
Saat gerbang di buka oleh pak Herdi. Hani merasa ada sesuatu yang mengganjal entah apa itu? Hani terus berpikir, apa dia gak rela pulang secepat ini? Apa dia harus bertanya siapa foto di social media tadi? Atau ada hal lain?
“Kak, tau gak? Di kaki kak Jaelani ada yang nempel tuh.”
Suara Kiki muncul tiba-tiba membuat Hani tersadarkan dari lamunannya. Dia sampai lupa jika tadi dia memperhatikan kaki kiri Jaelani yang jalannya aneh.
Jaelani mulai berpamitan untuk pulang dan Hani tersenyum membalas sapaannya. Namun, tidak di sangka Hani merasakan sesuatu yang menyedihkan, dia seperti mengalami sebuah kecelakaan. Kakinya yang terjepit motor tidak bisa di gerakan dan kemudian dia juga merasa berdebar seperti seakan akan ada mobil atau truk yang menghantamnya. Reflek Hani langsung mengatakan ‘jangan’ tanpa sadar.
“Kenapa Han?” Tanya Jaelani.
“Hah?”
Hani jadi linglung. Dia tidak tau harus menjelaskannya bagaimana? Tapi, dia pernah merasakan hal serupa saat di rumah sakit. Dia menatap Jaelani sambil berpikir, apakah itu akan terjadi kepada Jaelani? Perasaanya menjadi tidak enak sekarang. Sehingga dia memutuskan untuk menahan Jaelani sebentar.
“Tunggu sebentar.”
Setelah mengucapkan itu, Hani berlari ke dalam. Masuk ke kamar mengambil sesuatu. Kemudian, dia buru-buru kembali ke Jaelani. Hani melilitkan kain denim bekas yang dia gunakan untuk membuat baju. Dia melilitkan semua ke kaki kiri Jaelani.
Sebelum Jaelani benar-benar pergi, dia berpesan agar Jaelani jalan pelan-pelan, tidak mengebut, tidak melamun, dan fokus ke jalanan baik dari depan maupun belakang. Hani tiba-tiba menjadi anak yang cerewet membuat Jaelani syok karena ini pertama kalinya Hani cerewet.
“I-iya.” Jawab Jaelani pasrah.
Pak Herdi dan pak Rian yang mengintip dari pos satpam hanya menahan tawa dengan tingkah Hani yang berlebihan itu. Mereka tidak menyangka jika Hani bisa over protective ini. Ini benar-benar momen yang langka. Sayangnya mereka, tidak sempat merekamnya.
“Orang rumah tinggal beberapa blok aja serempong ini.” Gumam Jaelani sambil naik motornya.
Jaelani mengendari motornya. Dia berjalan sesuai arahan Hani. Namun hanya sampai belokan saja. Setelah itu, dia berencana untuk naik seperti biasanya. Dia malu dengan dandanan seperti itu.
Setelah memastikan Jaelani mengikuti arahannya Hani mulai masuk. Dan pak Herdi menutup pintu gerbangnya. Pak Rian yang tidak sabar bergosip buru-buru menghampiri pak Herdi setelah melihat Hani menjauh.
“Mas Her, Ini mah pasti, 60 persen vs 30 persen.” Ucap pak Rian semangat.
“Maksudnya?”
“Jaelani vs Adit.”
“Halahh... kayak sepak bola aja haha.”
Mereka tertawa sambil membahas perilaku Hani tadi.
Sampai di dalam, Hani terkejut dengan wajah pucat Adit. Dia terlihat berkeringat dan ketakutan. Reflek Hani mendekati Adit dan menyentuh keningnya dengan telapak tangannya.
“Kak Adit sakit?” Tanya Adit.
Wajah Adit yang semulanya pucat menjadi memadam. Kulitnya yang bersih membuatnya terlihat merah sekarang. Dia juga sedikit melotot karena jarak pandangnya dengan Hani sangat dekat. Dia buru-buru menepis tangan Hani dan mengalihkan mukanya.
“Gak... hehehe.”
Hani hanya mengkerutkan keningnya. Dia menatap Adit aneh. Hani tidak menyadari jika Adit sedang salah tingkah. Karena pikirannya sekarang fokus ke Jaelani. Dia masih merasa belum bisa tenang sebelum mendapat kabar dari Jaelani. Anehnya kenapa Hani merasakan hal aneh itu lagi.
“Ayo... belajar lagi.” Ucap Adit.
“Tapi kak. Ini udah jam setengah dua belas. Kakak gak pulang?”
