
Jaelani melotot karena Ilham membandingkan Hani dengan Anggi. Dia tidak suka jika Hani di bandingkan dengan teman sekelasnya itu. Dia pikir, Hani jauh lebih baik di banding Anggi. Baginya Hani adalah perempuan hebat yang pernah dia temui. Dia bisa keluar dari zona toxic yang pernah di alami. Meski pada akhirnya, dia lupa ingatan.
“Jangan bandingin Hani sama Anggi.” Ucap Jaelani kesal.
Kemudian, dia meninggalkan Ilham di ruang tamu untuk ganti baju. Hari ini, dia berencana untuk pergi ke kafe DD milik keluarga Galih. Dia ingin bertemu Galih dan kakaknya bernama Gio. Jaelani ingin membantu Galih dan Gio untuk mengatur dekorasi kafe.
Jaelani sangat membutuhkan uang saat ini. Namun, dia tidak tega meminta ke Mia. Jadi dia memutuskan untuk membantu Gio dan Galih mendekorasi ulang kafe dengan imbalan uang. Meski tidak seberapa, setidaknya Jaelani bisa menambah uang saku dan menabung.
“Kak... Ini kak, tolong top up game online nomor ini sebelum ke rumah sakit.” Ucap Jaelani sambil memberikan buku ke Azzahra.
“Isi sendiri gak bisa?” Jawab Azzahra yang masih sibuk berkemas.
“Gak bisa, aku buru-buru. Oh ya kak. Aku ke rumah sakitnya nanti malam ya. Mau cari cuan dulu. Tapi, jangan bilang-bilang mama. Bilang aja aku lagi kerja kelompok.” Jelas Jaelani dan pergi ke kamar.
Azzahra mengkerutkan keningnya. Ini pertama kalinya Jaelani meminta kakaknya berbohong. Dia penasaran, kenapa Jaelani sampai melakukan ini. Pasti ada sesuatu di balik itu. Mau tidak mau Azzahra harus menunggu Jaelani keluar dan meminta penjelasan sebelum pergi ke rumah sakit. Sambil menunggu, Azzahra mulai mengisi deposit game online yang di perintahkan Jaelani.
Tidak lama kemudian, Jaelani keluar dari kamarnya. Dia sudah ganti baju menggunakan kaos biasa dan celana pensil serta jaket. Azzahra semakin di buat penasaran. Kenapa Jaelani sampai ganti baju. Dan dia ganti baju yang lebih sederhana dari pada tadi.
“Kak, belum berangkat? Kalau gitu aku duluan ya. Kunci rumahnya kakak yang bawa.” Ucap Jaelani dan hendak berlalu.
Azzahra langsung menarik tangan adiknya itu kuat. Hingga membuat Jaelani hampir terjungkal karena tarikan yang tidak biasa itu.
“Kenapa?”
“Kamu yang kenapa? Kenapa ganti baju? Cari cuan? Cari dimana? Mau ngapain? Jangan aneh-aneh ya.” Ucap Azzahra cepat seperti rapper.
Jaelani menghembuskan napas panjang. Dia berbalik menghadap kakaknya dan menjelaskan. Bahwa dia membutuhkan uang saku lebih. Karena dia harus ada kerja kelompok. Dan kerja kelompok butuh uang bensin dan juga beli kebutuhan kelompok. Dia tidak mau meminta uang jajan kepada mamanya.
Jaelani juga menjelaskan dia akan pergi ke kafe DD memantu Galih dan Gio mendekorasi ulang kafenya. Meski bayarannya tidak seberapa setidaknya cukup untuk uang tambahan uang jajan.
Azzahra hanya bisa menahan air matanya. Dia berkali-kali mendongak dan berusaha untuk tidak berkedip agar air matanya tidak turun. Kini, dia merasa bersalah karena sudah mengambil kuliah jurusan kedokteran yang terkenal mahal. Dia merasa tidak berguna dan malah merepotkan keluarganya bahkan hingga adiknya harus bekerja untuk cari uang tambahan untuk dirinya sendiri.
“Halah! Sok dramatis banget. It’s oke. Roda kehidupan lagi berputar.” Ucap Jaelani yang peka dengan sikap kakaknya.
Jaelani memeluk erat Azzahra yang tingginya hanya sebahunya. Dia juga mengelus-elus lembut kepala Azzahra sambil mencoba menenangkan kakaknya. Dan Azzahra tidak kuasa menahan tangisnya. Dia merasa nyaman untuk menangis di pelukan adiknya. Azzahra pun balik memeluk adiknya juga erat.
Setelah puas melepas emosi masing-masing mereka bersiap berangkat ke tujuan masing-masing juga. Mereka pun berangkat bersama-sama dan berpisah di gerbang rumahnya. Azzahra berangkat duluan naik ojek online ke rumah sakit. Sedangkan Jaelani dan Ilham berangkat naik motor bebek kesayangannya.
“Awas kalau nanti malam gak ke rumah sakit.” Ancam Azzahra sambil tersenyum.
__ADS_1
“Iya, punya kakak bawel banget sana pergi.” Jawab Jaelani di barengi senyuman.
Azzahra pun berangkat dan melambaikan tangan. Dan Ilham hanya iri melihat keharmonisan keluarga Jaelani. Sedangkan keluarga Ilham jarang sekali bercengkrama terlebih dengan adiknya yang gengsinya berlebih. Ilham memiliki adik yang gengsinya selangit sedangkan Ilham adalah tipe anak yang sederhana.
“Woy! Gitu amat ngelihatnya. Jangan naksir kakak ku. Gak aku restui.” Ejek Jaelani.
