
Di kamar Hani.
Hani sedang melihat foto Jaelani di media sosial. Kemudian dia ingat, beberapa kenangan bersama Jaelani dulu. Karena Hani melihat foto bengkel legenda tempat mereka malu-malu kucing dulu. Di bawah foto itu tertulis beberapa kata membuat hati terasa sesak. ‘Jangan bikin khawatir ya’.
Seketika Hani ingat waktu itu dia hampir pingsan dan di tolong bapak-bapak di bengkel ketika Jaelani pergi entah kemana. Sekaligus merasa lega karena kini dia tau, alasan dari rasa bersalahnya adalah memanfaatkan Jaelani untuk menemaninya mencari pembunuh Nana. Tidak di pungkiri juga, dia ‘mulai’ jatuh cinta kepada Jaelani pada saat itu. Bahkan mungkin sampai sekarang.
Di tambah lagi, kini Hani tau bahwa Nana itu sebenarnya bukan mencari pembunuh. Melainkan mencari tumbal untuk menggantikan dirinya. Dia mendengar langsung dari Kiki yang menguping pembicaraan Stevan.
Kini dia juga tahu kenapa Della sangat lengket dan terguncang karena kehilangan Nana sahabatnya dari kecil. Karena Nana adalah anak angkat teman dekat Stevan. Pantas saja mereka sangat dekat, seperti saudari.
Hanya satu yang masih mengganjal. Kenapa dulu Hani melihat pak Tony di alam lain? Dan malah memperkirakan Della dan Violla adalah pembunuhnya. Kemudian, dengan bangganya dia menyebut sudah mengetahui siapa pembunuhnya. Mengingat pak Tony sekarang menjadi buron karena kasus itu dan kasus korupsi di sekolah SMA Dahlia.
Hani juga merasa bodoh karena percaya begitu saja dengan pertanda ‘konyol’ dari Nana itu. Tetapi, sedetik kemudian dia sadar. Kini juga sedang berurusan dengan hal seperti itu lagi.
“Hani. Setelah ini cukup.” Ucapnya.
Setelah menguatkan diri mengingat masa lalu yang pahit di sekolah SMA Dahlia. Tanpa ragu, Hani mengirim pesan ke Jaelani untuk bertemu malam ini juga. Dia mengatakan bahwa ada hal sangat penting dan mendesak untuk di bicarakan bersama.
Kali ini Hani yang akan meneror Jaelani. Karena dia ingin segera melepaskan rasa bersalah yang selama ini mengganjal. Dia juga ingin segera menyelesaikan misi ini dan kembali ke kehidupan yang normal seperti dulu.
“Semoga saja Jaelani menyetujuinya.” Ucapnya sambil menekan tombol kirim.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul dua sore. Waktunya pulang sekolah. Seperti biasa, Jaelani mengambil ponselnya di jok motor dan menyalakannya. Biasanya setelah menyalakannya dia menaruhnya di tempat seperti kantung di terletak di bawah stir, kemudian mulai menyalakan motornya dan pulang. Tetapi sekarang, tidak. Selain sedang menggunakan motor bebek. Dia harus menunggu Anggi datang dan mengantarnya pulang. Beruntung arah rumah mereka searah.
Drrtt Drrttt
Ponsel Jaelani bergetar. Dengan santai sambil nangkring di atas motornya menunggu Anggi datang. Dia membuka kunci layar ponselnya. Matanya langsung membelalak begitu melihat nama Hani terpampang nyata di layar ponselnya. Lebih tepatnya (Handoko) karena Jaelani belum merubah nama Hani di kontaknya.
Jaelani buru-buru membuka isi pesan dari Hani. Matanya melotot dua kali lipat seperti mau lepas dari tempatnya. Kemudian, terukir senyum manis di wajahnya memperlihatkan lesung pipit di bibir bawahnya. Wajah Jaelani terlihat manis meski kusam karena mata panda nya.
“Hah? Dia mau ketemu? Penting?” Gumamnya.
Antara senang dan khawatir bercampur menjadi satu. Tetap satu dalam pikrannya. Dia akan menyetujuinya. Dia tidak ingin membuat Hani kecewa. Mungkin malam ini, malam terakhir bagi Jaelani bertemu Hani dengan sengaja. Di luar itu, pasti bonus dari alam.
“Hayo!” Goda Anggi dan mencoba mengintip layar ponsel Jaelani.
__ADS_1
Dengan sigap Jaelani menyembunyikan layar ponselnya. Entah Anggi sempat melihat atau tidak. Yang pasti dia sudah berhasil membalas pesan dari Hani. Dia tersenyum paksa kepada Anggi. Senyumnya begitu kaku dan terlihat palsu. Namun, itu sudah cukup bagi Anggi.
“Ayo pulang.” Ucapnya sedikit manja.
Sebenarnya Jaelani merasa geli dengan nada bicara Anggi yang selalu dia tunjukkan saat berdua dengannya. Ingin rasanya kabur, tapi tidak bisa. Tetap Hani perempuan yang terbaik baginya dan sulit di lupakan saat ini.
“Ayo.” Balas Jaelani dingin.
