
Dua hari telah berlalu, Hani membutuhkan waktu istirahat selama dua hari. Selama dua hari, Hani hanya olahraga ringan, melukis dan berkebun. Tidak ada kegiatan yang membuat Hani berpikir terlalu berat seperti belajar les privat karena kepala Hani masih kadang masih terasa pusing. Hanya itu yang membuat Hani melepas sementara penatnya.
Hari ini adalah hari Rabu. Pagi ini Hani bisa sedikit santai karena dia mulai lesnya nanti pukul tiga sore. Hani merasa harus mempersiapkan buku pelajaran. Dia mengemas beberapa buku yang ada di meja belajarnya. Saat itu meja belajarnya terlihat berantakan.
“Beresin meja aja lah. Dari pada gak ngapa-ngapain.” Gumam Hani.
Hani pun membersihkan dan merapikan meja belajarnya. Dia membuang beberapa sampah, kertas tidak terpakai, dan menumpuk beberapa buku kembali ke tempatnya. Di tengah-tengah itu Hani melihat ada buku kecil yang familiar baginya.
“Buku apa nih? Kayak pernah lihat dimana ya?” Gumam Hani lagi.
Hani mencoba berpikir perlahan-lahan. Memang sedikit pusing. Tapi Hani ingat jika buku ini sama persis dengan buku yang ada di mimpinya kemarin waktu dia di beri obat penenang.
“Ah buku itu.” Ucap Hani antusias.
Dia langsung mengambil buku itu dan membawanya ke balkon kamarnya. Di duduk dan bersender di sana sambil membaca lembar demi lembar buku diary yang dia temukan. Hani baru ingat jika dia membeli buku ini saat dia beli buku baru yang akan di pakai di sekolah SMA Dahlia.
Kemudian Hani membaca lembar terakhirnya. Dia ingat sangat jelas lembar itu persis dengan yang ada di mimpinya. Dia terkejut dan melempar buku itu. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan telinganya terasa berdengung. Bayangan bayangan mimpinya mulai kembali.
“Iya, aku ingat Della. Dia dorong aku dari kursi tanpa alasan yang jelas. Dia juga sering berteriak. Dia membuatku di benci satu sekolahan.” Ucapnya.
Tiba-tiba perasaanya berubah jadi kesal. Hani sangat kesal karena di kucilkan di sekolah. Dia juga kesal karena dia pikir semua karena Della. Namun dia masih penasaran, apa salahnya kepada Della hingga membuatnya seperti itu.
Hani pun mulai menangis. Otak dan perasaanya otomatis kembali ke masa lalunya. Dia bisa merasakan sedihnya di jauhi satu kelas. Kini dia tau alasan Jaelani merekam suara di mp3 untuk menyemangatinya. Tapi, aneh dia tidak ingat sama sekali kebaikan Jaelani. Hanya ingat Jaelani yang membantunya saat terjatuh dari kursi.
“AAAAAA” Teriak Hani frustasi.
Dia tidak habis pikir ini semua terjadi. Andai saja dia tidak hilang ingatan. Pasti semua akan baik-baik saja, pikirnya. Hani sangat kesal pada dirinya sendiri hingga memukul kepalanya sendiri. Dia juga menendang nendang tanpa arah saking kesalnya.
“Kenapa aku lupa? Ingat Han! Ingat semuanyaaa!” Teriak Hani.
“Mama... kenapa aku lupa? Mama siapa Della? Apa salahku sama Della maa.” Rengek Hani tiba-tiba.
__ADS_1
Hani menangis sampai terisak. Dia sangat kesal karena kehilangan ingatannya. Dia berusaha untuk mengingatnya hingga kepalanya pusing.
“Jaelani.” Bisik Kiki lirih sekali.
Hani terkejut, dia langsung menoleh ke kanan dan kiri. Dan tidak ada siapa-siapa di sana. Tapi Hani mendengar jelas suara itu. Kemudian, terbesit sesuatu di pikirannya. Dia pikir kenapa dia tidak bertanya kepada Jaelani? Jaelani pasti tau. Terakhir dia juga membahas Della saat lari pagi di taman.
Tanpa ragu, Hani mengambil ponselnya. Dia langsung mengirim pesan ke Jaelani. Sayangnya pesan itu masih belum terkirim karena ponsel Jaelani mati. Dia lupa jika saat ini masih jam sekolah. Hani terus mengiriminya pesan, dia yakin Jaelani akan membacanya ketika menghidupkan ponselnya.
“Yah! Pokoknya harus ketemu Jaelani.” Ucapnya.
“Semangat kak Hani. Pasti kakak akan segera sembuh.” Ucap Kiki tiba-tiba.
