Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 56


__ADS_3

Di rumah Hani.


Hani sedang sibuk menata beberapa barang di kamarnya. Hari ini dia sangat senang hingga membuatnya menjadi rajin untuk bersih-bersih kamar karena ada boneka baru. Dia merapikan tempat tidurnya, meja riasnya dan juga meja belajarnya.


Tok tok tok.


Suara pintu di ketuk. Ternyata budhe Inem yang mengetuk karena akan membersihkan kamar Hani. Tetapi Hani menolaknya. Dia ingin membersihkan kamarnya sendiri hari ini. Dia ingin menata ulang beberapa benda di kamarnya.


Budhe Inem pun mengangguk paham. Namun, dia heran karena tidak biasanya Hani begini. Saat budhe Inem akan menutup pintu kamarnya. Matanya menemukan benda asing yang berada di sudut ruangan tempat menyimpan beberapa mainan di sana.


“Kapan mbak Hani beli boneka?” Gumamnya.


Selang beberapa detik budhe Inem ingat jika sebelumnya Hani mendapat bingkisan. Kemudian, dengan jailnya budhe Inem masuk kembali dan pura-pura mencari sesuatu di kamar Hani.


Hani juga ikut kebingungan mencari benda apa yang terjatuh. Karena budhe Inem tiba-tiba berjalan menunduk dan terlihat seperti mencari sesuatu di lantai. Dan budhe Inem berjalan menunduk hingga sampai di pojok ruangan tempat menyimpan beberapa mainan.


“Cari apa budhe?” Tanya Hani yang juga ikut mencari di lantai.


“Cari itu mbak... ah gak jadi.” Ucap budhe Inem dan langsung berdiri tegak.


“Loh! Boneka baru. Bagusnya.” Lanjut budhe Inem.


Hani akhirnya menyadari kejahilan budhe Inem. Dan dia pun tersipu malu. Hani langsung menarik tangan budhe Inem menjauh, kemudian dia mendorong pelan budhe Inem agar segera keluar dari kamarnya.


Brak!


Hani menutup pintu kamarnya cukup keras. Lalu dia bersandar di balik pintu dan menutup mukanya yang sudah merah karena malu. Dia juga tersenyum-senyum sendiri karena mengingat ulah budhe Inem tadi.


“Ah budhe.” Ucapnya.


Sruk!


Tiba-tiba Hani di kejutkan oleh benda yang jatuh ke lantai. Seketika Hani yang berbunga-bunga berubah menjadi kesal karena dia masih belum puas menikmati perasaan itu. Lalu, Hani mencari benda apa yang jatuh tadi. Dan dia langsung menemukannya.

__ADS_1


“Eh? Apaan tuh?” Ucapnya sambil berjalan menuju meja belajar.


Semakin dekat Hani semakin tau jika benda yang terjatuh tadi adalah MP3. Hani mengambilnya sambil mencoba mengingat kapan dia membeli MP3 karena seingatnya dia tidak pernah membeli MP3 karena lebih suka menggunakan speaker.


“Kapan aku beli ini ya?” Gumamnya.


Karena penasaran pun Hani menyalakan MP3 itu. Beruntungnya, benda itu masih berfungsi dengan baik. Bahkan baterainya juga masih penuh. Hani langsung memutar beberapa lagu dari MP3 itu. Dan terkejutnya dia, karena tidak ada satu pun lagu K-POP di playlist MP3 itu.


“Ini beneran punya ku?” Ucapnya.


Hani semakin penasaran dan mengingat ingat kapan dia memiliki benda itu. Dia juga mencoba mengeksplorasi lagu-lagu di MP3 itu hingga dia menemukan ada satu rekaman suara di folder MP3 itu. Karena penasaran dia langsung memainkannya.


Begitu di putar Hani langsung meneteskan air mata. Dia tiba-tiba merasa sedih yang amat dalam. Ada juga rasa bersalah di dalam lubuk hatinya. Dadanya semakin sesak setiap dia mendengar kalimat per kalimat. Hatinya serasa begitu hancur seperti kehilangan sesuatu yang berharga.


‘Hai Han, kamu jangan sedih ya. Aku akan selalu berusaha untuk membantumu. Hanya saja, jangan sampai anak-anak tau. Iya, aku pengecut. Aku hanya ingin membantumu tanpa kamu merasa risih karena di cibir teman-teman. Aku juga gak ingin kamu merasa bersalah nantinya jika aku membantu mu terang-terangan. Maaf.’


