
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hani dan Jaelani sudah sampai di depan gerbang rumah Hani. Mereka sedang berdebat kecil perihal Jaelani ikut masuk ke rumah Hani dulu atau langsung pulang. Namun, pada akhirnya Jaelani yang menang.
“Aku pulang ya.” Ucap Jaelani.
Hani tidak bisa mencegahnya, Dia hanya bisa manyun di depan Jaelani.
“Oke.”
“Dah ya bye.”
Jaelani pergi berlalu meninggalkan rumah Hani. Sedangkan Hani masih menatap kepergian Jaelani hingga hilang dari pandangan karena belokan di pertigaan menuju rumah Jaelani.
Grek!
Tiba-tiba gerbang sudah terbuka. Terlihat pak Yanto dan pak Rian menatap Hani sambil senyum jahil. Mereka menatap Hani intens hingga membuat Hani salah tingkah.
“Apa sih!! Pak Rian!!! Pak Yanto!!!” Teriak Hani sambil berjalan masuk.
Pak Rian dan pak Yanto memang kompak untuk menjahili Hani. Ini pertama kalinya mereka melihat Hani pulang malam dengan Jaelani. Meski baru pukul tujuh malam sih. Tapi, ini rekor termalam Hani pergi dengan laki-laki.
***
Di dalam kamar Hani.
Hani langsung menghempaskan diri ke kasur empuk super nyaman miliknya. Hani menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan perasaan mengganjal saat dia berada di rumah Della. Tadi matanya menatap jelas bapak yang membuka gerbang untuknya. Pria itu menatap Hani sekilas lalu menatap sisi kananya. Kemudian, pria itu sempat membulatkan mata beberapa saat sebelum tergesa-gesa untuk masuk.
“Kenapa ya tadi?” Gumamnya.
Tok tok tok.
Suara pintu kamar Hani di ketuk cukup keras.
“Buka aja.” Teriak Hani yang tidak beranjak dari tempat tidurnya.
Pintu terbuka dan muncul lah sepasang suami istri dengan wajahnya yang, bisa di bilang aneh. Mereka seperti menahan tawa tapi dengan tatapan mata yang tajam. Hani langsung bangun dari tidurnya. Entah kenapa dia merasa akan ada sesuatu yang cukup merepotkan.
“Gimana tadi? Main kemana?” Tanya Beni yang sudah duduk di samping kanan Hani.
“Adit gimana?” Tanya Ratih yang duduk di samping kiri Hani.
Hani menatap kedua orang tuanya bergantian. Memperhatikan eskpresi mereka dan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya? Ekspresi kedua orang tuanya benar-benar aneh.
“Hmm?” Ratih memastikan lagi dengan berdehem.
__ADS_1
“Tadi, aku main dulu. Nongkrong dulu, baru jenguk kak Adit. Kak Adit ada di rumah sakit XX. Dia tadi lagi tidur jadi gak ngobrol banyak deh.” Jelas Hani.
“Kamu gak kemana-mana kan?” Tanya Ratih.
Deg!
Jantung Hani serasa maraton. Untuk sementara dia hanya bisa tersenyum kaku mendengar perkataan itu. Apakah Ratih tau Hani pergi ke beberapa tempat sebelum ke rumah sakit? Atau malah ada mata-mata yang mengikutinya? Ini sudah seperti di film saja. Tapi, kenapa mereka ragu kepada Hani. Apakah Hani sudah tidak di percayai oleh kedua orang tuanya?
“Gak kok, cuma nongkrong aja.” Jawab Hani tegas dan percaya diri, meski dia berbohong.
“Hehehe. Kenapa tegang gitu sih Han. Papa sama mama cuma mau tanya aja. Soalnya kamu mainnya lama banget dari siang sampai hampir malam gini. Gak mungkin kalau kamu cuman jenguk Adit doang. Pasti main kemana-mana. Iya kan? Hayo ngaku.” Ucap Beni.
Hani bingung harus menjawab jujur atau tidak. Dia bukan orang sakti, yang bisa membaca pikiran kedua orang tuanya saat ini. Tapi, jika di pikir. Mereka mungkin tahu jika Hani telah berbohong.
“Iya....” Ucap Hani terpotong.
“Jangan beritahu kak. Aku mohon.” Bisik Kiki tepat di telinga Hani.
Hani semakin di buat bingung.
“Iya?”
“Iya tadi, Hani mampir ke beberapa tempat sih ma.”
