Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Penemuan Tulang


__ADS_3

Selama beberapa minggu, Hani terpaksa di kurung di dalam rumah. Dia tidak boleh pergi ke mana-mana karena dalam keadaan bahaya. Selama beberapa minggu, Hani mendapat bingkisan misterius dari orang misterius juga.


Hani mendapatkan banyak bingkisan, mulai dari stun gun, satu kotak penuh dengan kuteks merah yang tumpah, balok kayu yang berdarah, hingga kertas berdarah yang di tulis nama Hani di tengahnya dengan tulang ayam yang di potong rapih.


Semakin hari, Hani semakin ketakutan. Dia tidak mampu lepas dari orang lain. Saat orang tuanya tidak ada, dia selalu menempel ke budhe Inem, selama orang tuanya ada dia menempel ke orang tuanya. Bahkan dia juga tidur bertiga bersama Beni dan Ratih.


Beni dan Ratih sudah berusaha memanggil dokter psikolog ke rumah. Namun, belum ada hasil hingga saat ini. Mereka masih berusaha menyembuhkan ketakutan Hani saat ini.


Sedangkan Jaelani, dia sering keluar masuk ke kafe DD. Selain bekerja sebagai karyawan part time di sana. Jaelani juga sedang merencanakan sesuatu dengan Gio. Semakin hari, keuangan keluarga Jaelani semakin menipis sehingga membuatnya harus bekerja part time dan Azzahra juga bekerja sebagai guru les sambil menyelesaikan skripsinya.


Dan Anggi, sudah menjadi stalker setia Jaelani. Dia mengikuti kemana pun Jaelani pergi. Dia sudah seperti mendedikasikan hidupnya untuk Jaelani. Meski mengendap-endap, Jaelani tau keberadaan Anggi. Namun itu bukanlah fokus utamanya sekarang. Meski begitu, dia juga menyelamatkan Anggi dengan menyuruh orang lain menyamar menjadi dirinya agar memancing Anggi pergi. Karena hari ini adalah hari besar.


Hani dan Jaelani masih berkomunikasi melalui pesan singkat. Jaelani mengatakan bahwa akan meluncurkan rencananya hari ini. Sayangnya, dia tidak tau jika keadaan Hani sekarang sangatlah tidak stabil. Di hantui rasa takut, cemas, dan gusar karena Kiki terus menggangunya untuk menemukan tubuh Kiki.


Hani berhasil membujuk orang tuanya. Dia meminta untuk pergi bersama Jaelani hari ini. Awalnya Beni dan Ratih menentang, namun mereka juga tidak tega karena Hani sudah beberapa minggu di kurung di rumah. Hani boleh pergi bersama dengan Jaelani. Namun, dengan syarat pergi bersama pak Rian. Dan Hani menyetujuinya.


Waktu yang di tunggu pun tiba.


Hari besar ini di mulai pada Sabtu siang. Jaelani sudah datang di rumah Hani. Dia datang menggunakan motornya. Kemudian, dia meletakkan motornya di garasi rumah Hani. Dan dia pergi bersama Hani naik mobil yang di supir oleh pak Rian. Menuju kafe DD.


Sepanjang perjalanan menuju kafe DD, Jaelani merasa sangat gelisah. Dia tidak tau jika akan ada pak Rian mengantar Hani. Namun, Hani mencoba mengajak Jaelani berbicara untuk menutupi kegelisahannya. Hani juga sering tersenyum hingga membuat Jaelani lupa sejenak dengan rasa gelisah nya.


Sampai lah mereka di kafe DD.


Mereka bertiga langsung masuk. Awalnya biasa saja, hingga akhirnya pesanan datang. Hani mengelabuhi pak Rian dengan caranya.


“Loh, HP ku di mana? Pasti ketinggalan di mobil nih. Pak Rian pinjam kunci mau ambil  Hp.” Ucap Hani.


Pak Rian menolak, dia meminta Hani menunggu di sana. Kemudian, dia kembali ke mobil mengambilkan ponsel Hani yang sengaja di tinggal di sana. Begitu pak Rian keluar dari kafe, BLAM! Listrik mati AC, CCTV, lampu dan beberapa alat dapur mati. Hani langsung mengeluarkan obat dari kantung kecilnya. Dia langsung memasukkannya ke minuman pak Rian.


“Eh! Han apaan tuh?” Tanya Jaelani panik.


“Stttt.”


Hani sangat panik, hingga mungkin dia menaruh banyak obat ke minuman itu. Dengan cepat Hani mengaduk minuman itu dengan sedotan.


“Cepet larut!”


“Han?! Kamu kok gitu sih? Kamu berubah sekarang.”


