Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 11


__ADS_3

Hani masih berjalan dengan menyeret kakinya. Dia di tatap oleh beberapa pasang mata. Dia harus mengabaikan perasaan antara rasa malu dan risih.


Akhirnya dia sampai di kantin. Matanya langsung mengarah ke pak Rian dan suster cantik yang sedang berbincang. Dari kejauhan mata Hani memicing melihat kedua orang dewasa itu yang terlihat tersipu malu satu sama lain.


“So sweet.” Gumamnya.


Hani berjalan dengan sok cool ke arah mereka. Sambil menahan senyum dia tetap membenahi cara berjalannya agar pak Rian dan suster cantik tidak khawatir.


“Ehem....” Hani berdehem sambil senyum.


Pak Rian yang tidak menyadari kedatangan Hani jadi salah tingkah. Padahal Hani tidak mendengar pembicaraan apapun di antara mereka karena sibuk bersikap ‘baik-baik saja’. Tetapi mata elang pak Rian tidak bisa di bohongi. Dia sudah hapal betul tingkah Hani.


“Ada apa mbak?” Tanya pak Rian.


Hani menggeleng dan tersenyum. Kemudian dia duduk manis di antara pak Rian dan suster cantik. Pak Rian masih menatap Hani penuh selidik karena dia merasakan ada yang janggal dengan ekspresi Hani. Sedangkan suster cantik merasa canggung dengan suasana ini.


“Suster cantik mau buah naga kan?” Tanya Hani.


“Iya.”


“Syukurlah.”


Hani berusaha memecah keheningan dan juga mengalihkan topik agar pak Rian tidak menatapnya dengan intens. Namun upayanya gagal. Pak Rian tidak mengalihkan perhatian sedikit pun dari Hani.


“Tadi kesleo.” Ucap Hani bohong.


“Tuh kan... Mbak Hani sih jalannya petantang-petenteng sih. Mana yang sakit?”


Pak Rian langsung menunduk memeriksa kaki Hani yang katanya ‘kesleo’ itu. Dia memijit pelan kakinya. Mencoba mencari bagian mana yang sakit.


Suster cantik itu heran kenapa pak Rian bisa perhatian seperti itu dengan Hani? Apa hubungannya dengan Hani? Bahkan dia sempat berpikir bahwa Hani adalah anak pak Rian. Tapi dia menepis pikiran negatif itu. Rasa penasarannya benar-benar memuncak. Lebih tepatnya rasa cemburu dengan anak berusia 16 tahun karena mendapat perhatian lebih dari pacarnya.


“Udah pak Rian. Udah sembuh.” Ucap Hani yang geram.


“Dipijit dulu mbak biar gak memar parah.” Bantah pak Rian.


Hani dari tadi sudah menarik-narik kakinya dan memberi kode ke pak Rian untuk memperhatikan suster cantik. Namun, pak Rian mengabaikannya dan fokus ke kaki Hani.


“Wajah suster itu serem juga kalau lagi gini.” Pikir Hani yang sesekali melirik suster cantik.


“Kan ada suster cantik yang bisa ngobatin.”Ucap Hani menekan kata ‘suster’


Beruntungnya pak Rian peka. Dia langsung mengintip wajah suster cantik dari bawah. Betapa terkejutnya dia mengetahui pujaan hatinya memasang ekspresi mengerikan. Kini pak Rian bingung harus berbuat apa. Hani pun juga tidak tau harus berbuat apa?


“Oh iya. Suster cantik bisa tolong periksa kaki mbak Hani.” Ucap pak Rian.


“Suster cantik?” Tanya suster cantik dengan tersipu.

__ADS_1


Meski begitu insting susternya tidak bisa mengalahkan perasaanya. Merasa di mintai pertolongan. Suster cantik ikut mengecek keadaan kaki Hani. Kini dia jongkok berjajar dengan pak Rian. Mengecek pergelangan kaki Hani namun, dia tidak menemukan tanda-tanda kesleo. Dia mencoba memijit-mijit bagian tertentu di kaki Hani.


“Aaaa.” Rintih Hani pura-pura.


“Oh ini gak apa-apa bentar lagi sembuh.” Ucap suster cantik.


Sebenarnya suster cantik paham jika kaki Hani baik-baik saja. Entah kenapa moodnya jadi buruk karena itu. Pikiran negatifnya tadi pun kembali hadir. Untuk menutupi rasa cemburunya dia berpamitan pulang terlebih dahulu.


Pak Rian terlihat kikuk melihat kepergian pujaan hatinya itu. Hani hanya bisa memasang ekspresi gemas kepada supirnya tersayang itu. Pak Rian yang dia kenal teliti, tegas dan gagah itu jadi layu jika berurusan dengan suster cantik.


“Kejar pak biar kayak di sinetron gitu. Tunggu adindaaa... gitu” Ucap Hani mengejek.


Pak Rian hanya tersenyum senang. Ini pertama kalinya Hani menunjukkan sifat aslinya yang jail setelah sekian lama menghilang menjadi kemurungan yang mampu membuat dunia seakan gelap.


“Mbah Hani tunggu di sini ya.” Ucap pak Rian berlalu mengejar suster cantik.


“Mbah?” Ucap Hani terkejut.


Ingin sekali Hani memukul keras-keras lengan pak Rian. Namun, apalah daya pak Rian sudah pergi jauh hingga tidak terlihat sedikit pun gambaran punggungnya yang lebar itu.


“Dasar om om haha.” Ucap Hani cekikikan sendiri.


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Padahal tadi jelas-jelas tadi ramai pengunjung yang sedang memesan makan dan mengobrol. Hani memperhatikan sekitarnya yang seakan-akan jadi membisu itu.


“Tolong... Tolong cu... sakit cu...” Suara wanita tua terdengar di telinga kanan Hani.


