
Tibalah hari yang di tunggu. Jaelani sudah mendapat ijin dari Beni untuk mengajak Hani jalan. Awalnya, Jaelani sedikit terkejut karena Hani meminta ijin untuk menjenguk Adit. Padahal selama mengobrol melalui chat. Hani terlihat menggebu-gebu untuk pergi ke rumah Della.
“Ya udah ya pa. Aku berangkat dulu. Mumpung masing siang. Semoga aja lembaga lesnya gak buka setengah hari.” Ucap Hani berpamitan kepada Beni dan Ratih.
“Iya. Hati-hati. Kamu jangan aneh-aneh loh ya. Kalau udah selesai pulang. Boleh main sama Jaelani. Tapi, itu ganti baju dulu Jaelani nya.” Ucap Ratih.
“Iya. Kamu habis jenguk Adit boleh main. Tapi, ingat main gak aneh-aneh ya.” Ucap Beni.
Beni dan Ratih terlihat seperti sudah mendapat firasat tidak enak. Mereka merasa Hani akan melakukan hal buruk. Entah apa itu, yang pasti firasatnya sangat kuat.
“Tenang. Kita cuma, jenguk kak Adit doang. Sama paling, nongkrong ya Jae.” Ucap Hani ceria.
Jaelani terkejut Hani bisa berbohong kepada orang tuanya. Jaelani hanya bisa mengangguk pasrah di keadaan ini. Lagi-lagi Jaelani di posisi serba salah. Apakah benar istilah wanita selalu benar. Laki-laki selalu salah? Entah lah.
Jaelani pun berpamitan kepada Ratih dan Beni. Tidak lupa, dia menunggu Hani untuk mengambil helmnya. Saat menunggu Beni membisikkan sesuatu ke Jaelani.
“Titip anak saya sebentar ya. Terima kasih.” Bisik Beni.
Seketika sekujur tubuh Jaelani bergetar dan seperti terasa kesemutan. Dia tidak percaya kata-kata itu terlontar dari Beni begitu entengnya. Jaelani tersenyum bangga karena merasa sudah dipercaya oleh Beni. Kemudian, dia melirik Ratih. Ratih juga melempar senyum ke Jaelani. Membuat Jaelani semakin percaya diri.
“Ayoh Jae. Buruan, udah gak sabar pengen naik motor nih.” Ucap Hani.
Jaelani buru-buru menyusul Hani. Dia merasa sangat senang hari ini. Tidak sia-sia dia membolos ekstrakulikuler basket untuk menemani Hani. Meski yah, ini adalah permulaan petualangan besar.
Sebelum mulai berpetualang. Hani harus pergi ke rumah Jaelani dulu. Menunggu Jaelani ganti baju. Dan juga meminta ijin kepada Mia. Ini pertama kalinya. Hani datang ke rumah Jaelani. Rasa gugup dan berdebar mulai terasa ketika Jaelani berkata mereka akan segera sampai.
Begitu sampai di depan rumah Jaelani. Hani sedikit bengong karena ternyata jarak rumahnya dan Jaelani tidak jauh. Bahkan jika mau jalan kaki pun juga bisa.
Jaelani membuka gerbangnya dan di bantu Hani. Kemudian, Jaelani memasukkan motornya ke dalam dan Hani menutup gerbangnya. Jaelani cukup kagum dengan kepekaan Hani. Dia hanya tersenyum melihat Hani menutup pintu gerbang.
“WOY! Lama banget sih mang batagor....” Ucap Azzahra yang sudah berdiri di ambang pintu sambil menatap layar ponselnya.
“Siang kak.” Ucap Hani.
“Ehh... Hani.” Azzahra datang menghampiri Hani.
__ADS_1
Azzahra mengiring Hani masuk ke dalam rumah. Dia mengabaikan ‘mang batagor’ yang di nanti-nantinya dari tadi. Jaelani hanya melihat tingkah kakaknya yang berubah dalam sekejap menjadi sosok lemah lembut dan penuh perhatian. Seperti layaknya wanita idaman.
“Sini duduk dulu.”
Azzahra mempersilahkan Hani untuk duduk. Kemudian matanya melirik ke mang batagor. Dia tersenyum jahil melihat mang batagor. Senyum yang tidak bisa di artikan namun menyebalkan. Azzahra juga mengangkat-angkat kedua alisnya cepat. Udah berani bawa cewek pulang dia, batinnya.
“Nih batagornya. Super pedes gak pakai kecap.” Ucap Jaelani malas.
“Han tunggu dulu ya. Aku ganti baju dulu.” Ucap Jaelani lemah lembut.
Sungguh perbedaan yang sangat mencolok itu terpampang nyata di depan mata Hani. Membuat Hani menjadi iri. Dia jadi ingin memiliki seorang kakak.
“Sebentar ya Hani. Aku bikinin minum dulu.” Ucap Azzahra dengan menyamakan nada bicara Jaelani. Kemudian dia mengedipkan sebelah matanya kepada Hani dan tersenyum.
“Iuhh.” Ucap Jaelani jijik.