Adit baru menyadarinya. Dia merasa malu tidak jelas sekarang. Dia buru-buru mengemasi barang-barangnya. Dan pulang, tapi sebelum pulang. Dia sempat menatap pojokan ruang tamu. Lalu, seketika dia merasa meriding dan langsung pulang tanpa berpamitan. Dan Hani yang masih sibuk membereskan bukunya juga tidak sadar jika Adit sudah keluar.
“Nah? Udah hilang?” Gumamnya.
Hani hanya mengangkat kedua bahunya dan pergi ke kamarnya. Dia masih perlu merenungi kejadian aneh tadi. Dia pun berpikir, apa perlu dia berkonsultasi kepada pak Yanto tentang hal ini. Karena hal semacam ini sudah di alami untuk kedua kalinya.
Sampai Kamar, Hani langsung menjatuhkan dirinya ke kasurnya yang empuk itu. Dia menatap lagi-lagi sambil merenungi kejadian tadi. Sedang asik berpikir tiba-tiba Kiki mengeluarkan suaranya lagi.
“Kak, tadi tu. Ada yang nempel di kaki kak Jaelani. Asalnya sih bukan dari sini. Tapi, setelah kak Jaelani cemberut tadi tuh. Dia nempel semakin erat.” Jelas Kiki.
Hani hanya berdehem saja. Dia masih tidak bisa mengerti secara logika kejadian tadi. Aneh, tapi terasa sangat nyata. Akhirnya Hani memutuskan untuk menelepon Jaelani. Dia berpikir pasti Jaelani sudah sampai rumah. Rasanya masih tidak tenang saja jika tidak mendengar kabarnya.
Tut... Tut....
Telepon baru berdering dua kali sudah tersambung dengan Jaelani. Hani begitu senang, dia langsung menanyakan kabar Jaelani. Jaelani pun menjawab dia kini baik-baik saja. Tetapi, entah kenapa Hani tidak langsung percaya. Perasaanya masih belum tenang.
“Hmmm gitu... kamu malam ini ada acara gak?”
“Enggak! Kenapa Han?”
“Aku main ke rumah mu ya.”
“Jangan!”
Jaelani berteriak cukup kencang hingga Hani menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dia semakin curiga dengan sikap Jaelani. Padahal di sisi Jaelani, dia tidak ingin ada keributan di rumahnya karena kehadiran Hani.
“Aku yang ke sana.” Sahut Jaelani.
__ADS_1
Hani tersenyum senang. Akhirnya dia bisa melihat keadaan Jaelani secara langsung. Baginya masih kurang hanya mendengar suaranya. Dia ingin memastikan bahwa pemikirannya yang buruk terhadap Jaelani itu tidaklah nyata. Itu hanya sebatas pikiran negatif, karena ke khawatirannya.
“Oke, aku tunggu. Bye.”
“Bye”
Telepon terputus.
Di rumah Jaelani.
Plak!
Azzahra memukul kaki kiri Jaelani yang sedang dia obati. Karena, Jaelani tadi tidak sengaja menendang muka Azzahra ketika mendengar Hani mau datang ke rumahnya.
“Ini muka, bukan bola sepak!” Ucap Azzahra.
“Kak... ada ya orang bisa prediksi masa depan?” Tanya Jaelani mengalihkan topik.
“Ya... gak lah. No one knows future.”
Jaelani hanya mengangguk-angguk saja. Mungkin, ini hanyalah kebetulan saja. Atau sekedar, kena sial saja. Kemudian, dia meminta bantuan kakaknya untuk menjalankan sebuah misi. Hari ini adalah jadwal Deden periksa ke rumah sakit. Seharusnya, obat bisa langsung di ambil saat itu juga. Namun, Azzahra tidak mau mengantri terlalu lama. Dia selalu membawa Deden pulang dan menyuruh Jaelani mengambil obatnya sore hari atau malam sebelum pukul sembilan.
Malam ini Jaelani akan mengambil obatnya. Tapi, dia ingin mampir dulu ke rumah Hani. Sekedar mampir saja. Dia ingin kakaknya merahasiakan rencananya itu. Dia bahkan akan memberikan suap berupa martabak manis kesukaan kakaknya.
“Gimana kak? Deal?”
“Deal!”
Plak!
Azzahra mengucapkan kata ‘deal’ sambil menepuk kaki Jaelani yang sudah dia bersihkan lukanya dan di obati. Dia sangat senang, melihat Jaelani kesakitan. Dia merasa ini adalah akibat dari naik motor ugal-ugalan.
“Sakit!” Teriak Jaelani.
“Ada apa sih?” Tanya Mia yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Azzahra.
