Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Keputusan Sulit


__ADS_3

Hani mengucapkan minta maaf penuh dengan penyesalan. Bahkan dia tidak mampu menatap wajah Jaelani. Tetapi, mulutnya tidak berhenti berucap mengatakan segala penyesalannya.


“Maaf ya Jae. Dulu, waktu kita sekolah di SMA Dahlia. Sebenernya aku itu memanfaatkan mu untuk berlindung. Dan memintamu mengantarkanku ke tempat berbahaya yang mungkin tidak kamu sadari.” Ucap Hani masih dengan kepala tertunduk.


Jaelani berkrenyit, dia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, meski sebenarnya dia tidak paham apa yang di katakan Hani. Seketika Jaelani ingat kenangan terburuk bersama Hani saat berada di rumah Della. Kejadian di luar nalar yang sangat terasa nyata. Jaelani juga masih merasakan kengeriannya ketika mengingatnya. Sebenarnya, ingin sekali Jaelani bertanya apa yang terjadi kala itu. Tetapi, dia tidak punya nyali untuk menanyakan itu. Namun, akhirnya sekarang Hani mungkin bisa menjawabnya.


“Ah, aku tulus kok bantuin kamu. Jadi korban bullying itu pasti menyiksa. Jadi...” Ucap Jaelani terpotong.


Dia berpikir sejenak, jika dugaannya benar Hani sudah mengingat semua. Apakah Hani bisa menerima Jaelani yang buruk ini. Yah, Jaelani menganggap dirinya adalah penjahat karena memalsukan kesaksian. Meski Galih sama sekali tidak melibatkan Jaelani dalam penyelidikannya. Jaelani tetap merasa bersalah.


Terlebih dulu, Hani menjadi sasaran empuk bullying dan ternyata yang menyebabkan semua orang membenci Hani adalah Galih yang menyebar kebencian melalui grup kelas. Bisakah Hani memaafkan Jaelani yang bekerja sama dengan Galih untuk menutupi suatu kejahatan dan membuat Hani menjadi korban atas kesalahan Galih.


“Jadi, kamu ingat semuanya sekaran Han?” Tanya Jaelani tanpa ragu.


Dia harus menerima kenyataan bahwa itu akan terjadi suatu saat. Cepat atau lambat, meski kemungkinan hanya sebesar 1% Hani mengingat kembali setelah amnesia. Dan kini terjadi. Jaelani hanya bisa pasrah mendengar apapun pernyataan Hani. Jika benar dia ingat, maka dia akan bersiap untuk menjauh dengan sendirinya.


“Iya aku sudah ingat semuanya.” Ucap Hani lemah.


Seketika suasana menjadi hening. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sedankan di sisi lain. Kiki menatap keduanya dengan ekspresi dingin tidak sabar. Dia memang anak kecil yang tidak sabaran. Tapi, juga penakut bila sudah di gertak atau dia tau saat dia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Ayolah kak.” Ucap Kiki terdengar jelas di telinga Hani.


Awalnya Hani sebal ketika Kiki menyuruhnya buru-buru. Tetapi, itu juga menjadi penyemangat Hani untuk segera mengatakan semua dan  menyelesaikan misi ini.


Akhirnya Hani menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Cara Hani bernapas itu cukup menyita perhatian Jaelani yang tadi melamun. Dan Hani yang menangkap mata Jaelani memperhatikannya langsung menciut kembali. Tetapi, jauh dalam dirinya. Ingin bebas dari perasaan bersalah ini.


Dan Hani pun menceritakan semua. Kini dia menatap mata Jaelani dengan tegas. Menceritakan semua kejadian yang mereka alami disebabkan oleh perjanjian yang tidak bisa di nalar akal sehat. Hani tau, Jaelani pasti tidak bisa mempercayai perkataanya. Tetapi, dia tetap menceritakan semua sampai ke ingatan terakhirnya ketika dia di sekap oleh pak Tony dan bu Tina. Dan setelah itu, dia tidak ingat apapun.


Sebenarnya dia ingat ketika arwah Nana mencoba membunuh Galih. Tapi, dia tidak menceritakannya. Karena dia tidak yakin dengan apa yang di lihat itu. Mungkin itu efek dari pikirannya sendiri yang ketakutan karena arwah Nana yang menghantuinya.

__ADS_1


Sedangkan Jaelani terpana mendengarkan cerita Hani yang jelas tidak masuk akal itu. Tapi, entah kenapa Jaelani percaya apa yang Hani alami itu nyata. Mengingat dia pernah melihat sendiri apa yang terjadi di antara Hani dan Della di rumah Della kala itu.


Begitu Hani selesai bercerita. Jaelani masih terdiam seribu kata dan membeku. Otaknya masih memproses semua yang telah dia dengar. Cerita itu sangat berat hingga membuatnya pusing. Belum sempat Jaelani selesai memproses cerita itu. Hani sudah bertanya pertanyaan yang menempatkan Jaelani di keputusan yang sulit.


