Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 24


__ADS_3

Pip pip pip


Alarm berbunyi. Hani bangun sambil merenggangkan tubuhnya. Tubuhnya terasa pegal-pegal karena tidur di lantai. Matanya langsung tertuju ke mainan di depannya. Mainan yang kemarin tertata rapih jadi berantakan tidak karuan. Matanya melotot tidak percaya apa yang dia lihat.


“Waw! Ini benar-benar mengerikan.” Gumamnya.


Dengan badan yang terasa sangat pegal itu pun memaksa Hani untu mematikan alarmnya. Dia menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri. Dia juga memukul kecil pundaknya yang tegang itu.


“Ahh... kenapa aku gak tidur di kasur sih tadi malam.” Kesalnya.


***


Seperti biasa Hani menonton TV dan juga berkebun. Sedang asik berkebun tiba-tiba budhe Inem menghampiri Hani sambil membawa beberapa cucian.


“Mbak Hani bosen banget ya? Sampai semua mainannya di keluarin.” Ucap budhe Inem.


Hani lupa tidak membereskannya. Sekarang dia hanya bisa mengiyakannya. Budhe Inem menimpali dengan candaan. Dia jadi ingat ketika bangun tidur tadi pagi. Dia mulai membayangkan apakah mainannya itu bergerak sendiri? Seketika Hani merinding.


“Budhe beli buah jeruk kan?” Tanya Hani mengalihkan topik.


“Sesuai pesanan mbak.” Ucap budhe Inem.


“Tapi kenapa mbak Hani makan buah banyak banget sih akhir-akhir ini?” Tanya budhe Inem.


Hani pun menjelaskan bahwa dia membawa buah-buahan itu untuk menjenguk Jaelani. Tapi, dia meminta budhe Inem merahasiakannya. Dia tidak ingin orang tuanya khawatir.


Sedangkan budhe Inem merasa salut dan iba. Yang ada di pikirannya adalah Hani dan Jaelani dulu pernah pacaran. Pasti masih tersisa perasaan sayang di antara mereka. Yang budhe Inem tau baik sebelum Hani hilang ingatan mau sesudah Jaelani selalu menyempatkan untuk mampir.


“Cinta monyet.” Pikir budhe Inem.


Hani juga bercerita bahwa berencana hari ini ingin bertemu Jaelani lagi. Namun, kali ini tanpa suster Sari. Karena suster Sari sedang di shift sore. Budhe Inem menyarankan untuk tidak sering membawakan buah banyak kepada Jaelani. Takutnya orang tua Jaelani tidak terima.


Budhe menyarankan memberikan dua atau tiga perhari saja cukup. Itu bisa di bantu oleh suster Sari. Karena suster Sari yang bertugas memeriksa keadaan papa Jaelani. Hani berpikir sejenak.


“Benar juga ya budhe.” Ucapnya riang.

__ADS_1


“Besok aku titipin buah ke suster Sari deh. Jadi gak usah sering-sering ke rumah sakit, tapi....”


“Takut kangen mbak?” Tanya budhe Inem dengan jailnya.


Seketika wajah Hani menjadi sedikit memerah. Namun, dia berpura-pura marah untuk menutupi perasaan malunya. Kini dia memalingkan wajahnya membelakangi budhe Inem. Sedangkan budhe Inem malah tertawa melihat tingkah Hani yang lucu. Terlebih ekspresi yang marah tapi dengan senyum yang di tahan tadi terlihat lucu baginya.


***


Di kantor Beni.


Ratih masih membujuk Beni untuk menutup kelebihan Hani. Dia benar-benar khawatir kejadian kemarin terulang lagi. Bahkan dia juga ingin pindah kota setelah menutup kelebihan Hani. Dia benar-benar ingin meninggalkan kenangan buruknya di sini.


“Papa gak sayang sama Hani?” Tanya Ratih geram.


Pertanyaan itu cukup ampuh mengalihkan perhatian Beni. Seketika Beni menghentikan pekerjaannya. Dia menatap tajam Ratih. Kali ini Beni benar-benar akan bersikap tegas kepada istrinya itu.


“Memang kalau pindah kota kita bisa bebas? Ingat tujuan awal kita pindah ke kota ini? Mana hasilnya? Malah semakin parah kan?”


“Ingat waktu dulu kita minta bantuan para normal untuk mengurung arwah yang katanya menggangu anak kita. Nyatanya kemarin terjadi hal lebih mengerikan.”


“Papa dulu selalu menuruti semua kemauan mama. Mama minta Hani les karate dengan alasan karena Hani merasa selalu di awasi. Oke papa turuti.”


