
Di kamar Hani.
Hani baru saja selesai mandi. Matanya langsung tertuju ke kasur empuk miliknya. Terlihat benda hitam berkilau, apalagi jika bukan ponselnya yang berharga. Sepertinya tidak bisa lepas dari ponsel. Dia langsung menghampiri ponselnya yang terletak di tempat tidurnya dan membuka kunci ponselnya.
“Hah? Jaelani? Sampai lima panggilan tidak terjawab? Kenapa ya?”
Hani berniat untuk menelepon Jaelani balik. Namun, Ratih sudah berteriak dari bawah untuk menyuruhnya makan.
“Nanti aja deh.” Ucapnya.
Kling.
Ponsel Hani berbunyi lagi. Ternyata ada pesan masuk dari Jaelani. Hani langsung membuka pesannya. Tertulis di sana bahwa Jaelani ingin bertemu dengan Hani besok. Dia akan ke rumahnya sekitar jam sepuluh pagi. Tiba-tiba terlintas ide cemerlang.
“Kenapa gak sekalian joging ya. Hehehe. Kalau ngobrol di luar kan lebih leluasa.” Ucapnya.
“HANI!” Teriak Ratih.
“IYA MAH. SEBENTAR.”
Setelah menjawab panggilan mamanya. Dia buru-buru membalas pesan Jaelani dan langsung mengirimnya. Begitu terlihat berhasil Hani langsung melempar ponselnya ke kasur yang empuk dan meninggalkan kamarnya.
Kiki masih tertinggal di sana. Dia masih penasaran dengan boneka pemberian Adit. Kiki selalu merasa di awasi oleh benda itu. Dia pikir, di dalam benda itu ada penghuninya. Kiki sangat penasaran, tapi dia tidak berani mendekat.
“Mainan aja lah, tunggu kak Hani periksa benda itu.” Ucap Kiki dan mulai menurunkan beberapa mainan dari lemari.
***
“Gawat. Siaga 3.” Ucap salah satu pria yang sedang berjaga di depan kamar Adit.
Kemudian, pria itu meminta temannya untuk mengulur waktu sebentar sebelum dia masuk ke ruangan Adit untuk memberikan laporan kepada Tina yang sedang berjaga di sana.
Tidak lama kemudian, sepasang suami istri sudah berdiri tepat di depan ruang VVIP 456. Mereka menatap heran ruangan itu. Kenapa ruangan itu di jaga oleh beberapa bodyguard. Dan kenapa sepanjang lorong ini terlihat sepi. Sepertinya kamar di sebelahnya kosong.
“Kalian ngapain di sini?” Tanya pria paruh baya.
“Ah, itu pak. Saya di suruh pak bos. Eh pak Tony untuk jaga karena pengen menjaga keponakan tersayangnya.” Ucap pria bertubuh besar itu.
Tanpa berucap lagi, sepasang suami istri itu langsung masuk ke ruangan itu. Dan para penjaga di sana tidak mampu menghentikan gerakan sepasang suami istri itu. Mereka terdiam dan seperti terpaku di tempat.
Kriet!
“Tina?” Ucap pria paruh baya itu.
Wanita itu terlihat ragu menatap Tina. Sebenarnya, dia tidak tahu jika Tina melakukan operasi plastik. Wanita itu menatap Tina dari atas ke bawah berkali-kali. Mengamati setiap inci tubuh Tina.
“Kamu Tina?”
“Adit, kamu kenapa nak.”
Sepasang suami istri itu ternyata adalah orang tuanya Adit. Wanita paruh baya itu langsung berlari kecil menghampiri anak semata wayangnya. Dia memeluk, menangisi dan juga menciumi Adit. Mungkin dia merasa rindu dan juga merasa bersalah karena tidak bisa merawat anak satu-satunya itu.
“Heh! Kenapa anak saya diam saja. Siapa kamu?!” Ucap wanita itu sambil menahan tangis.
“Ah, aku Tina kak. Aku... udah merawatnya baik-baik kok kak. Mungkin ini efek dari obat tidur yang di berikan dokter.” Jelas Tina.
“Kamu Tina?! Ada apa dengan wajahmu? Dimana Tony?” Ucap wanita itu semakin naik pitam.
Yang ada di pikiran wanita itu yang tidak lain mama Adit, adalah Tina terlalu sibuk memanjakan dirinya sehingga tidak becus merawat anaknya. Dia sangat marah sehingga membuat anaknya masuk rumah sakit. Dan, bahkan Tina tidak memberitahunya. Itu lah yang membuat mama Adit sangat marah.
“Ba-baik aku akan menelepon Tony.” Ucapnya sambil berlalu keluar.
