Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Aku menang


__ADS_3

Kring Kring Kring


Bel pulang sekolah berbunyi. Jaelani sudah siap untuk pulang, dia sebenarnya tau jika dari tadi di perhatikan oleh Anggi. Tapi baginya, masa bodoh lah. Dia yakin Anggi akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Toh Anggi juga siswi yang populer. Mudah baginya mencari pengganti Jaelani.


“Buru-buru amat blo, mau kemana?” Tanya Ilham.


“Pulang lah.”


“Pulang? Ya emang sih bener.”


“Bye.”


Jaelani langsung meluncur meninggalkan kelas. Sedangkan Ilham hanya kebingungan. Karena Jaelani terlihat seperti baik-baik saja. Bahkan dia baru putus tadi.


Brak!


“Eh! Selow bro eh sis.” Ucap Ilham latah.


Ternyata Anggi berjalan melewati bangkunya Jaelani dan Ilham dengan wajah suram . Anggi berjalan sambil menendang meja itu sampai posisinya miring. Ilham hanya geleng-geleng tidak percaya Anggi bisa berbuat itu. Image nya seorang siswi baik di mata banyak orang kemana? Atau malah Apa Anggi sedang kesurupan?


“Cewek kalau marah, suka serampangan deh. Meja di tendang. Gak sakit tuh kaki?” Gumam Ilham sambil membenahi mejanya yang miring.


Sedangkan di tempat parkir, Jaelani sudah mengantri untuk keluar dari tempat parkir. Raut wajahnya terlihat lelah, tapi tapi juga senang. Karena dia akan mengunjungi Hani sepulang sekolah, baru pulang ke rumah. Alasan nya hanya karena khawatir karena kemarin Hani sempat takut hingga gemetaran.


“Mau kemana sih? Kamu gak akan bisa jauh dari aku Jae. Aku yang akan putusin kamu. Bukan kamu yang putusin aku.” Gumam Anggi menatap kepergian Jaelani.


Jaelani hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di rumah Hani. Saat sampai, dia melongo karena kini ada CCTV baru terletak di barat arah berlawanan dengan CCTV pertama.

__ADS_1


“Ada apa mas Jaelani?”


Jaelani terkejut tiba-tiba ada suara, entah dari mana? Jaelani mencari sumber suara itu. Menoleh ke kanan, kiri, belakang, tapi tidak ada orang.


“Bawah mas, dekatnya bel.”


Reflek Jaelani menatap ke sana. Ternyata ada kotak kecil di bawah bel. Bentuknya seperti speaker. Tapi itu bukan speaker.


“Mau cari Hani pak Herdi.”


“Bentar ya mas, tunggu dulu.”


Jaelani menunggu cukup lama, kira-kira sepuluh menit lamanya. Selama itu perutnya juga keroncongan karena dia belum makan siang. Namun, dia hanya berniat untuk bertemu Hani sebentar lalu segera pulang karena hanya ingin memastikan saja keadaan Hani.


Greekk!


Gerbang di buka, pak Herdi mempersilahkan masuk. Jaelani mendorong motornya masuk dengan sekuat tenaga. Memang, itu terlihat jelas jika Jaelani tidak begitu bertenaga. Akhirnya pak Rian membantu Jaelani mendorong motornya.


“Hehe... iya pak Rian.”


“Udah di sini aja, di tunggu mbak Hani di dalam tuh.”


Jaelani tersenyum dan langsung menuju rumah. Dia semakin terkejut karena sepanjang jalan dia merasa ada yang berbeda. Benar saja, bahkan di halaman rumah Hani juga di beri CCTV. Sampai di teras rumah juga ada CCTV. Sebenarnya apa yang terjadi?


“Permisi.”


“Masuk Jae.”

__ADS_1


“Kamu baik-baik aja kan Han?” tanya Jaelani sambil mencari tempat duduk.


Hani mengangguk sambil tersenyum. Dan Jaelani akhirnya bisa bernapas lega. Sebenarnya ingin sekali Jaelani langsung berpamitan pulang. Namun, sayangnya di meja ruang tamu sudah tersedia jus apel dan camilan kacang telur.


“Capek ya, tuh minum dulu jusnya. Itu jus apel.” Ucap Hani mempersilahkan.


Jaelani langsung meneguk minuman itu. Dia juga memakan sedikit camilan kacang telur itu, untuk sekedar mengganjal perut.


“Syukurlah kalau kamu baik. Oh ya Han, sebenarnya aku Cuma mau pastiin keadaan kamu aja. Emmm aku pulang dulu ya.” Ucap Jaelani berpamitan.


“Oke deh.”


Hani memahami, karena Jaelani juga terlihat lelah. Dia bersyukur Jaelani mau datang ke rumahnya untuk memastikan keadaanya. Hani ingin mengantar Jaelani sampai gerbang seperti biasanya. Namun, begitu berada di teras Jaelani berhenti.


“Kenapa Jae? Ada yang ketinggalan?”


“Gak, rumah kamu sekarang kok banyak CCTV? Ada apa sih?”


Hani terdiam sejenak. Kemudian, dia menceritakan semua kepada Jaelani. Dia bercerita bahwa waktu lalu Adit memberinya boneka. Namun, boneka itu selalu terjatuh. Dia juga sering memindahkan boneka itu. Hingga akhirnya Kiki mengatakan bahwa dia merasa seperti di awasi oleh boneka itu.


Hani penasaran dan langsung cek boneka itu. Dia terkejut ternyata di dalam boneka itu ada seperangkat elektronik dan kamera kecil yang di masukkan ke boneka. Belum lagi, tadi pagi dia mendapat hadiah entah dari siapa. Itu sebabnya keamanan di rumahnya di ketatkan.


Hani sengaja tidak memberitahukan kepada Jaelani tentang dugaan nya. Dia duga hadiah itu dari Tony karena benda itu mengingatkannya pada masa lalu saat di sekap.


“Benar kan feeling ku. Adit itu aneh?!” Ucap Jaelani geram.


“Udah udah, sekarang dia lagi di cari sama papa. Kamu pulang gih.”

__ADS_1


“Oke, nanti kita chat ya.” Ajak Jaelani.


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, dan komentarnya~


__ADS_2