Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 62


__ADS_3

Boneka panda dari Adit yang di taruh di rak mainan Hani jatuh tiba-tiba. Ternyata itu adalah ulah Kiki yang tidak suka dengan boneka itu. Kiki tidak tau jika ada kamera di salah satu mata panda. Hanya saja Kiki merasa selalu di awasi oleh boneka itu.


“Apa itu?” Ucap Hani.


Dia menengok mencari benda yang jatuh. Dan tersadar jika yang jatuh adalah boneka dari Adit. Hani masih malas mengembalikan boneka itu ke tempatnya. Perasaan yang tidak karuan saat ini membuatnya malas untuk bergerak.


Hani kembali merebahkan dirinya sambil berpikir, kenapa perasaannya tiba-tiba tidak karuan seperti ini. Dia jadi semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi? Siapa Della itu? Apa urusannya dengannya hingga ada perasaan yang aneh ini.


“Siapa sih Della itu?” gumamnya.


Hani hanya mengalami amnesia anterograde pasca kecelakaan. Amnesia anterograde adalah melupakan suatu kejadian yang sedang terjadi atau ingatan baru. Dan Hani melupakan ingatan baru ketika sebelum pindah ke sekolah baru. Jadi dia hanya ingat saat Hani baru saja pindah rumah.


Saat sibuk berpikir, tiba-tiba dia ingat jika memiliki teman yang bernama Della semasa SMP. Tanpa berpikir panjang, Hani langsung bangkit dari tidurnya dan menuju ke ruangan khusus penyimpanan dokumen penting.


Hani keluar dari kamarnya dan menelusuri lorong lantai dua, hingga berhenti di ujung lorong. Di sana ada ruangan khusus penyimpanan dokumen penting yang di kunci dengan kunci digital. Yang tau kode kunci digital itu hanya keluarga Hani saja. Beni juga sering mengganti kunci itu setiap satu minggu sekali. Kemudian menyimpannya di penyimpanan cloud yang hanya bisa di akses Ratih, Beni dan Hani.


Hani membuka ponselnya dan mencari password kunci digital ruangan itu di penyimpanan cloud. Kemudian, dia menekan password nya dan terbukalah pintunya. Dalam ruangan itu cukup luas. Ada meja kaca dan kursinya, sofa panjang, dan juga tiga lemari besi. Masing-masing sudah di beri nama dan kunci digital.


Hani berjalan menuju lemari besi yang ada tulisan namanya. Kemudian, dia menekan passwod nya. Hani masih mengingat betul password lemari besi itu. Tidak lama kemudian, pintu lemari itu terbuka. Terdapat beberapa dokumen seperti ijazah, buku album kenangan sekolah dan beberapa sertifikat.


Hani mengambil album kenangan SMP. Lalu, dia berjalan menuju sofa panjang di ruangan itu, dan mulai mencari teman SMP nya yang bernama Della. Dia ingat betul temannya itu tidak satu kelas dengannya. Dia mengenalnya karena mereka sama-sama mengikuti ekstrakulikuler melukis.

__ADS_1


“Ini kan Della?” Ucapnya ketika sudah menemukan foto Della teman SMP nya.


Tapi, tidak ada rasa kesal, tegang dan takut ketika Hani melihat foto itu. Dia juga berusaha memejamkan mata sambil membayangkan wajah teman SMPnya Della itu. Tapi, perasaannya biasa saja. Tidak ada rasa yang aneh seperti yang di rasakan seperti ketika Jaelani menjelaskan siapa Della.


“Yang jelas pasti bukan Della ini. Lagi pula Della ini gak pernah masuk rumah sakit jiwa.” Ucapnya.


Kemudian, Hani teringat jika katanya Jaelani adalah temannya di masa sekolah SMA. Hani lupa, pasti yang di maksud Della adalah orang yang berbeda. Karena begitu pindah rumah saat SMA. Teman SMP nya yang bernama Della masih menetap di kota itu.


“Ah bodohnya aku.” Kesalnya.


Kemudian, Hani mengembalikan album kenangan SMP nya ke tempat semula. Lalu, dia bergegas keluar dari ruangan itu. Dia berjalan sambil berpikir siapakah Della itu? Haruskah dia bertanya ke Jaelani? Tapi jika bertanya, dia takut perasaan aneh datang lagi. Namun, jika tidak tanya dia penasaran. Hani bimbang harus memilih yang mana? Hingga tidak terasa dia sudah sampai di depan kamarnya.


