
Setelah Adit pulang di jemput entah siapa Hani kembali masuk dan mengemasi beberapa buku yang mungkin masih bisa di selamatkan. Untuk beberapa buku yang basah langsung di bawa ke dapur. Setelah itu, Hani menuju kamarnya untuk mengambil hair dryer dan kembali ke dapur untuk mengeringkan beberapa buku.
Sampai dapur Hani mengeringkan lembar per lembar dengan sabar di temani budhe Inem di sana. Sambil mengeringkan mereka mengobrol. Topik mereka sangatlah acak, mulai dari masakan, pengalaman hidup budhe Inem, perbedaan jaman dulu dan sekarang dan berakhir dengan keluarga.
Hani mengatakan sangat bersyukur berada di keluarga ini. Rasanya hangat dan nyaman meski sekarang dia sedang mengalami hilang ingatan. Terlihat raut sedih di wajah Hani. Dia tiba-tiba ingat beberapa mimpinya beberapa hari yang lalu. Bahwa dia ingat Ratih dan Beni di rawat di rumah sakit.
“Budhe tau gak kenapa mama sama papa dulu pernah koma?” Tanya Hani tiba-tiba.
Budhe Inem terkejut dan kebingungan mau menjawab apa. Dia takut akan salah menjawab. Dalam pikiran budhe Inem sepertinya Hani sudah mulai ingat. Dengan kepala dingin dan hati-hati budhe Inem mencoba menjawab pertanyaan Hani.
Tidak sampai di situ, Hani terus bertanya kepada budhe Inem, bahkan dia juga bertanya kapan Hani mengenal Jaelani? Kapan Hani pindah rumah? Kapan Hani hilang ingatan? Padahal sebenarnya Hani sudah tau jika dia hilang ingatan karena kecelakaan mobil. Tetapi, itu hanya berdasarkan jawaban Beni yang bukan sebenarnya. Karena Ratih sengaja menyembunyikan kejadian kejam yang menimpa Hani kala itu.
Waktu itu Beni dalam keadaan kritis menuju normal. Setelah Beni mulai normal Ratih mencari Hani tapi malah mendapatkan informasi Hani masuk IGD dengan luka di belakang kepala akibat benturan dengan benda tumpul. Saking takutnya Ratih hanya bertanya kepada Jaelani saja apa yang terjadi tanpa menyelidiki kebenarannya. Jaelani hanya menjelaskan menemukan Hani berjalan dengan kepala berlumuran darah, di sekitar markas Tony dan Tina yang menjadi buron. Semua masih menjadi misteri bagi Ratih. Maka dari itu Ratih berniat menyimpan semuanya sendiri. Dia tidak ingin Hani trauma jika ingat kejadian naas itu.
Budhe Inem menjawab dengan hati-hati. Dia juga menjawab seperlunya saja tanpa bercerita lengkap takut jika terjadi salah tafsir karena sudut pandang budhe Inem saja. Beberapa hari lalu, Ratih sudah memberi peringatan kepada budhe Inem jika sewaktu waktu Hani bertanya. Budhe Inem harus menjawab sesingkatnya saja. Selain itu, Ratih juga meminta budhe Inem untuk selalu menemani Hani sampai Ratih dan Beni datang.
Tiba-tiba kepala Hani mulai pusing kembali. Bayangan demi bayangan melintas di pikiran Hani. Bayangan rumah sakit, wajah Della, Viola, Galih, Jaelani, rumah markas Tony serta samar-sama wajah orang lain.
“Aaduuuh....” Hani merintih sambil memegang kepalanya.
Reflek Hani menjatuhkan hair dryer yang di pegang dan hampir mengenai kakinya. Budhe Inem sudah takut akan terjadi apa-apa kepada Hani. Dia merintih kesakitan, kepalanya terasa sangat pusing seperti berputar-putar. Hani mulai kehilangan keseimbangan dan jatuh. Budhe Inem belum sempat menangkap tubuh Hani dan kepala belakang Hani langsung membentur lantai membuat Hani tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Budhe Inem panik, dia berlari ke pos satpam memanggil pak Yanto yang sedang bertugas. Budhe Inem menjelaskan secara cepat tapi pak Yanto malah tidak fokus dengan ucapan budhe Inem. Dia malah fokus ke Kiki yang berdiri di samping budhe Inem. Baru kali ini pak Yanto melihat Kiki dengan wajah yang biasa tidak mengerikan. Wajahnya terlihat mirip dengan budhe Inem.