Begitu di luar. Tina mengeluarkan semua unek-uneknya. Dia mencoba menghubungi Tony sambil menggerutu. Dia penasaran dari mana kakaknya tau jika Adit masuk rumah sakit? Mereka berencana akan memberitahu kakaknya minggu depan saat Adit keluar dari rumah sakit. Mereka juga berencana melempar Adit ke luar negri ikut orang tuanya. Mereka akan melancarkan rencana mereka sendiri.
“Cepat kesini! Kakak ada di sini.” Ucap Tina langsung pada intinya.
“Pokoknya sekarang. Bodo amat. Aku gak mau di omeli sendiri.”
Setelah menelepon Tony. Tina mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Dia harus bersikap tenang dan tidak menunjukkan watak kerasnya. Meski mereka kakak kandung, Tina, Tony dan Kakaknya tidak lah akur karena mereka di besarkan terpisah karena orang tua mereka yang cerai.
Tidak lama kemudian Tony datang. Dia langsung kena amukan dari kakaknya. Tony dan Tina di marahi habis-habisan oleh kakaknya. Dan mereka hanya diam dan menunduk, seperti terlihat pasrah. Namun sebenarnya, mereka tidak mendengarkan ocehan kakaknya yang super panjang itu. Hingga akhirnya.
“Aku akan bawa Adit ikut bersamaku. Besok pagi, aku akan urus semua administrasinya.” Ucap mama Adit.
“Ah, aku aja kak yang urus. Besok, aku bakalan urus secepat mungkin.” Ucap Tina.
Beruntung Tina bersikap tanggap. Dia tidak ingin kakaknya tahu tentang rekayasa penyakit Adit. Sebenarnya Adit sudah sembuh, tapi dia terus-terusan di beri infus dan juga obat tidur. Mereka menggunakan Adit untuk memancing Hani agar datang menemui mereka.
“Oke, pokoknya besok harus beres. Gimana pun caranya.” Lanjut wanita itu.
***
__ADS_1
Keesokan harinya di rumah Hani pukul 06.00 pagi.
Hani sudah mendapat ijin dari kedua orang tuanya. Entah kenapa akhir-akhir ini ijin pergi dengan Jaelani begitu mudah. Sepertinya Hani sudah mulai mendapat kebebasan.
“Aku berangkat ma, pa.”
“Iya. Joging nya jangan di paksain. Kamu baru sembuh loh.” Ucap Ratih.
“Jae, jangan sungkan marahin dia kalau dia gak bisa di bilangin.” Lanjut Ratih.
“Siap tante, saya permisi dulu.”
Hani langsung berjalan menuju gerbang. Mereka berjalan santai, mereka berencana untuk pemanasan di taman saja. Saat berjalan menuju gerbang si trio kepo melancarkan aksinya.
“Ciyee... mau berduaan mulu.” Goda pak Rian.
“Ehem, titip ya beliin pentol ya mbak Hani pas pulang.” Sahut pak Herdi.
“Engkau masih anak sekolah... satu SMA...” Pak Yanto bernyanyi riang.
Kemudian, liriknya di sambung bersamaan oleh pak Rian dan pak Herdi. Mereka bertiga bernyanyi bersama seperti sedang paduan suara. Hani dan Jaelani semakin di buat malu-malu dan terbirit-birit pergi dari rumah ini. Sedangkan Beni dan Ratih hanya bisa tertawa dari kejauhan.
Deg!
Tiba-tiba pak Yanto berhenti bernyanyi saat melihat seklebat anak kecil berjalan di belakang Hani. Kemudian, pak Yanto menyipitkan matanya memastikan apa yang di lihatnya. Dan ternyata semakin lama semakin jelas ada anak kecil yang mengikuti Hani.
Saat pak Yanto memperhatikan dengan seksama, tiba-tiba kepala anak itu memutar seperti burung hantu membuat pak Yanto terkejut. Biasanya anak itu menunjukkan wajah yang menyeramkan. Tapi, kali ini dia tidak menunjukkannya. Hanya terlihat dingin dan datar. Lama-lamaan anak itu hilang bersamaan dengan hilangnya punggung Hani dari pandangan.
“Kok tumben ya?” Gumam pak Yanto.
Saat sampai di taman.
Hani dan Jaelani langsung melakukan pemanasan. Sambil pemanasan mereka berbincang-bincang sedikit. Hani memulai pembicaraan dengan topik yang mencengangkan.
“Eh Jae, bener Galih bunuh ayahnya?”
“Hah? Kamu tau dari mana?”
“Dari berita. Ternyata Galih itu anak orang kaya yang cukup terkenal ya.”