Seketika bulu kuduk Hani berdiri dan sekujur tubuhnya jadi merinding.


Reflek Hani menoleh ke kanan, kiri, belakang mencari sumber suara. Tapi dia tidak menemukan ada anak bayi menangis di sekitarnya.


“Sakit cu... tolong nenek cu...”


“oek oek oek.”


“Sakit cu...”


“huhuhuhu.”


“sakiitt.”


Tiba-tiba suara aneh silih berganti terdengar oleh telinga Hani bergantian. Lama kelamaan suara itu seakan-akan menjadi semakin ramai. Hani lebih banyak mendengar suara minta tolong di telinganya. Mulai dari nenek-nenek, anak kecil, pria paruh baya. Semua terdengar di telinga Hani. Dia juga merasakan perutnya yang tiba-tiba melilit luar biasa. Sakit sekali rasanya.


“Aduh... kenapa ini?”


Keringat dingin mulai bercucuran. Hani sudah tidak tahan berada di sana. Dia memutuskan untuk keluar dari tempat itu. Dia menutup telinganya dan berlari keluar rumah sakit. Dia mulai berjalan cepat dan kemudian berlari kecil meninggalkan rumah sakit. Matanya melihat ke setiap lorong mencoba mengingat-ingat dia tadi melewati lorong mana.


“Tadi lewat mana?” Ucap Hani ketakutan.

__ADS_1


Hani terus berlari kecil sambil mencoba mengingat jalan mana yang dia lalui tadi. Beruntungnya dia bertemu dengan bapak satpam. Bapak satpam itu menghampiri Hani. Karena dia melihat tingkah aneh Hani.


“Adik kenapa?” Tanya bapak satpam.


“Saya mau keluar.”


“Oh iya saya bantu. Tapi gak mau periksa dulu?”


Pak satpam khawatir dengan tingkah Hani yang tidak biasa itu. Namun, Hani masih ingin pergi keluar. Pak satpam pun mengikuti kemauannya dan menemaninya sampai ke resepsionis. Pak satpam menuntun Hani, dia memegang lengan Hani kuat-kuat untuk berjaga-jaga jika Hani ambruk tiba-tiba.


Akhirnya Hani sampai di resepsionis. Mataya langsung menatap punggung seseorang yang tidak asing baginya itu. Punggung yang sangat lebar yaitu punggung pak Rian.


“Pak Rian.” Panggil Hani lemah.


Pak Rian dan suster cantik langsung menoleh ke arah Hani dan menghampirinya. Pak Rian dan suster cantik terlihat sangat khawatir melihat keadaan Hani yang tiba-tiba lemas dan terlihat ketakutan itu.


“Ini kenapa pak?” Tanya suster cantik.


“Gak tau... tadi tuh dia kayak orang linglung katanya mau keluar. Saya tanya untuk periksa dulu dia gak mau.” Jelas pak satpam.


Hani langsung memeluk suster cantik mencari kenyamanan dan perlindungan. Dia benar-benar merasa lemah dan ketakutan meski suara itu sudah tidak menggangu. Energi Hani seperti terserap begitu saja.


“Mbak Hani di periksa ya?” Tanya suster khawatir.


Hani menggeleng lemah. Dia hanya ingin pulang sekarang. Dia tidak ingin bertemu dokter. Seperti yang sudah-sudah dokter pasti bilang kelelahan. Dia benar-benar ingin pulang dan tidur di rumah. Pak Rian terpaksa menigkuti kemauan Hani. Karena Hani memohon dengan sepenuh hatinya. Dia juga meminta suster cantik untuk menemaninya. Dia ingin di peluk seperti yang biasa mamanya dan budhe Inem lakukan saat Hani ketakutan. Suster cantik yang tidak tega juga menurutinya.


Mereka pun pulang bersama. Selama perjalanan suster cantik berusaha menenangkan Hani hingga Hani tertidur di pelukan suster cantik.


“Maaf ya merepotkan.” Ucap pak Rian


“Gak apa-apa. Dengan ini aku bisa bantu mas. Aku juga akan seperti itu, kalau jadi mas. Yah... setelah mendengar cerita mas. Aku jadi kasihan. Mbak Hani benar-benar anak yang kuat.” Jelas suster cantik.


Pak Rian mendengar itu merasa senang sekali. Akhirnya pujaan hatinya memahami perasaan pak Rian yang sudah bekerja lama dengan keluarga Hani serta menganggap Hani seperti anaknya. Mulai sekarang, dia akan lebih terbuka dengan calon istrinya itu. Mengingat pak Rian berencana melamar suster itu.


Tidak lama kemudian mereka sampai. Pak Herdi langsung membuka gerbang begitu mendengar klakson khas pak Rian.


Greekkkk


Pak Rian melaju dengan pelan dan berhenti sejenak sebelum masuk. Dia membuka kaca jendela mobilnya.


“Mas Herdi... tolong panggilin mbak Inem untuk siapin air di campur daun kelor buat mbak Hani.” Pinta pak Rian.


“Waduh kumat lagi mbak Hani.” Keluh pak Herdi.


“Oke oke.” Lanjut pak Herdi cepat dan melirik ke dalam mobil dan melihat suster cantik sedang memeluk Hani. Suter cantik pun tersenyum menyapa pak Herdi. Pak herdi pun membalas dengan canggung. Karena ini pertama kalinya dia bertemu pujaan hati pak Rian.


Mobil pun masuk sepenuhnya dan pak Herdi menutup gerbangnya. Dia menitipkan pos satpam ke pak Yanto sejenak.

__ADS_1


“Rian pinter cari cewek.” Gumam pak Herdi berjalan menuju belakang rumah.


~ Terima kasih, sudah mampir baca~


__ADS_2