Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 58


__ADS_3

Jaelani semakin geram karena teman-temannya sangat penasaran dengan gosip yang tersebar itu. Padahal Jaelani hanya mengembalikan minuman yang di berikan dan mengatakan jika ada hati yang harus di jaga. Tapi, di gosip Jaelani sudah menolak cinta Anggi karena sudah punya pacar dan sudah ketauan selingkuh oleh pacarnya.


“Kenapa sih kalian kayak cewek? Suka ngegosip.” Ucap Jaelani tanpa ragu.


“Kita gak ngegosip. Hanya mencari peluang untuk mendapatkan Anggi.” Jelas salah satu siswa di sana.


“Jadi? Gas lah kalau kalian emang suka. Siapa tau jodoh.”


Seketika teman-temannya meninju, memukul, Jaelani seperti terlihat mereka sedang baku hantam di bangku itu. Mereka bersorak karena jawaban Jaelani. Mereka merasa memiliki kesempatan mendapatkan Anggi.


“Beneran dia udah tolak Anggi? Dia udah punya pacar?” Ucap Ilham yang masih terpaku.


Ilham tidak menyangka jika Jaelani diam-diam sudah berkencan. Karena Jaelani tidak pernah absen saat di ajak main online bareng. Bahkan, jika di ajak pergi pun Jaelani jarang menolak. Jika menolak pun pasti alasan karena papanya.


“Kamu bisa punya pacar?” Tanya Ilham tidak percaya.


“Ckk ck ck....” Jaelani berdecak kesal.


Ilham masih bertanya dengan paksa untuk memastikan apa yang di pikirannya itu benar. Tapi, Jaelani malah mengabaikannya. Dia memilih untuk makan saja dari pada menanggapi ocehan Ilham. Lama kelamaan Ilham menyerah karena dia abaikan dan dia ikut makan juga sebelum waktu istirahat habis.


“Oh iya, abis ekstra basket aku mampir ke kosmu ya. Numpang mandi.” Ucap Jaelani di sela makannya.


“Oke lah. Ikut dong. Bosen nih di kosan mulu.”


“Oke.”


Jaelani memang ingin pergi ke rumah Hani sepulang sekolah. Dia ingin berterima kasih kepada Hani karena sudah menolong keluarganya. Dia juga ingin memberikan bingkisan dari mamanya untuk Hani. Kini Mia mulai luluh hatinya terhadap keluarga Hani.


“Bener ya? Awas kalau bohong.” Ucap Ilham tidak percaya.


“Hmmm... Nanti setelah itu kita ke kafe DD. Aku kenalin sama Galih sahabat ku. Dia jago kalau masalah mabar.” Jelas Jaelani.


Ilham menyetujuinya. Mereka sepakat untuk janjian setelah pulang sekolah. Meski masih SMA Ilham sudah hidup mandiri, dia sudah di suruh untuk kos oleh orang tuanya meski sebenarnya jarak rumah Ilham ke sekolah bisa di tempuh selama dua puluh menit saja.


Ilham juga di larang pulang oleh orang tuanya kecuali hari libur. Orang tua Ilham mendidiknya sangat keras. Bahkan ketika sakit pun, Ilham hanya di jenguk sekali saja di kosannya untuk memastikan bahwa dia sudah pergi ke puskesmas untuk periksa.


Meski begitu, orang tuanya menyayangi nya juga menjaganya. Mereka masih menugaskan beberapa bodyguard untuk memantau keadaan Ilham. Mereka menugaskan bodyguard untuk selalu mengikuti Ilham dari jauh. Mengingat Ilham masih SMA masih suka sembrono.


Waktu pun berlalu. Karena hari sabtu sekolah SMA 18 hanya mengadakan empat jam mata pelajaran saja. Untuk sisanya di gunakan kegiatan ekstrakulikuler. Jaelani sudah bersiap untuk mengikuti ekstrakulikuler basket sedangkan Ilham sudah siap mengikuti ekstrakulikuler musik.

__ADS_1


Mereka hanya butuh waktu dua jam lamanya untuk kegiatan ekstrakulikuler. Setelah itu mereka pergi ke kos Ilham dan bersiap untuk main. Jaelani cukup di buat kagum oleh Ilham ketika dia sampai di kosnya. Kos ilham begitu bersih dan rapi.


“Wah? Kapan bersihinnya?” Tanya Jaelani kagum.


“Biasanya sih sore doang bersihin rumahnya. Kenapa emang?” Ucap Ilham sambil merebahkan diri di kasurnya.


