Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Stevan


__ADS_3

Hari ini rencana Hani dan Jaelani adalah kembali ke rumah Della untuk memastikan kapan mereka pulang dari luar negri. Mereka akan berangkat sore ini. Seharusnya, Jaelani sudah sampai pukul empat sore. Tapi, sampai saat ini sudah pukul setengah lima Jaelani belum muncul juga.


“Kak, kayaknya kak Jaelani takut sama aku. Sampai sekarang belum ada kabar lagi kan?” Ucap Kiki.


Hani memanng sempat berpikir seperti itu. Tapi, dia tidak mau mengungkapnya. Karena dia pikir akan membuatnya semakin takut akan bahaya yang mungkin mengintainya. Hani juga berniat untuk berangkat sendiri tadi. Namun, dia mengurungkan niatnya. Dia masih percaya kepada Jaelani.


“Hmmm... mungkin di sekolah ada acara apa gitu.” Ucap Hani.


“Mungkin ya kakak. Kan sekolahnya gedhe, pasti pulangnya juga lama. Kayak di rumahku dulu. Anak-anak yang di sekolah gedhe (Fullday School) pulangnya pasti siang. Kalau di sekolahku enggak kak.” Jelas Kiki.


“Mana ada perbedaan gitu? Semua sama deh kayaknya.”


Kiki dan Hani pun berdebat kecil masalah jam pulang sekolah. Hani tidak tau jika yang maksud Kiki adalah sekolah berbasis Fullday. Mereka berdebat hingga Kiki marah. Dengan sengaja Kiki menjatuhkan boneka pemberian Adit. Dia menumpahkan kekesalannya ke boneka yang di anggap selalu mengawasinya.


“Mulai deh kebiasaan, jatuhin barang seenaknya. Bocil.” Ucap Hani memungut boneka itu.


Hani menepuk-nepuk kecil boneka itu, mulai dari punggung, perut hingga ke kepalanya. Saat asik menepuk-nepuk, tiba-tiba Hani merasa aneh dengan mata boneka itu. Dia membandingkan satu mata dengan mata yang lain.


Dia pun terkejut karena mata boneka itu berbeda. Setelah di amati lebih dekat. Salah satu mata boneka itu terlihat sedikit transparan dan seperti ada lingkaran kecil di dalamnya. Seperti kornea mata manusia. Reflek Hani melempar boneka itu.


Tok tok tok.


“Hah.”


Hani semakin di buat terkejut dengan suara ketukan tiba-tiba itu, yang di lanjutkan dengan suara budhe Inem dari balik pintu.


“Mbak Hani, di cari mas Jaelani.”


Tanpa buang waktu lagi, Hani langsung mengambil tasnya yang sudah dia siapkan tadi. Kemudian, dia buru-buru menemui Jaelani. Dia menuruni tangga dengan tergesa-gesa meninggalkan budhe Inem di belakang. Dia sebenarnya berlari kecil bukan karena ingin segera menemui Jaelani. Tapi, dia takut dengan mata boneka itu. Dalam pikirannya ada sesuatu tidak kasat mata penghuni boneka itu.


“Behh... mbak Hani, memang di mabuk cinta.” Gumam budhe Inem.


Sampai ruang tamu, Hani langsung menyambar tangan Jaelani. Dia menarik tangan laki-laki itu kencang, hingga Jaelani meringis kesakitan. Sayangnya, Hani tidak tau jika Jaelani meringis kesakitan. Karena dia terlalu fokus ke depan.


“Loh, motornya mana?” Tanya Hani kebingungan.


Hani menoleh ke kanan dan kiri mencari kendaraan yang sering di pakai Jaelani jika datang ke mari. Kemudian, dia menoleh ke belakang dan terkejut karena Jaelani terlihat masih meringis kesakitan.


“E-eh sorry Jae.”


“Kamu cewek apa cowok sih? Kuat banget. Sejak awal kita ketemu sampai sekarang masih kuat banget.” Ucap Jaelani sambil mengusap lengannya.


“Hah? Sejak awal kita ketemu?”


“Iya, awal kita ketemu kamu langsung banting tubuh aku ke depan.”


Hani berpikir sejenak, dia masih belum paham ucapan Jaelani. Dia malah berpikir bahwa mungkin Jaelani sempat berlatih karate bersamanya.


“Kita pernah latihan karate bareng?”


Pantes, dia ikut karate?, batin Jaelani.


Jaelani diam saja, berharap Hani bisa mengingat pertemuan awal mereka di depan SMA Dahlia yang sedang kacau karena ada garis polisi melintang.


“Gak inget? Waktu di depan SMA Dahlia dulu, ada cowok yang gak salah apa-apa kamu banting gitu aja.”


“Oh?!” Hani berseru.


Dia tidak percaya bahwa siswa yang tidak sengaja dia banting itu adalah Jaelani. Sungguh kesan pertama yang kelewat romantis. Dia juga gak menyangka sekarang, mereka malah menjadi dekat.


