
Pagi hari namun masih gelap di rumah Hani.
Hani berlari menjemput budhe Inem yang sedang membawa sayur mayur di depan gerbang. Dia memeluk dan meminta maaf kepada budhe Inem karena kemarin melotot kepadanya. Budhe Inem tersenyum dan memaafkan kesalahan pahaman ini dengan mudah. Meski tersisa sedikit rasa sebal karena di pelototi oleh anak muda yang di anggapnya tidak sopan.
“Aku bantu bawa in ya budhe.”
Hani membawa semua barang-barang yang di bawa budhe inem. Satu tas belanjaan dan tiga kresek hitam kecil di bawanya dengan riang ke dapur. Dia melangkah dengan kaki sedikit terbuka seperti halnya anak laki-laki.
“Kelihatannya mbak Hani sudah mulai normal.” Ucap pak Rian.
Pak Herdi dan budhe Inem hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil memperhatikan anak majikannya yang berjalan itu. Mereka sudah lama tidak melihat Hani berjalan seperti sedang menantang orang bertengkar. Karena beberapa waktu mereka lebih sering melihat Hani berjalan dengan lesu.
“Hoam...” Pak Herdi menguap.
“Wih masih ngantuk mas?” Tanya pak Rian.
“Tak gaekne kopi yo Her.” Tawar budhe Inem.
“Aku mbak.” Sahut pak Rian tidak mau kalah.
Budhe Inem mengangguk dan berjalan masuk membuatkan pak Rian dan pak Herdi kopi.
“Mas Herdi kenapa gak minta temen aja ke bapak? Biar jaganya gak 24 jam. Bisa pulang juga pas lebaran.” Tanya pak Rian.
“Udah.” Ucap pak Herdi malas.
Kemudian pak Herdi masuk ke pos satpam dan merebahkan diri di atas kasur lantai. Pak Rian menyusul masuk ke pos satpam yang sudah seperti rumah bagi pak Herdi itu.
“Terus? ACC ndak?”
“ACC dong. Nanti katanya satpam baru datang jam tujuh dan bapak MOS dulu sebelum bapak dan ibu kerja.”
“Aku kayaknya juga mau ngajuin.” Ucap pak Rian.
Pak Rian berharap pak Herdi bertanya kenapa dia juga ingin mengajukan tambahan karyawan. Dia ingin memamerkan bahwa dia akan melamar sang pujaan hati suster cantik dan akan menikahinya. Namun sayang pak Herdi tidak menanggapi dan sudah terlelap. Pak Rian hanya bisa menahan rasa kecewanya.
***
Pukul 06.45
__ADS_1
Ting....
Bel berbunyi, pak Rian dan pak Herdi yang sudah terjaga menengok layar yang memperlihatkan pantauan CCTV di depan gerbang. Mereka melihat seseorang bertubuh tinggi besar dengan menggunakan jaket hitam kulit sedang berdiri di samping motornya.
“Wih... udah kayak anak motor tuh gayanya.”
“Ho oh.”
Pak Herdi bangkit dan membuka pintu gerbang itu. Bertanya kepada orang itu ada perlu apa kemari. Sedangkan pak Rian memantau dari layar. Terlihat pak Herdi menutup gerbang dan masuk kembali sedangkan pria itu tadi duduk di motornya.
“Siapa pak?” Tanya pak Rian yang melongok dari jendela pos satpam.
“Anak baru.”
Pak Herdi berjalan masuk ke rumah mencari pak Beni di dalam.
“Weh... pak Herdi kalah saing dong. Mana anak baru kelihatan lebih gagah dan muda lagi hahaha.” Gumam pak Rian.
Tidak lama pak Beni keluar menunggu di teras rumahnya sambil membawa tablet di tangan kanannya. Pak Herdi menjemput si pak satpam baru dan mempersilakan masuk. Pak Rian yang penasaran duduk kursi panjang di depan pos satpam dan memperhatikan pak herdi, pak Beni dan pak satpam baru dari belakang.
“Dengan mas Yanto?” Tanya pak Beni
Kemudian, pak Beni mencocokan dengan profil yang ada di tabletnya. Lalu pak Beni menjelaskan pekerjaan dan mengenalkan pak Herdi sebagai seniornya serta juga meminta pak Herdi menjelaskan peraturan di rumah ini dan mengutus pak Herdi juga menilai kinerja pak satpam baru. Setelah itu Pak Beni dan pak Yanto memulai masa percobaannya.
