
Hani masih membasahi kain dan mengangguk-angguk paham jika hanya dia saja yang tau tentang hal itu. Kemudian, dia berjalan ke ruang tamu untuk mengepel tempat itu. Sambil mengepel Hani mengomel seperti sedang mengomeli adiknya.
“Kamu itu ya! Kalau nulis ya di kertas aja. Kenapa sampai ke lantai sih? Kan capek tau bersihinnya. Mana pakai pulpen lagi. Saat kamu masih hidup...”
Tiba-tiba Hani teringat mimpi kemarin malam. Seketika itu juga dia merasa merinding. Dia juga ingat mendengar suara Kiki di sana. Apakah Kiki masuk kedalam mimpinya untuk menggangunya? Atau malah Kiki itu memberi petunjuk kepada Kiki karena kemarin dia ingat bertanya apa kemauan Kiki?
Wuss....
Saat memikirkan itu, Hani merasa ada yang meniup leher belakangnya. Reflek dia menoleh ke belakang dan ternyata di sana tidak ada apa-apa. Memang saat ini Hani merasa ketakutan, matanya memeriksa seluruh penjuru ruangan itu, memastikan bahwa dia itu sedang sendirian di sana atau ada orang lain.
Suasana menjadi aneh, bahkan mengerikan. Berada di ruang tamu yang luas serasa seperti berada di dalam ruangan yang sempit kedap udara. Karena lama kelamaan Hani merasa kesulitan bernapas hingga jantungnya berdetak tak karuan.
“Tenang Hani.” Ucapnya mencoba menenangkan diri.
“Mungkin aku lelah karena kurang tidur.” Ucap Hani mencoba untuk berpikir positif.
Tanpa basa-basi Hani segera menyelesaikan pekerjaannya meski tidak sebersih budhe Inem. Dia langsung ke belakang untuk mencuci kain itu dan pergi untuk tidur.
***
Tidak terasa sudah sore. Pagi tadi, Hani tidur tidak nyenyak lagi. Dia tidak bermimpi aneh-aneh tapi, dia sangat gelisah sehingga masih terbayang-bayang mimpi kemarin. Bahkan dia juga meminum obat tidur yang dia ambil diam-diam di kamar orang tuanya. Karena dia tau, kadang Beni meminum obat itu tengah malam. Tetapi, obat itu tidak mempan.
Seperti biasanya sebelum melakukan belajar privat. Hani mempersiapkan semuanya di meja ruang tamu. Tidak lupa dia menaruh kertas, pensil 2B dan penghapus di sudut ruang tamu. Dia tidak tau Kiki mau ikut belajar atau tidak. Yang pasti dia ingin antisipasi agar belajarnya tenang dan Adit juga nyaman.
Tok tok tok.
Ceklek.
Pintu terbuka, Hani sudah siap dan duduk di lantai dengan kedua lengannya dia taruh di meja ruang tamu. Namun, yang hadir bukan Adit melainkan Jaelani.
__ADS_1
“Hai.” Sapa Jaelani.
Deg!
Hani terkejut, tidak di pungkiri jantungnya berdetak tidak karuan. Ingin sekali mulutnya tersenyum melihat Jaelani. Tapi, dia menahannya sehingga wajahnya terlihat aneh dan kaku.
“Ha-i” Jawab Hani.
Jaelani datang dengan seragam lengkap bersama tasnya. Dia menyangklong tas punggungnya di sampping, rambutnya berantakan serta wajahnya yang terlihat kusam. Yah terlihat seperti anak SMA yang lelah setelah pulang sekolah pada umumnya. Meski terlihat berantakan, bagi Hani, Jaelani terlihat keren.
“Saya permisi dulu mbak Hani.” Ucap pak Herdi.
Hani hanya mengangguk dan tersenyum lebar. Karena hanya ini kesempatan Hani untuk melepaskan senyumnya yang tertahan tadi. Kemudian, Hani mempersilahkan Jaelani untuk duduk.
“Ada apa Jae?” Tanya Hani santai meski dalam hati begejolak, kali ini dia tidak mampu menahan senyumnya.
Di sisi lain, Jaelani hampir bengong karena terpesona oleh senyum Hani yang manis. Terlebih Hani terlihat segar seperti baru saja mandi.