“Tapi sekarang! Biar papa yang memutuskan apa untuk Hani. Papa ingin Hani tetap di sini. Biarkan Hani mencari jati dirinya di sini. Papa yakin Hani bisa. Seiring berjalannya waktu Hani akan bisa mengendalikan kelebihannya. Jika perlu papa minta pak Yanto mengajari Hani.” Jelas pak Beni.


“Pak yanto?” Tanya Ratih kebingungan.


Semenjak kejadian kemarin pak Beni lebih selektif dalam memilih karyawan terutama yang berada di rumahnya. Dia tidak sembarang menerima. Dia juga melihat latar belakang karyawan bahkan ketakutan, kelebihan, dan kekuatan karyawan yang akan bekerja di rumahnya harus dia ketahui. Meski tindakan itu ilegal karena pak Beni menyewa jasa orang yang ahli dalam mengetahui latar belakang orang.


Dia tau jika pak Yanto memiliki kelebihan khusus. Dia juga tau masa lalu pak Yanto yang di jauhi karena kelebihannya itu. Dia sengaja memilih pak Yanto agar dia bisa berbagi pengalaman kepada Hani. Awalnya dia ingin meminta bantuan pak Yanto dua bulan lagi setelah Hani mendapatkan guru les. Dia ingin pak Yanto berbagi pengalamanya setelah Hani mendapat guru les, agar Hani tidak merasa sendirian. Sehingga dia bisa lebih terbuka dan belajar dengan mudah.


Beni menjelaskan semua rencananya dengan sangat terperinci kepada istrinya. Ratih hanya bisa bengong dan melongo. Dia tidak menyangka bahwa suaminya bisa berpikir hingga sejauh itu.


Sekarang Ratih tidak bisa membantah lagi. Dia benar-benar menghargai keputusan suaminya. Namun, jika rencana itu gagal. Ratih tidak sungkan-sungkan mengajukan permintaanya tadi. Dia pun juga ingin yang terbaik untuk Hani.


***

__ADS_1


Di dapur.


Hani sedang asik makan siang sambil mengirim pesan ke suster Sari. Dia memberitahukan rencananya kepada suster itu. Suster itu pun menyetujuinya. Dengan senang hati dia menurutinya karena dia merasa telah berutang budi kepada Hani.


“Yes!” Ucapnya sambil mengepalkan tangannya.


Dia pun teringat Jaelani setelah membahas rencananya itu. Dia juga jadi ingin sekolah seperti Jaelani. Pasti dia akan bahagia jika satu sekolah dengan Jaelani. Apa lagi bisa satu kelas dengan Jaelani. Hani sudah membayangkan semuanya sambil makan. Sesekali dia tersenyum karena lamunannya.


“Kakak.”


Suara Kiki memecah lamunannya. Dia juga jadi berhenti makan. Bahkan nafsu makanya juga berkurang. Tanpa berbicara Hani bertanya kepada Kiki.


“Kenapa?” Pikirnya.


“Jangan ke rumah sakit lagi. Banyak orang sakit.” Ucap Kiki.


“Jelaslah.” Pikir Hani sinis.


Sret!


Tiba-tiba gelas di depan Hani bergeser hingga airnya tumpah. Kini Hani semakin berani dan masa bodo dengan penampakan di depannya. Toh yang pasti dia tidak bisa melihat kan? Dalam benaknya, dia tidak akan menuruti perkataan si sosok tidak kasat mata itu lagi.


Pyar!


Gelas itu bergeser sangat jauh dari tempatnya hingga jatuh. Budhe Inem yang sibuk menyetelika baju pun terkejut mendengar itu.


“Mbak Hani gak apa-apa?” Teriak budhe Inem dari ruang tengah.


“Gak apa-apa budhe.” Teriak Hani lagi.


Lagi-lagi nyali Hani menciut. Dia merasa takut sekaligus kesal karena merasa sudah seperti di perbudak oleh sosok itu. Seharusnya Hani lah yang lebih berani melawan sosok itu. Saat ini dia benar-benar merasa tubuhnya kaku saking takutnya.


“Sebenarnya ka-kamu... mau apa... ha?” Tanya Hani lirih.


“Loh! Mbak Hani, pecahan gelasnya kok sampai kemana-mana?” Tanya budhe Inem khawatir.

__ADS_1


Reflek Hani bisa bergerak lagi. Dia menoleh cepat ke sumber suara. Dia melihat budhe yang sudah gelisah. Kemudian, dia menelusuri arah mata budhe Inem. Hani pun juga terkejut, kenapa pecahan gelasnya bisa menyebar kemana-mana? Anehnya terlihat telapak kaki kecil di antara pecahan gelas kaca itu.


“Mungkinkah budhe Inem gelisah karena melihat jejak kaki kecil itu?” Pikir Hani.


__ADS_2