
Hani langsung menunjukkan gambar dari ponselnya. Tanpa basa-basi Hani meminta pak Yanto mencocokan apakah gambar di ponselnya itu sama seperti anak kecil yang selalu mengikutinya beberapa waktu lalu? Ternyata itu benar, pak Yanto pun juga heran darimana Hani mendapat gambaran itu?
“Tapi kenapa dia selalu menampakkan wajah yang menyeramkan? Dari gambar mbak Hani dia terlihat seperti anak yang manis?” Pikir pak Yanto.
“Mbak Hani gak aneh-aneh kan?” Tanya pak Yanto khawatir.
“Binggo! Kalau benar berarti???”
Ekspresi Hani langsung berubah seketika. Terlintas banyak kenangan di dalam otak Hani. Mulai dari beberapa penampakan di dalam mimpi Hani, saat Hani bertanya-tanya kepada pak Yanto mengenai ciri-ciri Kiki, hingga sekarang. Dia tidak menduga bahwa selama ini anak yang membututi nya adalah anak yang sama seperti gambar.
Tidak hanya kenangan itu, perasaan Hani juga kembali muncul. Perasaan kecewa, marah, di tinggal oleh orang terkasih, di kasihani dan takut bercampur menjadi satu. Itu semua pernah Hani rasakan melalui mimpinya.
“Jadi selama ini dia itu anaknya budhe Inem ya pak? Kenapa dia mengikuti ku? Bukan budhe Inem? Bapak kan pernah bilang kalau anak ini nempel saya terus, masa bapak gak ngeh? Terus masak bapak gak tau dia anak budhe Inem?” Tanya Hani bertubi-tubi.
Pak Yanto hanya terdiam mendengarnya. Meski dalam hatinya, dia merasa kesal selalu di anggap serba tahu padahal dia adalah manusia yang tetap memiliki keterbatasan.
“Saya manusia mbak Hani. Bukan orang yang serba tahu kayak internet.” Ucap pak Yanto santai.
Hani terkejut dan merasa bersalah juga telah bertanya seperti itu, dia langsung memikirkan bagaimana reaksi budhe Inem jika tau itu? Tetapi, secara logika, dia tidak bisa menerima karena harus memberikan bukti nyata. Terlebih sekarang yang di ketahui tidak semua orang mengetahuinya dan mampu mengetahuinya. Tidak semua orang percaya akan penglihatan indra ke enam.
Tiba-tiba ada angin dingin berhembus menembus kulit Hani. Dan perasaannya tiba-tiba mengatakan untuk segera masuk ke dalam kamar. Tanpa berpikir panjang dia mengikuti instingnya. Dia merasa sedang kedinginan juga karena sudah malam.
“Ya udah pak Yanto terima kasih.” Ucap Hani berlalu pergi.
“Lah mbak dulu kan juga pernah tanya? Ah udah lah. Mungkin dia lupa. Memang yang namanya penasaran gak bisa di hentikan dengan mudah. “ Ucap pak Yanto perlahan karena Hani semakin menjauh.
Pak Yanto masih bingung dan penasaran apa yang akan Hani lakukan. Serta, dia juga bertanya-tanya kenapa anak itu malah menghantui Hani? Dan apakah budhe Inem mengetahui itu? Ingin sekali rasanya menyelidiki. Tetapi, dia sadar diri dan juga tidak ingin terlibat masalah karena dia masih awal bekerja di sini.
***
Di dalam kamar Hani.
Hani masih menatap sketsa di layar ponselnya. Dia tidak menduga bahwa ternyata seperti itu. Tetapi, masih ada pertanyaan besar di dalam pikiran Hani. Apa yang terjadi kepada anak itu? Serta kenapa anak itu membututi dia? Jika memang anak itu adalah anak budhe Inem, kenapa tidak mengikuti budhe Inem saja?
Kemudian, dia juga ingat dalam mimpinya Kiki pernah memanggil ‘mama’ padahal berdasarkan cerita budhe Inem dia selalu membiasakan anaknya memanggil dengan ‘ibu’. Siapa mama yang di maksud?
“Kenapa ini sangat rumit?” Pikir Hani.
