Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 73


__ADS_3

Di ruang tamu.


Hani masih sibuk mencari ponselnya tapi jarak pandangnya sangatlah pendek membuat Hani jadi bergerak lambat meraba meja di runag tamu. Tiba-tiba Hani merasa ada getaran di meja itu. Tapi Hani menghiraukannya.


Ternyata getaran itu berasal dari gelas Hani yang bergeser mendekati gelas Adit. Gelas itu bertukar tempat dengan sendirinya. Dan  yang melakukan itu tidak lain adalah Kiki. Dia sengaja menukar gelas minuman itu. Dia melihat semua yang Adit lakukan tadi. Dia juga tau niat buruk Adit. Tidak sampai di situ, Kiki juga menggeser teko kaca itu ke pinggir meja.


“Duh dimana sih.” Kesal Hani.


Adit sudah kembali dari kamar mandi. Dia berencana menaruh ponsel Hani di tengah jaketnya yang terletak di antara Hani dan Adit. Di ruang tamu itu sangatlah selap. Batas jarak pandang sangatlah pendek karena sumber peneranagan hanya menggunakan lilin. Adit sengaja menambah penerangan dengan ponselnya yang di arahkan ke Hani dengan begitu Hani tidak akan melihat ke arahnya dan dia memiliki kesempatan menaruh ponsel Hani di tengah jaketnya yang tidak terlipat.


Blam!


Lampu menyala kembali tepat setelah Adit menaruh ponsel Hani. Jantung Adit berdetak sangat kencang hingga mampu membuat tanganya bergetar dan berkeringat dingin bahkan hingga wajahnya juga berkeringat.


“Syukurlah.” Ucap Hani.


Setelah mengucap syukur Hani menoleh ke Adit. Dia terkejut dengan ekspresi Adit yang terlihat ketakutan. Dia juga memperhatikan bahwa tangan Adit juga bergetar. Di saat itu juga Hani melihat ponselnya berada di tengah jaket Adit.


“Ini dia. Di cariin dari tadi ternyata di sini. Kenapa tadi gak aku telepon aja sih?” Ucap Hani.


“Tadi panik soalnya, jadi gak kepikiran.” Ucap Adit sedikit tenang.


Hani mengangguk paham. Kemudian dia kembali memperhatikan Adit yang tidak setakut tadi. Yang ada di pikiran Hani hanya satu. Mungkin Kiki tadi menjaili Adit hingga membuat Adit takut. Hani hanya menghela napas panjang heran dengan tingkah Kiki. Tetapi kalau di pikir-pikir beberapa hari ini Kiki tidak mengajaknya bermain. Mungkin dia kesepian?


“Kak Adit takut?” Tanya Hani penasaran.


“Hah?”


Adit semakin panik, dia langsung berpikir bahwa Hani melihat Adit menaruh ponselnya di jaketnya. Kejadiannya cukup cepat hingga Adit tidak mampu melihat mata Hani tadi. Dia susah payah menelan ludah karena tenggorokannya terasa kering. Sedangkan Hani semakin yakin bahwa itu karena Kiki.

__ADS_1


“Ah udah deh kak. Di minum dulu itu jusnya.” Ucap Hani sambil menunjuk gelas Adit.


Reflek Adit langsung menurutinya dan meminum jus itu. Adit sengaja tidak menaruh obat di minumannya. Dia hanya menaruh obat di gelas Hani dan juga teko jus. Adit meneguk minumannya dengan rakus karena yakin minumannya aman. Tapi, tiba-tiba dia berhenti minum hingga tersedak.


“Uhuk uhuk uhuk.”


“Kenapa kak?”


Adit menggeleng cepat sambil mencoba menenangkan diri, dan Hani menepuk punggung Adit pelan agar Adit segera mereda. Saat itu juga baik Hani dan Adit mendengar ada suara anak kecil tertawa. Tapi keduanya sama-sama dia saja. Hani sengaja dia karena dia tidak ingin Adit takut, sedangkan Adit diam karena dia sudah paham jika rumah ini angker.


“Mau minum lagi kak?” Ucap Hani.


Adit menggeleng cepat lagi. Dia tidak mau meminum jus yang ada di teko kaca itu. Bagaimana pun caranya dia harus menghindar. Akhirnya dia pun mengalihkan topik ke pelajaran dan beruntungnya Adit karena Hani menurutinya tanpa curiga sedikitpun.


Waktu terus berlalu, Adit dan Hani sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hani belajar sambil sesekali meneguk minuman yang ada di sampingnya. Adit tersenyum senang melihat itu. Tapi entah kenapa perut Adit terasa tidak enak. Dia mulai merasakan mules.