Jaelani pun menjelaskan, bahwa tadi dia jatuh dari motor saat berbelok tajam. Karena Jaelani menggunakan motor bebek, tidak cukup hanya menggunakan rem saja. Dia harus mengurangi kecepatannya, tapi kaki kirinya malah malah menaikkannya hingga dia tersendat dan jatuh karena tidak bisa menahan keseimbangnnya. Kaki kirinya tertimpa motor dan melepuh karena kena panas. Beruntung ada orang yang menolongnya.
Mia langsung melihat luka kaki Jaelani. Dia menatapnya sambil meniupnya karena reflek. Lalu, dia teringat jika obatnya belum di ambi.
“Ya udah, biar mama aja yang ambil obatnya.” Ucap Mia lembut.
“Gak usah ma. Aku aja. Nanti malam sembuh kok.” Ucap Jaelani.
“Kamu mau main ya?” Tanya Mia.
“Huh?”
“Oke, tapi... naik mobil aja yah. Hati-hati.”
Setelah mengatakan itu Mia kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan. Jaelani dan Azzahra bernapas lega. Mereka tidak menyangka, jika mamanya tetap membolehkan Jaelani untuk pergi. Tetapi, Azzahra iri dengan adiknya itu. Begitu mudah dia di perbolehkan naik mobil. Sedangkan dia, hanya pada saat tertentu saja.
“Enak banget jadi adek. Apa-apa di turutin.” Gumamnya sambil berlalu.
“Sekalian, nanti aku beliin boba deh!” Teriak Jaelani.
Seketika Azzahra menoleh, dia tersenyum begitu lebarnya. Dia mengangkat kedua jempolnya dan mengedipkan mata kananya.
“Gitu dong! PEKA!”
“Punya kakak berasa adek.” Gumam Jaelani.
***
Malam hari pukul tujuh.
Jaelani sudah berdandan rapi, dengan jaket denim coklat, celana hitam dan rambutnya yang lupa di pomade. Dia memakai helm dan langsung meluncur ke rumah Hani. Dia harus berakting agar Hani tidak cerewet seperti tadi. Jaelani tidak ingin terlalu percaya diri dan melambung tinggi akibat dari perhatian Hani yang over protective tadi.
“Hah...” Jaelani menghela napas panjang.
Setiap dia ingin berkunjung ke rumah Hani selalu ada rasa berdebar. Terlebih, orang tua Hani pasti sudah ada di rumah. Dengan segenap jiwa dan raga, dia berangkat dengan kecepatan pelan karena kakinya masih belum sembuh sepenuhnya.
Sampai rumah Hani.
Ini adalah kebetulan yang tidak terduga. Dia datang bersamaan dengan mobil pak Rian. Entah siapa yang ada di dalam. Yang pasti, Jaelani hanya mengantri untuk masuk. Mobil itu masuk di ikuti Jaelani di belakangnya. Tidak lupa, dia menyapa pak Yanto. Mobil itu terus masuk sampai ke garasi dan Jaelani berhenti di pos satpam. Pak Yanto menghampiri Jaelani sambil mengetikan sesuatu di ponselnya.
“Cari siapa mas kesini?” Tanya pak Yanto.
“Hani.”
“Pacarnya ya?” Lanjut pak Yanto
__ADS_1
Jaelani hanya tersenyum. Dia tidak kuasa menahan perasaan malunya. Bahkan saking malunya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Garukannya itu mengakibatkan rambutnya semakin acak-acakan.
“Pak yang datang tadi siapa?” Tanya Jaelani penasaran.
“Camer mas haha.” Bisik pak Yanto menggoda Jaelani.
Jaelani kembali salah tingkah. Dia hanya mengalihkan pandang ke arah lain yang kebetulan di sana ada pak Rian yang sedang berjalan menuju pos satpam. Pak Rian malah ikut senyum-senyum melihat Jaelani yang salah tingkah.
“Di tunggu mbak Hani di teras tuh.” Ucap pak Rian.
Jaelani langsung merapihkan bajunya dan rambutnya. Dia mengaca di spion motornya. Dia hanya bisa pasrah dengan rambutnya yang sulit di atur itu. Dan akhirnya dia meninggalkan pos satpam.
“Gimana? Sesuai rencana?” Tanya pak Rian.
“Iya mas Rian. Itu toh yang namanya Jaelani.” Ucap pak Yanto.
Pak Rian hanya mengangguk. Pukul lima tadi, pak Rian mendapat pesan dari Hani, jika Jaelani sudah datang. Dia meminta pak Yanto untuk mengiriminya pesan. Hani akan menunggu di kursi yang tersedia di teras. Dia tidak ingin orang tuanya bertemu Jaelani. Tapi, ternyata kenyataan berkata lain. Jaelani malah bertemu orang tuanya. Meski tidak bertatapan langsung.