“Jae, bisa bantu aku sekali ini saja. Aku gak bisa menceritakan sekarang. Tapi, aku butuh kamu membantu ku. Ini yang terakhir kalinya. Tolong antar aku ke rumah almh Della. Dan jika kamu berkenan juga, antar aku ke makam Della dan Violla. Aku pastikan setelah itu, aku tidak akan melibatkanmu lagi.” Jelas Hani panjang lebar sambil Jaelani dan berharap cemas.


Jaelani semakin terdiam. Otak dan perasaanya sedang bertengkar dalam diri Jaelani. Otaknya mengatakan “Jangan berurusan lagi dengan Hani. Ini demi kebaikannya.” Tetapi, hatinya mengatakan hal yang berlawanan “Apakah Jaelani tega melepas Hani pergi ke tempat berbahaya sendirian?”.


Kemudian, terlintas kenangan buruk ketika hari dimana Jaelani menemukan Hani berdarah-darah. Darah tidak berhenti mengalir dari kepalanya. Dia mengantar Hani ke ruang IGD dengan panik dia mencoba menelepon keluarga Hani dan takut di salahkan atas keadaan Hani sekarang. Meski nyatanya Ratih tidak menanyakan itu karena terlalu panik dengan keadaan Hani yang masuk di masa kritis kala itu.


“Ini yang terakhir, setelah itu. Kita tidak akan saling menggangu lagi.” Ucap Hani memelas.


***


Jaelani semakin terkejut. Ternyata yang ada di pikiran Hani dan Jaelani sama. Mereka sama-sama merasa bersalah hingga ingin menghilang dari muka bumi. Rasanya ingin menghilang dari hadapan masing-masing untuk selamanya.


“Jangan bilang gitu.” Ucap Jaelani tak sadar.


Kini Jaelani berbicara dari lubuk hatinya. Dia sama sekali tidak menggunakan logika. Melepaskan semua yang ada di pikirannya. Jaelani jujur pada dirinya sendiri jika dia menyukai Hani. Dia ingin mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya. Kini masalahnya, bisa kah Jaelani jujur kepada Hani dan mengatakan kesalahan yang di anggap membuatnya berstatus orang jahat.


***


Sedangka Hani, dia hanya dia menanti jawaban. Perasaanya kini sudah lega begitu saja. Andai dia mengatakan dari dulu. Mungkin dia tidak akan seperti sekarang. Hani juga sudah berniat untuk menjauhi Jaelani. Dia tidak ingin Jaelani terlibat masalah karenanya.


Hani sedang menatap Jaelani penuh dengan harap. Dia hanya ingin di antar ke rumah Della saja. Itu akan leih dari cukup. Setelah itu, semua akan dia jalankan sendiri. Namun, ketika Jaelani membuka mulutnya dan mengucapkan kata-kata yang membuat hati luluh seketika. Ucapan yang sebenarnya ingin Hani dengar.


“Jangan bilang gitu.” Ucap Jaelani.


“Aku gak mau kita putus kontak. Yah, walau Cuma... bisa... ngobrol via chat.” Lanjut Jaelani tersipu.

__ADS_1


Deg deg deg deg.


Jantung Hani berdebar. Melihat Jaelani tersipu membuatnya salah tingkah. Malu-malu, senyum tidak jelas, arah mata tidak menentu ke arah mana pun walau sekali pun melirik ke Jaelani. Sungguh luar biasa canggung. Tapi menyenangkan hati.


Untuk sesaat suasana membeku. Waktu seakan terhenti. Begitu sepi, bahkan suara angin yang berhembus dari luar masuk ke dalam pun terdengar begitu nyaring.


Sret!


Tiba-tiba gelas Jaelani bergeser memecah keheningan. Jaelani yang tadi malu-malu jadi tegang karena melihat hal kejadian itu. Sedangkan Hani menatap tajam belakang Jaelani. Hani melihat Kiki menatapnya dengan wajahnya yang datar dan dingin. Hani sudah paham apa yang Kiki mau.


“Iya oke, jadi kamu bisa bantu aku?” Ucap Hani spontan.


“Iya.” Jawab Jaelani tanpa ragu.


Mereka pun sepakat sambil berjabat tangan.


“Jadi kapan bisa anter? Oh iya, kak Adit masuk rumah sakit. Kita jenguk ya. Kamu kan juga kenal kak Adit.” Ucap Hani santai.


Seketika mood Jaelani turun lagi. Tercetak jelas ekspresi kecewa di wajah Jaelani. Hani yang menyadari itu cukup terkejut dan senang. Seketika terlintas ide jail di benak Hani. Dia juga ingi mengulik sedikit, bagaimana perasaan Jaelani ke Hani.


“Bisa ya. Aku juga kangen sama kak Adit udah lama gak ketemu. Biasanya kan ketemu.”


Mata Jaelani semakin terlihat malas. Wajahnya semakin masam. Bibirnya semakin tambah manyun. Dan Hani semakin berbunga-bunga karena wajah cemberut Jaelani. Hani kini menebak-nebak sendiri perasaan Jaelani. Dia pikir Jaelani punya rasa sama dengannya.


“Iya.” Jawab Jaelani dingin.


“Oke. Nanti kabarin lagi yah.” Ucap Hani sambil menahan senyumnya.


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, dan komentarnya~

__ADS_1


__ADS_2