“Udah yuk, keburu malam. Mana motormu?”


“Di luar.”


Jaelani langsung memimpin, tidak lupa dia meminta Hani untuk menaruh helmnya di pos satpam. Ternya, Jaelani mengendarai mobil. Mobilnya di parkir di depan rumah Hani. Dan Hani hanya bisa melongo takjub ternyata Jaelani juga bisa mengendarai mobil.

__ADS_1


“Ini? Ini bukan motor.” Ucap Hani.


Jaelani hanya diam dan menarik tangan Hani kuat. Dia membuka pintu untuk Hani dan sedikit mendorongnya masuk. Karena Jaelani tidak tahan dengan tatapan Hani yang kagum itu. Tatapannya bisa membuat Jaelani melayang ke langit.


Brak!


Akhirnya Jaelani masuk dan duduk di bangku pengemudi. Sekilas dia melirik ke arah Hani memastikan dia sudah memakai sabuk pengaman. Kemudian, dia menyalakan mobilnya.


“Heh, kenapa naik ini sih? Enak naik motor.”


“Ini namanya juga kendaraan bermotor. Sama-sama ada motornya. Jadi juga enak dong.”


Hani masih kekeh lebih menyukai motor dari pada mobil. Dia suka dengan udara yang langsung dia rasakan saat naik motor, mengendarainya secara menyelinap ketika ada kemacetan, cepat sampai juga dan terpenting dia lebih bisa mengamati Jaelani dari kaca spion.


Sedangkan Jaelani hanya menanggapi Hani, sekedarnya. Dia tidak mau berdebat sekarang karena dia harus fokus menyetir.


Hani masih dengan omelan nya hingga tidak terasa dia sudah hampir sampai rumah Della.


“Kamu bisa cerewet juga ya. Sampai gak sadar kalau hampir sampai.”


“Iya kah? Oh iya, eh eh tunggu bentar. Kayaknya gerbangnya mau ke buka tuh Jae. Nah kan.”


Ternyata gerbang rumah Della perlahan terbuka. Kemudian, nampak lah mobil keluar dari kediaman rumah Della. Dan terkejutnya Hani dan Jaelani ketika tiba-tiba Kiki bersuara.


“Stevan! Itu Stevan!”


Reflek Hani dan Jaelani fokus mengamati orang yang ada di dalam mobil itu. Jaelani mengenali mama Della saja, dia jarang bertemu dengan papa Della.


“Iya, itu mamanya Della.”


“Ck, katanya ke luar negri. Boong. Eh!”


Hani tersentak, karena tiba-tiba Jaelani putar balik dengan tajam hingga membuat Hani terpojok.


Jaelani masih diam, dia fokus memutar balik kendaraanya untuk mengejar mobil Stevan.


“Itu, mamanya Della kelihatan pucat tadi. Biasanya mereka tuh bakalan pergi ke rumah saudaranya, bukan ke dokter.”


“Terus?!”


“Aku penasaran aja, karena dulu kata Della saudaranya  itu bisa sembuhin penyakit mamanya. Cuma karena minum air yang udah di baca-baca ini. Kali aja kan papaku bisa sembuh kalau di bawa ke sana.”


Hani menatap Jaelani heran. Seharusnya Hani yang antusias dengan penemuan Stevan. Tapi, kini malah berbalik Jaelani yang antusias. Meski begitu, masih ada untungnya. Kini mereka tau jika Stevan masih di sini dan bahkan malah mengejar ‘buronan’ itu. Dan Kiki semakin bersemangat untuk menemui Stevan agar dia segera di beritahu dimana tubuhnya di sembunyikan.


“Ngebut kak Jaelani.” Ucap Kiki.


“Oke.”


Hani semakin melongo melihat Jaelani dengan santainya menjawab. Namun, beberapa saat kemudian mukanya berubah menjadi pucat. Dia baru sadar jika itu bukan suara Hani. Melainkan suara Kiki. Laju mobilnya perlahan melambat. Beruntung Hani mengetahui kecemasan Jaelani.


“Tenang, dia gak jahat kok. Yah, walau kadang nyebelin.” Ucap Hani sambil menyentuh lengan Jaelani lembut.


Jaelani terlihat menahan napas karena saking takutnya. Begitu berhenti di perempatan lampu merah. Jaelani menghembuskan napas dan menarik napas sedalam-dalamnya. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya.


“Tenang Jae, tenang.” Ucap Hani.


Akhirnya Jaelani tenang. Perlahan wajahnya kembali normal namun masih sedikit pucat. Dan Hani juga merasa legan Jaelani menjadi agak kaku karena ketakutan.


Ketakutan Jaelani perlahan menghilang karena Hani berusaha untuk menenangkan Jaelani sepanjang perjalan, hingga akhirnya mereka berhenti. Terlihat mobil Stevan masuk ke dalam rumah yang cukup megah dengan cat berwarna putih bersih.