“Heehh! Yanto malah ngelamun. Piye to iki?!” Ucap budhe Inem geram.
“Gimana mbak Inem?”
Budhe Inem semakin geram dengan wajah pak Yanto yang terlihat linglung itu. Dia langsung menarik pak Yanto sekuat tenaga. Menyeretnya masuk menuju dapur tanpa berkata. Sedangkan pak Yanto sibuk bertanya sepanjang jalan tentang apa yang terjadi.
Begitu sampai dapur. Pak Yanto terkejut melihat Hani terkapar di lantai. Reflek pak Yanto memanggil nama Hani sekeras mungkin tapi tidak ada jawaban darinya. Budhe Inem mengangkat kaki Hani agar sirkulasi darah Hani lancar. Ini yang dia pelajari dari Beni. Tetapi tetap tidak ada respon dari Hani.
Beruntung pak Yanto membawa ponselnya di saku. Dia langsung memesan taksi online dengan rute menuju rumah sakit. Budhe Inem hanya bisa menangis melihat keadaan Hani. Dia takut bahwa karena jawabannya membuat Hani semakin parah dan mengalami trauma seperti yang di takutkan oleh Ratih.
Tidak lama kemudian taksi yang di pesan datang. Pak Yanto meminta budhe Inem mempersiapkan diri sementara pak Yanto mengendong Hani ke depan. Sampai di depan pos satpam pak Yanto berhenti menunggu budhe Inem. Tidak lama kemudian terlihat budhe Inem berlari membawa tas kecil dan langsung menuju gerbang dan membukanya. Pak Yanto bergegas memasukkan Hani kedalam mobil di susul budhe Inem.
Mobil pun bergegas menuju rumah sakit terdekat. Pak Yanto menatap mobil itu yang semakin menjauh sambil mencoba menghubungi Beni. Panggilan pertama tidak terjawab. Akhirnya dia memilih memanggil Ratih dan langsung tersambung. Pak Yanto menjelaskan secara singkat apa yang terjadi kepada Hani. Ratih langsung panik. Dia meminta pak Yanto untuk siap siaga di rumah. Bila perlu meminta pak Yanto menghubungi pak Herdi untuk meminta bantuan.
***
Di kantor.
Ratih langsung menuju ruang rapat untuk menemui Beni. Dia menerobos dengan kasar hingga pintu ruang rapat terpental dan membuat beberapa orang yang rapat di sana terkejut. Ratih mendatangi Beni dengan berlinang air mata. Terlihat wajah panik di keduanya. Di tengah rapat ini Beni langsung meminta untuk di tunda rapatnya karena ada keadaan darurat. Beberapa investor dan karyawan pun menyetujuinya meski terlihat beberapa orang yang tidak sepakat.
__ADS_1
Beni dan Ratih bergegas meninggalkan ruang rapat. Beberapa investor dan karyawan ikut membubarkan diri. Tersisa satu orang yang sedang mengemas beberapa dokumen dengan santai. Laki-laki itu perlahan mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang sambil mengawasi keadaan sekitar.
“Hallo buk. Keadaan sesuai rencana pak Beni dan istrinya terlihat panik dan menunda rapat.” Ucap pria itu.
“Baik bu.”
Setelah menelepon pria itu pergi meninggalkan ruang rapat. Ekspresinya begitu senang karena beberapa setelah menelepon ponselnya berbunyi pertanda ada email yang mengatakan bahwa ada transfer masuk ke rekening banknya. Dia tersenyum puas karena kerja kerasnya.
Di sisi lain gedung.
Tina mengawasi keadaan sekitar menggunakan baju serba hitam, topi dan masker hitam. Dia menunggu beberapa saat dan melihat mobil Beni keluar dengan kecepatan tinggi. Tina tersenyum senang karena dia rasa rencananya berhasil meracuni Hani. Dengan tidak sabar dia ingin menghubungi Tony. Tetapi ternyata Tony sudah menghubunginya duluan.
“Ada berita bagus.” Ucap Tina tidak sabar.
“Hah?” Terdengar suara Tony kebingungan karena di dahului oleh Tina.
“Beni dan Ratih keluar buru-buru. Bahkan rapat juga di tunda karena ada keadaan darurat. Rencana kita berhasil hahaha”
Tina tertawa terbahak-bahak sambil berjalan santai menuju mobil. Dia sangat ingin segera pulang dan tidur di kasurnya yang empuk setelah beberapa jam duduk menunggu orang panik keluar. Dan di tengah-tengah perjalanan Tina berteriak.
“APA?!”
__ADS_1
~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~