Bug!
Tinju Ilham mendarat di lengan kiri Jaelani, di susul tendangan kecill ke kaki kiri Jaelani yang masih sakit akibat kecelakaan kemarin. Jaelani terlihat merintih kesakitan sambil mengelus kaki kirinya. Ilham lupa jika kaki Jaelani terluka.
“Sorry Jae. Lupa.” Ucap Ilham
“Kuy lah.” Ucap Jaelani.
Mereka pun berangkat bersama ke kafe DD. Perjalanan ke sana hanya butuh waktu dua puluh menit saja. Beruntungnya Jaelani jalan masih belum macet karena masih siang hari.
Sampai kafe DD. Ilham sempat melongo dan mematung. Karena kafe yang di kunjungi melebihi eksptasinya. Kafe DD yang di kunjungi Ilham bertingkat tiga. Kafe pun terlihat sangat luas, mulai dari lahan parkir hingga kafenya. Terlihat kafe masih berantakan dengan beberapa tukang di sana.
“Ini kafe apa restoran sih?” Gumamnya.
“Ayo Ham.” Ajak Jaelani.
Ilham pun mengekor Jaelani sambil mengamati lingkungan sekitar kafe. Begitu masuk, matanya langsung tertuju kepada dua orang laki-laki yang berdiri di depan meja seperti meja resepsionist. Mereka pun menghampiri dua orang itu.
“Hai.” Jawab Gio dan Galih bersamaan.
“Yuk ke sini.” Ucap Gio.
Galih, Jaelani, dan Ilham mengikuti Gio. Mereka pergi ke ruang khusus dekat dapur. Sepertinya hanya ruang itu saja yang sudah tertata rapi. Gio menyuruh Galih, Jaelani dan Ilham duduk di sofa panjang yang empuk itu dan Gio pergi membuat kopi sasetan yang sudah tersedia di ruangan itu.
“Sebentar ya.” Ucap Gio.
Sambil menunggu Gio, Jaelani mengenalkan Ilham kepada Galih. Mereka pun berkenalan dan saling bertanya untuk sekedar basa basi. Dan basa-basi itu hanya beberapa saat saja. Mereka tiba-tiba mengobrol fokus saat Ilham menyinggung tentang permainan online.
Sesuai dengan ucapan Jaelani. Galih memiliki banyak pengalaman dan strategi dalam bermain permainan online itu membuat percakapan Galih dan Ilham terlihat sangat seru.
“Ngobrol apa nih? Seru banget?” Ucap Gio yang sudah membawa nampan berisi kopi susu dan beberapa camilan.
“Biasalah bang. Mereka satu jalur dah kalau udah ngomongin game.” Ucap Jaelani cuek.
__ADS_1
Gio hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Jaelani yang kesal. Karena, dia tau jika Jaelani tidak pernah menang saat main bareng bersama Galih. Mungkin Jaelani cemburu? Tapi ini bukan waktunya untuk cemburu masalah pertemanan. Dengan sigap Gio mengalihkan topik.
“Eh jadi, gimana? Mau di model gimana nih?” Tanya Gio.
Raut wajah Jaelani berubah menjadi sumringah. Dia sangat semangat ketika Gio membicarakan itu. Karena dia pikir, lebih cepat selesai mendekorasi akan lebih cepat mendapat uang. Tapi nyatanya tidak semudah itu. Beberapa ide Jaelani di tolak oleh Gio.
“Yah bang, semua di tolak.” Ucap Jaelani murung.
“Hahaha. Tapi, mau gimana lagi. Aku gak bisa buang-buang uang Jae. Jadi sebisa mungkin yang simpel dan juga ngirit haha.” Ucap Gio.
Jaelani mulai berpikir keras kembali. Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari beberapa sumber inspirasi dari beberapa kafe, dan juga dekorasi kekinian yang mungkin bisa di padukan menjadi satu. Sedangkan Galih dan Ilham malah sudah asik bermain permainan online bareng.
“Nah kalau ini bang?” Ucap Jaelani.
“Jadi gini bang, lantai satu kita buat banyak kursi mejanya. Buat keluarga gitu atau buat orang banyak. Targetnya untuk remaja yang suka simple simple aja gitu. Nah, lantai dua di buat instagram able dong yang lesehan gitu viewnya lihat jalan raya. Nah lantai tiga buat ala out dor pakai bean bag gitu. Kan atapnya di buat transparant gitu kan?” Jelas Jaelani.
Gio berpikir sejenak membayangkan rancangan dekorasi yang di sarankan oleh Jaelani. Dia mulai sedikit setuju dengan rancangan itu.
“Yah, di tampung dulu lah.” Ucap Gio.
“Yah bang, gak jadi dapat cuan dong.” Keluh Jaelani.
“Pasti dapat. Kita tunggu lantai satu selesai dulu. Oke. Ini aku ajuin ke mama papa dulu.”
“Yeay!” Ucap Jaelani kegirangan.
***
Di kamar Hani.
Hani tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih susu itu. Dia masih berpikir, kenapa perasaanya bisa seperti itu. Begitu sesak dan juga kesal.
“Sebenarnya apa hubunganku sama anak yang bernama Della?” Gumamnya.
Bruk!
Tiba-tiba boneka panda besar pemberian Adit terjatuh dari tempatnya. Hani pun terkejut dan membuyarkan lamunannya.
“Apa itu?”
__ADS_1
~Terima kasih sudah mampir baca, like, komen dan dukungannya~
-Saling dukung, like, karya yuk. Silahkan DM karya kalian-