Jaelani dan Hani kebingungan, sebaiknya di mana mereka menunggu untuk mengamati Stevan. Namun, belum sempat muncul ide tiba-tiba ada sosok pria bertubuh besar menghampiri mobil Jaelani. Pria itu menggedor kaca Jaelani.


“Jangan di buka Jae, serem.” Ucap Hani.


Kini berganti Jaelani yang menenangkan Hani. Dia membuka kaca mobilnya sedikit, hingga cukup untuk menatap pria bertubuh besar itu. Pria itu terlihat terkejut ketika menatap ke dalam.

__ADS_1


“Pergi dari sini?! Putar balik sekarang!” Perintah pria itu.


“Gak kak. JANGAN! Ketika kakak putar mobilnya nanti orang itu bakalan jatuh kak. Pura-pura kayak di tabrak.” Ucap Kiki kepada Jaelani saja.


Jaelani langsung merinding mendengar suara itu. Tapi, dia berusaha untuk tetap tegar dan terlihat baik-baik saja agar Hani tidak semakin panik. Sekilas Jaelani melirik Hani dan terlihat perempuan di sebelahnya itu panik dan ketakutan.


“Kenapa pak?”


“Putar balik sekarang!”


Jaelani dan pria itu berdebat kecil. Hingga membuat Stevan dan seseorang yang kurus tinggi menghampiri mobil Jaelani.


“Ada apa sih?!” Tanya Stevan.


“Oh Jaelani ya ini.”


“Bapak tau saya?”


“Siapa sih yang gak tau anaknya Deden yang perusahaan nya hampir bangkrut.”


Jaelani langsung naik pitam. Matanya melotot ke arah Deden, wajahnya memerah karena marah. Bahkan otot- di keningnya juga mulai bermunculan.


“Jae sabar, ayo kita pergi Jae ayo.” Ucap Hani tegas.


“Tapi Han.”


Jaelani masih ingin menuntaskan amarahnya. Namun dengan berani Hani mengancam untuk pesan taksi online dan pulang sendiri. Dia tidak mau terlibat perkelahian bisnis. Seketika Jaelani pun meredam.


Meski Hani terlihat tegas. Dia mati-matian untuk menjaga dirinya agar tidak pingsan. Sebenarnya, Hani mulai merasa pusing dan mual. Badannya juga mulai lemas. Dia tau akan terjadi hal yang tidak di inginkan jika tetap di sini.


Di sisi lain, Kiki semakin marah. Dia menunjukkan sisinya yang mengerikan. Bahkan dia juga berusaha untuk masuk ke tubuh Hani. Namun berkali-kali gagal karena tubuh Hani menolak untuk di masuki.


Akhirnya Jaelani langsung menancap gas tanpa menghiraukan Stevan dan beberapa pria lainnya. Semakin jauh Hani semakin membaik. Tubuhnya semakin terasa lebih tenang. Sedangkan Kiki semakin marah.


“Kenapa kakak gak mau aku masuk?!” Ucap Kiki.


“Gak! Kalau kamu mau selesaikan urusanmu dengan Stevan. Silahkan kamu pergi ke Stevan sendiri. Jangan bawa-bawa tubuhku. Aku masih sayang nyawaku.”


Jaelani menatap Hani ketakutan. Karena dia tidak mendengar suara Kiki. Sekarang, yang dia tau hanya Hani sedang berbicara sendiri. Bukan, lebih tepatnya marah-marah sendiri. Jaelani menunggu Hani reda dan menanyakan mau kemana lagi?


Beberapa menit kemudian.


Hani sudah tenang dan kini sedang menatap jalan dengan tatapan kosong.


“Hani, kita pulang sekarang?”


“Iya Jae. Terima kasih ya. Untung kamu bawa mobil. Kalau gak pasti lebih ngeri.”


“Iya Han. Kamu cepet istirahat ya.”


***


Di rumah tadi yang di kunjungi Hani.


“Stevan! Kamu harus hati-hati sama anak perempuan yang ada di mobil itu. Dia akan membawa bencana untukmu.” Ucap pria bertubuh kurus tinggi.


“Iya, aku tau. Tadi aku sempat melihat ada anak gak berguna itu duduk di belakang. Aku juga sudah tau dari penjaga rumahku. Ternyata dua anak tadi sudah pernah datang ke rumah ku. Untuk penjaga rumahku menyadari kehadiran anak gak berguna itu. Udah mati aja nyusahin.” Ucap Stevan.


“Pa, mama sudah sembuh. Ayo kita pulang.” Ucap Eka istri Stevan.


“Iya ma.”


Stevan dan Eka bergegas pulang. Kini, dia berencana untuk lebih di ketatkan keamanan di rumahnya. Tetapi, Stevan tidak akan mengira jika Jaelani bakal mendatangi Stevan di perusahaanya. Di perusahaan Stevan tidak sembarang orang boleh masuk. Apa lagi anak remaja seperti Jaelani dan Hani. Padahal mereka sudah berencana untuk masuk ke sana melalui Gio.


~ Terima kasih, sudah mampir baca ~

__ADS_1


__ADS_2