Hani tidak menjawab. Dia hanya ingin menuntaskan semuanya hari ini. Ini memang bukan percobaan pertama Jaelani menyelinap mendekati Stevan. Melalui Gio, Hani berharap rencana ini akan segera selesai agar bebannya berkurang.


“Kak! Pak Rian mau datang.” Ucap Kiki.


Hani buru-buru merapihkan semuanya. Lampu langsung menyala begitu saja. Dan benar saja, pak Rian kini sudah masuk sambil membawa ponsel di genggaman nya. Dia tersenyum lebar lega melihat Hani terlihat baik-baik saja.


“Ini mbak.”


“Terima kasih, duh enak ya bisa keluar. Bosen di rumah terus, lihat itu-itu mulu.” Ucap Hani sambil menarik napas panjang.


“Ha?” Jaelani tidak mengerti ucapan Hani.


Hani langsung mengalihkan topik. Dia bertanya tetang SMA 18 sekolah Jaelani. Jaelani pun menceritakan semuanya dengan semangat, dia pikir Hani akan sekolah di sana. Namun, meski begitu, dia beberapa kali melirik ke arah Gio. Hingga akhirnya tiba.


Pak Rian sudah  meletakkan kepalanya di atas meja. Dia sudah tertidur pulas, bahkan hampir mendengkur. Hani tersenyum senang dia berhasil. Dia meminta Jaelani memanggil Gio.


“Udah tidur dia Han?” Tanya Gio.


“Udah bang.”


“Jae, bantu bawa ke mes.”


Jaelani masih tidak mengerti apa yang terjadi sekarang. Dia hanya bisa menuruti kemauan orang orang di depannya ini.


Beberapa hari yang lalu, Hani meminta tolong kepada Gio untuk mematikan listrik kafenya  sementara saat Hani memasukkan obat tidur dan menyalakan kembali saat Hani memberi kode. Hani memberi kode ke Gio dengan jari kelingkingnya. Dia juga meminta Kiki mengawasi Pak Rian selama pak Rian mengambil ponselnya. Tidak lupa Hani sudah mengatur agar pak Rian parkir di tempat yang jauh dari kafe.


“Sebenarnya ada apa sih?!” Tanya Jaelani kesal.


“Udah gak ada waktu nih. Ayo, aku janji ketemu jam dua nih di kantornya.” Ucap Gio.


Reflek Hani melihat jam tangannya.


“Ini udah jam setengah dua bang. Bisa gak ya?”


“Bisa! Ayo!”


Hani dan Gio berlari kecil menuju mobil Gio. Jaelani lagi-lagi menjadi orang yang tidak tau apa-apa dia hanya mengikuti apa yang sedang terjadi di depannya. Sesekali dia merasa merinding berada di dekat Hani. Seperti merasakan ada seseorang yang sangat marah dan siap meluapkannya.


“Jadi, nanti kalian tunggu di tangga darurat aja. Lalu kita langsungkan rencana pas aku ketuk pintu daruratnya. Hari sabtu ini kantornya gak begitu ketat. Aku juga udah pastiin kondisi aman.” Ucap Gio.


Jaelani tidak mendengarkan penjelasan Gio, dia sedang sibuk menuntut penjelasan dari Hani. Dia menjadi laki-laki yang super cerewet sekarang. Karena Hani sudah tidak betah dia pun menjelaskan semuanya secara detail. Jaelani melongo mendengar itu. Sebenarnya tidak hanya Jaelani Gio juga syok mendengar jika Hani sempat di kurung di rumah karena di teror.


“Kamu kok gak bilang sih Han?!” Ucap Jaelani kesal.

__ADS_1


“Iya, bahaya loh Han?” Sahut Gio.


“Emang kalau tanpa aku kalian mau ngapain ketemu pak Stevan? Emang kak Gio bener-bener mau investasi ke sana?” Tanya Hani beruntun.


Gio dan Jaelani terdiam. Karena pertanyaan Hani tadi suasana menjadi canggung sampai ke kantor Stevan. Memang Gio sebenarnya tidak mau investasi ke perusahaan Stevan karena dia tau Stevan licik dalam berbisnis. Sampai di sana mereka langsung menempati posisi masing-masing.


“Kalian langsung keluar pas aku ketuk pintunya ya.” Ucap Gio.


Hani dan Jaelani bersembunyi di tangga darurat.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara di ketuk bebarengan dengan suara pintu di tangga bawah seperti tertutup dan di kunci.


“Jae?”