Hani mengangguk senang. Sedetik kemudian, dia ingat belum menyuguhkan Jaelani minuman. Kebetulan di meja sudah tersedia semua tinggal di tuang saja. Hani langsung menuang jus aple itu dan memberikannya kepada Jaelani. Dan Jaelani menerimanya dengan senang hati.
“Permisi.”
Adit pun datang. Dia juga tidak kalah berantakannya. Dia membawa tas punggung yang terlihat sangat berat degan jaket yang di buka resletingnya. Dia menyapa Hani dengan senyum yang terlihat cukup lelah. Hani pun memintanya untuk segera duduk. Tidak lupa Hani menuangkan jus apel dan memberikannya kepada Adit.
“Kak Adit capek banget ya?” Tanya Hani basa-basi.
Mendengar itu seketika Jaelani menatap Hani sedikit melotot. Padahal dia juga mati-matian terlihat tidak lelah agar terlihat seperti laki-laki yang kuat. Eh malah Hani perhatian kepada orang asing itu yang terlihat tidak selelah Jaelani. Dia menyesal, harusnya dia tampil apa adanya tadi.
“Gak kok.” Jawab Adit dan tersenyum.
__ADS_1
“Senyum-senyum segala.” Gumam Jaelani tidak sadar.
Seketika Hani dan Adit menatap Jaelani. Mereka tidak begitu mendengar jelas ucapan Jaelani. Mereka juga melihat Jaelani sedang menatap Adit.
“Kak... ini Jaelani, dia...” Ucap Hani terpotong karena bingung menjelaskan siapa Jaelani.
“Temannya di sekolah SMA Dahlia dulu.” Sahut Jaelani cepat tanpa ragu.
Adit lagi-lagi tersenyum dan mengangguk meski jauh dalam dirinya terucap penuh sumpah serapah untuk mereka berdua. Karena, dia ingat cerita Tony ketika Jaelani dan Hani kepergok menguping di rumah sakit dulu.
“Oh teman.” Ucap Adit sengaja menekan kata teman karena Adit sudah tau jika Jaelani ada perasaan yang di pendam saat melihat tatapannya yang tajam itu.
“Saya Adit, guru privatnya Hani.” Ucapnya ramah dan mengulurkan tangannya.
Hani yang berada di tengah hanya bisa menatap keduanya bergantian karena uluran tangan Adit tidak di balas oleh Jaelani. Jaelani malah melengos menatap lengannya berdalih melihat jam tangannya. Dengan tersenyum penuh kemenangan Adit menarik uluran tangannya.
“Hah! Bayi!” Pikir Adit.
Karena suasana menjadi sangat canggung. Hani berusaha mencairkan suasana dengan menawarkan makanan di meja kepada Adit dan Jaelani. Tetapi, upayanya tidak berhasil. Jaelani masih dengan ekspresinya yang kesal, dan marah itu. Sedangkan Adit dengan santainya mengeluarkan laptop dan beberapa buku tambahan.
“Bisa kita mulai belajarnya Hani? Lima jam itu cepet loh. Apalagi biasanya kalau malam itu waktu berasa cepat gitu.” Jelas Adit.
“Ntar gak kerasa udah jam delapan malam.” Lanjutnya.
Hani hanya tersenyum karena bingung harus berbuat apa? Belajar atau menemani Jaelani mengobrol? Hani terlihat cukup gelisah sehingga akhirnya Jaelani berpamitan untuk pulang. Dia berpamitan begitu singkat dan langsung pergi tanpa melihat wajah Adit dan sedikit menghiraukan Hani.
Melihat itu Hani merasa sedih karena di abaikan. Tapi memang Jaelani datang di saat yang tidak tepat. Dia pun mulai belajar dengan wajah yang sedikit sedih dan lesu.
Sedang Jaelani di luar, mengacak-acak rambutnya karena kesal. Dia pikir kelakuannya tadi sangat kekanak-anakan. Dia juga menyesal tidak menghiraukan Hani. Tapi, dia juga marah kepada Adit yang baginya sok pintar itu.
__ADS_1
“Songong banget sih tu cowok! Ishhh!!” Gerutu Jaelani.