“Yah, gak apa-apa sih. Kok bisa rapi dan bersih aja. Biasanya anak kos kan yah begitulah.”


Ilham hanya tersenyum. Dia menjelaskan bahwa papanya sangat keras dan disiplin. Ilham sudah terbiasa untuk membersihkan dan merapikan barangnya sendiri. Dia sudah di latih sejak di bangku sekolah dasar. Karena jika sekali saja kamarnya berantakan. Ilham tidak akan mendapat uang saku selama seminggu. Itu mendorongnya untuk selalu membersihkan dan merapikan kembali ruangan yang dia pakai.


Jaelani berdecak kagum dengan keluarga Ilham. Awalnya Jaelani pikir Ilham dari keluarga tidak mampu hingga membuatnya harus kos di dekat sekolah agar menghemat biaya. Tapi tidak di sangka, ternyata keluarga Ilham berkecukupan dan mereka menerapkan kedisplinan dan kemandirian kepada anggota keluarganya sejak dini.


“Sampai kapan bengong? Mandi sana. Gak sabar pengen main.” Jelas Ilham.


Jaelani pun bergegas mandi. Saking kagumnya kepada cerita Ilham. Dia tadi sempat bengong untuk beberapa saat. Selesai Jaelani mandi, Ilham bergegas mandi. Ketika Ilham mandi. Jaelani masih menatap setiap sudut kosan kecil itu. Dia masih saja tidak percaya Ilham menata serapi ini. Padahal kalau di kelas Ilham jarang sekali mau di suruh piket.


Selesai Ilham mandi. Mereka langsung berangkat ke toko yang sudah di pesan mamanya untuk membuat bingkisan yang akan di serahkan ke keluarga Hani. Jaelani melaju dengan kecepatan sedang menuju toko itu. Jaelani sangat tidak sabar ingin segera memberikannya ke Hani.


Setelah bingkisan di ambil. Jaelani terkejut karena ternyata bingkisannya lumayan besar. Untung saja tadi Ilham ikut dengannya jadi dia tidak perlu susah-susah membawa bingkisan itu. Karena cukup besar Ilham pun mengeluh karena sedikit kerepotan membawanya.


“Ini bingkisan buat orang lamaran atau apa sih? Gedhe banget?” Ucap Ilham.


Jaelani hanya tersenyum tipis saat mendengar kata lamaran keluar dari mulut Ilham. Dia langsung ingat kepada kakaknya. Mungkin acara lamaran kakaknya juga memerlukan bingkisan seperti ini? Atau lebih? Sekaligus membuat Jaelani juga penasaran siapakah pacar kakaknya? Karena selama ini kakaknya tidak pernah membahasnya.


Jaelani langsung menyuruhnya diam dan tidak bertanya lagi. Ilham semakin di buat penasaran dengan Jaelani. Dan mereka pun meluncur ke rumah Hani dengan kecepatan pelan. Karena Ilham cukup kerepotan membawa bingkisan itu. Baginya itu sudah berat karena angin bertiup cukup kencang hari ini.


Sampai rumah Hani. Ilham di buat kagum lagi. Depan rumahnya terlihat luas bahkan pagarnya menjulang tinggi hingga tidak ada yang tau bagaimana bentuk rumah di dalamnya. Dia juga memperhatikan ada CCTV di pojok dekat gerbang. Ilham berdecak penasaran siapa pemilik rumah ini?


Grek!


Suara gerbang di buka. Jaelani yang tadi berdiri di depan bel sekarang menghadap pak Herdi. Dia terlihat berbincang-bincang sebentar dengan pria itu. Jaelani terlihat sangat akrab. Ilham pun semakain penasaran dengan siapa pemilik rumah itu.


Tidak lama kemudian, pak Herdi membuka gerbangnya dan menyuruh Jaelani dan Ilham masuk. Mereka pun masuk dan pelan. Jaelani menuntun motornya di ikuti Ilham di belakangnya. Sampai depan teras rumah Ilham tidak berhenti kagum dengan desain rumah itu. Meski rumah ini lebih kecil dari rumahnya. Tapi mata Ilham menmkan banyak CCTV di letakkan di setiap halaman.


“Ini rumah atau markas kayak film film? Banyak banget CCTVnya.” Pikir Ilham.


“Silahkan masuk mas. Saya panggilkan mbak Haninya.” Ucap pak Herdi.


Ilham dan Jaelani pun masuk. Dan lagi dia terkejut. Matanya menangkap ada CCTV lagi di pojokan ruang tamu itu. Ilham benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia langsung bertanya kepada Jaelani.