Dengan berani Jaelani membuka pintunya. Kemudian, dia di tarik oleh pria berpakaian seba hitam dari topinya hingga sepatu. Pria itu membius Jaelani dengan suntikan, kemudian melempar Jaelani ke arah berlawanan dan pria itu masuk ke ruang tangga darurat dan mengunci pintunya.


Hani ketakutan, dia berniat pergi ke lantai bawah dan kabur melalui pintu itu. Namun sayangnya, di depan pintu itu terlihat wanita tidak asing berdiri di depan pintu. Iya, sosok wanita yang menjaga Adit di rumah sakit. Tidak lain adalah Tina.


“Tan-tante... tolong saya, saya di kejar orang jahat. Tolong tante.” Ucap Hani gemetar.


“HAHAHAHA.”


Terdengar suara laki-laki berjalan santai dari lantai atas.


“Kamu masih tidak mengenali kami Hani murid ku tersayang.”


Pria itu ternyata Tony, pantas saja Hani merasa tidak asing dengan pakaian itu. Pakaian yang dulu selalu terngiang di benak Hani. Hani semakin ketakutan dan mundur hingga menabrak Tina.


“Tante! Kita harus pergi tante! Dia orang jahat, ayo Tante.” Ucap Hani yang tidak menyadari bahwa perempuan itu adalah Tina.


“Hallo Hani murid baru di SMA Dahlia. Perkenalkan, saya Tina guru olah raga di SMA Dahlia... Dulu, sebelum menjadi buronan!”


Mata Hani membulat sempurna. Dia sekarang berada di situasi yang mencekam. Jantungnya berdegup kencang, keringat bercucuran, badan terasa panas dingin, tangannya juga bergetar hebat.


“Mari kita lumpuhkan dengan ini (Stun Gun). Seperti dulu Hani, kemudian akan aku siram kamu pakai air keras ini. Biar kamu merasakan apa yang aku rasakan.” Ucap Tina.


“Gak! Dasar kalian penjahat! Tolong!”


“Anak manis, jangan berteriak!” Ucap Tina sambil mengacungkan Stun Gun.


Kemudian, Hani merasakan ada yang menetes dari kepalanya. Baunya tidak asing, bau kuteks. Benda cair itu menetes kian deras dari kepala Hani ke hingga ke wajahnya. Hani semakin takut dan panik. Kakinya lemas pasrah akan keadaan, kemudian terlintas beberapa kejadian traumatis saat di sekap dulu.


Belum lagi, beberapa hari ini Kiki menggangunya. Jika rencana ini tidak berhasil maka Hani akan di hantui oleh Kiki terus-terusan atau malah, dia akan mati di tangan dua orang ini.


“Anak manis sini kita buat kamu tenang, dengan di setrum.” Ucap Tina sambil mendekatkan stun gun.


“Gak! Gak! Jangan! Aku mohon!” Ucap Hani ketakutan.


Dengan berani Hani menepis stun gun di tangan Tina. Beruntung nya Hani benda itu mengenai ************ Tony membuat pria itu meringis kesakitan. Ini adalah kesempatan untuk kabur.


Namun, begitu Hani mau berdiri. Dia langsung di dorong oleh Tina dan terduduk kembali.


“Diam! Ah, udah jangan lama sakitnya.” Ucap Tina kesal.


“Ini sakit banget bodoh!” Bentak Tony.


Hani mulai pasrah dengan keadaan, tiba-tiba pandanga menjadi gelap. Begitu Hani tersadar kembali. Dia langsung menendang Tina sekuat tenaga hingga terpental ke pintu darurat di lantai itu. Kemudian, kepala Tina membentur ganggang pintu itu hingga membuat Tina pingsan.


Tony tiba-tiba tidak merasakan kesakitan lagi. Dia langsung meras merinding membayangkan kejadian dulu terulang kembali. Tony hendak kabur dari sana, namun kakinya di cengkram erat oleh Hani.


Tony berusaha melepas cengkraman Hani dengan menendang-nendang kakinya. Dan akhirnya berhasil, bahkan mengenai muka Hani. Tony langsung pergi meninggalkan Hani. Dan Hani tidak tinggal diam. Di beranjak mengejar Tony, sayangnya tasnya nyangkut membuat Hani kesusahan dan melepas paksa tasnya hingga barang-barangnya berjatuhan.


Kemudian, dia mengejar Tony dan tidak sengaja menginjak alarm keselamatan yang di bawa untuk berjaga-jaga. Alarm itu berbunyi keras dan nyaring mengiringi pengejaran Tony.


Sedangkan di kantor Stevan.


Gio sudah duduk manis di sofa empuk di kantor itu. Dia juga di suguhi teh matcha yang menenangkan jiwa. Di dekat teh itu sudah ada map yang berisi persetujuan investasi yang akan dia tanda tangani.


