Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 49


__ADS_3

Kring... Kring... Kring...


Bel pulang sekolah berbunyi. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Setelah guru mengajar keluar, Jaelani langsung kabur ke kantin. Sampai sana dia bingung mau memilih makan apa?


“Batagor? Cireng? Apa ya?” Gumamnya.


Tidak lama kemudian, dia memilih untuk membeli cireng berisi daging ayam. Dia membeli sekaligus lima potong. Dia ingin membawakannya untuk Hani. Dia sangat ingin bertemu dengan Hani. Setelah membayar, dia langsung meluncur ke rumah Hani.


Sampai depan rumah Hani.


Tingtong.


Jaelani membunyikan bel. Dia berdiri di depan gerbang sambil menunggu gerbang terbuka. Dia mengingat masa dimana dia menunggu Hani keluar dari rumahnya saat ingin berangkat ke sekolah dulu. Dia juga ingat, dimana dia terburu-buru pulang ke rumah dan langsung kembali untuk mengantar Hani ke rumah Della ataupun Violla.


Grek!


Gerbang di buka oleh pak Herdi. Jaelani tersenyum menyapa dan langsung menanyakan keberadaan Hani. Kemudian, pak Herdi mempersilahkan Jaelani masuk. Dia sudah mengenal Jaelani dengan baik.


Jaelani menuntun motornya masuk, dan menyapa pak Rian yang mengintip dari jendela pos satpam. Pak Rian pun membalasnya. Jaelani berjalan dengan sumringah tidak sabar ingin segera bertemu Hani.


Setelah menutup gerbang, pak Herdi langsung masuk ke pos satpam. Dan lagi-lagi di pos satpam pak Rian dan pak Herdi bergosip ria.


“Cinta segitiga kayaknya.” Ucap pak Rian.


“Hahh.. anak muda.” Sahut pak Herdi.


Sampai di teras rumah. Jaelani terkejut. Pintu sudah terbuka, dia tadi juga melihat motor yang tidak asing baginya terparkir di halaman rumah Hani. Dia berpikir Hani sedang ada tamu. Jadi dia berjalan sedikit mengendap-endap. Ketika mengintip siapa tamunya Jaelani terkejut.


“Dia lagi.” Kesalnya.


“Trabas ajalah.”


Jaelani langsung mengetuk pintu. Dia melongok ke dalam dan langsung menatap Hani yang duduk di lantai sambil memegang pensil. Awalnya Jaelani melihat senyum di wajah Hani. Tapi, tidak lama kemudian senyum itu memudar.


“Hai Han.” Sapa Jaelani.


“Oh.. hai.” Jawab Hani cuek.


Jaelani bingung dengan tingkah Hani. Kenapa Hani tiba-tiba cuek kepadanya? Tapi, dia tidak menyerah. Dia langsung masuk tanpa di persilahkan. Kemudian, dia meletakkan kresek hitam di samping buku tulis Hani.


“Ini Han buat kamu.” Ucap Jaelani lembut.


Hani menatap Jaelani heran. Apa yang ada di dalam kresek itu? Dia tersenyum kaku dan memeriksanya. Hani mengkerutkan keningnya. Dia tidak pernah melihat makanan ini.


“Apa ini?” Tanyanya.

__ADS_1


“Cireng, Aci di goreng. Dalamnya ada isinya suwiran ayam. Enak loh. Coba deh.” Jelas Jaelani.


Hani hanya menjawab ‘oh’ saja. Kemudian dia berpamitan untuk ke dapur. Mengambil piring untuk meletakkan cirengnya di sana dan membagikannya ke Adit dan Jaelani.


Selama Hani di dapur. Jaelani dan Adit hanya saling bertatapan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jaelani memikirkan, apakah Adit sudah melakukan modusnya kepada Hani? Sedangkan di pikiran Adit, dia menahan benci kepada Jaelani.


“Kamu kelas berapa?” Tanya Adit sekedar basa-basi.


“Dua.”


“Oh... IPA? IPS?”


“IPA.”


“Emmm... umur berapa? Kok udah naik motor ke sekolah?”


“Tujuh belas. Kok tau?”


“Tuh...” Jawab Adit menunjukkan kaca di ruang tengah.


Kebetulan Jaelani memparkirkan motornya tepat di depan sana.


“Oh.”


Adit hanya tersenyum. Dia merasa sangat tersiksa sekarang. Selain harus berakting ramah kepada Jaelani. Dia juga kesal dengan cara Jaelani yang menjawab dengan ketus.


“Silakan.” Ucap Hani ramah kepada Adit.


Sedangkan untuk Jaelani dia hanya menyodorkan piringnya saja. Karena dia masih merasa cemburu mengingat foto yang dia lihat tadi.