Azzahra langsung menarik tas punggung Jaelani dengan kasar. Terlihat sekali jika kakak beradik ini sangatlah akrab. Mereka berjalan sambil saling menyodok satu sama lain. Dan Hani cukup terhibur dengan tingkah mereka.
“Kak, ularnya panjang banget ih. Sampek masuk ke kamar itu.” Ucap Kiki membuat buluk kuduk merinding.
Hani lupa jika Kiki ikut dengannya. Hani tidak bisa melihat apa yang Kiki lihat. Tapi dia ingat jika Kiki pernah bilang bahwa ada ular melilit di kaki Deden suami Mia. Hani tidak menanggapi ucapan Kiki. Hani mencoba tidak peduli akan itu. Meski sebenarnya dia penasaran. Tapi, dia harus menahan perasaaan penasaran itu agar tidak menambah masalah baru. Prioritasnya sekarang ingin segera ke rumah Della.
“Hai Hani. Apa kabar, seneng deh kamu mau mampir ke sini.” Ucapnya sambil menurunkan nampannya.
Hani tersenyum canggung tanpa menjawab. Hani masih merasa sedikit takut dengan Mia. Dia masih merasa harus berwaspada kepada Mia. Tetapi, jauh di lubuk hatinya. Dia sudah mulai mempercayai Mia yang berubah menjadi lebih baik.
“Ah kamu, masih takut ya.”
Mia seolah-olah bisa membaca pikiran Hani. Mia hanya tersenyum pasrah melihat tanggapan Hani seperti ini. Mia hendak pergi meninggalkan Hani. Dia ingin memberi waktu dia dan Hani beradaptasi. Lagi pula ini pertama kalinya Hani datang ke rumahnya. Dia tidak ingin membangun kesan yang buruk lagi.
Hani hanya menatap Mia pergi berlalu. Dia juga menyesal tidak menjawab pertanyaan Mia. Tapi, apalah dayanya, karena memang belum siap secara mental menghadapi Mia yang berubah ini. Dia juga masih menerka-nerka perubahan Mia itu ke arah positif atau negatif.
Dan beberapa menit kemudian. Azzahra datang dengan riangnya. Dia duduk dihadapan Hani sambil mengunyah entah apa yang dikunyah?
“Hai kak.” Sapa Hani.
__ADS_1
“Oh iya, nama kakak siapa? Aku lupa.”
“Azzahra. Biasa di panggil Ara, atau Azzahra juga bisa.”
Azzahra memperkenalkan dirinya lagi. Dia maklum karena memang sudah lama tidak bertemu dengan Hani. Mereka pun berbincang-bincang singkat. Sambil menikmati hidangan di depan mereka.
Di tempat lain Mia mengintip dari dalam. Dia lega karena Hani masih bisa baik dengan keluarga lainnya selain Jaelani. Kini tinggal dia yang juga ingin membangun hubungan baik dengan Hani.
“Ngapain ma?” Tanya Jaelani yang sudah muncul bagaikan hantu.
“Gak. Eh kamu mau kemana?”
“Jalan-jalan ma. Boleh ya?”
Kali ini Jaelani juga berbohong kepada orang tuanya. Dua remaja ini sungguh tidak patut di contoh. Mereka tidak tau bahaya apa yang akan datang di kemudian hari karena ketidak jujuran mereka.
Akhirnya, Jaelani sudah mendapat ijin dari Mia. Sehingga dia segera melesat membawa Hani keluar dari rumahnya. Dia takut jika Mia bertanya kepada Hani. Takut, jawaban Hani tidak sama dengan jawaban Jaelani yang bisa memancing masalah untuk mereka berdua.
“Dah kak. Jaga rumah. Jangan kemana-mana.” Ucap Jaelani jahil.
Mia tidak menjawab tapi langsung menjitak kepala Adiknya itu. Dia merasa Jaelani sudah lancang kepada kakaknya. Tapi, itulah salah satu cara mereka menunjukkan kasih sayang masing-masing.
“Duluan kak. Oh iya, mamanya mana kak. Mau pamitan.” Ucap Hani.
Jaelani mendengus kesal. Dia akankah yang ditakutkan terjadi? Azzhara sudah pergi masuk mencari Mia. Sedangkan Jaelani terlihat gelisah bingung bagaimana nanti?
Tidak lama Azzahra keluar. Dia hanya datang sendiri. Kemudian, dia mengatakan bahwa Mia sedang di kamar mandi. Dan Mia hanya bisa titip salam kepada Hani. Jaelani menghela napas lega sambil membuang muka.
“Ya udah duluan kak.” Ucap Hani.
Jaelani dan Hani pun berlalu meninggalkan rumah itu. Azzahra masih berdiri depan pintu rumah menatap dua sejoli itu dengan iri. Dia juga ingin pergi berdua dengan laki-laki seperti yang adiknya lakukan. Tapi, dia belum mempunyai pasangan. Bahkan teman cowok saja tidak punya karena dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri waktu kuliah. Terlalu sibuk bekerja sambil kuliah.
“Udah jauh kak.” Ucap Mia menghampiri Azzahar.
“Hmmm. Kenapa mama menghindar sih?”
__ADS_1
“Nanti ada saatnya.”
~ Terima kasih, sudah mampir baca ~