Hani sedikit terkejut karena rasanya sudah lama tidak berkomunikasi dengan Kiki. Dia memejamkan mata sesaat untuk mencoba merasakan dimana keadaan Kiki. Dan dia merasakan ada anak kecil berdiri di sampingnya.
“Hah...” Hani menghembuskan napas panjang.
Ingin rasanya dia berterima kasih karena sudah di beri semangat dan juga tidak di ganggu selama sakit. Tapi, otaknya masih bisa berpikir logis. Dia tidak berniat sama sekali untuk berteman dengan sosok tidak kasat mata. Akhirnya Hani hanya bisa tersenyum canggung saja.
***
“Emm Jaelani. Eee, itu aku mau tanya dong. Emmm sebenarnya. Della itu anaknya kayak gimana sih?” Tanya Hani.
Jaelani terdiam sejenak. Dia menimbang-nimbang akankah dia menceritakannya? Atau lebih baik pura-pura tidak tau. Karena ingat kejadian kemarin. Tapi, Jaelani tidak bisa mengabaikan eskpresi penasaran Hani.
“Gimana Jae....” Rengek Hani.
Jaelani masih bingung menjelaskan atau tidak. Dia takut kejadian kemarin terulang kembali. Dia masih diam membisu.
“Udah ceritain aja. Kan sekarang di rumah. Kalau ada apa-apa kan ada banyak orang di rumah.” Bujuk Kiki membisikka di terlinga Jaelani.
Jaelani menggeleng cepat. Dia tidak mau kejadi kemarin terulang. Dan Kiki tidak menyerah. Dia tetap membujuk Jaelani agar menceritakan semuanya. Dia menyakinkan Jaelani bahwa situasi saat ini adalah aman terkendali. Akhirnya Jaelani pun terlena.
__ADS_1
Jaelani mulai menceritakan sifat Della yang ceria ramah dan hal-hal baik lainnya. Jaelani sepenuhnya menjelaskan sisi positif Della. Sebisa mungkin Jaelani menghindari kenangan buruk Della dengan Hani. Dia tidak ingin Hani sakit kepala mengingat masa lalunya. Sedangkan Kiki begitu kesal karena Jaelani menjelaskan hal-hal baik.
Sret!
Tiba-tiba Jaelani merasa rambutnya di jambak begitu kasar hingga membuatnya mendongak. Reflek Jaelani menoleh kebelakang sambil mengusap kepalanya yang sakit. Tapi, di sana tidak ada orang sama sekali. Hani masih belum paham jika itu ulah Kiki. Dia hanya menatap Jaelani aneh sambil berpikir, kenapa dia?
“Ehem.” Jaelani berdehem.
Kemudian, dia meminum minuman yang sudah di sediakan. Jaelani minum sangat rakus. Sepertinya dia sangat haus.
“Kenapa Jae?” tanya Hani.
“Ah? Gak apa-apa kok. Cuman, haus. Hehe.”
Jaelani berbohong, sebenarnya dia sedang merinding ketakutan karena dia ingat ucapan Ilham. Ilham bercerita jika dia mengalami kejadian aneh ketika di rumah Hani. Awalnya Jaelani tidak percaya, tapi akhirnya dia merasakannya sekarang.
“Kenapa susah banget sih mau ketemu Stevan.” Ucap Kiki.
Hanya Hani yang mendengar suara itu. Dan Jaelani masih memuaskan rasa hausnya. Entah karena minum banyak atau takut Jaelani merasa ingin buang air kecil. Kaki naik turun begitu cepat sambil meneguk minuman.
“Stevan siapa lagi?”Gumam Hani.
Dia pikir, itu bukan suara Kiki tapi suara yang terdengar oleh telinganya. Hani seperti mengalami Skizofrenia karena terlalu di dominasi oleh ucapan Kiki ketika dia panik dan tidak bisa berpikir jernih.
Skizofrenia adalah gangguan mental yang terjadi jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan pasien mengalami halusinasi, delusi , perubahan perilaku. Gangguan ini membuat penderita tidak bisa membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri.
“Han... numpang pipis.” Ucap Jaelani.
“Iya.” Ucap Hani.
Hani meminta Hani mengantarnya karena memang dia belum pernah masuk lebih dalam. Dengan senang hati Hani mengantarkan Jaelani ke kamar mandi. Selang tidak lama kemudian, Adit datang.
__ADS_1
“Emm sepi? Hah? Pasti rencana hari ini akan berhasil.” Ucap Adit tersenyum puas tanpa melihat sekitar ruang itu.
~ Terima kasih, sudah mampir baca ~