Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 60


__ADS_3

Hani masih merasa aneh dengan perasaanya, takut, tegang marah dan kesal bercampur jadi satu. Rasanya sudah tidak karuan. Ingin sekali dia meluapkan semua. Tapi, dia tidak tau alasan perasaan itu muncul. Jadi, Hani hanya bisa mengepal kedua tangannya dengan sangat erat hingga bergetar.


“Han, maaf ya. Aduh gak bermaksud buat kamu sedih.” Ucap Jaelani panik.


“Jae, maaf. Bisa kamu pulang sekarang. Aku pengen tidur.” Ucap Hani kemudian menatap Jaelani tajam.


Tanpa berkata, Jaelani mengikuti perintah Hani. Dia langsung mengemas barang-barangnya juga berpamitan untuk pulang kepada Hani. Tapi, Hani tidak begitu merespon karena dia masih sibuk dengan perasaanya sendiri.


“Arggh!” Kesal Jaelani dalam hati.


Seharusnya dia tidak menceritakan sedetail itu kepada Hani, jika akhirnya dia membuat Hani seperti ini. Dengan sangat amat terpaksa Jaelani pulang. Tidak lupa dia mengajak Ilham yang sudah tenang duduk di bangku teras.


“Ayo ham kita ke rumahku dulu, baru ke kafe DD ketemu Galih.” Ucap Jaelani.


Ilham tidak menjawab, dia langsung berdiri dan menyusul Jaelani. Dia sudah tidak betah lama-lama di rumah itu karena melihat kejadian tadi. Bulu kuduknya sudah di buat merinding dan dia juga keringat dingin karena itu.


Di ruang tamu.


Hani masih bersandar di sofa ruang tamu sambil memejamkan mata untuk menetralisir perasaanya itu. Dia benar-benar tidak bisa mengkontrol perasaanya saat ini. Rasanya ingin sekali menangis dan berteriak sepuasnya. Rasa kesal, takut, tegang dan sedih bercampur jadi satu.


Kemudian, dengan lemas Hani melangkahkan kakinya ke kamarnya. Beruntungnya dia bertemu budhe Inem di ruang tengah. Dia meminta tolong agar bingkisan di meja ruang tamu di taruh di pos satpam. Hani juga mengatakan jika dia ingin tidur dan tidak ingin di ganggu. Lalu, dia melanjutkan langkah kakinya ke kamar dengan lemas.


“Mbak Hani kenapa sih?” Gumam budhe Inem.


Budhe Inem tidak begitu memperdulikan Hani karena dia masih memiliki banyak tugas hari ini. Biasanya saat hari Sabtu seperti ini pekerjaan budhe Inem jadi dobel karena dia hanya bekerja sampai siang saja tapi, keadaan rumah harus bersih begitu di tinggal. Dan pada hari Minggu budhe Inem libur. Karena Beni ingin family time di hari minggu.


Saat berjalan ke ruang tamu, budhe Inem merasa sedang di ikuti oleh seseorang. Sesekali dia menengok dan mengecek siapa yang mengikutinya? Namun, nyatanya tidak ada orang di sana. Budhe Inem hanya berdecak kesal saja karena merasa cukup risih.

__ADS_1


“Ibuk, Kiki di sini. Takdir mempertemukan kita di sini. Tapi, aku masih belum bisa berpamitan sama ibuk sebelum aku balas dendam dan orang itu memberitahukan dimana dia menguburku.” Ucap Kiki sambil berusaha menyentuh ibunya.


FLASHBACK.


Kiki ternyata mati di bunuh oleh Stevan papa Della. Waktu itu, Stevan sedang mencari anak di bawah umur untuk di jadikan tumbal karena, istri pertama Stevan bernama Eka atau yang biasa di panggil bunda oleh Kiki tidak bisa melahirkan anak lagi karena rahimnya di angkat akibat pendarahan hebat saat operasi sesar.


Awalnya Eka hilang kesadaran karena masih syok kehilangan bayi yang baru lahir. Dia selalu menuruti perkataan Stevan untuk mencari anak untuk di jadikan anak angkat. Namun, ketika dia sudah sadar akan perbuatannya. Dia juga ikut meninggal karena melindungi Kiki.


Eka sudah muak menuruti permintaan Stevan. Dia juga kehilangan anak kandungnya karena ulah Stevan. Itu sebabnya dia sangat melindungi Kiki agar ibu Kiki tidak merasakan apa yang dia rasakan. Tapi, ternyata semua sia-sia karena marah Stevan tidak sengaja membunuh Eka.


Stevan melakukan pesugihan agar kaya. Bahkan tidak hanya sampai di situ, dia juga menikah diam-diam dengan mama Della tanpa sepengetahuan istri pertamanya Eka. Dia bahkan juga beralasan tugas ke luar kota lama, padahal dia hanya tinggal bersama istri keduanya yaitu mama Della.


