
“Apakah ini nyata?” Gumam Hani
“Hahahaha....”
Lagi lagi suara tawa yang menyeramkan bagi Hani suara itu menggema. Dia tidak habis pikir jika akan melakukan hal ini.
Selain itu entah kenapa Hani merasa lelah sekali padahal dia hanya menghitung dan mencari dalam waktu kurang dari satu menit.
Dia menghembuskan napas berat dan ingin sekali menyudahi permainan yang baru di mulai ini. Hani hendak berjalan ke kasurnya yang empuk. Tapi tiba-tiba kaki kirinya terasa berat.
“Ayo main lagi kak.” Ucap Kiki ceria.
“Aku capek.” Gerutu Hani.
“AYO MAIN LAGI KAK!” teriak Kiki.
Hani kembali merinding. Mau tidak mau dia harus bermain lagi. Rasa menyesal selalu datang belakangan. Dia menyesal melakukan ini. Tenaganya seperti menghilang begitu saja padahal dia baru saja bermain.
Hani kembali menghitung di tempat yang sama. Setelah selesai dia mencari Kiki lagi. Permainan terus berulang hinga ke tujuh kalinya. Semakin lama Hani semakin lemas dan letih. Semakin lama semakin lama juga Hani menemukan Kiki.
“Ah aku lupa buat kesepakatan berapa kali permainannya.” Kesal Hani dalam hati.
Di permainan ke tujuh Hani sudah tidak berdaya. Badannya terasa lemas. Dia benar-benar lelah seakan akan dia sudah berlari maraton beberapa kilo meter. Hani pun pingsan di hitungan ke seratus saat mencari Kiki.
“Hahahaha.” Tawa Kiki.
“Akhirnya aku mendapatkan teman bermain lagi.”
Kiki tertawa menyeramkan. Dia menyerap energi lawan mainnya saat bermain. Kiki memanglah anak kecil yang sudah mengincar Hani, sejak dia pulang dengan membawa arwah Nana ke rumah itu.
Jika Hani bisa membawa arwah pulang ke rumah itu tandanya Kiki bisa bermain dengan Hani meski tida melihat keberadaanya. Selama rumah itu kosong. Kiki tidak bisa bermain dengan makhluk lain yang lebih menyeramkan. Jiwanya terkurung di rumah itu. Saat ingin keluar dia selalu di tarik lagi ke dalam.
Saat itu Kiki melihat arwah Nana terus menganggu Hani. Dia juga penasaran kenapa tiba-tiba arwah itu menghilang. Meski begitu, dia senang bisa bermain dengan Hani sekarang. Dia juga ingin memanfaatkan Hani sebagai perantara untuk keluar rumah. Karena hanya dengan menempel ke Hani. Kiki bisa keluar rumah.
***
Malam harinya.
Beni dan Ratih pulang sekitar pukul delapan malam. Hari ini ada pekerjaan tidak terduga. Begitu sampai rumah bisanya Hani menyambut mereka dengan antusias. Namun kali ini tidak ada sambutan dari anak semata wayangnya itu.
“Hani sudah tidur?” Tanya Ratih.
__ADS_1
Beni hanya mengangkat kedua bahunya dan langsung bergegas ke kamarnya. Tidak dengan Ratih, nalurinya sebagai ibu yang membuatnya khawatir karena tidak seperti biasanya Hani seperti ini. Ratih berjalan sambil memanggil nama anaknya itu. Sampai di depan kamar Hani. Ratih mengetuk pintu kamarnya. Tetapi tidak ada respon.
“Apakah sudah tidur?” Gumamnya.
Ratih pun perlahan membuka pintu itu. Dia menurunkan gagang pintunya dengan pelan-pelan agar tidak mengganggu Hani yang dia anggapnya tidur itu. Tetapi betapa terkejutnya dia melihat anaknya tergeletak di dekat meja belajar.
“Hani!” Ratih buru-buru menghampiri Hani.
Dia mencoba membangunkan anak semata wayangnya itu. Menaruh kepala Hani di pangkuannya sambil menggoyangkan badannya.
“Papa! Hani Pa!” Teriak Ratih histeris.
Mendengar itu Beni yang hendak memilih pakaian ganti di dalam lemarinya berlari ke sumber suara. Sampai di sana dia terkejut melihat keadaan Hani. Dia berlari mencari kotak P3K dan mencari minyak kayu putih.
Setelah ketemu, Beni mengambil beberapa bantal dan meletakan satu di kepala dan dua di kaki. Dia memiringkan kepala Hani ke kanan. Kemudian, dia memberikan minyak kayu putih ke istrinya dan menyuruhnya mengoles ke pelipis leher dan telapak kaki.
“Bangun Han.” Ucap Ratih panik sambil menggoyangkan tubuh anaknya.
“Jangan di goyangkan mah. Kalau nanti ada cidera gimana? Bisa semakin parah.” Tegas Beni.