Bruk!
Tiba-tiba boneka panda besar dari Adit jatuh dari tempatnya. Hani cukup terkejut, tapi belum sempat menoleh dia di kejutkan lagi dengan perubahan suhu di dalam kamar serta pandangannya yang mulai buram secara tiba-tiba.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, pandangannya kembali menjadi normal. Dia mengerjap beberapa kali agar matanya bisa fokus seperti sedia kala. Namun, betapa terkejutnya dia. Badannya tidak bisa bergerak kecuali mata dan mulutnya, rasanya semua kaku dan berat.
“Kenapa ini?” Ucap Hani panik.
Kepanikan Hani memperparah keadaanya. Semakin dia panik, semakin dia terasa tertekan dan berat. Suhu di ruangan ini yang berubah menjadi dingin membuat Hani semakin merasa mati rasa.
“Hahahaha.”
Tidak lama terdengar suara tawa yang tidak asing. Yah, benar itu suara Kiki. Hani semakin ketakutan karena dia tidak bisa lari dari sini. Teringat beberapa peristiwa menyeramkan yang menimpanya ketika dia di ganggu arwah Nana.
“To-tolong... jangan ganggu aku. Aku aku aku berjanji tidak akan mengulik kisah mu lagi. Aku akan diam saja. Tolong aku. Mama.” Ucap Hani gemetar sambil menutup mata,
Wuss
Angin dingin itu perlahan menjadi hangat dan kembali ke suhu normal. Bibir Hani tidak berhenti berkomat-kamit membaca doa. Doa apa saja. Saat dia merasa suhu kembali normal. Dia membuka matanya.
Dia bisa melihat sosok anak kecil dengan badan setengah membusuk, rambutnya yang pendek kumal serta adan putih-putih di atas kepalanya, dan juga di badannya juga terlihat ada beberapa memar, bekas cambukan.
“Iya ini, ini persis dengan yang pernah di katakan pak Yanto.” Ucap Hani dalam hati,
Beberapa detik kemudian anak itu berubah menjadi anak yang manis dengan baju yang sederhana, rambutnya tertata rapi, wajahnya pucat dengan kulitnya yang bersih dari memar. Kini, anak itu menjelma seperti sosok yang pernah Hani gambar.
“Siapa dia sebenarnya?” Gumam Hani.
“Huhuhu.”
Kemudian, terdengar suara anak itu menangis memilukan. Entah kenapa hati Hani ikut merasa sedih dan juga sesak, bahkan semakin lama semakin sakit hingga membuat Hani kesulitan bernapas. Namun, anehnya badan Hani mulai bergerak kembali. Dia bergegas bangkit dan ingin keluar dari kamarnya.
“Mama!” Teriaknya.
Begitu Hani membuka pintu, matanya melotot bukannya keluar dari kamar tetapi dia malah berada di balkon kamarnya. Hampir saja Hani terjun ke bawah karena tadi lari begitu kencang. Dengan tangannya yang kedinginan dan gemetar Hani mencengkram kuat pembatas balkon kamarnya dan kakinya berusaha perlahan mundur dari area yang berbahaya itu.
“Aku gak mau mati.” Ucap Hani semakin ketakutan.
Bruk!
Hani terpeleset dan terjungkal, walau pun terjungkal keras badan Hani tidak terasa sakit. Dia menatap keselilingnya, berharap yang dia alami tidak nyata. Namun tiba-tiba Kiki melayang dan berhenti tepat di depannya dengan wajah yang pucat dengan ekspresi menyedihkan.
“Aaaaa.” Teriak Hani terkejut.
Reflek kedua tangannya menutupi matanya. Hani berdiam beberapa saat, kemudian mencoba membuka kedua tangannya.
__ADS_1
“Aaaaa!”
Ternyata Kiki masih di sana. Dengan segenap keberaniannya, Hani bertanya apa mau Kiki. Hani meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak takut kepada sosok di depannya itu. Dia sudah pernah bertemu dengan sosok yang lebih kejam dari Kiki meski penampakkannya tidak begitu menyeramkan seperti Kiki. Bukannya menjawab Kiki malah menatap Hani datar dengan kepalanya yang perlahan miring ke samping, matanya melirik ke arah pak Yanto.
