Main Yuk Kak

Main Yuk Kak
Episode 18


__ADS_3

Di rumah sakit.


Suster Sari sedang memeriksa tekanan darah pak Deden. Jaelani dan Mia memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan oleh suster Sari dengan seksama.


“Tekanan darahnya rendah ya pak. Lebih banyak minum air putih ya pak.” Jelas suster Sari.


Mia dan Jaelani mengangguk bersamaan. Mereka lega akhirnya Deden kena teguran dari suster Sari, karena memang papa Jaelani itu susah sekali untuk minum air.


Keadaan Deden saat ini masih lumpuh karena stroke. Dia lumpuh di bagian pusar hingga kaki. Untuk bagian pusar ke atas semuanya normal. Hanya saja sekarang mulutnya agak miring, namun dia masih bisa makan dan minum sepeti biasa.


“Saya permisi dulu.” Ucap suster Sari yang sudah selesai, kemudian bergegas keluar.


“Ma... aku keluar dulu ya. Mau jalan-jalan pagi.” Ucap Jaelani.


Mia mengangguk, sebenarnya dia tidak tega kepada anaknya itu. Karena seharusnya Jaelani tetap sekolah. Tetapi anak terakhirnya itu malah memilih bolos sekolah. Dengan alasan dia tidak ingin meninggalkan orang tuanya sendirian. Jaelani akan kembali sekolah ketika Kakaknya sudah pulang.


Sedangkan di luar Jaelani berusaha mengejar suster Sari. Dia tau jika suster Sari itu dekat dengan Hani. Karena kemarin saat dia bertemu Hani di rumah sakit, diam-diam dia mengikuti Hani untuk memastikan dia aman. Entah kenapa Jaelani selalu merasa khawatir kepada Hani. Dia merasa raut wajah, dan sikapnya berbeda. Mungkin itu di sebabkan karena Hani amnesia. Tetapi perasaan Jaelani mengatakan bahwa perubahan itu bukan di sebabkan karena amnesia yang di alami Hani.


“Suster...” Teriak Jaelani.


Beberapa suster yang ada di lorong itu serentak menoleh ke arah Jaelani. Karena merasa di perhatikan Jaelani buru-buru menghampiri suster Sari yang juga ikut menoleh karena panggilannya.


“Suster, emmm itu saya mau tanya.” Ucap Jaelani sambil mengatur napas.


“Iya ada apa?”


“Suster kenal Hani?”


“Hani?”


Suster Sari mengerutkan keningnya. Ada dua orang yang dia kenal bernama Hani. Satu pasien anak-anak satunya Hani anak majikan pacarnya, pak Rian.


“Iya Hani. Anak yang seumuran sama aku sus. Yang kemarin ngobrol sama suster di kantin.”

__ADS_1


Suter Sari mengangguk di tambah dengan senyumnya yang indah. Jaelani pun ikut tersenyum melihat responnqya. Saat suster Sari ingin bertanya, ada apa? Jaelani sudah menjelaskan duluan.


“Itu teman saya suster. Dia habis amnesia. Kok suster bisa kenal dia?” Tanyanya penasaran.


“Oh dia itu anak majikan pacar saya. Pacar saya bekerja sebagai sopir di sana.”


“Oh... pak Rian.”


“Kamu kenal?” Tanya suster Sari penasaran.


Jaelani mengangguk. Ingin sekali Jaelani bertanya tanya lebih banyak tentang Hani kepada suster itu. Tetapi dia tidak punya kesempatan. Karena tiba-tiba suster lain mengajak suster Sari ke suatu tempat. Sepertinya ada keadaan genting.


“Saya duluan ya dek.” Ucap suster Sari buru-buru.


“Suster namanya siapa?” Tanya Jaelani.


“Sari.”


Suster Sari menjawab singkat dan langsung pergi meninggalkan Jaelani. Dia terlihat buru-buru dengan suster lainnya. Bahkan beberapa suster ikut bergabung dengan suster Sari dan berjalan cepat ke arah yang sama.


***


Siang Hari di rumah Hani.


Hani sudah mulai bosan dia tidak tau harus melakukan apa. Akhirnya dia berjalan ke belakang melihat tanaman yang di tanam berharap ingin melakukan sesuatu pada tanaman itu. Namun teriknya sinar matahari membuat Hani malas melakukan kegiatan di luar rumah.