Ratih tidak tau harus berbuat apa lagi. Dia hanya bisa menangis sambil memanggil Hani agar dia cepat sadar. Beni pun juga memanggil nama Hani agar dia cepat sadar.
“Papa?” Kata pertama terucap dari mulut Hani.
“Iya nak.”
“Ada yang sakit?” Tanya Ratih.
“Euh... gak.”
Kemudian perlahan Beni mendudukkan anaknya dan menyenderkannya di dadanya. Selagi Hani masih berusaha beradaptasi. Ratih mengipaskan tangannya di depan Hani bermaksud agar Hani bisa mendapatkan udara.
Setelah di rasa semua aman. Beni baru mengendong Hani ke tempat tidurnya di susul Ratih yang membawa beberapa bantal. Beni menidurkan Hani dengan posisi senyaman mungkin masih dengan kaki yang lebih tinggi dari kepala. Ratih mengelus kepala Hani dengan lembut.
“Kapan Hani pingsan?” Gumam Beni.
Beni pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Hani. Sekaligus menghubungi dokter keluarga dan juga mengecek rekaman CCTV. Sambil menunggu air panas Beni menelepon dokter, kemudian mengecek rekaman CCTV. Sayangnya dia tidak menaruh CCTV di kamar Hani karena dia tetap memberi privasi kepada anaknya.
Terakhir CCTV memantau pintu kamar Hani yang terbanting itu. Itu sekitar pukul enam lebih lima menit sore hari. Kemudian dia juga memantau ruang tamu yang ramai itu. Dia melihat anak perempuan asing berpakaian suster di sana.
“Siapa dia?” Gumamnya.
__ADS_1
Kemudian, dia mempercepat rekaman CCTVnya. Mereka membubarkan diri pukul setengah tujuh, kemudian budhe Inem keluar dari rumah sekitar pukul tujuh malam.
“Apa budhe Inem gak ngecek keadaan Hani ya sebelum pulang?” Gumamnya.
Tidak terasa air sudah mendidih. Beni segera mematikan kompornya dan menuangkan air ke gelas berisi gula dan teh celup hingga seperempat gelas. Dan mengaduknya, setelah itu dia menambahkan air biasa ke dalam gelas itu dan membawanya ke kamar Hani.
Beni memberikan teh itu kepada Hani dan meminumkannya. Kemudian, dia memeluk Hani serta istrinya.
“Kamu akan baik-baik saja. Papa sudah telepon dokter untuk periksa keadaanmu.” Ucap Beni menenangkan Hani.
Setelah itu dia mengecup kening anak semata wayangannya itu dan meninggalkannya dengan Ratih. Dia ijin keluar ke pos satpam dengan alasan menunggu dokter datang. Padahal sebenarnya dia ingin bertanya kepada pak Herdi dan pak Rian.
Sampai di pos satpam.
Beni langsung masuk ke dalam meminta mereka semua keluar termasuk pak Yanto satpam baru. Di depan pos satpam. Beni dan mereka duduk santai di kursi panjang.
“Pak... tadi setelah ngobrol di ruang tamu gak ada yang mengecek keadaan Hani ya?” Tanya Beni.
Pertanyaan Beni cukup membuat pak Rian dan pak Herdi bersalah karena mereka terlalu asik mengobrol tetang hubungan pak Rian dan suster Sari. Mereka mengangguk kikuk bersamaan. Sedangkan pak Yanto tidak fokus ke pak Beni. Dia malah fokus ke balkon kamar Hani.
“Hmmm kalian gak mendengar kalau ada benda jatuh gitu dari kamar Hani?” Tanya pak Beni menahan amarahnya.
Pak Herdi dan pak Rian terkejut mendengar itu. Pikiran mereka sama. Mereka menebak jika Hani terjatuh di kamarnya.
“Apa mbak Hani terjatuh pak?” Tanya pak Herdi panik.
“Hani pingsan.” Ucap Beni.
“APA?”
Pak Rian dan pak Beni terkejut bersamaan. Mereka semakin merasa bersalah setelah mendengar itu. Saat merenungi kesalahannya pak Rian teringat kejadian dimana pintu tiba-tiba tertutup.
“Oh iya itu pak. Tadi waktu saya setelah ke kamar mbak Hani. Waktu bapak video Call tadi. Pintu kamar mbak Hani tiba-tiba ditutup keras gitu pak. Dan sebelum saya pergi saya lihat mbak Hani biasa saja pak tidak pucat.” Jelas pak Rian mencoba membela diri.
“Oh iya saat saya masuk. Saya sempat di pelototi mbak Hani pak.” Ucap pak Rian lagi.
“Di pelototi?” Tanya Beni.
Pak Yanto yang tadinya tidak tertarik mendengar obrolan mereka kini jadi tertarik. Mendengar kata ‘di pelototi’.
~ Terima kasih, sudah mampir baca~
__ADS_1