Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 27


__ADS_3

“Sebenarnya ada apa sih?” Tanya kakaknya.


“Kak... balik aja deh. Aku traktir.” Ucapnya.


Merasa sangat curiga dengan tingkah adiknya. Kakak Jaelani menghentikan langkah adiknya. Dia memutar badan adiknya, melihat dari atas ke bawah. Namun, dia tidak menemukan sesuatu yang aneh.


“Apa sih?” Kesal Jaelani.


“Kamu yang apa sih?” Tanya kakaknya balik.


Jaelani yang kehabisan akal pun mengatakan sejujurnya apa yang ingin dia lakukan di kantin. Takut kakaknya marah, dia bercerita sambil menunduk. Membuatnya terlihat lucu bagi kakaknya.


“Oke, nanti kenalin ke Hani ya.” Ucap kakaknya sambil mengedipkan satu matanya.


Kakak Jaelani awalnya sama seperti Mia menentang Jaelani berteman dengan Hani. Namun, setelah Jaelani menceritakan apa yang dia alami dengan Hani membuat kakaknya paham dan bisa menerima Hani.


Sampai di kantin.


Jaelani sudah menemukan dimana Hani duduk. Tapi dia ragu saat akan mendatanginya. Terlebih ada pak Rian di sana.


Sedangkan Hani masih belum sadar keberadaan Jaelani, hingga pak Rian memberitahunya. Tanpa berpikir lagi, Hani melambai sambil tersenyum ke arah Jaelani. Dia tidak memperhatikan perempuan yang berdiri di sampingnya. Matanya hanya terfokus pada Jaelani. Tidak lama Jaelani datang. Matanya membelalak melihat perempuan di sampingnya mengikuti Jaelani.


Dadanya tiba-tiba sakit seperti nyeri dan sesak. Wajahnya yang awalnya ceria berubah menjadi datar. Di dalam pikirannya banyak pertanyaan tentang perempuan di samping Jaelani. Apa lagi, Jaelani menarik kursi untuk perempuan itu. Melihat itu, dada Hani semakin sesak.


“Hai Han. Pak Rian.” Ucap Jaelani.


“Hai.” Jawab Hani datar.


Kakak Jaelani yang mendengar nada datar itu membuatnya semakin gemas ingin menggoda anak perempuan yang duduk di depannya itu. Dengan sengaja dia memegang lengan Jaelani dengan mata masih menatap Hani. Terlihat ekspresi cemburu di wajah Hani. Kakak Jaelani pun menahan tawanya.


Jaelani yang merasa lengannya di sentuh pun menoleh. Dia melihat kakaknya menyentuh tangannya tapi matanya mengarah ke Hani. Reflek Jaelani juga menatap ke arah Hani. Tiba-tiba terukir senyum yang lebar di wajah Jaelani di tambah lesung pipitnya yang menambah Jaelani terlihat manis. Sedangkan pak Rian hanya kebingungan menatap dua sejoli di depannya itu.

__ADS_1


“Nih!” Ucap Hani tiba-tiba.


Hani memberikan buah yang dia bawa. Dia menaruhnya tepat di depan Jaelani dengan wajah judesnya.


“Semoga papa kamu cepat sembuh ya.” Ucap Hani datar.


Hani hendak beranjak, tapi tiba-tiba tangannya di tahan oleh perempuan yang duduk di dekat Jaelani.


“Terima kasih ya udah perhatian ke papaku.” Ucap kakak Jaelani lembut.


Seketika Hani kebingungan dengan ucapan perempuan itu. Dia melihat perempuan itu tulus mengatakan ucapan terima kasih. Ekspresi cemburu tadi berubah seketika.


“Maafin mamaku yang selalu marah sama kamu. Adikku beruntung banget ya punya teman kayak kamu.” Ucapnya lagi.


“Adik?”


“Iya... aku kakaknya Jaelani. Namaku Azzahra biasa di panggil Ara.” Jelas Azzahra.


“Ah hai kak Ara.” Ucap Hani canggung.


“Terima kasih banget kamu udah perhatian sama keluargaku. Tapi... ah... aku denger kamu sering bawain buah ya beberapa hari ini. Makasih ya. Tapi, kamu gak usah repot- repot bawa buah setiap hari. Kan aku jadi gak enak. Perhatian kamu aja udah lebih dari cukup.” Ucap Azzahra dengan menggengam tangan Hani lebih erat.