Jaelani langsung bergetar ketakutan. Lagi-lagi pikiran itu datang, dia takut Hani menganggapnya seperti orang jahat. Namun, melihat kondisinya sekarang. Jelas Jaelani tidak bisa berkutik lagi. Dia hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi.
“Kapan-kapan kita jenguk ya.” Ucap Hani.
Hani tersenyum mendengarnya. Kemudian, tercipta suasana hening dan sepi di antara Hani dan Jaelani.
“Hmm... kamu kemarin mau ketemu mau tanya sesuatu? Apa?”
“Oh iya, sampai lupa. Hmm kamu masih ingat bu Tina? Guru kita dulu?”
“Iya, kenapa? Gak tau ya, ini perasaanku apa aku yang lagi kangen atau apalah namanya. Kemarin aku rasa perempuan yang lagi jaga Adit itu kayak bu Tina. Tapi, wajahnya beda. Tapi... cara ngomongnya sama. Terus dia juga tau namaku.” Jelas Jaelani.
Hani terdiam sebentar mencoba mengingat kejadian kemarin di rumah sakit.
“iya ya, kemarin belum sempat tanya siapa dia. Aku juga merasa aneh gitu sama perempuan itu. Gimana kalau kita jenguk kak Adit lagi. Sekalian mampir ke rumah Della.”
“Della lagi? Ada apa sih?”
“Yah, aku masih belum puas kalau belum ketemu orang tua Della. Cuma ke makamnya doang kayak kurang srek gitu.”
“Oh jadi ke rumah Della doang? Gak kek rumah Violla?”
Hani berdehem. Kemudian, dia mengajak Jaelani untuk mulai joging. Sambil joging, mereka masih mengobrol. Topik yang di bahas masih seputar, Della, Violla dan Galih. Hani mencoba menggali informasi lebih dalam tentang Della.
Sungguh, dia memang memiliki ide yang cemerlang. Tanpa Jaelani sadari, Jaelani menjelaskan semuanya. Bahkan dia juga memberi tahu jika Della itu dulunya sering sakit-sakitan. Jaelani juga menjelaskan bahwa ayah Della mempunyai perusahaan yang cukup besar. Perusahaan itu juga berada di kota ini. Hani terus menggali informasi Della, hingga Jaelani menyadari itu.
“Han, kamu kenapa sih?” Tanya Jaelani tiba-tiba berhenti.
“Kenapa? Apanya?”
“Kamu dari tadi bahas Della mulu. Tanya tentang Della mulu. Sebenarnya ada apa?” Ucap Jaelani menatap Hani tajam.
Hani langsung salah tingkah, dia bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu. Namun, belum sempat menjawab Jaelani bertanya lagi.
“Kamu mau menyelidiki apa? Jangan-jangan kamu kaya dulu, bantu arwah penasaran?”
Deg deg deg.
Jantung Hani yang belum normal karena joging, semakin kacau setelah mendengar ucapan itu. Dia tidak habis pikir, ternyata Jaelani bisa berpikir seperti itu.
“Aku gak mau kamu bahayain diri kamu lagi ya Han. Udah cukup. Apa aku harus kasih tau orang tua mu?”
__ADS_1
“Jangan?! Please, jangan. Ini kemauanku sendiri. Ah, sebenarnya aku juga takut dan risih. Tapi....”
“Tap apa Han?”
“Sepertinya, aku sedang membantu. Anak budhe Inem yang hilang. Dengan cara bertanya kepada papanya Della dimana tubuh Kiki di kubur.” Ucap Hani semakin lirih.
“Kiki?”
“Anak yang akan aku bantu ini.”
“Tapi gak semudah itu Han. Pokoknya jangan ya Hani.”
Kiki sudah mengetahui jika Hani tau tentang fakta itu. Namun, selama ini dia diam saja. Karena tujuan utamanya adalah menemukan Stevan dan mencari di mana dia di kubur. Setelah itu baru dia memberitahu budhe Inem agar tubuhnya di kuburkan dengan layak.
Jaelani semakin di buat merinding. Kemudian, dia merasakan ada angin yang dingin berhembus. Namun, angin itu sangat tidak enak saat menyentuh kulit.
“Kok merinding.” Ucap Jaelani.
“Tolong aku kak.” Bisik Kiki tepat di telinga Jaelani.
Jaelani semakin di buat merinding. Dia juga berkali-kali mengkibaskan tangan nya di telinganya. Dia cukup takut dengan hal seperti itu. Namun, dia berlagak tangguh saja di depan Hani.
“Temukan tubuhku, agar aku bisa kembali ke alam ku.” Bisik Kiki lagi.
“Han, Ha-ha-ha Hani.” Ucap Jaelani terbata-bata.
“Kenapa?”