Kemudian kembali ke dalam ke ruang tengah, menyalakan televisi. Mencoba mencari saluran yang mungkin bisa membuatnya terhibur. Namun sayangnya siang itu acara televisi di isi dengan acara FTV yang di ulang.


“Hah... udah pernah lihat.” Keluh Hani.


Hani masih sibuk mengganti saluran televisi hingga dia berhenti di satu saluran yang menayangkan berita seorang siswi bunuh diri dengan cara gantung diri di dalam kamarnya karena sudah tidak tahan di bully di sekolah.


“Remaja berusia lima belas tahun tewas gantung diri di kamarnya. Keluarga menemukan surat yang di letakkan di kursi, yang kemungkinan di gunakan untuk meraih tali untuk gantung diri. Keluarga tidak menduga bahwa perubahan sikap dari salah satu anggota keluarganya disebabkan oleh stress akibat di olok-olok teman sekelasnya. Korban di olok-olok karena kasus ayahnya yang seorang koruptor yang muncul ke publik. Korban....”

__ADS_1


Tiba-tiba Hani merasa pernah mengalami kejadian seperti ini. Sedang menonton berita televisi dengan kasus pembunuhan. Entah kenapa rasanya tidak asing. Tepat di tempat ini dan duduk dengan posisi seperti sekarang. Dia seperti mengalami dejavu. Dia merasa aneh dengan perasaan yang barusan dia alami.


“Kok... aku kayak pernah kayak gini?”


“Padahal waktu aku pulang dari rumah sakit. Aku merasa baru pertama kali masuk ke rumah ini. Tapi masak aku udah pernah tinggal di sini sebelum dari rumah sakit?” Gumamnya.


Kruukkk!!!


“Eh... aku lapar. Uda jam berapa sih?”


Hani memencet salah tombol di remot yang dia genggam. Ternyata sekarang pukul 12.09. Pantas saja Hani merasa lapar. Hani langsung mengusap-usap perutnya dan mematikan televisi, kemudian beranjak pergi ke dapur untuk mengambil makan.


Sampai di dapur budhe Inem sudah duduk manis di meja makan. Dia masih setia dengan sambal teri yang di buat tadi pagi. Melihat itu ingin sekali Hani mengincipinya, di matanya budhe Inem sudah sepeti seseorang yang sedang melakukan mukbang.


“Mau mbak?” Budhe Inem yang peka dengan tatapan Hani menawarkan lauknya.


Hani menggeleng cepat dan menarik napas panjang sambil berakting seperti orang kepedesan.


“Melihatnya aja udah kepedesan aku nih budhe.” Ucap Hani.


Budhe Inem hanya tersenyum melihat tingkah Hani. Kemudian Hani kembali ke niatnya awal yaitu makan siang. Dia mengambil mangkuk, kemudian di beri nasi, di tambah sayur sop. Tidak lupa Hani membawa lauk tahu kres yang di taruh terpisah di piring kecil. Hani tidak suka jika lauknya di campur bersama nasi dan sayur. Akhirnya makan siang siap di santap.


“Tumben mbak Hani makan siang tanpa saya ingatkan.” Ucap budhe Inem yang ternyata sudah selesai makan.


“Hehehe... udah lapar sih.”


“Nah gitu dong mbak. Jaga kesehatan mbak, makan teratur biar cepat sehatnya. Terus makan buah....”


Budhe Inem berbicara panjang lebar sambil mencuci piring di wastafel. Hani sudah di anggap seperti anak sendiri baginya. Tidak jarang budhe Inem mengomeli Hani jika Hani susah di suruh makan. Ratih pun tidak mempermasalahkan jika budhe Inem mengomeli anaknya. Ratih bersyukur ada orang yang memperhatikan anaknya karena dia sibuk bekerja bersama suaminya.


Hani yang sudah biasa di omeli oleh budhe Inem hanya bisa pasrah. Kadang, dia juga tidak begitu memperhatikan omelan budhe Inem. Tetapi kali ini, Hani sangat memperhatikan omelan asisten rumah tangganya itu. Terlebih saat budhe Inem berkata “biar cepat sehatnya.” Membuat Hani semakin penasaran apa yang terjadi sebelum dia hilang ingatan.


“Budhe... aku tanya dong.” Tanya Hani sesaat setelah budhe Inem mengomel.

__ADS_1


~ Terima kasih, sudah mampir baca~


__ADS_2