“Tauk ah! Tidur ajalah.” Ucapnya kesal.


Begitu membuka pintu Hani langsung melihat boneka panda yang jatuh dari tempatnya tadi. Karena lemari untuk menyimpan mainan ada di dekat pintu. Dengan sedikit malas Hani mengembalikan boneka itu ke tempat semula. Kemudian, dia berjalan menuju kasurnya yang empuk. Namun, baru beberapa langkah boneka itu terjatuh lagi.


Bruk!


Reflek Hani menoleh. Dia melihat boneka panda besar itu sudah terjatuh di lantai. Sambil berdecak kesal. Hani memutar balik haluan dan mengembalikan kembali boneka itu ke tempat asalnya. Kali ini, dia menatanya lebih dalam agar tidak jatuh lagi. Tetapi nyatanya baru beberapa detik boneka itu terdorong jatuh.


“Hih... sebel.” Kesalnya.

__ADS_1


Karena kesal Hani membiarkan boneka itu tengkurap di sana. Lalu, dia berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju kasur empuknya, kemudian dia menjatuhkan diri di sana dan memilih untuk tidur saja. Entah kenapa hari ini perasaanya sangat kacau hingga membuat emosinya tidak stabil. Hani lebih banyak marah hari ini.


“Bagaimana caranya agar Hani bisa segera ingat dengan kejadian bersama Della. Aku tau, jika Hani itu sedikit membenci Della. Sayangnya aku hanya mendengar kejadian aneh itu dari arwah Nana. Maka aku tidak bisa memberikan gambaran kepada Hani.” Gumam Kiki kesal.


Pada akhirnya Kiki pun menyerah. Dia mungkin tidak bisa melakukan balas dendam kepada kepada Stevan. Dia mulai berpikir untuk menampakkan dirinya ke ibunya. Meski sebenarnya dia masih punya dendam hingga dia tidak bisa pergi dari rumah ini. Seperti ada sesuatu yang menarik dirinya di dalam rumah ini.


“Ibuk? Maafin Kiki.” Ucapnya.


Karena hari ini hari Sabtu. Kiki harus buru-buru menemui ibunya atau budhe Inem. Karena, saat hari Sabtu budhe Inem hanya bekerja sampai siang hari saja, kemudian libur dan masuk kerja kembali pada hari Senin.


Kiki turun ke lantai satu mencari ibunya yang mungkin berada di dapur. Namun, tidak ada. Mencarinya di halaman belakang, juga tidak ada. Lalu pergi ke ruang tengah dan ruang tamu pun juga tidak ada. Mungkin budhe Inem berada di halaman depan? Atau malah sudah pulang?


Kiki langsung menghilang menuju halaman depan. Dan benar, budhe Inem sudah siap untuk pulang di jemput ayahnya dan juga adiknya yang masih kecil itu. Kiki langsung menampakkan dirinya yang berdiri di depan teras rumah Hani menghadap budhe Inem.


Dan tiba-tiba adik Kiki langsung menangis histeris. Karena ternyata adik Kiki adalah anak yang peka. Dia menangis histeris sambil memeluk erat ayahnya. Sedangkan budhe Inem malah menganggap anaknya menangis karena ingin segera pulang.


“Iyo iyo. Muleh yoh muleh. Ayo pulang.” Ucap budhe Inem yang bergegas naik ke motor.


“Her, Yan! Duluan ya. Maaf, gak bisa bantu bersihin barang-barange. Jo lali obat jangan sampai kena panas matahari lama-lama.” Lanjut budhe Inem.


Pak Herdi dan pak Rian mengangguk. Kemudian budhe Inem pergi meninggalkan rumah itu. Dan pak Herdi dan pak Rian mengemasi barang-barang yang di bongkar dari bingkisan yang di berikan oleh Mia. Sedangkan Kiki dari jauh hanya bisa menatap kepergian ibunya.

__ADS_1


“Bahkan hari ini saja tidak di restui untuk menampakkan diri.” Ucapnya.


~Terima kasih sudah mampir baca, like, komen dan dukungannya~


__ADS_2