“Bagus kamu invesatasi ke sini, dulu papa kamu itu sok gak mau invest di sini. Hah? Sok suci dia. Ehh sekarang malah anaknya mau invest disini.” Ucap Stevan.


“Iya dong om. Saya gak sama kayak papa saya.”


“Oh ya, kamu kenal sama Jaelani ya? Dia teman adik kamu yang di penjara itu kan? Kasihan ya anak sekarang cuman manja aja bisanya, sampai tega membunuh temannya sendiri. Ckckc”


Mendengar itu Gio semakin geram. Ingin rasanya menghajar pria itu. Gio sudah tau semua cerita dari Jaelani. Dalam pikirannya, andai saja Galih tidak menyukai Nana. Pasti Galih gak akan masuk ke masalah ini.


Sesuai rencananya, dia akan menandatangani dengan tanda tangan palsu yang hampir mirip dengan tanda tangan aslinya. Kemudian, dia akan memaksa Stevan untuk keluar ke kafenya untuk perayaan bisnisnya.


Namun, belum sempat tanda tangan mereka mendengar suara alarm keselamatan yang sangat nyaring dari luar ruangan. Stevan dan Gio langsung berhamburan keluar ruangan melihat apa yang terjadi.


Begitu berdiri di lorong mereka terkejut dengan yang ada di depannya. Mereka melihat Jaelani tergeletak di lantai, dan Hani yang menduduki laki-laki yang tengkurap sambil menjambak rambutnya dan menghantamkan kepala pria itu ke lantai dengan keras.


“Hani!” Teriak Gio sambil berlari ke arah Hani.

__ADS_1


Namun, langkahnya terhenti saat Hani berbalik menunjukkan wajahnya yang berbeda. Wajahnya merah marah serta ada tetesan kuteks yang mulai mengering di sana, matanya melotot kepalanya bergetar ke kanan dan kiri. Gio mundur beberapa langkah melihat Hani yang mengerikan ini.


Kemudian, terlukis senyum mengembang di wajah Hani. Bukannya terlihat manis tapi melihat sangat mengerikan. Dia menatap tajam lurus ke Stevan. Reflek Gio menoleh ke arah Stevan.


Terlihat Stevan bergetar, hingga kakinya lemas dan akhirnya berlutut saking takutnya. Hani berjalan terhunyung-huyung menghampiri Stevan. Sampai di depan Stevan dia menatap pria paruh baya di depannya itu lebih tajam.


“A-ampu...n ampuni saya Kiki. Am-ampun.” Ucap Stevan memohon.


Hani ternyata yang di rasuki Kiki itu, langsung menjambak rambut Stevan sambil mendekatkan wajah mereka.


“Di mana tubuhku?” Ucap Hani lirih dengan suara anak kecil.


Bug!


Tiba-tiba terdengar ada sesuatu terjatuh. Reflek Hani menoleh ternyata Pria yang di hantam tadi berusaha melarikan diri. Buru-buru Gio menangkap pria itu yang ternyata adalah Tony buruan polisi sekarang.


Hani yang di rasuki Kiki. kembali ke fokusnya.


“DIMANA TUBUHKU?!” Teriak Hani.


Stevan tidak menjawab, tetapi matanya menatap penuh harap ke arah belakang Hani.


Greb!


Tiba-tiba dua orang berbadan besar menangkap Hani dari belakang. Orang itu adalah security perusahaan ini.


“Hah! Ba-bawa dia pergi!” Perintah Stevan.


Namun, Hani malah tersenyum lebar dengan matanya yang kosong. Sambil berusaha melepaskan tangan kedua pria yang menahannya. Awalnya Hani terlihat semakin lemah. Namun, hanya butuh sepuluh menit kemudian kedua pria itu mulai lengah dan.


Brak!


Dua pria bertubuh besar yang menangkap Hani tadi terlempar serentak hingga membentur dinding. Dan dua pria itu tidak kalah, mereka berusaha kembali menangkap Hani. Dan ternyata Hani bergerak lebih cepat dari mereka.


Kini, dia sudah berada di depan Stevan lagi sambil mencekik pria di depannya itu hingga wajah pria itu merah dan terlihat kehabisan napas.


“Dimana tubuh ku? Atau kamu ikut denganku?!” Ucap Hani semakin terdengar ngeri.


Stevan terlihat berusaha mengucapkan sesuatu. Namun, cekikan di lehernya semakin kencang, membuatnya semakin kesulitan bernapas dan wajahnya hampir membiru.