Jaelani merasa ada yang aneh dengan tingkah Hani. Dia masih mengamatinya, terlihat wajahnya cemberut dan malas melihat Jaelani. Dia pikir, sudah menggangu Hani belajar. Akhirnya dia berdiri dan berpamitan.


“Aku permisi dulu ya.” Ucap Jaelani.


“Hmmmm.” Jawab Hani.


Melihat itu Adit tersenyum menang. Apapun masalah mereka berdua. Adit suka melihat Jaelani dan Hani bertengkar.


“Kalau di pamitin itu di lihat yang ngomong.” Ucap Jaelani lembut.


Hani akhirnya melirik dengan malas. Dia menatap wajah Jaelani dari bawah. Dia terkejut melihat kantung mata Jaelani yang terlihat hitam itu. Reflek dia langsung berdiri mengamati mata Jaelani. Kemudian, dia memaksanya duduk. Hingga Jaelani terpental di sofa.


“Mata kamu kok hitam banget sih?” Tanya Hani khawatir.


“Ah...i-iya.” Jawab Jaelani gugup karena di perhatikan oleh Hani.

__ADS_1


Kemudian, Hani teringat jika papa Jaelani sedang sakit. Dia langsung berpikir, mungkin ini karena Jaelani begadang karena merawat papanya. Dia mengangguk-angguk tanpa sadar. Lalu, dia menuangkan jus buah ke gelas bekas minumnya dan memberikannya ke Jaelani.


“Nih minum dulu. Biar ada tambahan vitamin.”


Jaelani menerima dengan ragu. Karena dia mendapat gelas sisa. Entah itu sisa dari siapa? Dia hanya menatapnya dengan raut jijik. Untung Hani menyadarinya.


“Oh lupa. Itu bekas gelasku. Maaf ya, aku ambilin gelas lagi.” Ucap Hani.


Glek glek glek.


Tanpa basa basi Jaelani langsung meminum jus itu. Baginya tidak masalah jika dia minum dari gelas Hani. Yang terpenting bukan bekas Adit.


“Yah... haus ya.” Ucap Hani menahan tawa.


Melihat Hani menahan tawa membuat Jaelani bersemangat. Dia merasa sudah menghibur Hani. Dia mengangguk dengan semangat hingga rambutnya yang acak-acakan itu bergoyang memantul.


“Hahaha... Rambutnya udah kayak pir di mobil aja yang memantul kena polisi tidur.”


Hani tertawa lepas. Seketika, dia melupakan perasaan cemburunya tadi karena khawatir sekaligus terhibur oleh Jaelani. Kini, wajah Adit yang masam melihat kedua anak SMA itu berbaikan.


“Ya udah aku pulang dulu. Ini gelasnya mau di cuci dulu kah?” Tanya Jaelani.


“Enggak usah.”


Jaelani pun pamit pulang. Entah kenapa Hani ingin mengantar Jaelani ke depan. Dengan senang hati Jaelani menerimanya. Merekapun keluar. Anehnya tiba-tiba kaki Jaelani terasa berat. Jadi dia berjalan sedikit menyeret kaki kirinya.


“Kenapa baikan sih?” Kesal Adit setelah melihat Jaelani dan Hani keluar.


Kemudian, dia ingat jika Hani tadi menyembunyikan sesuatu di pojokan ruang tamu. Dia penasaran dan menghampiri tempat itu. Ketika menengok, dia terkejut. Sudut ruangan itu penuh dengan coretan baik di kertas, lantai maupun tembok. Seketika dia merinding dan kembali ke tempat semula.


“Tadikan kertasnya masih bersih? Itu kok? Dan Hani dari tadi di sini.”


Adit heran sampai ketakutan. Dia mengusap tengkuk dan juga lengannya sendiri. Mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


Di tempat lain.


Hani berjalan berdampingan dengan Jaelani. Hani menyadari jika Jaelani sedikit kesusahan dalam berjalan. Dia terlihat menyeret kaki kirinya.


“Kaki kamu kenapa Jae? Kesemutan?” Ucapnya.


“Gak tau rasanya berat aja.”


Hani mengerutkan keningnya. Kenapa kaki Jaelani bisa berat sebelah. Tadi dia yakin, kaki Jaelani tidak tertimpa apapun selama di dalam. Apa mungkin saat Hani ke dapur dan kaki Jaelani tertimpa sesuatu? Akhirnya sampai depan gerbang.


“Aku pulang dulu ya.”

__ADS_1


Hani tersenyum dan berkata “JANGAN!”


~Terima kasih teman-teman likenya, favoritenya, dan dukungannya. See you next episode (~


__ADS_2