
Hani terkejut hingga hampir tersungkur.
Kemudian, dia berbalik dan langsung menarik tangan Adit untuk menjauh dari sana tanpa menjawab pertanyaan Adit. Sedangkan Adit semakin merinding melihat tingkah aneh Hani.
Kegiatan belajar mengajar pun di mulai lagi. Kini Adit sudah sedikit tenang dan bisa mengajar dengan benar. Meski matanya masih was-was melihat keliling rumah.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Ponsel Adit berbunyi pertanda ada pesan masuk. Adit memang sudah mengakhiri kelasnya. Jadi dia sekarang bisa sedikit santai sambil membuka pesan di ponselnya.
“Emmm Hani. Besok saya ngajarnya mulai sore kan?” Tanya Adit.
“Loh bukannya ngajarnya setiap pagi ya?”
“Iya, tapi saya sudah bernegosiasi dengan bapak Beni. Saya meminta ijin untuk mengajar sore khusus hari Rabu dan Kamis karena saya mau ke kampus untuk mengurus skirpsi saya.” Jelas Adit.
“Sebentar ya kak aku tanya papa dulu.”
Kemudian, Hani mencari dimana dia meletakkan ponselnya. Karena mejanya sudah bersih, dia berpikir tidak sengaja telah memasukkan ponselnya ke dalam tas. Namun, selang beberapa saat dia teringat jika kemarin malam ponselnya terlempar.
“Aduh!” Ucap Hani sambil menepuk keningnya.
“Kenapa?”
“Gak apa-apa. Ya udah deh kalau udah nego sama papa. Besok jam berapa kak mulainya?”
“Jam tiga sampai jam delapan Han.” Jelas Adit.
Hani mengangguk paham. Lalu, Adit berpamitan pulang. Namun seperti kemarin Hani mengajak Adit makan siang terlebih dahulu. Dan Adit pun menolak, dia ingin segera pergi dari rumah yang dia anggap horor itu.
Hani mengantar Adit hingga depan terasnya. Dia masih memantau Adit yang memakai helmnya dan menyalakan motornya. Saat Adit tidak sengaja menatap Hani. Hani melambai ke Adit dengan tersenyum. Adit hanya membalasnya dengan mengangguk dan melaju keluar.
“HP ku dimana?” Ucap Hani sambil membungkuk mencari ponselnya di halaman depan di bawah balkon kamarnya.
“Dimana?” Gumamnya.
Dari jauh pak Herdi menghampiri Hani setelah selesai menutup gerbang. Dia ingin menyampaikan pesan Beni kepada Hani. Tadi Beni dan Ratih berangkat pukul enam pagi, jadi tidak sempat sarapan bersama Hani.
“Mbak Hani cari apa?” Tanya pak Herdi memastikan.
“Hpku hilang pak.” Jawab Hani sedih.
“Oh iya, itu Hpnya kemarin gak sengaja keinjak pak Yanto mbak.”
__ADS_1
“Hah?” Teriak Hani syok.
Dia langsung menangis sambil jongkok menenggelamkan wajahnya di siku yang dia lipat. Dia sangat sedih karena Hpnya rusak. Selain itu, dia juga sedih karena tidak bisa menghubungi Jaelani. Perasaanya benar-benar memuncak ketika mengingat itu.
Pak Rian yang datang dari halaman belakang membawa dua piring makan siang penasaran dengan apa yang di lihatnya. Dia melihat pak Herdi berusaha menenangkan Hani.
“Kenapa itu?” Gumam pak Rian.
Akhirnya pak Rian menghampiri Hani dan pak Herdi dengan masih membawa dua piring makan siang untuknya dan pak Herdi.
“Ada apa mas?” Tanya pak Rian.
“Ini loh Yan. Mbak Hani nangis Hpnya keinjek sama Yanto. Padahal aku mau ngomong kalau nanti dia di suruh beli Hp baru sama bapak. Uangnya udah di siapin di lacinya mbak Hani.” Jelas pak Herdi.
“Hp baru?” Tanya Hani mendongak dengan wajah yang basah dengan air mata.
Pak Herdi langsung mengangguk. Kemudian, wajah Hani berubah menjadi senang. Dia berdiri sambil tersenyum lebar dengan matanya yang mulai sembab. Lalu, dia melirik ke piring yang di bawa pak Rian.
“Aku lapar.” Ucapnya dan berlalu.
Pak Herdi dan pak Rian saling menatap, kemudian tertawa melihat tingkah Hani tadi.
“Udahlah yuk makan.” Ajak pak Rian.
***
Sore Hari pukul setengah tiga.