Setelah mengantar Anggi pulang. Jaelani langsung menuju rumah Hani. Dia tidak ingin menunggu malam. Dia ingin menuntaskannya sekarang. Dan tetap yang ada dalam pikirannya, ini waktu terakhir dia berkunjung ke rumah Hani. Selama perjalanan dadanya terasa sesak memikirkan bahwa dia tidak akan bertemu Hani lagi.
“Yang terakhir.” Gumamnya tidak dengar kalah dengan suara motor lalu lalang di sekitarnya.
Akhirnya Jaelani sampai di depan rumah Hani. Yah, dia mulai ragu untuk menemui Hani sekarang. Apakah sudah siap? Apakah ini benar-benar yang terakhir? Apa yang ingin Hani bicarakan? Pertanya itu membuat Jaelani semakin bimbang. Membuat Jaelani mematung cukup lama di atas motornya. Dan akhrinya dia memberanikan diri untuk memencet bel.
Ting Tong.
Suara itu samar terdengar di telinga Jaelani. Dia mundur beberapa langkah, menunggu gerbang di buka. Dia taerus menatap sepatunya yang ternyata terlihat usang. Namun, bukan itu fokusnya sekarang. Fokusnya adalah ‘hari terakhir bertemu Hani’ karena dia sudah mantap untuk menjauhi Hani karena merasa tidak pantas.
Grek!
“Hai.” Ucap Hani ceria.
“Ha-hai.” Jawab Jaelani gagap.
Dia sangat gugup saat ini. Dia tidak membayangkan akan bertemu Hani secepat ini. Ingin rasanya dia memutar ulang waktu dan datang beberapa menit lebih lambat dari sekarang. Kini dia sedang perang dengan dirinya sendiri. Menyalahkan diri sendiri karena mengendarai motor begitu cepat.
“Kok udah ke sini? Gak apa-apa nih? Gak capek? Gak di cari sama mamamu?” Tanya Hani bertubi-tubi membuat Jaelani cukup kelabakan.
Jaelani hanya tersenyum berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
“Emm.. aku baru ingat, nanti malam aku harus antar papa check up. Jadi sekarang aja kalau mau ketemu.” Ucap Jaelani bohong.
Hani mengangguk paham. Kemudian dia masih menunggu jawaban dari beberapa pertanyaan yang tadi di lontarkan. Mereka saling menatap seperti sedang dalam kontes menatap. Menatap tanpa bicara.
“Kamu gak capek?” Tanya Hani ulang.
Jaelani hanya menggeleng.
__ADS_1
“Udah ijin mamamu? Nanti di marahin loh.”
“Udah.”
“Oke deh. Masuk masuk.”
Lagi-lagi Jaelani tersenyum. Tapi kali ini bukan tersenyum karena menyembunyikan gugup. Tersenyum senang karena merasa di perhatikan. Lalu Jaelani menuntun motornya masuk. Dia menyapa pak Herdi yang ternyata berdiri di balik gerbang.
Jaelani berjalan berdampingan dengan Hani. Tetapi, mereka di pisahkan oleh motor Jaelani di antara mereka. Sudah lama sekali rasanya jalan bersama Hani.
“Bener ya udah ijin mamamu?” Tanya Hani memastikan lagi.
Jujur saja, Hani sangat takut Mia datang ke rumah marah-marah. Dia tidak tau jika Mia sudah mengikhlaskan semuanya. Bahkan Hani masih tidak percaya bahwa beberapa waktu Mia mengirim bungkusan ke rumah ini dan bungkusan itu langsung di eksekusi oleh pak Herdi dan budhe Inem.
“Iya, tadi udah ijin.” Jawab Jaelani lembut.
Jaelani memang sudah menelepon Azzahra beberapa menit lalu ketika sudah memasuki kompleks perumahannya. Dia juga mengatakan bahwa ke rumah Hani. Melalui Azzahra dia mita ijin ke mamanya untuk ke rumah Hani. Dan Mia mengijinkannya.
Sampai di ruang tamu.
Hani masuk ke dapur untuk mengambilkan Jaelani minuman. Selama menunggu, Jaelani mengedarkan pandang ke sekeliling rumah Hani. Memperhatikan setiap detil rumah ini. Menyimpannya dalam ingatan. Karena baginya dia tidak akan bertemu lagi.
Tidak lama kemudian, Hani kembali dengan nampah berisi beberapa camilan dan minuman sirup berwarna biru muda rasa cotton candy. Hani mempersilahkan Jaelani untuk meminumnya. Karena dia tau Jaelani pasti haus. Hani tidak pandai basa-basi. Lagi pula, dia juga risih karena di tatap penuh harap oleh Kiki yang berdiri di pojokan ruang tamu.
“Jae aku langsung ngomong penting ya.” Ucapnya ketika Jaelani sudah meneguk minumannya.
“Iya.”
“Pertama, aku minta maaf sama kamu. Aku... aku....” Hani mulai ragu dan jantungnya berdebar lebih kencang.
Jaelani juga tidak kalah berdebar. Dia penasaran dan merasa takut dengan apa yang akan di bicarakan Hani. Dari tatapan wajah Hani. Sepertinya ini sangat penting, hingga membuat Hani cukup kesulitan untuk memulai.
“Gak apa-apa ngomong aja.” Ucap Jaelani.
“Aku minta maaf. Dulu pernah manfaatin kamu.” Akhirnya kata-kata itu terucap.
~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~
__ADS_1