“Jangan bertanya apapun ke orang itu tentang aku. Aku mohon.” Ucap Kiki memelas.
Hani terkejut dengan perubahan itu.Tadi Kiki terlihat menyeramkan, tetapi sekarang. Dia terlihat memelas di tambah lagi wajahnya yang pucat dan kesakitan, membuat Hani tidak tega. Namun, dia harus tetap waras. Dia tidak ingin hal seperti dulu terjadi lagi. Apalagi mengancam nyawa kedua orang tuanya.
“Aku tidak akan seperti itu. Aku tidak sejahat dia. Aku hanya ingin menemukan tubuhku.” Ucap Kiki seolah dia tau apa yang ada di pikiran Hani.
“Hah? Kamu tau Nana?” Ucap Hani semakin berani.
Kiki mengangguk, dia juga menceritakan bahwa dia sudah mengenal Nana sejak awal dia datang ke rumah itu. Hanya saja auranya sangat menyeramkan karena sifatnya yang sombong dan keras. Kiki hanya bisa menatap dari jauh. Dia juga tau sosok Kenzo yang dulu menempel ke Hani.
Kiki selalu mengikuti perkembangan sosok itu, hingga sosok itu menghilang dan tidak kembali ke rumah. Kiki yang penasaran mencoba mencari tahu dengan menganalisa sendiri berdasarkan percakapan Beni dan Ratih.
Awalnya dalam benak Kiki dia berpikir bahwa Nana sudah kembali ke alamnya karena menemukan pembunuhnya karena memang dari awal Nana ingin Hani menemukan pembunuhnya. Namun, pada akhirnya dia tau jika Nana adalah korban tumbal yang sedang mencari korban selanjutnya.
Kiki mengetahui itu ketika dia mendengar percakapan Stevan saat dia berkunjung ke rumah Hani untuk minta maaf. Ternyata, Stevan lah yang menyarankan temannya untuk menumbalkan Nana anak angkatnya itu.
Kiki juga menceritakan bahwa dia ingin bertemu Stevan untuk mencari tahu dimana tubuhnya di sembunyikan. Namun, ada sosok lain yang menghambat Kiki. Jadi jalan lainnya dia ingin mencari tahu melalui istrinya bunda Eka. Makanya, dia berusaha membuat Hani mencaritahu siapa Della agar dia bisa bertemu dengan bunda orang yang dulu pernah merawat Kiki.
“Tapi, aku ingat jelas kamu pernah memanggil mama. Siapa dia?” Tanya Hani tegas karena dia pernah memimpikan itu. Dia ingat jelas dia memanggil ‘mama’. (bisa baca di episode 22 kalau lupa)
Kiki menjelaskan wanita itu adalah istri pertama Stevan. Dia lah orang yang mengajak Kiki untuk membeli mainan. Tetapi setelah Wanita itu meninggal, Kiki di rawat oleh Bunda Eka. Istri ke dua Stevan. Istri keduanya pun juga pernah di aniaya tapi tidak sampai meninggal bahkan masih hidup sampai sekarang.
“Ini sungguh gila.” Umpat Hani dengan penuh amarah.
“Aku mohon bantu aku.” Ucap Kiki memelas.
Hani yang merasa kasih pun terlena. Dengan sedikit kesadaran, dia mengangguk begitu saja. Kemudian, pandangan Hani menjadi gelap.
***
Di tempat lain.
Ada seorang yang sedang kesal dan mengumpat dengan keras. Dia tidak lain adalah Tony, dia begitu kesal karena boneka yang berisi kamera kecil di dalamnya jatuh, sehingga dia tidak bisa melihat pergerakan Hani. Padahal tadi dia sangat penasaran apa yang membuat Hani mengeluarkan ekspresi serius ketika melihat layar ponselnya.
“SIAL!” Umpat Tony.
“Kapan Adit sembuh?! Pokoknya dia harus tau apa yang membuat Hani sampai seserius itu!” Ucapnya kesal.
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, dan komentarnya~