Seketika perasaan Hani kecewa karena merasa di tolak oleh kakak Jaelani. Tersirat sedikit kesedihan di wajahnya. Melihat itu Azzahra buru-buru meminta maaf. Dia benar-benar tidak bermaksud menyakiti. Tapi dia hanya berkata jujur. Azzahra memang orang yang tidak pandai basa-basi. Dia sering mengatakan apapun yang ada di pikirannya tanpa di saring lagi.


Hani pun memaafkannya. Di senang ternyata, dia tidak di tolak. Hanya saja mungkin perbuatannya juga berlebihan. Bahkan dia juga ingat, budhe Inem juga menyarankan untuk tidak mengirim terus-terusan. Kini dia tersadar perbuatannya itu memang salah, karena berlebihan.


Akhirnya mereka berbicang-bincanag santai di sana. Tetapi, tidak di sangka Mia datang menghampiri Jaelani dan Azzahra. Melihat itu Hani ketakutan dan pak Rian siap siaga.


“Kakak, adek. Ayo balik sekarang!” Ucap Mia tegas.


Mereka terkejut tidak menyangka mamanya menyusul. Jaelani meminta waktu sebentar untuk beli makanan karena memang dia lapar, di susul kakaknya juga. Mia masih berdiri di depan Hani sambil menatapnya tajam. Setelah itu Jaelani dan Azzahra kembali sambil membawa bungkusan dari Hani.

__ADS_1


“Apa itu?” tanya Mia ketus karena tau itu dari meja di depan Hani.


“Ini tu, tadi kakak beli di pedangang keliling yang biasanya pagi keliling di rumah sakit.” Jelas Azzahra.


Mia pun mengangguk dan mengandeng kedua anaknya untuk kembali ke kamar. Awalnya Mia berniat untuk memberikan anak-anaknya camilan. Namun, karena kejadian tidak terduga ini Mia kembali dengan tangan kosong. Padahal dia sudah susah payah meminta pertolongan suster Sari untuk menitipkan suaminya.


Hani melihat kepergian Jaelani, Azzahra dan Mia dengan sendu. Dia tau, suatu saat akan ketauan. Ternyata tidak butuh waktu lama. Sepertinya tuhan tidak mendukung Hani untuk dekat dengan Jaelani. Tapa terasa Hani menangis karena kecewa akan pikirannya sendiri.


Melihat itu pak Rian kebingungan dan berusaha menghentikan tangis Hani dengan menepuk-nepuk punggungnya.


“Kenapa nangis mbak?” tanya pak Rian.


Karena pertanyaan itu tangis Hani semakin pecah. Dia menangis lebih keras hingga sesengukkan. Pak Rian yang panik karena jadi pusat perhatian hanya bisa menepuk-nepuk punggung Hani sambil berlaga bahwa semua baik-baik saja meski hatinya terguncang panik. Setelah Hani merasa tenang, pak Rian mengajaknya pulang.


Di ruang rawat inap.


Mia datang dengan ekspresinya menyeramkan. Bahkan terlihat dia menyeret Azzahra dan Jaelani, membuat suster Sari ketakutan.


“Terima kasih ya suster.” Ucap Mia.


“Sama-sama. Saya permisi dulu.” Ucap Sari dan terbirit-birit pergi.


Setelah suster Sari pergi. Mia menatap tajam Azzahra dan Jaelani dengan tajam. Dia tidak habis pikir kenapa anak-anaknya bertemu dengan anak yang dia sebut ‘anak pembawa sial’ itu. Mia menunggu penjelas dari anak-anaknya.


“Ke-na-pa ma?” Tanya Deden dari tempat tidurnya.


“Gak kok pa... biasa anak-anak bertengkar di depan umum. Kan bikin malu pa.” Ucap Mia bohong.


Jaelani dan Azzahra hanya bisa menunduk pasrah. Mereka sedang memikirkan bagaimana cara menjawabnya.


“Katanya lapar. Makan dulu sana.” Ucap Mia.

__ADS_1


Jaelani dan Azzahra mengangguk dan makan. Saat makan mereka saling melirik satu sama lain. Meski hanya saling melirik, mereka memiliki pemikiran yang sama yaitu berkata jujur dan berharap bahwa mamanya membuka hatinya untuk Hani. Mereka ingin mamanya tidak menuduh orang lain hanya karena kesialan yang menimpa keluarganya.


__ADS_2