Kala itu, Eka istri pertama Stevan bertengkar hebat karena Eka berusaha melindungi Kiki. Karena kehilangan kesabaran Stevan tidak sengaja mendorong Eka hingga jatuh ke lantai satu dan tewas seketika. Stevan langsung membuang mayat istrinya itu ke sungai malam-malam.


Sedangkan untuk mengatasi Kiki. Dia memberikan racun di makanan Kiki dan dia mengubur Kiki di suatu tempat di rumah itu. Itu sebabnya Kiki tidak bisa pergi jauh karena baginya tubuhnya masih berada di rumah ini, yaitu rumah yang di tempati oleh Hani sekarang. Tapi, dia tidak tau ada di mana?


Setelah itu, Stevan menjual rumahnya dengan harga biasa. Tidak lupa dia juga menyuruh beberapa orang untuk merawat rumah itu. Agar rumah itu tidak terlihat angker dan masih layak huni. Serta harga jual bisa menyesuaikan keadaan.


FLASHBACK END.


Kiki masih mengikuti kemana pun budhe Inem pergi. Bahkan dia masih tidak menyangka takdir mempertemukan mereka di sini. Tapi, dendamnya tidak mereda begitu saja. Dia masih harus membalaskan dendamnya agar tubuhnya bisa di kubur dengan layak serta dia bisa berpamitan dengan ibunya yaitu budhe Inem.


“Ini parcel? Dari siapa gedhe banget? Terus kenapa di taruh pos satpam?” Gumam budhe Inem sambil merapikan kembali meja itu.


Kemudian, budhe Inem menyimpan MP3 Hani yang ketinggalan di ruang tengah dekat lemari TV. Lalu dia kembali ke ruang tamu, mengambil bingkisan itu untuk di bawa ke pos satpam. Sampai pos satpam pak Herdi ternyata sudah mengetahuinya. Dia langsung mengambil bingkisan itu dan membongkarnya. Ternyata Ratih menyuruh pak Herdi untuk memastikan bahwa bingkisan itu benar-benar aman untuk keluarga Hani. Karena dia masih belum yakin jika Mia berubah begitu saja.


Budhe Inem dan pak Rian hanya bisa menonton dan merekam aksi pak Herdi itu untuk di kirimkan ke Ratih. Tidak lama kemudian, semua isi bingkisan sudah di keluarkan dan tidak ada yang mencurigakan. Lalu pak Herdi menunjukkan kepada kamera bahwa ada surat dari ibu Mia dan dia membacanya dengan lantang agar terdengar saat di rekam.

__ADS_1


“Bingkisan ini sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada keluarga Beni yang telah membantu keluarga saya pergi ke rumah sakit kemarin. Sekaligus saya meminta maaf atas perbuatan saya selama ini. Saya tau bapak/ibu tidak bisa percaya begitu saya. Tapi, setidaknya saya sudah berusaha menunjukkan ketulusan saya. Terima kasih. Salam Mia” Ucap pak Herdi lantang.


Kemudian, pak Rian menghentikan rekamannya dan melihat hasilnya bersama-sama dengan budhe Inem dan pak Herdi sebelum mengirimnya ke Ratih. Mereka memperhatikan dengan seksama video itu. Hingga akhirnya mereka cukup yakin untuk di kirimkan.


“Deal ya?” Tanya pak Rian.


“Deal!” Ucap pak Herdi kemudian langsung mengirim ke Ratih.


Mereka pun menghembuskan napas lega seakan-akan mereka sudah menyelesaikan tugas rahasia yang sangat penting. Lalu, mereka sama-sama memperhatikan isi bingkisan yang sedikit berantakan di halaman depan pos satpam. Bingkisan itu ternyata berisi beberapa vitamin, dan makanan ringan.


“Orang kaya mah bebas.” Ucap pak Rian.


Mereka pun tertawa bersama karena ucapan itu.


***


Di rumah Jaelani.


Ilham sudah duduk di dalam. Dia langsung meneguk minuman yang di berikan oleh Jaelani dengan rakus. Ilham merasa sangat haus karena kejadian tadi.


“Haus apa doyan?” Tanya Jaelani.


“Rumah tadi, udah banyak CCTV angker pula hiiyy....” Ucap Ilham ngeri.


“Penakut!”


“Beneran! Hah? Itu gebetan kamu? Lebih mending Anggi sih.” Ucap Ilham dan sukses membuat Jaelani melotot.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like dan komennya. See you next episode~


~ Selamat hari raya idul fitri bagi yang menjalankan. Maaf terlambat mengucapkan.~


__ADS_2