“Dulu waktu mama muda sukanya....”
“Oh ternyata, itu pikiran mama. Untung aja aku gak ngomong jujur” Batin Hani.
Hani akhirnya bisa bernapas lega. Ternyata itu hanya ketakutannya saja. Kini, dia hanya menatap kedua orang tuanya sambil mendengar masa muda mereka. Menatap mereka dengan mata yang sayup. Beberapa kali Hani menguap. Dia cukup kelelahan, maklum dia seperti baru keluar dari dunia yang penuh dengan kedamaian. Tubuhnya masih belum menyesuaikan diri dengan beberapa kegiatan outdoor. Hani terlalu lama berdiam diri di rumah. Menyibukkan diri dengan belajar privat dan main mainan tradisional dan juga melukis.
“Duh duh duh. Mama jadi cerita nih. Maaf ya, ya udah kamu mandi dulu habis itu makan terus istirahat ya.” Ucap Ratih kemudian mengecup kening Hani.
Beni juga ikut mengecup kening Hani dan kemudian mengusap ujung kepala Hani dengan lembut.
“Papa tunggu di bawah ya.” Ucap Beni.
Hani hanya tersenyum. Rasanya tenaganya sudah terkuras habis. Untuk berbicara saja sudah terlalu berat baginya. Sepertinya Hani harus mulai beraktifitas kembali agar tubuhnya tidak mudah lelah seperti ini. Mungkin di mulai dengan les karate lagi?
Bruk!
Lagi-lagi Hani menghempaskan diri ke ranjang yang empuk itu. Kembali lagi menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih itu. Dan juga kembali memikirkan apa yang terjadi di rumah Della tadi.
“Iya kak, orang tadi melihatku.” Ucap Kiki.
__ADS_1
Hani terkejut, reflek dia menoleh ke kanan dan kiri. Namun, dia tidak bisa melihat Kiki. Dia hanya bisa mendengar suaranya. Sepertinya Kiki tidak ingin menampakkan dirinya lagi.
“Jadi benar ya dia punya sixth sense atau indra ke enam?” Gumam Hani.
“Aku kenal orang itu.” Ucap Kiki.
“Hah? Jadi mungkin, orang itu tadi ketakutan saat lihat kamu dong.”
“Entah. Tapi, aku tadi merasa Stevan dan Bunda Eka gak ke luar negri. Tadi aku sempat mencoba lihat ke dalam. Kakak tau? Di sana ada banyak makhluk mengerikan. Lebih mengerikan dari yang melilit papanya kak Jaelani.”
Seketika Hani di buat merinding.
“Jangan gitu dong, aku belum mandi nih. Kan aku jadi takut.”
“hahaha. Aku bakal jagain kakak deh. Kakak kan bantuin aku, aku juga bakal bantuin kakak. Kakak mau mandi sekarang? Aku jagain?”
Jujur saja, ketika Kiki tertawa membuat Hani semakin merinding. Suara tawanya begitu memilukan. Tidak seperti tawa orang sedang bahagia. Melainkan tawa yang mengerikan, yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. Kini, Hani mulai terbiasa dengan Kiki. Bahkan dia juga mulai berbicara biasa seperti dengan halnya berbicara dengan manusia. Hanya saja, dia tetap tidak bisa melihat Kiki, jika Kiki tidak menampakkan diri.
“Kamu bisa jagain aku? Kamu kan anak kecil”
“Jangan remehin aku kak. Aku juga bisa muncul menjadi anak yang mengerikan. Yang bikin orang berlarian. Mau di ujicoba ke kak Jaelani?”
“Jangan!”
“Kenapa?”
“Udahlah, aku mau mandi.”
***
Di rumah Jaelani.
Jaelani baru saja selesai mandi. Dia langsung menghempaskan dirinya ke kasur yang empuk. Sama seperti Hani, dia juga merasa lelah. Menyetir selama kurang lebih empat jam. Meski jaraknya pendek, yang membuatnya lelah ketika berada di kemacetan. Kemudian, terlintas memori Jaelani saat berada di rumah sakit.
“Hmm... perempuan tadi siapanya Adit ya? Kok aku merasa kayak kenal gitu. Tapi dimana ya?”
“Tapi, aneh sih? Kok dia tau namaku? Kalau dia tau nama Hani sih wajar? Apa aku coba tanya Hani ya. Aku telepon aja deh.”
~ Terima kasih, sudah mampir baca ~
__ADS_1