Sampai di kelas, gosip pun sudah menyebar dengan cepat. Semua mata memandang ke arah mereka. Ada yang menahan senyum, ada yang sewot, ada juga yang datar-datar saja.
Jaelani merasa tidak nyaman di lihat seperti itu. Dia buru-buru duduk dan bertanya kepada teman sebangkunya Ilham.
“Ham, ada apa sih?” Tanya Jaelani penasaran.
“Ck ck ck... ada apa, ada apa.” Ucap Ilham bergaya sewot.
“Hisss... beneran gak tau.” Ucap Jaelani geram.
“Pffttt... Ganteng doang, tapi ogak peka!” Ucap Ilham.
Jaelani semakin bingung dengan jawaban Ilham. Dia benar-benar tidak tau apa yang sedang terjadi. Apakah dia melakukan kesalahan karena tidur di UKS saat upacara? Atau penyebab lainnya? Dia masih menatap Ilham berharap mendapat jawaban. Ilham yang di tatap seperti itu merasa jijik. Akhirnya dia mendorong wajah Jaelani jauh jauh darinya.
“Jijik.” Ucap Ilham kegelian.
“Makanya kenapa?” Tanya Jaelani.
“Heh! Gak usah pura-pura polos. Kamu pacaran kan sama Anggi? Kapan nembaknya?” Ucap Ilham.
__ADS_1