Hani sudah tidak sabar. Dia ingin segera membeli ponsel yang terjangkau. Dia di beri uang sebesar tiga juta oleh papanya. Tapi, dia berniat memakai hanya dua juta saja. Untuk sisanya ingin di tabung saja.
Hani memang tidak mengerti trend saat ini. Yang pasti dia hanya ingin membeli ponsel yang tahan untuk bermain game.
Dia menarik lengan pak Rian yang masih duduk di pos satpam sambil menikmati gorengan dan kopi.
“Ngopi dulu mbak.” Ucap pak Rian.
“Ayyoooo! Pak Rian kan udah ngopi dari jam dua tadi. Aku tau pak Rian tadi bikin kopi sekitar jam dua.”
“Tapi, gorengannya masih anget nih mbak. Sayang kalau gak di makan anget-anget.” Goda pak Rian.
Hani langsung mengambil kresek yang berminyak dan mengambil beberapa gorengan dengan kresek itu. Pak Rian dan pak Herdi hanya tertawa kecil melihat tingkah Hani yang seperti anak kecil itu.
__ADS_1
“Nih pak.. makan sambil jalan aja yuk!” Ajak Hani.
Pak Rian pun menurut dan menyiapkan mobilnya. Sedangkan Hani duduk di depan pos satpam di temani pak Herdi yang menunggu pak Rian keluar untuk membuka dan menutup gerbangnya.
Akhirnya Hani berangkat. Dia sengaja duduk di depan untuk menikmati momen indah sebelum membeli ponsel baru. Dia benar-benar tidak sabar untuk membeli ponsel barunya.
Sekitar lima belas menit pintu gerbang di tutup bel berbunyi. Pak Herdi yang asik memakan gorengan sambil menonton Tv di pos satpam langsung melihat CCTV. Ternyata yang menekan bel adalah Jaelani. Pak Herdi pun bergegas membuka pintu gerbangnya.
“Selamat siang pak Herdi.” Sapa Jaelani.
“Sudah sore mas hahaha.”
“Iya ya hehe. Hani ada pak?”
“Baru aja keluar.”
Jaelani kecewa mendengar itu. Wajahnya langsung berubah menjadi kusut. Dia juga menghela napas panjang. Dia berpikir andai saja dia tidak meladeni teman-temannya yang terus menggodanya di sekolah tadi. Pasti Jaelani bisa datang lebih cepat.
“Ya sudah pak. Saya pulang dulu. Mari.” Ucap Jaelani.
Jaelani pulang dengan kekecewaan. Dia berniat untuk menelepon Hani nanti malam. Dan ingin mengunjungi Hani besok malam. Karena besok sepulang sekolah, Jaelani harus latihan basket hingga sore pukul lima.
Sampai rumah Jaelani, dia di sambut oleh kakaknya di teras rumah. Kakaknya memakai daster kesayangannya dan memainkan ponsel di kursi depan rumah sambil menggoyangkan kakinya.
“Mana pesananku.” Ucap Azzahra.
Jaelani langsung memberikan kresek kecil tepat di depan wajah Azzahra. Dia juga menggoyang-goyangkan kreseknya di depan wajah Azzahra.
“Yang sopan dong!” Ucap Azzahra dan mengambil kantong kresek itu.
“Males. Baru dateng, bukannya di bukain gerbangnya. Malah duduk santai kayak juragan aja.” Ucap Jaelani.
Azzahra tidak menanggapi perkataan adiknya itu. Tetapi, dia menunjukkan layar ponselnya tepat di depan mata Jaelani. Seketika mata Jaelani membulat sempurna. Melihat itu Azzahra hanya tersenyum dan mendahului Jaelani.
“Kakak beli itu buat apa?” Teriak Jaelani.
Azzahra membelikan Jaelani sepatu basket yang sudah di idam-idamkan Jaelani sejak kelas satu SMA. Meski dia sering bertengkar dengan adiknya. Dia sangat menyanyangi adiknya.
Dia sudah menabung selama satu tahun. Selama satu tahun Azzahra juga menjadi guru les di kota dia kuliah. Awalnya dia hanya ingin menambah uang jajan. Tapi, akhirnya dia menyisihkan sebagian untuk di tabung dan membelikan adiknya sepatu basket.
Dia juga membelikan beberapa barang untuk kedua orang tuanya. Di sudah memesannya jauh-jauh hari sebelum Beni sakit dan baru datang sekarang. Padahal dia ingin mengirimnya agar menjadi kejutan. Tetapi, ternyata dia malah harus pulang dan menerima paket itu dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
~Terima kasih teman-teman masih stay sampai episode ini, juga buat teman-teman yang klik like dan fav saya terharu sekali. Semoga teman-teman stay sampai akhir cerita. Sampai jumpa di episode selanjutnya~