Hani dan Ratih sudah selesai makan dan Hani menaruh piring orang tuanya di wastafel dapur. Kemudian Hani mengantar mamanya ke depan untuk ritual keluarga sebelum bekerja. Sampai di depan teras Hani mencium tangan kedua orang tuanya dan memeluk mereka satu persatu. Ini adalah ritual yang wajib di lakukan sebelum mereka kembali kegiatan masing-masing.
Tidak lama, pak Rian sudah siap dengan mobilnya mengantar Beni dan Ratih. Mereka pun masuk dan melambai ke Hani. Hani membalas lambaian mereka sampai mobil mereka tidak terlihat. Tiba-tiba wajah Jaelani melintas di hadapannya.
“AAAA... BIG NO!” bantah Hani.
“Ayo ke rumah sakit kak. Kiki mau lihat kakak perempuan itu melilit kaki si om.” Bisik Kiki.
Seketika seluruh tubuh Hani merinding dan tiba-tiba dia merasa kedinginan. Merasa tidak aman, dia pun kabur masuk langsung menuju dapur.
“Hahaha.”
Terdengar suara anak kecil tertawa terbahak-bahak setelah Hani pergi. Pak Yanto satpam baru yang ternyata juga memiliki keistimewaan itu terkejut dan mencari sumber suara. Dia melihat anak kecil tertawa sendiri di teras rumah.
“hmmm sapaan pagi.” Gumamnya.
__ADS_1
Di dapur Hani berlari dan langsung memeluk budhe Inem dari belakang. Budhe Inem yang terkejut hampir saja menjatuhkan piring yang sedang dia cuci itu.
“Aduh... mbak Hani. Bikin kaget aja.” Kesalnya.
Hani tidak menjawab. Tidak lama, dia membuka matanya perlahan. Menoleh ke kanan kiri memutar kepala kebelakang dan kembali memeluk budhe Inem.
“Mbak, saya gak bisa gerak nih mbak.”
Hani pun melepas pelukannya. Kemudian, dia berjalan duduk di meja makan sambil menatap budhe Inem membereskan pekerjaannya. Dia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Hani sudah mulai bosan dengan rutinitasnya.
“Budhe... aku bosan.” Ucap Hani.
“Hmmm... ya jalan-jalan mbak kayak biasanya nunggu pak Rian pulang. Nanti di temani pak Rian.” Jelas budhe.
“Bosan ah budhe.” Keluh Hani.
“Ayo ke rumah sakit kak.” Bisik Kiki lagi.
Hani buru-buru menutup kedua telinganya. Kemudian dia bernyanyi dengan sumbang asalkan dia tidak mendengar bisikan itu. Budhe Inem merasa kasian karena dia pikir Hani mulai stress karena tidak ada kegiatan lain yang biasanya kegiatannya full dalam satu hari.
“Kak Jaelani.” Bisik Kiki yang mampu menghentikan nyanyian sumbang Hani.
Tiba-tiba Hani merasa kepanasan dan salah tingkah sendiri. Dia tersenyum aneh mendengar nama itu.
“Tapikan ini masih pagi. Pasti Jaelani masih sekolah.” Pikir Hani.
“Nanti sore.” Bisik kiki lagi.
Hani terpengaruh lagi dengan godaan si hantu kecil Kiki. Dia bertekat ingin bertemu Jaelani. Rasanya perasaanya tidak enak jika belum bertemu dia. Hani memutuskan bagaimana caranya ke rumah sakit.
“Aha.” Hani dapat ide.
Dia langsung berlari menuju kamarnya. Budhe Inem menatap Hani sedih. Dia pikir Hani sudah sangat bosan hingga harus berlarian ke sana kemari untuk mengusir rasa bosan. Tetapi setidaknya. Budhe Inem bersyukur Hani sudah kembali karena dia mulai berlari. Tidak seperti sebelumnya.
Di dalam kamar.
Hani mengirimkan sebuah pesan kepada seseorang. Kemudian, dia menanti balasan dari orang itu dengan tidak sabarnya.
Triling.
__ADS_1
Suara pesan masuk. Hani buru-buru membuka pesannya, kemudian terlukis kebahagiaan di wajahnya itu.
~ Terima kasih, sudah mampir baca~