Greb dua pria tadi mencoba melepaskan Hani dari Stevan. Namun, tenaga Hani ternyata semakin tambah kuat. Membuat dua pria itu kewalahan. Dan Stevan semakin lemas.


Tiba-tiba ada tenaga tambahan yang mencengkram bahu Hani. Ternyata itu polisi. Polisi datang untuk menangkap Tony dan Tina di sana.


“Tenang dek tenang!” Ucap polisi.


“Dia menyembunyikan tubuhku. Tubuhku!” Teriak Hani.


Akhirnya Hani kalah. Dia tiba-tiba lemas dan tidak berdaya. Ternyata salah satu anggota polisi tadi ada yang bisa mengatasi Hani tanpa mengeluarkan Kiki dari sana. Para medis yang di panggil tadi juga ikut berhamburan, ada yang membantu Jaelani, Stevan dan membantu Tina yang masih pingsan di ruang tangga darurat dan Tony yang masih terkapar dengan hidungnya yang tida berhenti mengeluarkan darah. Tidak lupa tangan Tony dan Tina di borgol.


“Kamu kenapa?” Tanya salah satu polisi.


“Dia orang jahat pak polisi, dia membunuhku, tapi aku gak tau tubuhku di taruh di mana sama dia. Aku Cuma mau tubuhku di makamkan sama ibuk.” Ucap Hani dengan suara Kiki.


Semua yang di sana tidak mengerti apa yang Hani ucapkan kecuali polisi yang bertanya tadi. Tiba-tiba Hani tidak sadarkan diri.


“Geledah kantornya, kita selidiki orang itu.” Ucap salah satu polisi lain.


Ternyata polisi itu sudah mendapatkan laporan tentang korupsi Stevan serta praktek dukun nya. Gio sudah melaporkan itu langsung ke polisi. Dia mau bersaksi dengan sekaligus memberikan polisi flashdisk yang dia bawa untuk mengancam Stevan jika terjadi apa-apa. Ternyata selama beberapa minggu Gio mengumpulkan data Stevan di bantu Jaelani.


***


Beberapa hari kemudian.


Rumah Della ramai. Ada mobil polisi terparkir di sana, mereka sedang melakukan investigasi di sana. Eka semakin terpukul dengan keadaan sekarang. Hingga dia harus di rawat di rumah sakit jiwa untuk menyembuhkan trauma serta kejiwaan nya.


Sedangkan Jaelani lagi-lagi melewatkan hal penting. Mungkin ini sudah takdirnya, jika Jaelani tidak pingsan mungkin dia akan merasakan hal lebih parah karena menghalau Hani.


Sedangkan rumah Hani kini di bongkar, dan di temukan tulang manusia di yang di semen di tembok salah satu kamar rumah Hani yang tidak lain adalah kamar Hani. Pantas saja Kiki betah di sana, karena memang di sana tubuhnya di semen bersama tembok.


Hani secara langsung meminta polisi untuk memberitahu kepadanya Hasil dari pemeriksaan tulang yang di temukan itu. Dia juga meminta polisi untuk membandingkan dengan laporan anak hilang budhe Inem.


Selama proses penelitian tulang itu, Kiki datang menampakkan dirinya ke budhe Inem. Dia menangis tersedu karena bisa menuntaskan rasa penasarannya. Kini dia bisa pergi dengan tenang. Sebelumnya Kiki juga sudah mengunjungi Eka hingga Eka merasa gila dan frustasi.


Satu minggu berlalu.


Polisi datang ke rumah Hani dan memberikan hasil dari otopsi tulang itu. Ternyata tulang itu adalah tulang Kiki yang di laporkan hilang beberapa tahun yang lalu. Budhe Inem, langsung lemah tidak berdaya dan di papah oleh pak Rian.


Tiba-tiba dalam lamunan nya, Kiki menampakkan diri tepat di depannya.


“Ibuk, maafin Kiki ya, Kiki dulu bandel. Maafin Kiki dulu benci adik. Kiki senang bisa ketemu ibuk di sini. Kiki kira, Kiki gak bakalan ketemu ibuk. Kiki juga sedih ternyata ibu masih tunggu Kiki pulang. Padahal ibuk gak tau Kiki dimana. Terima kasih udah doa in Kiki. Ibuk jangan sedih ya, kuburin Kiki dengan layak. Terima kasih ibuk, Kiki sayang IBU.” Ucap Kiki terakhir sebelum pergi.


Setelah itu budhe Inem pingsan karena tidak kuat menyaksikan apa yang terjadi. Budhe Inem baru tahu, jika tulang yang di temukan itu adalah tulang Kiki.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~


__ADS_2