Ternyata itu adalah rekaman suara Jaelani dulu. Saat Hani masih di sekolah SMA Dahlia. Jaelani memberikan MP3 itu kepada Hani. Dia sudah merekamnya sejak lama. Hanya saja Hani baru tau rekaman itu sekarang bahkan ketika dia hilang ingatan.


Tiba-tiba kepala Hani terasa pusing. Pandangannya seperti memutar. Bumi seakan bergetar hingga Hani kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai. Kepala Hani membentur keras lantai hingga pandangannya mulai buram dan menjadi gelap.


“Hi jangan deket-deket anak pembawa sial.”


“Dasar pembawa sial.”


“Dela stress ya gara-gara dia.”


“Tolong aku, atau mati.”


Beberapa kalimat terlontar Hani berada di dalam kelas yang terasa tidak asing baginya. Dia duduk di bangku pojokan dekat jendela. Semua orang menatapnya sinis membuat Hani semakin ketakutan.


Hani menutup mata dan telinganya. Tangannya memukul kepalanya sendiri sangat keras. Namun, tidak terasa sakit. Dia tau ini hanyalah mimpi. Tapi mengapa begitu nyata.


“Gak! Aku gak bawa sial” Teriak Hani.

__ADS_1


Kemudian, suasana menjadi hening. Tiba-tiba Hani merasa seperti di terpa angin besar hingga beberapa daun ranting berterbangan menyentuh kulitnya.


Pyar!


Terdengar suara benda yang pecah. Hani reflek membuka matanya dan melihat seorang gadis yang berdiri di dekat jendela menatapnya tajam sambil menggerang. Hani semakin ketakutan dengan apa yang terjadi. Ingin rasa pergi dari sana. Tapi, kakinya seakan-akan terjelembab di tanah itu.


“Aaaaa. Aku mau anak itu. Aku sudah melakukan perjanjian dengannya.” Ucap gadis di atas dekat jendela itu.


Hani semakin panik dan berusaha meminta tolong. Dia berteriak sekeras mungkin. Tapi tidak ada yang bisa mendengarkannya. Hani berusaha mengeluarkan kakinya yang terejelembab itu. Dan tiba-tiba Hani malah jatuh masuk ke dalam lubang tanah itu.


Pandangannya kembali gelap. Terdengar suara riuh pertengkaran merebutkan seseorang yang tidak lain adalah Hani. Suara anak perempuan dan laki-laki yang terdengar tidak asing baginya. Hani berusaha untuk melihat di dalam kegelapan dengan masih posisi tidur terlentang karena jatuh.


Beberapa detik kemudian, Hani mendapatkan cahaya meski hanya setitik kecil. Namun, lama kelamaan cahaya itu semakin membesar hingga mata Hani di buat silau oleh cahaya itu. Reflek Hani menutup matanya dengan lengannya. Tapi, lengannya di tahan oleh seseorang dan...


BOOM!


Hani melihat seorang gadis bergelantung di atasnya dengan leher terikat di tali tambang tepat di atas kepalanya. Tetes demi tetes berwarna merah entah dari mana mengalir di pipi Hani. Anehnya dia tidak mencium bau amis dari cairan itu. Hani malah mencium aroma kuteks yang kuat.


“Kuteks?” Ucap Hani.


Krek... krek... krek..


Tali yang menyangga gadis di atas kepala Hani mulai terpotong dengan sendirinya. Hani berusaha untuk bangun tapi tidak bisa. Badannya seakan-akan sangat lengket dengan alas itu. Bahkan untuk menggerakkan kepalanya saja tidak bisa hingga akhirnya.


Bruk! Gadi itu jatuh menimpa Hani. Dan Hani pun terbangun dengan napas terenggah-enggah di sertai kepalanya yang sangat pusing hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh lagi. Dia memejamkan matanya kembali agar bisa konsentrasi menyeimbangkan badannya.


“Hah...”


Hani menghela napas panjang. Matanya tertutup rapat, karena masih takut jika dia berada di alam mimpi. Tangannya dingin bergetar hebat, jantungnya masih berdebar dan napasnya masih memburu. Dengan tekat kuat sambil berdoa dalam hati. Hani membuka matanya perlahan.


“Hah... itu tadi apa?”


“Semakin kak Hani ingat, semakin mudah.” Ucap Kiki lirih.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca~


__ADS_2