Tiba-tiba Jaelani menggenggam tangan Hani erat-erat dan membawanya berlari pergi dari tempat itu. Memang kebetulan tadi dia berdiri di bawah pohon beringin yang besar. Mereka lari, sejauh mungkin hingga sampai di tempat yang lebih ramai.
“Hah hah hah hah.” Napas mereka terenggah-enggah.
“Kamu... ke-kenapa?” Tanya Hani.
Jaelani masih belum bisa menjawab. Dia masih belum menerima apa yang terjadi lagi. Otaknya berpikir bahwa ini hanyalah halusinasinya. Ini sekedar halusinasi karena dia membahas hal tidak kasat mata membuatnya berhalusinasi.
“To-long a-ku kak.” Bisik Kiki lagi.
“AAAAAA”
Akhirnya Jaelani tidak kuat. Dia ketakutan, tubuhnya terasa menggigil. Reflek dia menutup telinganya dan berjongkok menatap tanah. Memastikan kaki Hani masih menempel di tanah.
“Jae kamu kenapa?!” Hani semakin panik.
“To-long....” Bisik Kiki lagi.
Kiki semakin meneror Jaelani. Jaelani yang ketakutan semakin lemah. Bahkan dia sampai bisa melihat sedikit bayangan anak kecil berdiri di depannya. Sedangkan Hani berusaha menenangkan Jaelani dari samping sambil mengelus pundak belakang Jaelani.
“O-oke.. tapi ja-jangan ganggu aku dan Hani.” Ucap Jaelani bergetar. Di situasi seperti ini Jaelani masih saja memikirkan Hani.
“Hah?”
Perlahan bayangan anak kecil itu menghilang. Jaelani perlahan menjadi tenang. Dia berusaha bernapas normal. Suara Hani juga semakin terdengar di telinga Jaelani. Kini matanya menatap ke depan. Ternyata beberapa orang sedang memperhatikan Jaelani, ada yang berhenti dan menatap dari kejauhan ada yang masih berjalan tapi matanya menatap ke arah Jaelani.
“Jae, kenapa?” Tanya Hani khawatir.
“Aku, gak apa-apa.”
“Ya udah, ayok kita cari tempat duduk dulu.”
Hani menuntun Jaelani mencari tempat duduk yang lumayan teduh. Hani masih menatap Jaelani khawatir. Dia menatap mata Jaelani yang terlihat ketakutan. Hani tidak mendengar sama sekali apa yang di dengar Jaelani tadi.
Sedangkan Jaelani masih termenung dengan kejadian hari tadi. Dia langsung membayangkan betapa ketakutannya Hani kala itu. Mungkin, ini juga yang sering di sebut teman-temannya aneh. Ketika Hani berteriak sendiri, ngobrol sendiri dan marah-marah sendiri.
“Aku akan bantu kamu Han. Tapi, kamu harus janji. Kemana pun kamu pergi. Harus sama aku.” Ucap Jaelani tiba-tiba.
Jaelani enggan membahas apa yang dia rasakan tadi. Dengan yakin, dia ingin membantu Hani. Sedangkan Hani tersenyum senang mendengar ucapan itu. Dia sangat bersyukur Jaelani membantunya. Meski dia juga penasaran apa yang membuat Jaelani berubah pikiran secepat ini.
“Terima kasih Jae.” Ucap Hani
“Kita ke rumah ku aja ya, istirahat di sana.”
“Gak, kita di sini aja. Sambil cari-cari keberadaan orang tua Della.”
Hani semakin riang. Kini dia duduk di samping Jaelani. Dia mengeluarkan ponselnya yang ternyata sedang siaga merekam. Tapi, dia tidak menunjukkan ke Jaelani. Takut Jaelani marah dan kecewa kepadanya.
“Oke, kita mulai cari dari perusahaan papa Della. Cari info sebanyaknya. Besok kita ke rumah Della sore pulang sekolah. Memastikan keberadaan orang tua Della. Kapan mereka balik dan, kita punya rencana cadangan untuk mencari keberadaan mereka dengan datang ke kantor.” Jelas Jaelani memimpin.
Hani sangat terkesan dengan cara Jaelani berbicara. Terlihat berwibawa dan sangat gagah.
“Tapi apa bisa anak SMA menemui orang seperti papa Della di kantornya?”
__ADS_1
“Aku bisa minta tolong kakaknya Galih. Meski dia belum tua, tapi dia cukup dewasa dan meyakinkan untuk bertemu dengan papa Della.”
~ Terima kasih, sudah mampir baca. Doakan ya, biar saya bisa cepat menyelesaikan cerita ini untuk membayar beberapa waktu saya yang lalu karena lama update hehe. Semoga masih stay sampai tamat ya. ~