Adit terus menahan perutnya yang mules itu hingga akhirnya dia tidak tahan. Dia ijin ke kamar mandi lagi. Hani pun memperbolehkan Adit meminjam toiletnya. Hani hanya menggeleng melihat tingkah Adit yang sudah kedua kalinya ke kamar mandi.


Slurpp!


Hani meneguk jus di gelasnya hingga habis. Karena Hani masih haus dia ingin menuangkan jus di teko kaca itu ke gelasnya. Namun, saat akan mengambilnya tangan Hani licin dan menjatuhkan teko kaca itu. Air tumpah kemana-mana hingga ke bukunya. Hani langsung berlari ke belakang meminta pertolongan budhe Inem.


“Tidak ada yang bisa menggangu Hani selama aku belum menemukan badanku.” Ucap Kiki tersenyum hingga mulutnya robek dan mengeluarkan cacing dari mulutnya.


Di dapur.


Hani dan panik dan merasa bersalah. Sedangkan budhe Inem dengan santainya hanya mengambil beberapa kain bekas yang lusuh, kantung kresek dan selotip. Semua itu wajar, tapi aneh ketika budhe Inem mengambil selotip. Untuk apa itu? Hani hanya mengekor saja melihat apa yang akan di lakukan budhe Inem.


Sampailah mereka berdua di ruang tamu. Pertama-tama, budhe Inem mengambil pecahan besar dan meletakkannya ke kantung kresek. Setelah semua selesai, budhe Inem mengambil kain bekas itu dan di taruh di genangan jus, kemudian membuangnya ke kantung kresek juga.

__ADS_1


“Kok di buang?”


“Ya kan kita gak tau ada pecahan kaca di air apa gak, nempel di kain apa gak? Mending langsung buang mbak. Lagi pula kain bekas di belakang masih banyak mbak.” Jelas budhe Inem.


Hani mengangguk paham. Setelah semua genangan itu bersih. Budhe Inem mengambil beberapa kain untuk di basahi di luar sekali mengepel lantai agar tidak lengket. Dan tidak lama budhe Inem kembali dan mengepel lantai dengan pelan.


“Ada apa Han?” Tanya Adit yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Hani.


“Itu, aku gak sengaja pecahin tekonya.”


Mata Adit melotot seketika. Jadi rencananya gagal? Ah tapi dia ingat jika tadi melihat Hani meminum jus yang di beri obat. Meski begitu budhe Inem juga akan kena imbasnya. Terlebih keadaan Adit sekarang yang tiba-tiba mules berkelanjutan.


Hani dan Adit hanya memperhatikan budhe Inem. Ketika budhe Inem selesai dan lantai mulai mengering, dia mengambil selotip besar dan menempelkannya di lantai kemudian di lepaskan. Budhe Inem melihat solatip beningn itu memastikan tidak ada pecahan kaca kecil di sana. Maka semua sudah aman, tapi jika masih ada budhe Inem harus membersihkannya lagi.


“Sudah aman mbak.” Ucap budhe Inem.


Krukk!!


Perut Adit berbunyi lagi. Dia merasakan mules yang luar biasa. Mulutnya belum sempat berbicara tapi Hani sudah paham apa yang di perlukan Adit. Dia langsung menyuruh Adit ke toilet. Dan Adit langsung kesana dengan tangannya di belakang menahan agar tidak keluar.


“Kenapa itu mas Adit?” Tanya budhe Inem.


“Entah, salah makan kali. Ini udah yang ketiga kalinya.” Ucap Hani.


Budhe Inem hanya bisa mengangguk paham. Kemudian dia pergi ke dapur untuk menaruh kantung kresek itu ke dalam kardus dan beri tulisan ‘pecahan kaca’ agar tidak mencelakai orang lain/ pemulung yang akan mengambil sampah besok.


Hani pun mulai mengemasi beberapa buku di meja ruang tamu. Dia menyesali beberapa buku yang kena tumpahan air jus. Dia berharap bisa mengeringkannya besok menggunakan hair drayer. Kemudian, dia melihat ponselnya dan waktu menunjukkan pukul setengah delapan.


“Kayaknya lesnya berhenti sampai di sini. Gurunya mules terus . Yes!” Ucap Hani riang.

__ADS_1


Pada akhirnya ucapan Hani benar. Adit sudah tidak sanggup melanjutkan les. Dia harus segera pulang dan meminum obat. Saking parahnya, Adit harus memanggil Tony untu menjemputnya karena dia tidak bisa naik motor. Tapi, yang pasti yang menjemputnya bukan Tony melainkan anak buah Tony.


~ Terima kasih, sudah mampir baca, like, fav dan komentarnya~


__ADS_2