Sampai teras, Hani sudah duduk mani di kursi. Di meja sudah tersedia banyak buah-buahan segar dan minuman air putih yang di beri ES. Hani memperhatikan cara berjalan Jaelani. Dia melihat Jaelani sedikit kesusahan, dengan sigap Hani menatap kaki kiri Jaelani.
“Masih berat ya?” Gumamnya.
“Hai Han...”
Hani tersenyum dan menjawab sapaan Jaelani. Dia juga mempersilahkan Jaelani untuk duduk. Dia juga menatap tajam kaki Jaelani memperhatikan kaki jenjang itu. Terlihat Jaelani meluruskan kakinya.
“Kenapa Han?” Tanya Jaelani.
“Kaki sehat?” Tanya Hani langsung tanpa basa basi.
“Sehat k-kok.”
Hani langsung jongkok dan menyentuh kaki Jaelani dengan jari telunjuknya. Sayangnya, itu tidak tepat pada luka Jaelani. Kemudian, dia berdiri dan duduk kembali.
“Kira in. Soalnya jalannya aneh dari tadi. Masih terasa berat gak?” Tanya Hani.
“Enggak kok.”
Hani mengangguk. Tapi, entah kenapa perasaanya mengatakan bahwa ada sesuatu di kaki Jaelani. Hani sangat penasaran, terlebih saat Hani mendekati kaki Jaelani dia merasakan hawa dingin sedingin es di sekitar kaki itu. Meski saat itu malam, udara tidak terlalu menusuk kulit.
“Ayo, kita ke pak Yanto.”
“Pak Yanto?”
“Satpam di depan itu loh Jae.”
Hani langsung menarik tangan Jaelani. Dia benar-benar penasaran, kenapa dia merasa ada yang tidak beres di kaki Jaelani. Sedangkan Jaelani kesusahan untuk berjalan menyesuaikan langkah Hani yang buru-buru sambil menahan sakit di kakinya.
“Dia Hani kan? Kok jalannya gitu? Kayak cowok.” Pikir Jaelani.
Ini adalah pertama kalinya melihat Hani berjalan dengan semangat. Dulu, waktu di SMA Dahlia, Jaelani hanya melihat Hani yang berjalan sambil menunduk dan berjalan lemas dan lesu.
Sampai di pos satpam.
Hani langsung memanggil pak Yanto. Dan pak Yanto pun keluar. Hani bingung, bagaimana cara bertanya kepada pak Yanto. Dia menatapnya cukup lama karena berpikir kalimat tanya yang tepat untuk di lontarkan.
“Mbak Hani? Jangan melamun, nanti kesambet.” Ucap pak Yanto.
“Heheh... pak, kesambet itu apa harus kesurupan sih?”
Akhirnya Hani punya ide untuk membuka topik. Jaelani hanya diam diri sambil menahan kakinya yang semakin perih dan ngilu.
“Ya enggak sih, ketempelan juga bisa sih mbak. Kayak di pegangin gitu.” Jelas pak Yanto.
Pak Yanto sudah mengerti arah dari pembicaraan Hani. Dia pun mempersilahkan Hani untuk duduk bersama Hani di kursi kayu panjang kebanggan pos satpam di rumah Hani. Jaelani bersyukur akhirnya dia bisa duduk lagi.
“Mbak Hani tau kan, kalau pacarnya ini ketempelan di kakinya?” Tanya pak Yanto.
Deg!!
Mata Hani langsung membesar ternyata firasatnya benar. Ada sesuatu yang tidak beres di tubuh Jaelani. Terlebih Kiki tadi juga bilang jika ada yang menempel di kaki Jaelani.
“Di kasih tau gak percaya.”
Tiba-tiba suara Kiki terdengar jelas di telinga Hani. Perasaanya semakin aneh setelah mengingat dia merasakan hawa dingin ketikan menyentuh kaki Jaelani tadi. Dia sudah membayangkan apakah dia tadi bersentuhkan dengan sosok itu?
Di sisi lain. Jaelani, semakin lemas karena tau ini akan panjang dan hal yang di bahas itu tidak lah bisa lihat semua orang. Namun, dia juga penasaran kenapa ada sosok yang menempel di kakinya?
“Mau di bantu mas, biar kakinya gak berat lagi?”
“Hah?”
__ADS_1
(Episode ini lebih panjang ya dari episode sebelumnya. Happy 50 Episode. Maaf ya authornya receh ☺)