__ADS_1


“Ini rumah siapa? Banyak banget CCTVnya?” Bisik Ilham.


“Temenku di SMA Dahlia dulu. Emmm dari dulu sih aku masuk udah banyak CCTV. Semenjak Hani hilang ingatan.” Jelas Jaelani.


“Hani?”


Saat itu juga Hani sudah sampai ruang tamu dengan wajahnya yang ceria dia juga membawa MP3 di tangannya. Pak Herdi pun berpamitan kembali ke pos satpam. Hani menatap Jaelani penuh harapan. Dia sangat penasaran ingin segera menanyakan apa maksud rekaman di MP3 itu. Hani terlalu fokus ke Jaelani hingga tidak menyadari keberadaan Ilham.


“Jae! Kebetulan kamu kesini.” Ucap Hani ceria dan langsung duduk menghadap Jaelani.


Jaelani terlihat senang dengan respon Hani. Dia tidak mampu menahan senyumnya yang lebar hingga memperlihatkan lesung pipitnya itu. Tanpa basa-basi Hani langsung memberikan MP3 itu ke Jaelani. Senyum di wajah Jaelani langsung berubah seketika karena mengingat masa lalu di SMA Dahlia. Untuk mengalihkan kesedihannya dia memperkenalkan Ilham kepada Hani.


“Oh iya Han. Ini temen ku Ilham.” Ucap Jaelani.


Mata Hani sedikit membelalak karena baru tau kehadiran Ilham di sana. Dia tersenyum canggung kepada Ilham karena malu pada dirinya sendiri yang terlalu fokus ke Jaelani. Ilham dan Hani pun berjabat tangan saling mengenalkan diri.


“Dan ini, bingkisan dari mama. Ucapan terima kasih mama buat kemarin. Dan itu ada surat buat papa mama mu di dalam sana.” Jelas Jaelani.


Hani menerima bingkisan itu dengan senyum yang ramah. Akhirnya, dia di perlakukan baik juga dengan Mia. Entah kenapa Hani merasa lega akhirnya tidak bermusuhan lagi dengan Mia.


Senyum Hani mampu kembali mengalihkan dunia Jaelani. Dia pun ikut tersenyum melihat senyuman manis itu. Hani terlihat bahagian mendapat bingkisan itu. Sedangkan Ilham yang merasa jadi obat nyamuk di sana hanya memanyunkan bibirnya sambil menatap isi ruangan itu agar matanya tidak melihat hal-hal menggelikan itu.


Saat sedang asik melihat lihat. Mata Ilham tertuju pada salah satu pajangan di ruang tamu. Dia melihat pajangan itu bergerak dengan sendirinya. Ilham cukup terkejut. Dia mengedipkan matanya begitu cepat memastikan yang dia lihat itu salah. Dia juga memastikan tidak ada angin besar masuk ke ruangan itu.


“Gak gak gak! Aku salah lihat.” Gumam Ilham.


Kemudian, Ilham menghembuskan napas berat. Dia kembali melihat beberapa pajangan lain di ruangan itu. Dan lagi-lagi matanya menangkap salah satu pajangan bergerak dengan sendirinya. Padahal tidak ada angin besar masuk ke ruangan itu. Ilham mulai goyah dan akhirnya dia hanya menatap meja di depannya saja. Namun, sayangnya Ilham juga melihat ada pergerakan di meja itu. Dia melihat MP3 yang di letakkan di depan Jaelani bergeser cukup jauh dari tempat asalnya.


“Wah.” Ucap Ilham reflek.


“Ada apa?” Tanya Jaelani.


“Ah itu... aku tunggu di depan aja lah. Itu gerah.” Ucap Ilham cukup gemetar dan keringat dingin mulai bercucuran.


Jaelani menatap Ilham bingung karena bagi mereka hari ini tidak sepanas itu. Tapi, mereka melihat Ilham berkeringat cukup deras. Jaelani langsung mengangguk dan Ilham buru-buru keluar mencari udara segar.


“Hihihihi.” Tawa Kiki terdengar oleh Hani.


Hani hanya berdecak kesal karena tau ternyata itu ulah Kiki yang menggangunya. Tapi, dia berusaha untuk tetap tersenyum kepada Jaelani agar terlihat natural.

__ADS_1


“Sekarang. Waktunya kak Jaelani. Dia harus menceritakan semuanya, agar Kak Hani bisa ingat. Dan aku bisa balas dendam.” Pikir Kiki.


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komennya. See you next episode~


__ADS_2